
Setelah mendapat tamparan dari vivian, amel tak berkutik sedikitpun. Tangan kanan nya hanya memegang pipi kanan nya yang nyeri karena tamparan, amel juga terus menggertak kan gigi nya karena marah namun tak bisa berbuat apa apa.
Hehehe... Aku sudah tau kalo tante jelek itu lagi emosian, makanya aku sengaja umpan pakai kaya nenek lampir. Gak tau nya dia udah emosian aja, gak tau apa kalo mama aku itu gak suka kalo ada yang bicara kasar sama anak nya.. Is is is isss.. Aku jadi kasian sama tante jelek itu, tapi yaah biar lah... Malas juga kalo harus jelasin lagi.. Batin Rival.
"Hai, siapa nama kamu.? " Tanya rival ada yohan..
"Na... Nama ku yohan agreete, " Jawab yohan penuh semangat dan pipi yang merona, karena melihat rival yang seperti pantulan badan nya di depan cermin, Sangat mirip.
"Hem.... Hem... Hum.?... Ah.... " Ucap rival sambil memutari badan yohan, memperhatikan dari ujung kepala sampai ujung kaki...
"Wah... Benar benar kembar identik. Perbedaan nya cuma aku memiliki tahi lalat di bawah mata dan kau tidak. Terus tinggi tubuh ku lebih beberapa inci dari kamu. " Ucap rival menyampaikan hasil pengamatan nya.
"Oia, nama ku Rival. Salam kenal saudara kembar ku.! " Ucap rival pada yohan
"Hum, salam ke- Tunggu... Apa.? Tinggi mu lebih dari tinggi dari tinggi ku.? Dengan kata lain, aku lebih pendek dari mu gitu.? Tidak mungkin.! " Protes Yohan.
"Astaga saudara ku~.. Di dunia ini tak ada yang tak mungkin. " Respon rival sembari mengangkat ke dua bahu nya, dan menggelengkan kepala nya layak nya orang dewasa..
"Huh aku tidak akan percaya pada perkataan mu. Nanti harus kita pastikan dengan alat ukur, agar hasilnya sangat akurat dan tak ada kekeliruan sedikit pun." Sahut yohan karena masih tidak bisa memercayai kenyataan bahwa diri nya lebih pendek dari rival.
"Astaga saudara ku... Kamu benar benar ya, Terserah kamu aja sih.. Soal nya hasil analisis ku tak pernah salah, sudah di akui oleh kak Randi dan mama. " Respon rival pada yohan.
__ADS_1
Akan tetapi yohan tak gentar sedikit pun, dua percaya bahwa pasti ada kekeliruan pada hasil analisis rival. Dia tak percaya bahwa dia lebih pendek, walaupun hanya beberapa inci.
Kini di saat yang sama, Vivian sudah berada tepat di hadapan amel, bapak gunawan, dan tante rara.
"Hem, nama mu amel kan.? " Tanya vivian sambil bertatapan dengan amel, padahal vivian sudah mengetahui nama amel. Tapi tetap saja, vivian seperti ingin merendahkan dan merendahkan lagi martabat amel.
"M... Memang nya kenapa.? Apakah kamu sangat tua dan pikun, sampai sampai nama ku yang sudah ku katakan berulang kali dari tadi saja tak dapat di ingat oleh mu. " Hina amel.
"Astaga, jangan berpikiran negatif dan buruk buruk terus dong. Kenapa aku tak dapat mengigat nama mu.? Tentu saja alasan nya sudah jelas bukan.? Nama mu sangat jelek dan norak, tidak sampai di situ.. Pemilik nama ini pun memiliki sifat yang tak karuan. Jadi wajar saja kan jika aku tak mengingat nya. "
"Di tambah dengan nama mu yang tidak penting dalam hidup ku, jadi untuk apa di ingat.? Hei sadarlah, kau bukan tokoh pahlawan kemerdekaan indonesia yang nama nya harus di kenang, jangan kan para tokoh kemerdekaan, jika di bandingkan dengan orang gila di pinggir jalan.. Aku pikir itu lebih cocok untuk mu. " Cibir vivian pada amel. Suasana sekitar langsung menertawakan amel begitu saja.
"Jangan panik kaya gini dong. Soal nya tadi aku hanya pemanasan aja kok, pertunjukan yang sesungguh nya baru akan di mulai. " Ucap vivian sambil menyeringai di wajah nya....
"Hari ini, detik ini pun juga... Aku akan membawa anak ku kembali. " Ucap vivian dengan suara lantang.
"Tidak boleh...!!! " Respon amel
"Jangan sembarangan... " Teriak tante rara
"Apakah kau ingin menculik cucu ku.? " Sambung bapak gunawan.
__ADS_1
"Heh... Amel, apakah kamu masih ingat pernah membunuh wanita yang di juluki sebagai malaikat saat kau masih duduk di bangku SMA.? " Ucap vivian menatap mata amel. Setelah itu, mata vivian berganti menatap ke arah tante rara
"Lalu kau rara, kamu itu adalah orang atau bisa di sebut sebagai dalang dari kejadian pembunuhan ibu kandung irwin bukan.? " ucap vivian pada tante rara.
"Terakhir kau gunawan... Banyak sekali dana yang kamu gelapkan, entah itu dana dari korupsi perusahan perusahaan kecil, dana yang akan di berikan pada panti asuhan, panti jompo, dana untuk anak anak di bawah umur yang mempunyai kelainan semenjak di lahir, dan masih banyak lagi. " Ucap vivian sambil menatap gunawan.
"Ah aku teringat satu hal lagi. Anak mu yang bernama aldo itu, hem seperti nya dia tak ada di sini.. Sungguh anak yang durhaka. Tapi tetap akan aku sampai kan perbuatan busuk nya. Anak mu itu adalah bandar yang mengedarkan Narkoba kelas tinggi di beberapa negara. Bahkan kepolisian tak mengetahui siapa yang mengepalai pengedaran narkoba ini, hah... Sungguh sayang sekali, memiliki anak namun tidak bisa membanggakan orang tua. Kan kalo seperti ini, keriputan di wajah rara dan gunawan akan semakin banyak, hehehe.. "
Pernyataan dari mulut vivian yang di lontar kan dari mulut nya itu, berhasil membuat ke tiga manusia itu bergidik ngeri dan ketakutan.!
"Ka... kalo kamu menginginkan anak kurang ajar itu, ya ambil saja. Tidak udah basa basi lagi..." Jawab bapak gunawan karena panik dan takut kejahatan nya di baca satu persatu oleh vivian.
"Yaah, lagian dia memang keras kepala di kediaman ini. syukurlah kalo kamu ingin meringankan sakit kepala kami. " Sahut tante rara.
"yaah.. Lagian anak itu bodoh dan tolol seperti babi, jadi kalo kamu ingin mengambil nya, yaah ambil saja. Kami tak akan rugi sedikitpun. ! " Sambung amel.
"Hahaha.. kalo aku mau ya ambil saja.? Hei pak tua (Gunawan), seperti nya saking takut nya kamu... Kamu jadi bodoh ya. Ah, Apakah otak mu sudah di tendang oleh keledai.? Maka nya jadi sebodoh ini.! "
"Yohan adalah anak ku. Dia adalah dara daging ku, bukan barang atau benda yang dapat aku ambil atau buang sesuka hati. Dengar... Aku akan mengeluarkan anak ku dengan penuh hormat dan berjalan penuh gaga berani, keluar dari kediaman Agreete yang menjijikan ini. "
Ucap vivian dengan suara yang lantang dan berwibawa. Sedangkan Bapak gunawan, tante rara, dan juga amel masih mematung di tempat mereka berdiri. Mereka merasa seperti tak bisa berkutik dan berbuat sesuatu di hadapan vivian......
__ADS_1