
"Baik, Ayah rasa sudah cukup basa basi nya. Karena ayah ingin mendengar penjelasan nya saat ini. " Ucap andhika ayah vivian dengan tatapan tajam.
"Ayah, sebelum nya vivi minta maaf-"
"Om Andhika, tante Stefani, tolong jangan marah pada vivian. Ini semua terjadi karena kesalahan saya, jadi om sama tante bisa luapkan semua kekesalan pada saya. Jangan pada vivian, " mohon irwin sambil membungkuk kan badan nya dan memotong perkataan vivian.
"............ "
"........... "
Ayah dan Ibu vivian hanya diam dan menatap irwin dengan nata terbelalak, seakan melihat kejadian yang langkah. Vivian mengulurkan tangan nya dengan lembut, dan menggenggam tangan irwin yang kedinginan.
"Ayah ibu, vivi bingung harus menceritakan dari mana, tapi akan vivi sampaikan Semende tail mungkin... " ucap vivian serius.
...~30 menit kemudian~...
Setelah mendengar penjelasan dari vivian, satu satu nya anak wanita dan anak bungsu yang paling mereka sayang, ekspresi kedua orang tua ini sangat sangat dan sangat menakutkan.
Stefani, ibu vivian memecahkan cangkir teh yang ada di tangan nya. Padahal cangkir teh itu terbuat dari tanah liat dan beberapa tambahan unsur zat, sehingga mustahil dapat pecah meskipun di banting ke lantai. Wajah nya yang anggun dan selalu tersenyum bak malaikat itu, kini menampakkan ekspresi yang tak bisa di baca.
Andhika ayah vivian, membelah meja kaca yang sangat kuat, dengan satu bantingan tangan nya saja. Wajah nya terlihat sekali sangat emosi, memerah bagai tomat, semua urat di wajah terlihat jelas karena ada penarikan otot, tapi vivian tetap melanjutkan cerita nya tanpa mempedulikan apa yang ayah dan ibu nya pecahkan.
Sedangkan irwin, seakan sudah kembali ke keadaan nya yang normal. Yaitu sudah rileks dengan situasi saat ini dan kembali menjadi CEO yang percaya diri, mungkin karena sifat irwin cepat beradaptasi.
"Aku harap ayah dan ibu tak marah dan kecewa pada vivi. Ini karena vivi terlalu menganggap enteng semua hal dalam hidup vivi, menganggap vivi adalah orang yang paling hebat dan tak akan pernah melakukan kesalahan. "
__ADS_1
"Waktu itu, vivi baru berumur 19 tahun. Sangat labil dan tak tau mana jalan yang harus di pilih. Mau mengadu pada ayah, ibu, dan ke dua kaka, namun vivi takut kalian akan marah dan malah kecewa pada vivi. Padahal setelah beberapa tahun terlewat, vivi baru sadar ternyata itu hanya pemikiran vivi yang berlebihan. "
"Ayah... Ibu... Vivi mohon ucap kan sesuatu. Jangan hanya diam seperti ini, vivi semakin merasa... Merasa... Ah... Apa yang ingin aku ucapkan sih ? " ucap vivian gemetaran sambil menunduk.
Irwin masih duduk tegak agar etika nya tidak membuat penilaian calon menantu hari ini rusak, tangan nya yang kekar kini gantian memegang tangan vivian yang gemetaran. Sedangkan satu tangan nya mengelus pundak belakang vivian dengan lembut.
"Apa yang kamu takutkan sayang ? Ada aku loh, dan lagi... Kamu tau pepatah ini kan ? Sejahat jahat nya singa, dia tak akan pernah menerkam anak nya. Jadi, jangan memasang ekspresi seperti itu, kamu seperti orang yang berbeda saja, " bisik irwin pada telinga vivian.
"Cih... Aku hanya lapar tau... Siapa juga yang lagi gemetaran karena takut. Hmpt, aku tak selemah itu tau..." jawab vivian menengadahkan wajah nya ke atas memandang ke dua orang tua nya.
"... Tik... Tik... Tik, tik, tik... " Air mata stefani sang ibu mulai deras sembari menatap anak nya vivian. Andhika ayah vivian, berusaha tidak menangis, dan memilih merangkul istri nya yang sedang menangis.
...~Lima menit kemudian~...
Setelah selesai melepaskan air mata nya, stefani mulai angkat bicara.
"Ke dua keluarga itu, apakah mereka masih ada di Negara W ? "
"Masih ada bu. Aku dan irwin menahan ke dua keluarga ini di penjara bawah tanah setelah kak Rey dan kak Robert membuat mereka bangkrut, dan menyiksa mereka setiap hari. Dengan siksaan yang pernah mereka berikan pada si kembar 1000 kali lebih sadis, " jawab vivian jelas.
"Lalu kamu masih mau bersama dengan pria yang nama belakang nya adalah Agreete?" singgung andhika dengan muka tak terima.
"Itu... Ayah... Aku... " vivian terbata bata. Tekanan yang di berikan sang ayah, masih tak bisa vivian atasi sampai umurnya saat ini.
"Maaf memotong pembicaraan antara Om Andhika dan Vivian. Tapi nama belakang saya sudah bukan agreete lagi. Marga ini saya gunakan selama ini hanya karena mengumpulkan kekuatan sendiri itu butuh waktu lama. Dan sebentar lagi, saya akan mengumumkan nama belakang saya, beserta dengan keluarga saya dan vivian setelah menikah di posisi ke dua sedunia. "
__ADS_1
Ucap irwin percaya diri dan bahasa yang sangat baku dan tentu nya sopan.
"Kau... Kau... " geram sang ayah ingin menonjok irwin, namun di tahan oleh stefani istri nya.
"Hmpt... Kau hanya bocah ingusan yang kebetulan bertemu dengan putri ku tujuh tahun yang lalu, jangan merasa diri mu sudah berada di atas angin. " Hina andhika memperbaiki kerak baju nya dan kembali duduk karena emosi nya sudah dapat di kontrol.
"Mohon maaf, tapi sejak awal posisi saya memang bukan di atas langit. Saya baru mulai menginjak star untuk sampai di tempat bernama atas langit itu, " jawab irwin tetap tenang dengan wibawa yang terpancar jelas.
"Tak." Andhika melempar satu lembar cek kosong.
" ??????? " Irwin dan vivian bingung dengan cek kosong di atas meja itu.
"Isilah sesuka mu. Berapa pun angka nol dan digit nya, aku tak peduli. Tapi setelah itu, tinggalkan kehidupan putri dan ke dua cucuku selama nya, " cetus andhika sambil memangku kaki nya.
"AYAH...!!!!!!! " teriak vivian emosi.
"SAYANG..!!! " stefani yang ikut berteriak karena kaget akan sikap suami nya yang baru pertama kali dia lihat ini.
"MAAF. SEKALI LAGI SAYA MINTA MAAF.! TAPI VIVIAN DAN KE DUA ANAK KEMBAR KU BUKAN LAH BARANG YANG DAPAT ANDA BELI DAN GANTIKAN DENGAN UANG.! SAYA TAU ANDA SANGAT BERKELIMPAHAN HARTA, TAPI SAYA JUGA TIDAK KEKURANGAN HARTA UNTUK SAAT INI, KE DEPAN NYA, BAHKAN SAMPAI 1.000 KETURUNAN SAYA NANTI. "
Jawab irwin yang tidak berteriak sedikit pun, tidak kehilangan ketenangan, dan penuh akan tatapan kepercayaan diri. Kewibawaan nya saat ini, sungguh patut di beri jempol. Bahkan vivian dan stefani saja kaget dengan jawaban dan ketenangan irwin saat berhadap dengan Andhika Satoru.
"Hahaha... Hahaha... HAHAHA... " tawa andhika mulai dari suara yang kecil sampai yang sangat besar dan di jamin hampir memecahkan gendang telinga.
"E.. Eh..?? A... Ayah ? " ucap vivian heran.
__ADS_1
"Sayang ? Kamu kenapa sih ? " tanya stefani mengerutkan dahi.
"Bagus... Bagus sekali. Hei bocah ingusan, kau lolos ujian pertama. " Ucap andhika penuh semangat dan senyum sumringah