
"Sampai kapan pun, aku tak akan memaafkan mereka. Tak akan..... "
Dokter rosa mengatakan setiap kalimat itu dengan tatapan yang benar benar penuh amarah dan kebencian. Kalimat kalimat yang keluar dari mulut nya itu membuat vivian terkejut dan mulai penasaran, apa yang membuat dokter rosa kaka nya itu penuh akan emosional pada keluarga wijaya. Saking penasaran nya vivian, akhir nya dia angkat bicara...
"Kaka, maaf aku menyela sedikit, tapi kenapa kaka membenci keluarga wijaya sampai di tahap tak bisa di maaf kan ? , Apakah ada perbuatan mereka yang sangat tercela atau tabu ?"
Tanya vivian dengan penuh harapan akan di jawab dengan jujur oleh kaka nya. Tanpa berpikir panjang dokter rosa langsung menjawab vivian...
"Sudah aku bilang kan, jangan menyela saat aku bercerita.! Tapi tak apa apa lah, karena yang bertanya adalah adik ku (ucap dokter rosa sambil mengelus kepala vivian) "
"Baiklah, jika ingin mengetahui kenapa aku bisa sampai membenci mereka di tahap ini, maka kamu harus tau jalan hidup ku 20 tahun yang lalu."
πFlash back onπ
Sedari kecil aku di besar kan di satu keluarga pemulung yang miskin. Awal nya semua baik baik saja. walaupun keadaan kami pas pasan, tapi selalu ada kehangatan di dalam keluarga kecil ku itu, ada Ayah, Ibu, dan aku.
Saat aku berusia lima tahun, aku sudah mulai membantu ayah dan ibu ku untuk memulung, menjual barang rongsokan yang aku temui. itu adalah pekerjaan yang aku lakukan saat berumur lima tahun.
__ADS_1
Tapi saat aku mulai berusia enam tahun, keadaan ekonomi keluarga ku mulai menurun, karena papa ku tiba tiba jatuh sakit. Bukan nya tak dapat di obati, kami saja tak tau sebenarnya ayah sakit apa. Ingin di bawa agar di periksa ke dokter saja uang tidak cukup. Jangankan uang untuk berobat, uang untuk makan minum saja susah.
Sejak saat itu, aku mulai kerja lebih keras lagi dari ibu. aku membantu para pekerja kuli bangunan untuk memindahkan batako, mengangkat pasir, dan mendapatkan bayaran 100 ribu perhari. Saat hari mulai petang, aku akan kembali memungut rongsokan lagi. Bayaran aku setiap menimbang kardus, kaleng, gelas aqua, botol, dan lain nya itu kalo bukan 50 ribu pasti 60 ribu.
Uang yang aku dapat kan aku serah kan pada ibu ku untuk membeli kebutuhan yang ada. Tentu saja tidak aku berikan semua nya, sebagian nya aku tabung agar aku dapat bersekolah. Entah apa yang aku pikirkan atau setan apa yang merasuki ku, tapi aku selalu merasa iri pada anak anak lain yang mengenakan seragam TK dan SD.
Pada umur enam tahun ku itu, aku hanya berharap semoga suatu saat nanti aku dapat bersekolah. Dan tentu saja aku terus bekerja banting tulang siang dan malam. Pada akhir nya saat aku berusia delapan tahun, tabungan ku sudah sangat cukup untuk bersekolah, aku memberitahu ibu ku dan tentu saja dia langsung mendaftarkan aku di sekolah dasar yang terbaik di daerah ku.
Saat hari pertama aku memasuki sekolah, aku adalah satu satu nya anak dengan tubuh dan umur yang paling dewasa dari teman teman ku di dalam kelas. Ya jelas karena aku berusia 8 tahun dan masih menduduki kelas satu. Tapi aku tidak berkecil hati, karena alasan ku yang utama adalah belajar.
Saat aku baru belajar satu semester, aku di tawarkan untuk loncat kelas karena kepintaran ku yang sangat luar biasa. aku yang dulu nya masuk sekolah kelas satu dengan umur 8 tahun, sekarang menginjak kelas enam dengan umur 8 tahun. Dan tentu saja biaya sekolah dasar ku sepenuhnya di di dapat dari beasiswa.
aku mencari sekolah terbaik yang menyediakan beasiswa yang dapat menunjang biaya pendidikan SMP dan SMA ku. Dan tentu saja, dengan usaha yang amat keras, aku dapat menduduki bangku SMP dengan umur yang terbilang dini. Saat aku baru bersekolah beberapa bulan, Ayah ku meninggal dunia. dari gejala yang aku liat pada diri nya, dia menderita radang paru paru dan mag akut.
Aku dapat mengetahui penyakitnya berkat buku buku yang aku baca di perpustakaan. Aku ingin menjadi dokter juga karena impian ku ingin menyembuhkan penyakit ayah dan ibu ku.
Tapi apa boleh buat, Sang Khalik di atas lebih menyayangi ayah ku. menerima kenyataan dengan lapang dada adalah sesuatu yang sangat sulit. Saat ayah meninggal, kini ibu ku juga jatuh sakit. dengan berat hati, aku keluar dari sekolah yang sangat aku sukai itu dengan berat hati, agar dapat merawat ibu dan tentu saja untuk bekerja.
__ADS_1
Saat umur ku menginjak 12 tahun, ibu ku meninggal kan aku dengan penyakit kekuningan atau penyakit hati . Lagi lagi aku di hadapkan pada takdir yang sama sekali tak adil. Hidup susah itu dapat aku terima, dengan landasan hidup itu seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Tapi kenapa, kenapa takdir memisahkan aku dari dua orang yang menjadi penyemangat ku ?
Selama sebulan, aku berdiam di rumah yang kecil dan kumuh itu semenjak kepergian ibu ku. Meratapi nasib, putus asa, tak ada canda ria dalam rumah itu lagi, tempat tidur ayah dan ibu yang kosong, suasana hening tentu saja bersemayam di dalam rumah ku yang dulunya tak pernah diam sehari pun.
Dada ku terasa sangat sesak, ingin melepas rindu pada siapa ? Saat aku sangat rindu pada ayah dan ibu ku, fotonya saja tidak ada. Saat ingin mencurahkan semua kesedihan ku ? Tentu saja aku pergi ke makan ayah dan ibu ku yang bersebelahan. Menangis, menceritakan apa yang aku rasakan. Ya saat menangis di samping makam mereka, itu adalah satu satu nya tempat yang paling nyaman yang aku ketahui..
Bahkan ada pemikiran yang terlintas dalam pemikiran ku, apakah bunuh diri adalah jalan keluarnya ? tentu saja tak aku lakukan, bukan nya takut bunuh diri, aku cuma takut mengecewakan ayah dan ibu ku, yang sebelum mati memberikan pesan terakhit pada ku untuk terus hidup dan terus berjuang, jangan hanya mengikuti takdir, tapi lawanlah takdir yang tak sesuai dengan jalan ku..
Pesan itu tertanam jelas di dalam kepala ku. Berdiam di dalam rumah tentu masih aku lakukan, entah mau di bilang labil atau apapun, aku tak peduli, yang aku ingin kan sekarang adalah waktu untuk diri ku sendiri.
bulan berikut nya aku menguatkan diri ku untuk bangkit kembali, aku mengambil beberapa pekerjaan paruh waktu agar mendapat uang untuk keperluan ku, terutama aku ingin memasuki sekolah kedokteran yang biaya nya bukan lah biaya sedikit.
enam bulan aku gunakan untuk bekerja siang dan malam, kini uang tabungan ku sudah terkumpul, dan aku berniat untuk memasuki SMP lagi tapi di sekolah yang lain. Aku berusaha dengan giat belajar, agar mendapatkan beasiswa penuh lagi, dan tentu saja aku mendapatkan beasiswa lagi, dan melanjutkan sekolah sambil bekerja.
Bersambung...!!
Ingatlah untuk memberikan like dan komentar kalian. Tinggalin jejak kalian apa susah nya sih.? π€¨π
__ADS_1
Kalo berkenan ya kasih hadiah sama vote jugaπππ (Gak maksa kok).!
Lanjut ke episode selanjut nya ya, love you every oneπβ€β€