Kesalahan 1 Malam,Berujung Kebahagiaan

Kesalahan 1 Malam,Berujung Kebahagiaan
#82.


__ADS_3

"Yaah kan lebih baik kalo mama kasih tau rival sama risal.. Setidak nya kami gak ngerasa di buang. " Respon risal pada vivian.


"Mana waktu tanya kak randi, kak randi cuma bilang kaya gini Nona vivian pasti punya alasan tersendiri. Kan jawaban kaya gitu ambigu banget ma, rasa nya pengen bakar laut tau gak. " Ucap rival karena emosi dan kesal.


"Di tambah dengan kak Sisil yang cuma ngelarang doang, coba kasih pengertian bilang mama lagi sakit ke apa ke, Huh.. Menyebalkan tau gak. Risal jadi pengen kuras air laut sampai kering tau gak.! " Ucap risal karena merasa emosi dan sebal juga sih.


"Udah.. Udah.. Jangan mengalahkan Randi lagi oke. ?! Kan Randi juga gak tau apa apa dia.! Mama kan lakuin ini demi kebaikan kalian" Ucap vivian berusaha agar si kembar tak menyalahkan seisi kediaman.


"Hmpt.... " Ucap si kembar sambil menggembungkan pipi mereka karena cemberut, sambil memalingkan wajah mereka dari mama mereka.


"Oke... Oke... Mama janji, mama gak bakal main rahasia rahasia lagi sama kalian, Kalo ada apa apa sama mama, mama langsung kasih tau ke kalian sedetail mungkin. Gimana.? " Bujuk vivian yang mulai kehabisan ide.


Rival dan risal pun mulai melirik kembali pada vivian, dan memandang vivian dengan tatapan yang cukup dalam....


"Janji yaah ma.. ?! " Ucap mereka kompak.


"Iyah mama janji.. " Jawab vivian dengan senyum lega, karena si kembar dapat terbujuk juga.


Setelah itu, rival dan risal masuk lagi ke dalam pelukan sang mama. Menandakan bahwa mereka resmi berdamai..!


Mau di bilang kekanak-kanakan juga, kayak nya enggak deh. Nama nya juga anak anak, di tambah dengan hubungan yang baru bersatu lagi, jadi butuh waktu yang cukup lama... Agar dapat percaya sepenuhnya satu sama lain... Inti nya, Semua butuh proses.


~>Selang beberapa hari<~


.......


.......


.......


.......


....... ......


Setelah kesalahpahaman terselesaikan, kini vivian, rival dan risal sedang menghabis kan waktu teh time di jam empat sampai enam sore.


Em, lebih tepat nya bukan waktu teh time, lebih seperti salep time. Yaah, saat ini vivian sedang mengoleskan salep yang dia minta ke Randi untuk di kerjakan.


Salep ini berfungsi untuk menghilangkan bekas luka akibat terjatuh, dan bekas luka karena di pukul dan di siksa saat di kediaman agreete dan panti asuhan.

__ADS_1


Bagian tangan dan kaki rival dan risal tidak terlalu banyak, bekas luka yang paling banyak adalah di bagian punggung belakang. Ada bekas di pukul dengan rotan, cambuk, dan kayu mentah.


"Ugh... " Suara yang timbul dari mulut rival, karena salep ini lumayan perih saat di oleskan.


"Rival, ini kan cuma salep.. Kenapa kamu kelihatan kesakitan banget, dasar lemah. " Ledek risal pada rival.


"Hehehe... Kau jangan mengolok ku dulu, giliran mu kan belum tiba. " Jawab rival yang sedang menahan rasa perih yang ia rasakan.


Hah... Si Randi ini, udah buat nya lama.. Hasil nya malah perih di kulit.? Tunggu aja nanti.. Batin vivian


"Perih banget yaah.? Kalo perih banget, gak usah di lanjutin lagi aja deh. Biar nanti mama sendiri yang buatin salep tanpa ada efek perih seperti ini.! " Ucap vivian.


"E.. Enggak apa apa ma.. Lanjut aja, rival masih bisa tahan kok. " Jawab rival.


Enak aja... Aku kan udah ngerasa perih nya, masa iya risal nya gak rasa. Kan jadi nya gak adil. Batin rival.


"Tahan bentar ya sayang, dikit lagi udah selesai mama oles kok. " Ucap vivian.


Setelah dua menit, vivian sudah selesai mengoleskan salep penghilang bekas luka pada rival. Kini tibalah giliran risal.


"Huh... "Nafas panjang dari rival.


"Heh.. Sebaiknya kamu jangan hanya memperhatikan diri ku. Tapi perhatikan lah indra perasa mu agar dapat menahan rasa yang timbul dari salep itu.! " Jawab rival yang membuat risal gugup untuk sesaat.


Huh... Palingan cuma mau nakutin sama manas manasin aku kan.?! Batin risal yang tak tau apa yang akan terjadi..


"Mama mulai ya risal.. " Ucap vivian mulai mengoleskan salep di punggung belang nya.


Saat salep baru menyentuh kulit nya, rasa perih belum di rasakan oleh risal.


"Heh... Rasa perih apa.? Aku gak ngerasain apa apa kok. " Ucap risal meremehkan.


"Huh..? Aahhh... " Teriak risal karena rasa perih yang mulai merambat dari kulit tubuh nya ke semua bagian kulit yang di oleskan.


"Heh.. Kamu kenapa risal.? Padahal tadi aku gak teriak loh, kenapa giliran kamu, sampai ada suara teriakan.? Astaga, kamu benar benar lemah ya. " Ucap rival yang sedang balas dendam pada risal.


"Hehehe.. Tadi itu aku teriak karena rada geli tau, masa kamu mengira aku lemah. Hahaha.. " Jawab risal yang tak mau terlihat lemah di hadapan saudara nya itu.


Tak aku sangka rasa nya akan seperi ini..!! Kok bisa rival gak teriak tadi.? Batin risal.

__ADS_1


"Risal.. Kalo kamu gak bisa nahan rasa perih nya, mending bekas luka kamu di pending dulu sampai mama selesai buatin salep yang baru. Palingan hanya dua hari aja kok... " Ucap vivian.


"I.. Itu... "Respon risal sambil memalingkan pandangan nya ke rival.


"Ada apa risal.? Apakah kau sangat lemah, sehingga harus menunggu salep buatan mama sendiri yang gak ada rasa perih nya.? Ckxk, lebih baik terima kenyataan bahwa kamu itu lebih lemah dari ku.! " Ucapan rival yang terdengar seperti tengah mengompori emosional risal.


"Huh.. Siapa yang lemah ha.? Hei rival, kamu pikir aku lebih lemah dari kamu.? Gak lah.. Mama lanjutin mengoles salep nya, risal bisa nahan kok. " Jawab risal karena sudah di penuhi akan emosi yang menggebu, karena ucapan dari rival tadi.


Rasakan lah peri yang aku rasakan tadi, siapa suruh kamu mau ngeledek aku tadi. Batin rival sambil menatap mata risal. Risal pun seakan mengerti apa arti dari tatapan rival.


Kamu jangan sombong dulu.. Aku juga bisa sekuat kamu tau... Balas batin risal, yang langsung di mengerti oleh rival.


"Huh.. Aku kan menunggu. "Ucap rival dengan suara yang dapat di dengar vivian


"Hah.? Menunggu apa.? " Tanya vivian


"Gak kok mah, rival cuma salah banting lidah aja. "Jawab risal sambil menampakkan smirk kemenangan du wajah nya.


Selang sepuluh menit, semua bekas luka risal telah selesai di oles salep.


"Srup... Srul... " Bunyi risal yang menarik ingus nya.


"Loh Risal.? Apakah kamu menangis.? " Tanya vivian khawatir.


"E... Enggak.." Jawab risal.


"Tapi mata kamu berair loh sayang. " Sambung vivian


"Oh, i.. Ini cuma karena mata risal kena debu ko ma. " Jawab risal.


"Astaga risal, apakah karena salep nya terlalu perih kamu sampai lupa kalau kita sedang berada di rumah kaca.? Ingat yaah, di dalam rumah kaca, tak ada debu sama sekali, karena banyak nya tanaman dan oksigen yang tanaman hasilkan, sehingga oksigen memenuhi ruangan ini. " Ucap rival.


Risal pun tak tau harus beralasan apa lagi...


"Udah.. Udah... Jangan saling ledek lagi dong.. Kalo rasa perih ya gak papa. Nama nya juga manusia.. Iyah kam rival.?! " Tanya vivian pada rival, agar risal merasa terhibur.


"Entahlah ma, soalnya waktu salep itu di oles ke badan rival, rival gak rasain perih kok. " Jawab rival yang tidak mendukung perkataan mama nya sama sekali.


Sore itu pun di akhiri dengan perdebatan yang terjadi karena perih yang di timbulkan oleh salep....

__ADS_1


__ADS_2