
"Assalamualaikum." ucap Khadija setelah mengetuk pintu masuk ke dalam ruangan suaminya.
"Waalaikum Salam." jawab Hafiz melihat sekilas dan tersenyum ke arah perempuan yang berjalan mendekatinya lalu kembali fokus menatap layar Laptop di hadapanya.
Khadija menepati janjinya. Meski telah memiliki kesibukan baru tidak lantas membuat perempuan itu melupakan tugasnya. Seperti biasa ibu anak Satu itu akan datang ke Rumah Sakit untuk mengantar makan siang untuk suaminya.
"Ayo Mas, makan dulu." kata Khadija sambil membuka kotak makanan yang ia bawa.
"Suapin dong Sayang?" pinta Hafiz tanpa mengalihkan pandanganya.
Tanpa membantah, Khadija pun menuruti permintaan suaminya. Perempuan itu mengerti akan kesibukan sang suami saat ini. Mengingat akan posisi suaminya sebagai
orang yang memegang kendali penuh atas Rumah Sakit yang berada di bawah atas nama pria tersebut.
Hafiz membuka mulutnya saat suapan pertama hendak menyentuh bibirnya. "Gimana toko, rame?" tanya Hafiz di sela-sela kunyahanya. Pria itu ingin mengetahui perkembangan usaha milik istrinya yang sudah berjalan kurang lebih Satu minggu.
"Alhamdulillah, ada saja pengunjung meski gak terlalu rame juga." jawab Khadija masih dengan posisi berdiri disamping suaminya.
Hal yang wajar untuk awal-awal dalam membuka usaha jika masih belum memiliki banyak pelanggan. Karena masih dalam tahap pengenalan terhadap konsumen.
Tidak ada lagi perbincangan selanjutnya diantara suami istri itu. Karena Hafiz tidak mempunyai topik yang mampir dibenaknya untuk di bahas. Pikiranya masih terfokus pada pekerjaan yang harus cepat ia selesaikan.
Begitu juga Khadija yang memilih diam, karena ia tidak mau membuyarkan konsentrasi suaminya.
Hanya suara hentakan jari-jari yang menari di atas Kayboard mengiringi makan siang Hafiz kali ini, hingga suapan terakhir habis tak bersisa.
"Mas, aku harus balik lagi ke toko." ucap Khadija setelah selesai dengan tugasnya.
"Gak boleh!" bantah Hafiz, menarik tubuh perempuan di sampingnya itu ke atas pangkuanya dengan satu tangan.
"Mas." pekik Khadija, "Kasihan Leni sama Sari." lanjutnya sambil berusaha melepaskan rangkulan kuat lengan suaminya.
"Kan ada Alina."
"Mbak Alina hari ini ndak bisa datang ke toko, katanya ada Metting penting di kantor Papa." jelas Khadija.
Janda cantik itu kini memiliki tugas ganda, selain bertugas membantu Khadija dalam mengurus Management toko, Alina juga ikut bekerja sebagai Sekretaris pribadi mantan Ayah mertuanya. Karena Sekretaris yang lama sudah Resign dari perusahaan.
Alina sesekali akan datang ke toko jika sedang di butuhkan.
"Tunggu sebentar, habis ini aku antar." Ada rasa kecewa di hati Hafiz. Jika biasa sang istri menemaninya Dua hingga Tiga jam setelah jam makan siang, kini perempuan itu harus buru-buru pergi lagi.
"Ndak usah Mas, aku pulang sendiri saja. Kan kamu lagi sibuk?" tolak Khadija halus. Ia tidak mau mengganggu pekerjaan suaminya.
Hafiz tidak menjawab lagi ucapan Khadija. Setelah meng_klik panel Turn Off, Hafiz menutup kembali Laptop_nya. "Sekarang sudah selesai." Kedua tangan Hafiz pun kini sudah melingkar di pinggang istrinya.
"Karena sudah lewat waktu Dzuhur, gimana kalau kita Shalat berjamaah dulu di sini?" tawar Hafiz untuk mengulur waktu.
__ADS_1
"Tumben? Ya sudah, yuk." sambut Khadija sembari tersenyum. Moment langka ketika sang suami mengajaknya Shalat duluan, karena pria itu biasanya harus di ingatkan terlebih dahulu.
***
"Tumben Den Carel ikut kesini?" sambut Sari melihat sang majikan mengekor di belakang istrinya.
Hafiz duduk, setelah menarik satu kursi yang ada di bawah meja Pantry, "Mumpung jadwal lagi kosong," jawab Hafiz sembari mengutak atik layar ponselnya.
"Mas ini kopinya," sela Khadija sembari menyuguhkan kopi buatanya di hadapan suaminya.
"Makasih sayang," ucap hafiz
Kemudian Khadija pergi kedepan ketika melihat beberapa pengunjung masuk, setelah berpamitan kepada pria tersebut.
"Oh ya Sar, gimana? Masih di gangguin kamu sama mahluk itu?" tanya Hafiz pada gadis yang tengah sibuk menata beberapa kue yang sudah matang diatas nampan untuk di jadikan display di lemari etalase.
Untuk beberapa hari terakhir Khadija sudah jarang membawa kabar ketakutan yang di alami salah satu pegawainya tersebut.
"Masih," jawab Sari singkat, tapi kini gadis itu sudah lebih tenang dari sebelumnya. Setelah mengamalkan beberapa amalan yang di sarankan istri majikanya tersebut.
"Emang kamu gak takut?" tanya Hafiz penasaran. Ia melihat ekspresi biasa saja dari raut wajah gadis itu.
"Ya takutlah Den, kalo pas dia muncul,"
"Memang kapan dia muncul?"
"Dimana?"
"Ya masih di tempat yang dulu. Pojok depan toko."
"Sudah Sar? obrolan Hafiz dan Sari terhenti ketika Leni masuk kedalam Pantry ingin mengambil kue yang ditata Sari.
"Udah," Sari mengulurkan nampan yang sudah siap untuk dipajang.
Kemudian Leni berlalu pergi setelah saling bertegur sapa dengan suami dari sahabatnya. Khadija.
"Jadi penasaran, kaya apa sih dia mukanya?" tanya Hafiz, membuat Sari terkesiap.
"Mending jangan Den, gak ada lucu-lucunya," tukas Sari.
Hafiz tertawa mendengar ucapan sari. "Masa sih gak ada imut-imutnya sama sekali gitu?" kelakar Hafiz. Ia sebenarnya juga tahu jika sosok mahluk astral itu pasti menyeramkan, meski tidak pernah menyaksikan secara langsung tetapi mungkin kurang lebih seperti di film-film horor yang pernah ia tonton.
"Apaan sih Den Carel, Sari serius juga," Gadis itu mencebik, "Ya udah Den, Sari mau kedepan dulu," sambung Sari berpamitan menyusul Khadija dan Leni ke depan dengan membawa nampan kedua yang berisi cake Roll Bolu pandan.
Setelah Sari pergi, tinggalah Hafiz sendiri di ruangan tersebut. Untuk mengusir kejenuhan sembari menunggu istrinya kembali menemuinya Hafiz bermain game online.
Tampak Hafiz menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu mengusap-usap tengkuknya.
__ADS_1
"Kok perasaan ada yang niupin?" gumam Hafiz, tidak terlalu perduli. Kembali lanjut pada permainanya.
'You has been slained'
"Yah ..." desah Hafiz kecewa ketika permainanya terkena Kill dari anggota musuh.
"Kita pulang yuk Bund? ajak Hafiz tanpa menoleh ketika seseorang berkelebat lewat di sampingnya, yang ia rasa itu adalah istrinya.
Tidak ada jawaban. "Bund?" panggil Hafiz sekali lagi, "Udah main pergi aja?" gerutu Hafiz setelah tidak melihat siapapun di sekelilingnya.
Hafiz pun bangkit dari kursi, berniat menghampiri sang istri, karena ia sudah merasa bosan. Melanjutkan permainan pun malas, sudah terlanjur kalah.
"Bukanya jawab, main tinggal aja," gerundel Hafiz berdiri di samping meja kasir tempat istrinya berada. Pria itu masih kesal terhadap sang istri yang baru saja mengabaikan ajakanya.
"Makasih Bu, sering-sering kesini ya?" ucap Khadija kepada salah seorang konsumen saat hendak pergi setelah melakukan pembayaran.
"Ada apa toh Mas, dateng-dateng udah ngomel?" tanya Khadija melihat wajah cemberut suaminya.
"Kenapa tadi diajakin pulang, kok gak jawab,"
"Kapan?" Khadija mengernyit.
"Barusan kamu ke dapur kan?"
"Dari tadi aku disini, ndak kemana-mana," kekeuh Khadija.
Hafiz menoleh ke arah Leni dan Sari yang berdiri di balik meja etalase. Kedua gadis itu tampak sibuk mengisi nampan yang kosong dengan kue yang baru.
"Mereka juga dari tadi di situ, kebetulan barusan pembeli sedikit rame," jelas Khadija mengerti maksud tatapan suaminya yang membuat bapak Satu anak itu salah sangka.
"Terus yang ke dapur tadi siapa?" lirih Hafiz dengan wajah tercengang. Tidak mungkin dia sedang berhalusinasi. Sangat jelas, meski tak melihat secara pasti, Hafiz merasakan ada orang berjalan melewatinya.
Untuk beberapa detik, Hafiz masih terbengong. Sepertinya kali ini ia juga merasakan apa yang di alami Zahra dan Sari. Meski tidak seseram meraka. Namun, cukup membuat bulu kuduknya merinding.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya...🙏😊😘