Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Pernikahan suamiku


__ADS_3

Malam hari...


Setelah melaksanakan ibadah Sholat Magrib yang di sambung dengan Sholat Isya secara berjamaah yang di imami oleh Ummi Aminah, lalu dilanjutkan dengan makan malam.


Dimana makan malam kali ini terasa berbeda, lebih ramai dari biasanya, dengan kedatangan satu penghuni baru yaitu Leni, namun sayang keramaian itu hanya sebentar karena besok Khadija harus undur diri pulang kekampungnya.


Acara makan malam bersama nan sederhana pun telah usai, kini Ummi Aminah, Khadija dan Leni tengah bersantai di ruang TV.


" Dija...Ini Ummi sudah pesankan tiket kereta buat kamu?" Ummi Aminah menyodorkan selembar tiket untuk Khadija.


" Terima kasih Ummi." Jawab Khadija tak bersemangat, lalu menarik selembar kertas yang ada di atas meja.


Sejenak Khadija membacanya, lalu melipatnya kembali.


" Besok malam Ummi akan antar kamu ke stasiun."


" Saya boleh ikut Ummi?" Sela Leni yang ingin ikut mengantar sahabatnya pulang kampung.


" Iya boleh." Ummi Aminah mengangguk kemudian beranjak berdiri akan pergi ke kamarnya. " Ya sudah, Ummi mau istirahat dulu, kalian juga harus istirahat dan buat Dija, sudah kamu kemasi barang_barang kamu nak?" Tanya Ummi sebelum berlalu meninggalkan Khadija dan Leni di ruang TV.


" Sudah Ummi." Jawab Khadija malas.


Setelah Ummi Aminah menghilang dari balik pintu kamarnya, Khadija dan Leni pun segera masuk ke dalam kamar Khadija yang sebentar lagi di gantikan oleh Leni.


Khadija melepas hijabnya lalu berganti dengan pakaian tidurnya.


" Apa ini Len?" Tanya Khadija saat ia baru keluar dari kamar mandi, Khadija melihat sesuatu jatuh saat Leni mengeluarka charger ponsel dari dalam tasnya.


Khadija mengambil benda itu, Leni pun menoleh ke bawah memastikan apa yang ditanyakan Khadija.


" Oh...itu Undangan dari dr.Hafiz kemarin waktu aku pamit.


Khadija membuka undangan yang tampak mewah dengan cover foto Hafiz dan Alina.


"Ballroom Hotel XX , Jam 10.30." Gumam Khadija.


" Apa besok kamu akan datang Len?" Tanya Khadija setelah membaca isi undangan itu.


" Gak lah Ja, malu aku! Lagian yang datang pasti golongan orang_orang kaya, ntar malah dikira gembel masuk lagi, kalo aku datang...hahaha..." Leni menjawab dengan kelakaranya.


" Ada_ada aja kamu Len?" Khadija tersenyum sembari mengibaskan tanganya.


" Ja, aku tidur dulu ya?" Ucap Leni yang sudah bersiap di atas kasur untuk tidur, dan diangguki Khadija yang melihat Leni dari pantulan cermin meja rias yang ada di hadapanya.


Khadija duduk diam termangu menatap refleksi dirinya sendiri. Ada yang berdenyut nyeri di dalam sudut hatinya.


Entah mengapa tiba_tiba fikiranya melayang mengenang kebersamaanya dengan Hafiz yang masih berstatus sebagai suaminya, karena Hafiz belum menceraikanya secara lisan maupun syariat agama, yang mana Khadija kini tengah dalam masa iddah.


Semoga menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warrohmah Mas?


Setetes, Dua tetes kristal bening dari sudut matanya menetes tepat diatas kartu undangan yang ada ditangan Khadija.


" Aku ndak boleh sedih gini, aku harus ikut bahagia dengan pernikahan Mas Dokter!" Gumam Khadija pelan sembari mengusap air matanya lalu membelai foto yang ada pada kartu undangan itu.


Khadija kembali tersenyum menatap foto Hafiz. "Makin ganteng aja kamu Mas?"


Astagfirullohalazdim...Ngomong apa toh aku ini? Ingat Ja sebentar lagi Mas Dokter itu akan jadi suami orang.


Khadija merutuki pujianya terhadap Hafiz, segera Khadija beranjak menghampiri Leni yang sudah berkelana di alam mimpinya.


Khadija lalu membaringkan tubuhnya di samping Leni, sesaat Khadija tersenyum manis menatap langit_langit kamarnya yang tiba_tiba muncul halusinasi akan wajah Hafiz yang tengah tersenyum kearahnya.


" Eeungh...Plak...!"


Khadija tersadar saat tangan Leni mendarat ke wajah Khadija.


" Auuwww..." Pekik Khadija pelan, takut membangunkan Leni. Ia lalu menyingkirkan tangan Leni dari wajahnya dan merubah posisi tidurnya dengan miring ke sebelah kanan.


***


Ke esokan Harinya...


Di Ballroom Hotel Bintang Lima Hafiz dan Alina menggelar acara Resepsi pernikahan mereka yang terkesan Mewah nan Megah.

__ADS_1


Semua mata terpukau dengan keserasian Hafiz dan Alina. Mereka berdua bak pasangan Raja dan Ratu sehari dengan balutan baju pengantin yang mewah namun tampak Elegant yang dirancang khusus oleh Desainer ternama yang ada di Ibukota.


Senyum merekah selalu di tampilkan Hafiz dan Alina, seirama dengan suasana hati mereka yang tengah berbahagia.


Sepasang mata Wanita bercadar tampak mengamati Pasangan berbahagia ini.


Dengan ragu kakinya melangkah menuju pelaminan untuk sekedar memberikan ucapan selamat.


" Sssttt...sssttt..." Aslan menyenggol lengan Dio. " Sejak kapan Carel punya teman bercadar?" Bisik Aslan pada Dio.


" Gak tau gw?" Balas Dio." Jangan_jangan Istrinya Amrozi?" Tebak Dio, yang di iringi tawa kecil dari mulutnya.


" Dia bawa apa tuh Yo?" Aslan penasaran dengan apa yang di bawa Wanita itu.


" Bom mungkin?" Jawab Dio asal.


" Hush...Sembarangan! Gw gak mau kena Bom, gw belum kawin!" Aslan menanggapi ucapan Dio sedikit serius.


Namun langkah kaki wanita itu terhenti, kedua lenganya di cegat oleh Dua orang Bodyguard yang khusus menjaga selama berjalanya acara.


" Maaf Nona anda tidak boleh kesana, kecuali anda melepas cadar anda!" Salah satu Bodyguard memperingati wanita itu. Karena semenjak ia masuk gerak_geriknya sudah di curigai, apalagi tatapan dari para tamu undangan yang menatapnya aneh dengan tampilanya yang berbeda.


Wanita itu dengan cepat menggelengkan kepalanya, ia tidak bersedia melepas cadarnya.


" Apa yang anda bawa Nona?" Lanjut sang Bodyguard menanyakan benda yang di bawa Wanita itu.


Lalu Bodyguard yang satu memeriksa dengan alat pendeteksi, namun tidak di temukan sesuatu yang berbahaya.


Wanita itu mengedarkan pandanganya, matanya tertuju pada satu sosok pria yang tengah berdiri tidak jauh darinya.


" Tolong lepaskan saya!" Ucap Wanita itu pada Bodyguard yang sedang mencekalnya.


Kedua Bodyguard itu pun saling menatap satu sama lain, saling memberi isyarat dari tatapan matanya.


Lengan Wanita itu pun di lepaskan, lalu Wanita itu berputar searah jarum jam Tujuh, menghampiri sosok Lelaki yang dilihatnya tadi.


" Tolong berikan ini pada pengantin Pria!" Ucap Wanita itu To the Point dengan menyerahkan benda yang ada ditanganya.


Pria itu pun menerimanya, saat Pria itu akan membuka suaranya, Wanita itupun segera begegas pergi dari hadapan sang Pria.


" Tunggu...tunggu...Yo, gw seperti gak asing dengan Wanita itu?" Aslan tampak mengingat_ingat Wajah wanita yang hanya tampak matanya saja.


" Lo kapan sih, merasa asing dengan Wanita?" Balas Dio dengen sindiran.


" Gw serius Yo?"


" Terserah lo!"


Setelah selesai dengan Acara bersalam_salaman dengan para tamu undangan, Hafiz dan Alina memutuskan untuk turun dari pelaminan.


Hafiz tampak serasi menggandeng Istrinya.


Langakah kaki Hafiz menghampiri kedua sahabatnya yang duduk di kursi undangan VIP.


" Sayang aku kesana dulu ya?" Pamit Alina dengan menunjuk ke arah para segerombolan Wanita.


" Ya sudah, aku tunggu disini." Jawab Hafiz, lalu duduk di sebelah Aslan dan Dio.


" Nio dan Clara mana Yo?"Tanya Hafiz pada Dio.


" Tau tuh, tadi Nio minta ice cream. " Jawab Dio.


" Oh ya Rel, nih ada titipan buat lo?" Aslan meletakan titipan Wanita bercadar di atas meja.


Dahi Hafiz berkerut, melihat benda yang di letakan diatas meja oleh Aslan.


" Dari siapa?" Tanyanya, meraih benda itu.


" Dari Wanita misterius bercadar!" Sahut Dio.


" Buka Rel, gw penasaran!" Timpal Aslan.


Hafiz pun membuka kado dari Wanita bercadar itu. Karena Hafiz pun merasa penasaran, seingatnya dia tidak banyak memiliki teman Wanita kecuali rekan kerja, apalagi yang bercadar, sangat tidak mungkin.

__ADS_1


Tangan Hafiz meraih isi dari kotak kado yang telah di bukanya, terselip kartu ucapan didalamnya.


Selamat Berbahagia, Jadilah imam yang baik bagi makmum' mu...Jangan pernah tinggalkan SholatMu.


Mata Hafiz terbelalak membaca kartu ucapan itu. Ternyata isi dari kado itu sebuah Sajadah.


" Dimana sekarang Orangnya?" Tanya Hafiz dengan semangat.


" Udah pergi dari Satu jam yang lalu!" Jawab Aslan cuek.


Dalam hati, Hafiz sudah bisa menebak siapa orang yang memberikan kado untuknya itu.


Ternyata kamu datang, aku janji akan selalu ingat pesan kamu.


" Ya udah gw cabut dulu, Bokap gw udah ribet nelpon mulu dari tadi!" Aslan pamit pada Hafiz dan Dio, karena ia sudah berjanji pada ayahnya untuk menemui orang yang akan di jodohkan denganya.


" Semoga sukses Lan!" Hafiz


" Kalo lo gak mau, kasih gw!" Celetuk Dio.


" Dasar Dokter sarap lo!" Balas Aslan ke Dio.


Aslan pun bergegas pergi memacu mobilnya menuju kediamanya bersiap menemui Wanita yang sama sekali tidak diharapkanya.


***


" Assalamualaikum..." Ucap Khadija saat masuk ke dalam toko.


" Waalaikum salam..." Jawab Leni. "Belanja apa' an kamu Ja, banyak sekali?" Sambung Leni bertanya, melihat Khadija menenteng Tas belanja di tangan kanan dan kirinya.


" Oh..Ini oleh_oleh buat sodara_sodara di kampung nanti! Aku juga habis beli mukenah buat ibu dan adekku."


" Yah...Jadi sedih kan aku Ja? Beneran kamu jadi pulang?" Tanya Leni dengan wajah melas.


" Iya Len, Insyaalloh kalau nanti aku ada waktu akan main kesini jenguk kamu dan Ummi." Jawab Khadija, kemudian memeluk sahabatnya.


" Ya sudah, aku tak beresin ini dulu ya?" Ucap Khadija berpamitan pada Leni kembali ke rumah Ummi Aminah.


" Assalamualaikum Ummi?" Ucap Khadija pada Ummi Aminah yang sedang duduk bersantai di teras rumahnya sambil membaca buku_buku Islami kegemaranya.


" Waalaikum salam.." Jawab Ummi Aminah menegakan wajahnya ke arah Khadija.


" Dija kamu dari mana nak? Kok wajah kamu pucet gitu?" Ummi Aminah melihat wajah Khadija yang tampak lelah.


" Dari belanja Oleh_oleh buat keluarga Ummi, Dija ndak papa kok Ummi, mungkin cuma kelelahan habis muter_muter saja."


" Ya sudah sana masuk, kamu istirahat dulu!"


" Iya Ummi."


Khadija kemudian berlalu dari hadapan Ummi Aminah, masuk ke dalam rumah.


*Brugk....


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Hafiz dan Alina.


__ADS_1


Hay...hay...Para Readersku yang budiman, ini aku Update lagi ya, mumpung lagi semangat ngetik...Semoga para Readers gak bosen ya?


Ayo dong please di komen, biar akunya semangat Updatenya...Sorry Author banyak maunya...🙏🙏🙏*


__ADS_2