
Tidak banyak kegiatan yang ku lakukan di hari minggu seperti ini. Seperti hari-hari minggu sebelumnya, pagi hari sesudah sarapan, aku segera berlalu kebelakang untuk mencuci baju, sepatu, dan segala perlengkapan pribadiku selama satu minggu.
Ya, memang satu minggu sekali aku mengerjakan semua itu, karena hanya di hari minggu aku memiliki waktu luang.
Di hari-hari efektif, jadwalku sudah penuh dengan kegiatan di luar rumah. Pagi kuliah hingga sore, jika jadwal kelas sedang penuh. Lalu pulang istirahat sebentar, bersih-bersih setelah itu menjalankan kewajiban dan saat menjelang maghrib aku akan pergi ke Masjid membantu para remaja masjid di sana dan para ustadz/ustadzah mengajar ngaji anak-anak TPQ.
Jangan salah dan jangan mengira, meski di rumahku ini ada pembantu, terus aku bisa berleha-leha seperti puteri raja? Enggak!
Sejak aku duduk di kelas Empat SD, Bunda sudah mulai melatih ku untuk mandiri. Dari mulai hal kecil, mencuci sepatu, membereskan kamar, dan menyiapkan keperluan sekolah. Hanya menyetrika dan mencuci baju, Bunda akan membantu. Tetapi untuk sekarang kedua pekerjaan itu sudah lama ku lakukan sendiri.
Setelah semua beres, baru aku bisa bersantai. Jika sedang bosan maka Shakila adikku tersayang selalu menjadi korban keusilan.
Tapi beruntung hari ini dia lolos dari aksi kejahilanku, karena dia ikut bersama Papa dan Bunda pergi mengecek toko.
Mungkin, dia sudah mencium aroma mengerikan jika aku sedang berada di rumah.
***
Hari minggu berlalu tanpa sesuatu yang berkesan datang lagi hari senin yang terkadang terasa menyenangkan kadang juga membosankan. Entahlah.
Semoga hari senin ku kali ini terasa menyenangkan.
"Kok tumben, mau bawa motor sendiri?" tanya papa saat ku menanyakan kunci motor yang telah lama menganggur digarasi.
Awal-awal kuliah, aku memang meminta papa untuk membelikan motor. Karena jenis transportasi ini sangat flaksibel untuk kondisi jalanan ibukota yang sering terjadi kemacetan.
Lalu aku membiarkanya merana dalam waktu lama. Terlalu keenakan di bonceng dan diantar jemput, membuatku akhirnya malas membawa kuda besi ku itu.
'Dasar manja' kalimat itulah yang sebenarnya membuat telingaku marasa tersentil. Mulai sekarang akan ku buktikan kalau aku bukan anak manja. Selain itu, sepertinya juga akhir-akhir ini kak Nio dan kak Dipta pada sibuk sendiri-sendiri dengan urusanya masing-masing.
"Iya Pa, lagi kangen aja bawa motor sendiri," kilahku sambil meminum susu.
"Ya sudah, kakak hati-hati kalau bawa motor. Ingat jangan ngebut-ngebut," pesan Bundaku tercinta, tau kalau putrinya ini mengemudikan motornya seperti kang ojol kejar setoran.
"Kalo jalanya pelan-pelan, kak Zahla bisa telat Bunda," seloroh si Shakila. Tambah pintar saja, adik-ku yang satu ini.
Ku lihat Papa terkekeh mendengar celoteh Shakila, sedangkan Bunda hanya memutar bola mata sambil mengambilkan makanan untuk pria yang diduduk di ujung meja sana.
"Betul itu," sahutku sambil mengangkat jempol ke udara.
Setelah sarapan, lalu aku berpamitan pada Papa dan Bunda. Menyalimi tangan kedua orang tuaku dengan hormat dan mencium pipi mereka dengan sayang, tidak lupa pada si kecil Shakila yang menunggu giliran ku cium sambil memasang cengiran.
Ku raih kunci motor di atas meja yang sudah diambilkan Bunda sebelumnya, lalu ku bergegas menuju garasi mengambil motor metic kesayangan, siap tancap gas.
Karena waktu masih pagi, ku kendarai motorku dengan santai menyusuri landai-nya jalanan ibukota.
Dari jarak kurang dari Seratus meter, mataku menyipit saat menangkap penampakan seorang pemuda yang tengah berdiri di halte, entah sedang menunggu siapa. Apa sedang menungguku? Tidak mungkin. Sepertinya dia sedang menunggu angkot lewat. Sudah pasti.
"Mau ikut nggak?" tawarku ketika sudah berhenti di depan pemuda itu tanpa mematikan mesin motor.
"Nggak!"
Dasar tukang gengsi.
"Bisa telat lho nanti,"
"Bukan urusan lo!" Buseeet, ini cowok makin nyebelin aja.
"Katanya kita pacar," Ku naik turunkan alis, menggodanya.
__ADS_1
"Udah sono jangan ganggu gue," kak Dion mengibaskan tangan, menyuruhku pergi.
"Ya udah, selamat menunggu," Ku hidupkan kembali motorku yang tiba-tiba mati, mungkin lelah menungguku berbasa-basi.
"Kok kalian malah berhenti di sini sih?" Saat sudah bersiap menarik tuas gas, tiba-tiba kak Nio muncul dari arah belakang sambil berboncengan.
"Jangan bilang kalian mau mojok dulu ya?" Eh, yang bener aja mojok di halte. Kurang kerjaan banget. Emang ada-ada aja nih kak Melisha, asal ngejeplak aja kalo ngomong.
"Udah ayo jalan,"
Hah, dia kira aku ini kang ojol apa? Main tepuk pundak terus nyuruh jalan. Nggak bisa! Aku kan cewek, harusnya aku yang di bonceng.
"Enak aja, kak Dion dong yang di depan," protes ku sambil turun dari motor.
"Udah lo aja, gw males," jawabnya datar.
"Yaelah, kalian itu mau berangkat kuliah apa mau debat sih?" seloroh kak Nio. Jengah mungkin, melihat aku dan kak Dion sedang adu urat.
"Ya udah yuk yank, kita jalan duluan. Jam-nya Pak Haikal nih, jangan sampe telat," kata kak Melisha mengingatkan pacarnya.
Kak Nio pun kembali memacu motor gedenya, berlalu dengan kecepatan tinggi, setelah sepasang kekasih itu melambaikan tangan ke arah kami.
"Eh, mau kemana?" Kok, ini cowok turun lagi, bukanya pindah kedepan.
Kak Dion bergeming, sambil berlalu melewatiku.
Awas aja!
"Jangan salahkan aku, jika nanti rahasia hubungan pura-pura ini terbongkar," Kali ini aku sudah nggak tahan lagi dengan sikap dingin bin nyebelin kak Dion. Emang dia siapa?
Jangan panggil aku Zahra, jika aku tidak bisa meluluh lantakkan bekunya hati seorang Dion.
"Lo ngancem gue?" kak Dion berbalik, dan menatapku tajam.
"Dasar lemes,"
Yeah, berhasil!
Mungkin dia geram karena ancamanku. Tetapi akhirnya dia kembali duduk di atas motor, dan kali ini dia yang mengambil alih kemudi.
Sepanjang jalan, duduk di balik punggung lebar, hidungku dimanjakan oleh aroma parfum maskulin khas pria dewasa. Baunya menyeruak menembus indera penciumanku di bawa oleh hembusan angin pagi yang masih terasa segar.
***
Meski hubunganku dengan kak Dion masih terkesan datar-datar saja, tidak ada kemajuan yang signifikan, tetapi perlahan tapi pasti rasa ini mulai tumbuh tanpa ku sadari.
Kagumku menjadi cinta.
Mungkin benar pepatah jawa mengatakan 'Witing tresno jalaran soko kulino' Cinta tumbuh karena terbiasa.
Sejak hari dimana pertama kita berangkat bersama sambil berboncengan, di situ awal, akhirnya kita sering berangkat bersama.
Masih di tempat yang sama, entah kak Dion memang sengaja menungguku atau hanya takut dengan ancamanku waktu itu?
Ah, sudahlah paling tidak ada jalan bagiku memuluskan rencana menaklukan hati si pangeran es.
Apa salahnya, seorang cewek mengejar cinta seorang cowok? Jawabanya, memang tidak ada yang salah, hanya saja terkesan murahan.
Murahan? Tidak juga. Kalau murahan itu lebih menyodorkan diri kepada semua pria tanpa pandang bulu, ntah itu bulu ketek, bulu kaki atau bulu-bulu yang lainya.
__ADS_1
Sedangkan aku hanya mengejar cinta satu pria. Dan anggap saja ini bagian dari emansipasi wanita.
Beberapa hari ini, diam-diam aku suka memperhatikan segala apa yang dia lakukan selama di lingkungan kampus.
Kekagumanku pada pemuda itu, semakin menambah rasa cinta yang tumbuh di dalam sini. Wajahnya yang selalu tampak berseri-seri dengan jambul yang sedikit basah mana kala pacar pura-puraku itu keluar dari Musholla.
Baru ku ketahui, setelah beberapa hari aku sering mengikutinya diam-diam, ternyata kak Dion adalah sosok yang cukup religius. Setiap Dzuhur dan Ashar selalu ku lihat dia keluar-masuk dari tempat suci itu.
Dan ku pastikan sendiri kalau dia ke Musholla bukan untuk ngadem, numpang tidur atau menghindar dari dosen killer. Tetapi memang benar-benar untuk beribadah menjalankan kewajibanya.
Benar-benar calon imam idaman.
Perhatian demi perhatian mulai ku tunjukkan, meski tidak jarang aku mendapat penolakan.
"Kak ini aku bawain minum," Ku mendorong sekaleng minuman isotonik yang ku letakkan di atas meja, mendekat, hingga sedikit menyenggol buku tebal yang sedang di perhatikanya.
Sengaja ku mencari pacarku ini, ketika tidak terlihat diantara segerombolan para sahabatnya. Setelah ku menanyakan kepada salah seorang teman sekelasnya, ternyata kak Dion sedang berada di perpus. Entah sedang mengerjakan apa, aku pun tidak tau.
Yang aku lihat saat ini dia sedang menyalin beberapa kalimat yang sudah ia tandai dari buku referensi yang diambilnya.
Tak ada sahutan. Oh, mungkin masih konsentrasi. Aku pun setia menunggu di sampingnya sambari memperhatikan setiap inchi dari wajah yang tampak serius, dengan kedua alis saling bertautan, membuat wajah itu semakin terlihat menawan.
Alisnya yang tebal, mata yang tak terlalu lebar, hidungnya yang tidak pesek dan juga tidak mancung tapi terlihat proposional, wajahnya mulus tanpa ada bulu-bulu yang tumbuh dan bibir merah itu ... Stop! Jangan biarkan pikiranku semakin liar.
Hingga Tiga puluh menit berlalu, tak sepatah kata pun keluar dari bibir bergelombang itu. Tanganya terus bergerak cepat mencatat, bola matanya terus berputar memandang dari buku satu ke buku yang lain. Tak ada niat mata itu memandangku barang sebentar.
"Masih lama ya kak?" tanyaku dengan nada lembut. Jangan di tanya alasanya kenapa seorang Zahra yang biasa bar-bar tiba-tiba berubah lembut selembut tepung terigu.
Ini aku lakukan masih dalam rangka merebut hatinya, agar si dia terpesona.
Jiaaaahhhh ... Calm down Zahra!
"Hhmmm,"
"Ini diminum dulu kak,"
Hening.
Mulai geram, tapi harus tetep sabar.
"Kak,"
"Bisa diem gak sih lo!" Aku tersentak saat nada itu sedikit meninggi.
Tanpa permisi, aku memutuskan untuk segera pergi, ada yang nyeri di dalam sini.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1
Ikuti terus ya, perjuangan Zahra mengejar cinta pangeran es.
Jangan lupa Like, Komen dan votenya ya ...🙏😊😘