
Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita mengimani hal gaib. Salah satunya bahwa Allah menciptakan jin. Kehidupan jin hampir sama dengan kehidupan manusia yang memiliki tempat tinggal, berkeluarga, beranak-pinak dan sebagainya. Ada beberapa golongan jin dan salah satunya yang suka mengganggu manusia. Maka dari itu perlu kiranya kita melindungi diri dari segala gangguan jin menggunakan Ayat-ayat Al Quran sebagai perisai orang yang beriman.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Semoga setelah mengadakan acara pengajian ini, ndak ada lagi yang mengganggu kita semua ya Mas?" ucap Khadija berdiri di depan ruko bersisihan dengan suaminya, memandang lepas ke arah beberapa orang yang sudah pergi meninggalkan toko miliknya.
"Iya Bund," Hafiz tersenyum menatap istrinya, "Yuk masuk," ajaknya sambil merangkul pinggang perempuan disampingnya.
Karena seringnya terjadi hal-hal mistis yang di alami orang-orang disekitarnya, membuat Khadija semakin kekeuh mengadakan pengajian yang bertujuan menghilangkan aura negatif dari para mahluk halus yang selalu mengganggu.
Semenjak kejadian aneh yang di alami di ruang Pantry waktu itu, Hafiz merasa ada yang mengikuti, meski ia sendiri tidak tahu pasti itu apa, atau hanya perasaanya saja? Dan puncaknya, saat Dua hari yang lalu ketika hal aneh kembali terjadi pada dirinya.
___
"Sayang, tumben jam segini udah kesini?" tanya Hafiz heran, sekilas melirik jam yang terikat di lengan sebelah kiri.
Khadija hanya tersenyum, mendekat ke arah sang suami. Perempuan itu berdiri di belakang suaminya dengan melingkarkan kedua tanganya di atas bahu pria itu.
"Mas kita ke kamar yuk?" ajak Khadija tanpa basa-basi, nada bicaranya pun terdengar begitu menggoda sembari mengendus leher putih suaminya.
Hafiz terbelalak senang dengan sikap agresif yang ditunjukkan istrinya, "Kamu serius Bund?" Hafiz memutar kursi kebesaranya lalu mengambil alih perempuan itu ke atas pangkuanya.
Ada rasa tidak percaya, seperti ada yang aneh. Namun, Hafiz tidak perduli. Dengan senang hati ia akan melayani keinginan istrinya itu. Jarang-jarang perempuan itu mengajaknya terlebih dahulu.
Baru semalam ia melakukanya. Tetapi secara mengejutkan dan tidak biasa sebelum jam makan siang tiba, Khadija datang untuk meminta jatah. Meski rasa lelah sisa pergulatanya semalam masih terasa, tetapi untuk urusan yang satu itu, Hafiz tidak akan pernah menolaknya.
Khadija mengangguk, lalu menarik tangan suaminya masuk ke dalam kamar pribadi sang Direktur utama. Hijab yang membalut kepalanya pun kini sudah ia hempaskan kesegala arah.
Tanpa melepas pagutanya, tangan Khadija beraksi melepas Satu persatu kancing kemeja suaminya. Ciuman semakin memanas dan area int*m keduanya pun sudah menegang meminta untuk di persatukan.
"Aaarrgghh ..." Hafiz mengerang kesal, ketika pintu ruanganya di ketuk seseorang dari luar.
Seruan Emergency terdengar. Hafiz tidak akan mempedulikanya jika itu bukan panggilan darurat dan akan lebih memilih pergumulannya yang begitu nikmat.
"Sayang, tunggu disini sebentar," Hafiz bangkit dari atas tubuh istrinya. Lalu merapikan kembali kemeja dan celana yang hampir terlepas.
"Ck!" Khadija berdecak kesal. Tampak raut kecewa dari wajah cantiknya. Sempat ia akan menahan suaminya, tetapi sudah keburu pria itu berlalu.
Sekembalinya menangani pasien, Hafiz segera kembali menuju kamar pribadinya, ingin segera melanjutkan pelepasan yang sempat tertunda.
"Sayang," Hafiz mengedarkan pandangan ketika sang istri sudah tidak berada lagi di atas ranjang. "Apa sudah kembali ke toko?" pikirnya dengan perasaan bersalah karena meninggalkan perempuan itu cukup lama, walau hanya Satu jam.
___
"Sayang ayo kita lanjutkan yang tadi," Hafiz menarik istrinya yang sedang duduk di meja kasir. Sesuai dugaan, jika sang istri telah kembali ke toko.
"Tolong gantikan istri saya dulu. Dan jangan naik ke atas sebelum saya turun," seru Hafiz saat berada di pertengahan anak tangga. Hampir saja ia lupa menginstruksikan hal tersebut pada Kedua karyawanya.
Leni dan Sari mendongak bersamaan lalu mengiyakan perintah dari suami atasanya tersebut.
"Mas kamu kenapa toh?" tanya Khadija bingung. Tanganya terus di tarik sang suami menaiki anak tangga.
"Maafin aku Bund, pasti tadi kamu kelamaan nunggu ya," ucap Hafiz sesuai praduganya.
Kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar tempat Khadija biasa istirahat, tepat di sebelah kamar Sari dan Leni. Di dudukanya sang istri di atas Spring bed yang hanya berukuran 140 x 200 centimeter persegi.
"Kamu ngomong opo toh Mas? Aku ndak ngerti," Tatapan aneh di tunjukan pada pria yang sudah berdiri di hadapanya, "Eh, eh, eh ... Kamu mau ngapain?" Khadija sedikit terkejut saat melihat suaminya mulai membuka kancing bajunya.
"Ya nerusin yang tadi lah sayang?" Hafiz membungkukan tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu di atas ranjang. Jarak wajah keduanya pun hanya tinggal Satu jengkal.
"Kan semalem udah Mas?" protes Khadija, memundurkan wajahnya.
"Tapi, kamu kan tadi datang minta lagi?"
"Hah--" Khadija semakin tidak mengerti dengan ucapan pria di hadapanya.
Khadija mendorong pelan dada bidang suaminya, saat pria itu hendak melancarkan seranganya, "Sebentar Mas, coba cek Handphone kamu?" Saat sebelum suaminya datang, Khadija mengirim pesan chart tetapi masih belum terbaca oleh si penerima. Perempuan itu merasa ada yang salah dengan suaminya.
Hafiz mengernyit, mengangkat dagunya sekilas, seolah mengisyaratkan pertanyaan 'Memang ada apa?'. Tanpa merubah posisinya Hafiz meraih ponsel yang berada di saku celananya.
Seketika Hafiz menghempaskan tubuhnya, duduk di samping istrinya setelah membaca pesan yang tertera di layar ponsel, "Terus yang tadi siapa?" gumam Hafiz tercengang, Satu tanganya terarah menyentuh bibirnya. Mengingat ciuman panas nan bringas beberapa jam yang lalu. Ternyata wanita itu bukanlah Khadija.
__ADS_1
Isi pesan tersebut menyatakan jika sang istri tidak bisa datang ke Rumah Sakit lantaran toko sedang ramai pengunjung.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Khadija melihat ekspresi syok dari suaminya.
Hafiz merubah posisinya menghadap perempuan yang tengah menunggu jawaban darinya. Ia pun perlahan menceritakan kejadian beberapa jam yang lalu.
"Terus kalian melakukanya?" Khadija tidak kalah terkejut mendengar pernyataan sang suami yang sengaja ia potong. Hatinya gusar, penasaran dengan adegan yang terjadi selanjutnya.
Hafiz menggeleng, "Belum Bund," kembali ia melanjutkan penjelasanya.
Hembusan nafas lega terdengar, Khadija menuntun suaminya untuk ber_Istighfar. Khadija pun balik menjelaskan, jika wanita yang datang menghampiri tadi bukanlah sosok manusia, melainkan Jin yang menyerupai dirinya.
Hafiz mengusap wajahnya kasar. Nafsu yang sebelumnya membara, seketika menghilang dengan kenyataan yang begitu sulit di cerna oleh akal sehatnya.
Khadija meraih tubuh suaminya yang tampak sangat terpukul. Diberikanya pelukan hangat yang begitu menenangkan, "Bersyukur kamu masih dalam lindunganya Mas,"
___
"Assalamualaikum," ucap seseorang ketika Hafiz dan Khadija sudah berbalik badan.
"WAALAIKUM SALAM," koor suami istri itu bersamaan, kembali memutar.
"Eh, Mas Haikal? Dari mana Mas?" tanya Khadija pada pria di hadapanya.
"Sudah tutup ya tokonya?" jawab Haikal dengan pertanyaan.
"Udah tau tutup, masih nanya," sahut Hafiz datar. Terlihat jelas tatapan tidak suka setiap kali berhadapan dengan mantan rivalnya tersebut. Apalagi status duda yang di sandang Haikal semakin membuat hatinya semakin cemburu.
"Wah, sayang sekali, Elif pasti kecewa tidak bisa makan kue kesukaanya," ucap Haikal menggambarkan suasana hati putrinya jika ia tidak membawakan kue pesanan gadis kecil yang sedang menunggunya di rumah.
Bilang aja modus, pengen ketemu istri gw!"
Hafiz hanya bisa menggerutu dalam hati, jika tidak ingin mendapat pelototan dari sang istri karena sikap posesifnya.
"Lapis legit kan?" tebak Khadija. Ya perempuan itu tahu kue yang dimaksud Haikal, karena pria itu salah satu pelanggan tetapnya, "Kalau itu ada Mas, kebetulan masih ada di dalam. Mari masuk dulu," ajak Khadija.
"Silahkan masuk," Hafiz sekilas mengangkat wajahnya tanda mengajak tamu tak undang di depanya masuk kedalam.
"Habis ada acara ya?" tanya Haikal saat sudah masuk dan melihat karpet yang masih tergelar di dalam ruangan.
"Iya, silahkan duduk," jawab Hafiz singkat sambil menjulurkan tanganya ke arah lantai yang beralas permadani.
Hafiz dan Haikal pun duduk bersila di atas karpet saling berhadapan.
"Tunggu sebentar Mas, Dija ambilkan," pamit Khadija beranjak ke arah dapur. Haikal menjawab dengan anggukan kepala.
Tidak lama berselang Khadija datang membawa kotak dus berukuran sedang yang ia bungkus dalam kantong kresek dengan di ikuti Sari dan Leni dari balakang sambil membawakan kue untuk suguhan dan Dua cangkir kopi diatas nampan.
"Mari Mas Haikal, dr.Hafiz di minum kopinya," tawar Leni setelah meletakkan kopi di hadapan kedua pria yang saling duduk berhadapan.
"Kenapa baru ngadain pengajian sekarang?" tanya Haikal setelah menyesap kopi yang disuguhkan. Setelah Khadija pergi ke dapur Haikal sempat menanyakan pada Hafiz perihal acara yang baru saja di adakan.
"Sudah pernah sih Mas diadain selamatan," jawab Khadija kemudian menjelaskan selamatan yang pernah di gelar sewaktu acara pembuakaan toko.
"Sebenarnya tempat ini harus di Ruqyah juga," ujar Haikal.
"Maksud kamu apa?" tanya Hafiz
Haikal menjelaskan aura negatif dan hawa panas yang ada di tempat itu serta ada beberapa penunggu yang menghuni di beberapa titik. Tempat yang pernah di ungkap Zahra dan Sari menjadi salah satunya. Bukan tanpa alasan mereka ada disitu. Keberadaan mahluk astral tersebut di bawa oleh pemilik usaha sebelumnya yang menggunakan mereka sebagai media penglaris untuk menarik konsumen.
"Hati-hati lho dek kamu punya saingan," ungkap Haikal melirik pria yang ada di samping Khadija.
"Saingan?" gumam Khadija mengerutkan keningnya tidak mengerti. Begitu juga dengan Hafiz.
Haikal terkekeh sebelum melanjutkan maksud ucapanya. Pria itu tidak menyangka jika suami dari perempuan yang kini menjadi temanya itu memiliki pengagum rahasia, "Diantara mereka, ada yang suka dengan suami kamu," paparnya.
Sejak usia Tiga tahun, Haikal di anugerahi kelebihan bisa melihat mahluk dari dunia lain atau biasa di sebut Indigo. Hanya saja dia tidak pernah meng-Expose kelebihanya itu. Dia akan nengutarakan jika itu di rasa penting untuk di ketahui oleh yang bersangkutan.
Seperti halnya yang di alami Hafiz. Jika hal itu tidak di ungkapkan bisa saja mahluk yang berasal dari bangsa jin itu akan menghancurkan rumah tangga orang yang di sukainya. Sama seperti manusia, mereka pun memiliki rasa cemburu.
Maka dari itu Haikal ingin Hafiz lebih mempertebal imanya serta lebih mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta.
__ADS_1
Spontan Hafiz dan Khadija saling bersitatap, tidak percaya.
"Jangan ngaco' deh Kal," sanggah Hafiz.
"Kayanya ada benarnya yang dikatakan Mas Haikal," Berbanding terbalik dengan suaminya, Khadija justru mengiyakan ucapan pria di hadapanya. Perempuan itu mengaitkan dengan beberapa kejadian mistis yang di alami oleh suaminya beberapa waktu yang lalu.
Leni dan Sari yang sedang menggulung karpet untuk dirapikan, seketika ikut nimbrung penasaran.
"Masa sih Mas? Gimana bentuknya, cantik gak?" tanya Leni penasaran dengan sosok mahluk yang suka dengan suami sahabatnya itu.
"Kamu mau dibuka mata batinya?" tawar Haikal pada Leni. "Yakin, kamu siap?" lanjut Haikal memastikan, karena bukan perkara mudah untuk melihat sosok jin yang memiliki bentuk jauh dari kata sempurna. Bahkan jika tidak kuat maka akan dapat membahayakan kesehatan mental.
"Iya aku mau," Leni mengangguk antusias.
Khadija dan Hafiz hanya bisa geleng-geleng kepala dengan keberanian Leni. Meski Khadija bukan orang yang penakut, tetapi dia juga tidak siap melihat wujud asli dari mahluk astral tersebut.
Begitu juga dengan Hafiz, cukup dengan membayangkanya saja bedasarkan cerita yang pernah ia dengar, itu sudah berhasil membuatnya bergidik ngeri.
Sari? Jangan di tanya, tentu saja gadis itu tidak akan mau. Cukup dengan melihat si pemilik senyum mengerikan itu saja sudah membuatnya hampir gila.
Tanpa menunggu lama, Haikal menyuruh Leni untuk memejamkan mata. Kemudian Haikal mengarahkan telapak tanganya di depan wajah Leni. Sesaat setelah membaca doa, Haikal menarik tanganya ke atas kepala gadis yang ingin di buka mata batinya.
"Sekarang buka," titah Haikal.
Perlahan Leni membuka matanya. Tubuhnya berjengkit, entah apa yang dilihat gadis itu pertama kali. Matanya terus mengedar disetiap sudut ruangan tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. Kemudian gadis itu beranjak menuju arah depan, kemudian ke arah belakang. Mungkin Leni juga penasaran dengan apa yang di lihat Zahra dan Sari.
Hafiz, Khadija dan Sari menatapnya penasaran, kecuali dengan Haikal yang tampak santai.
"Mas, itu yang suka dengan Pak Dokter?" tanya Leni pada Haikal. Tatapan matanya mengarah di sebelah kiri Hafiz.
Haikal mengangguk sembari tersenyum, "Gimana sudah cukup?"
"Iya Mas, sudah," Leni kembali memejamkan mata, begitu juga dengan Haikal sudah memposisikan tanganya seperti semula lalu menariknya kebawah untuk menutupnya.
Setelah membuka matanya kembali, Leni menceritakan pengalaman apa saja yang di tangkap oleh indera penglihatanya.
Gadis itu menceritakan sosok anak kecil yang ada di area belakang. Dan sosoknya tidak begitu menyeramkan hanya saja dandananya yang compang-camping dan berwajah pucat.
Leni juga membenarkan wujud yang di lihat Sari, ternyata lebih menyeramkan. Pantas saja rekanya itu ketakutan.
"Terus gimana, wujud mahluk yang suka dengan Mas Hafiz?" timpal Khadija. Ia membayangkan jika sosok itu sangat cantik, mengingat paras tampan yang dimiliki suaminya.
Hafiz tampak biasa saja. Sama sekali pria itu tidak penasaran, apapun wujudnya, ia tidak peduli. Sekalipun dia adalah wanita yang sangat cantik. Baginya hanya istrinyalah yang paling cantik dari wanita manapun.
Sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya, Leni tampak menormalkan bibirnya agar tidak tertawa, "Ciee ... Ciee ... Nungguin ya?" goda Leni menaik turunkan alisnya.
Leni mengangkat kedua jempolnya, "iihhh ... Cucok meong nek, dese seksoy semelohay," ungkap Leni melipat satu tangan di depan dada, dan satunya lagi melambai-lambai ke arah Khadija.
Penampakan jin waria itulah yang pertama kali dilihatnya. Wajahnya menyeramkan, berkulit hitam legam, dengan rambut kribo dan mulut yang sangat lebar. Posisinya tepat berada di samping Hafiz dengan merangkulkan tanganya di lengan pria tampan itu.
"Maksud kamu dia bencong?" Mata Khadija membulat sempurna. Tatapanya pun beralih pada pria yang ada disampingnya. Ternyata dugaanya salah.
Semula Hafiz yang nampak biasa, setelah mendengar pernyataan Leni, Hafiz ikut memelototkan matanya. "Jangan percaya Bund, Leni suka asal," elak Hafiz. Setelah tahu sosok mahluk yang menyukainya adalah jin waria. Ada rasa tidak terima dalam hatinya.
Khadija, Leni dan Sari kini sudah tidak bisa lagi menahan tawa. Haikal yang sudah mengetahui sejak awal hanya tersenyum simpul melihat Hafiz memasang wajah kesal. Entah karena jin waria itu atau Ketiga perempuan yang sedang menertawakanya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya...🙏😘😊
__ADS_1