Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Bertemu sahabat lama


__ADS_3

Sesuai dugaan, dari jarak Lima puluh meter sebelum Alina menepikan mobilnya, ia sudah melihat Dua mobil yang di kenalnya sudah terparkir lebih dulu di lokasi janjian tempat mereka bertemu.


"Maaf semuanya, aku telat," ucap Alina setelah turun dari mobil. Lalu berjalan menuju dimana Ayah Hafiz dengan kedua istrinya dan Hafiz dengan Khadija telah menunggunya di depan pintu.


"Kami juga baru saja datang," balas Ayah Hafiz dan yang lain pun mengangguk setuju, kecuali Hafiz yang tampak cuek dengan melipat kedua lengan di depan dada.


Setelah sampai di depan pintu, Alina merogoh tasnya, mencari kunci untuk membuka benda persegi yang terbuat dari kaca tersebut.


Setelah pintu di dorong mereka semua pun masuk. Setiap pasang mata menjelajah ke setiap sudut ruangan. Kosong dan berdebu itulah kesan yang bisa ditangkap oleh penglihatan.


"Orang yang menjual Ruko ini tidak sedang mabuk kan Lin?" tanya Ayah Hafiz memastikan. Pria paruh baya tersebut tidak percaya, jika Alina berhasil membeli bangunan yang cukup luas dan berlantai Dua dengan harga dibawah standart pada umumnya.


"Dia sadar sesadar-sadarnya kok Pa," jawab Alina tersenyum bangga. Ia tahu dengan maksud kalimat sindiran yang di lontarkan Ayah dari mantan suaminya itu.


"Memangnya kenapa Pa?" tanya Ibu Hafiz penasaran.


Tanpa menjawab Ayah Hafiz menyodorkan selembar kwitansi bukti pembelian kepada Istrinya.


"Kamu gak tanya alasan orang itu menjual Rukonya ini, kenapa?" tanya Ibu Hafiz penuh selidik. Perempuan itu juga merasa ada yang aneh setelah melihat jumlah nominal yang tidak sesuai dengan harga pasar untuk sebuah bangunan berlantai Dua.


"Kok aku jadi merinding gini ya?" gumam Ina sambil mengusap-usap tengkuknya.


"iihh, Mbak Ina jangan nakut-nakutin gitu dong?" Alina yang berdiri di posisi paling pinggir disamping Ina seketika berpindah ke tengah diantara kedua mantan mertuanya. "Memang sih Ruko ini sudah tidak di pakai sekitar Lima tahunan gitu, kata pemiliknya ini dulu juga bekas Toko kue lalu bangkrut dan sudah berkali-kali ganti usaha tapi tetap saja gak jalan," terang Alina sesuai informasi yang ia dapat.


Sebenarnya dari awal Alina juga merasa ada yang janggal. Namun, setelah melihat kondisi bangunan yang tampak biasa-biasa saja tidak ada hal yang mencurigakan dan tentunya tergiur dengan harga yang cukup murah, akhirnya Alina pun sepakat untuk membelinya.


"Tuh kan? Pasti ada yang gak beres di tempat ini," Ina terus menyakini persepsinya.


"Wajar juga sih kalau Ruko ini di jual murah. Lihat saja kondisi temboknya yang sudah lapuk, terus banyak juga yang harus di perbaiki," sangkal Hafiz menepis kesan mistis yang di ungkapkan istri muda sang Ayah.


"Iya, ndak ada apa-apa kok," sahut Khadija sambil manggut-manggut setuju dengan ucapan suaminya.


Krompyaaaanggg ...


"Aaaarrrrgggghhhh ... jerit keempat perempuan setelah mendengar benda jatuh yang berasal dari lantai atas.


Dengan reflek Khadija memeluk Hafiz karena terkejut. Begitu juga denga Ibu Hafiz dan Ina yang begitu erat merangkul lengan suaminnya.


Alina? Perempuan itu hanya bisa berjongkok sambil menutup kedua telinganya.


Hafiz dan Ayahnya pun ikut kaget. Namun, berusaha tetap tenang.


"Sudah, sudah tidak ada apa-apa," Ayah Hafiz menyadarkan para perempuan yang sedang dilanda ketakutan setelah memastikan tidak terjadi apa-apa di sekitar mereka.


"Astagfirullohaladzim," ucap Khadija melepas pelukanya. Begitu juga dengan ketiga perempuan lainya perlahan mengangkat kembali wajahnya.

__ADS_1


Alina kembali berdiri sambil clingak-clinguk menatap sekeliling.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Khadija melihat suaminya menaiki anak tangga.


"Sebentar mau ke atas, melihat apa yang jatuh," Hafiz menengok sekilas lalu terus berjalan menuju lantai Dua.


"Hati-hati Mas!" kata Khadija sedikit berteriak.


Sekitar Lima menit barada di lantai atas, kemudian Hafiz turun kembali dengan membawa sebilah besi berukuran kurang lebih Satu meter.


"Besi apa itu Rel?" tanya sang Ayah.


"Gak tau Pa. Mungkin ini tadi yang jatuh," jawab Hafiz mengendikan bahunya.


"Udah yuk Mas kita pulang," rengek Ina pada suaminya, "Makin kesini auranya makin gak enak," Ina tidak bisa menepis rasa takutnya meski Hafiz sudah memastikan asal suara.


"Ya sudah, setelah ini kita pulang," Ayah Hafiz menepuk-nepuk tangan Ina yang masih bergelayut di lenganya, berusaha menenangkan istri mudanya tersebut, "Oh ya Lin, kamu sudah mencari orang buat renovasi tempat ini kan?" lanjut Ayah Hafiz bertanya pada Alina.


"Sudah Pa. Kebetulan pemilik Ruko ini juga bersedia mencarikan tukang untuk merenovasi. Katanya dia punya beberapa kenalan tenaga Profesional." jelas Alina.


Setelah cukup melihat-lihat kondisi bangunan, akhirnya mereka semua memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin sore. Mereka semua pun kembali ke mobil masing-masing sesuai formasi ketika mereka datang.


____


"Mas pelanin mobilnya, itu Leni bukan?" tanya Khadija menunjuk pejalan kaki yang berjalan menyusuri trotoar.


"Iya itu Leni," jawab Hafiz setelah memastikan. Tanpa diminta Hafiz menepikan mobilnya mendekat pada gadis yang berjalan berlawanan arah dengan posisi mobilnya saat ini.


"Leni," pekik Khadija dari kaca jendela mobil yang terbuka.


"Dija?" Leni menghentikan langkahnya. Bibir gadis itu seketika merekah melihat sahabat lama yang begitu dirindukanya.


Hafiz dan Khadija pun kembali turun dari mobil menghampiri Leni yang masih setia berdiri. Lalu Kedua sahabat itu saling berpelukan melepas rindu.


"Leni, aku kangen sama kamu," kata Khadija.


"Sama Ja," Leni pun mengamini ucapan sahabatnya tersebut.


"Kamu dari mana Len?" tanya Hafiz ketika kedua perempuan di hadapanya sudah saling melepas pelukan.


"Dari Interview kerjaan Dok," jawab Leni.


"Dimana?" ganti Khadija bertanya.


"Di Swalayan ujung jalan situ," tunjuk Leni pada tempat yang terletak tidak jauh dari tempatnya saat ini.

__ADS_1


"Ya sudah mending kita cari tempat ngobrol sekalian cari tempat makan," ajak Hafiz melihat sahabat dari istrinya tersebut tampak lelah.


"Tau aja Pak Dokter kalau saya sedang lapar," seloroh Leni sambil nyengir.


Kebetulan tidak jauh dari tempat mereka berdiri, di seberang jalan Hafiz melihat Rumah makan Padang.


Setelah memesan makanan, Hafiz, Khadija dan Leni melanjutkan obrolan sambil menunggu pesanan mereka datang.


"Oh ya, apa kabar Ummi Len?" Khadija menanyakan perempuan paruh baya yang ia anggap sebagai ibu angkatnya.


"Alhamdulillah, kabar Ummi baik Ja," jawab Leni setelah menyedot teh botol di tanganya.


"Kok kamu melamar kerja lagi? Bukanya kamu sudah bekerja di tempat Ummi?" tanya Hafiz.


"Sejak Ummi menikah lagi, beliau di boyong suaminya ke Luar Kota. Jadi terpaksa Ummi harus menutup tokonya." jelas Leni.


"Maaf Len, waktu itu aku ndak bisa datang kepernikahan Ummi," ucap Khadija merasa menyesal.


"Gak papa kok Ja, kan waktu itu kamu juga lagi sakit, Ummi ngerti kok." Leni mengusap lengan sahabatnya, "Lagi pula waktu itu kamu sudah nelepon Ummi kan?" lanjut Leni memastikan. Khadija pun mengangguk mengiyakan.


"Terus sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Khadija


"Masih dirumah Ummi. Beliau kasih aku izin tinggal disana sampai aku mendapat tempat kos dan pekerjaan baru." papar Leni.


Obrolan pun terhenti ketika seorang pelayan membawakan pesanan. Ada banyak piring yang berisi makanan tersaji di atas meja khas Restauran Padang.


"Kalau kamu mau Len, sekitar Satu bulan lagi Khadija akan membuka toko kue, kamu bisa bantu-bantu Khadija nanti di sana," tawar Hafiz sambil menyantap makananya.


"Serius Ja, kamu mau buka toko kue? Iya, iya aku mau Dok," seru Leni gembira menatap sepasang suami istri di hadapanya bergantian. Gadis itu bahagia selain mendapat pekerjaan, ia juga bisa berkumpul lagi dengan sahabatnya.


Selesai acara makan, Hafiz, Khadija dan Leni memutuskan untuk mampir sebentar ke Masjid untuk menunaikan Shalat Ashar, setelah itu mengantarkan Leni menuju kediaman Ummi Aminah, tempat sementara Leni tinggal saat ini.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya.. 🙏😊😘*


__ADS_2