
Setelah kepulangan Dion, Zahra bergegas ke kamar Amanda. Zahra melihat ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu, melihat perubahan sikapnya saat di meja makan tadi.
Zahra masuk ke kamar Amanda, setelah si empunya kamar mempersilahkanya masuk. Ia melihat Amanda sedang duduk di atas tempat tidur dengan kedua lutut ditekuk ke atas. Lalu gadis itu mengambil posisi duduk di tepi ranjang, tepat di samping ibu hamil tersebut.
"Kamu kenapa, Nda?" tanya Zahra membuka percakapan sambil mengusap lembut punggung Amanda.
Amanda menggeleng.
"Apa ada sikap atau omonganku yang menyinggungmu?
Wanita itu masih tetap menggeleng, tatapan matanya menerawang entah kemana.
Zahra menarik napas agar tetap bisa bersabar.
"Kalau ada yang mengganggu pikiran kamu, ngomong aja sama aku, jangan kamu pendam sendiri. Ada aku di sini yang selalu siap membantu," ujar Zahra mencoba menyakinkan agar Amanda mau bercerita.
Ia ingat akan pesan sang papa, kalau ibu hamil itu tidak boleh banyak pikiran. Karena itu bisa mengganggu proses kehamilan.
Hingga Sepuluh detik berlalu, Amanda masih bergeming.
Namun, detik berikutnya Amanda mau membuka suara, ketika Zahra hendak mengangkat tubuhnya dari tepi ranjang–memutuskan keluar–memberikan ruang wanita itu untuk menenangkan diri.
"Aku kangen Varo, Ra," ucap Amanda dengan suara bergetar.
Benar saja, Zahra melihat wanita itu mulai menangis. Terlihat dari lelehan air mata yang mulai menetes dari sudut mata.
Seketika Zahra merengkuh tubuh Amanda ke dalam pelukanya, "Kamu yang sabar, ya? Kita doa sama-sama, supaya Varo cepat dibukakan pintu hatinya," tuturnya mencoba menenangkan.
Zahra bisa meraskan kepedihan hati yang dirasakan Amanda. Disaat-saat seperti ini, kebanyakan ibu hamil di luar sana merasakan betapa indahnya di manja oleh seorang suami, di belai-belai perutnya dan dituruti segala keinginan yang diminta. Seperti halnya tadi sore saat Amanda ngidam ingin makan buah kecapi, karena sedang tidak musim dan terlebih Dion yang enggan pusing mencarikan, akhirnya Amanda hanya bisa menelan ludah, kecewa.
***
Semenjak malam itu, Amanda lebih sering terlihat murung, dan terkadang tiba-tiba saja menangis. Bukan tanpa alasan, karana disela tangisanya Amanda selalu menyebut nama suaminya, Alvaro.
Tidak jarang Zahra kewalahan menghadapi Amanda yang super sensitif melebihi sang bunda ketika hamil adiknya dulu. Posisinya yang serba sulit, membuat gadis itu bingung untuk mengambil sikap.
Jika ia memberi tahu Alvaro, itu sama saja membahayakan Amanda dan bayinya. Namun, jika Amanda terus-terusan di biarkan seperti itu, tidak menutup kemungkinan wanita itu akan mengalami depresi karena stres menahan kerinduanya terhadap sang suami. Dan itu dampaknya sama-sama berbahaya.
"Gimana, Pa, kondisi Amanda?" tanya Zahra dengan raut wajah cemas.
"Untuk sementara ini kondisi Amanda dan bayinya baik-baik saja. Tolong jaga dia agar tidak stres, karena itu akan mempengaruhi janinnya. Usia kandunganya masih terlalu muda, dan itu cukup riskan," jelas papa Hafiz setelah memeriksa kondisi Amanda.
Setengah jam yang lalu, ketika Zahra pulang kuliah, gadis itu menemukan Amanda tergeletak tak sadarkan diri di depan pintu kamarnya. Tanpa berpikir panjang, Zahra segera menghubungi sang papa.
***
__ADS_1
Satu bulan berlalu. Namun, kondisi Amanda kian hari semakin memburuk. Bahkan wanita itu hampir saja menghilangkan nyawanya sendiri–melakukan percobaan bunuh diri–depresi–tidak sanggup lagi menanggung kesedihan yang dialami.
Melalui pertimbangan yang cukup sulit, serta meminta pendapat kepada kekasihnya, akhirnya Zahra memutuskan untuk memberitahu Alvaro atas saran Dion.
"Oh, jadi selama ini kamu yang sudah menyembunyikan Amanda?" tanya Alvaro menatap gadis yang duduk di seberangnya.
"Lebih tepatnya, Zahra yang sudah melindungi seorang istri yang di sia-siakan oleh suaminya!" sindir Dion dengan santai, membuang muka–malas memandang wajah pria tak bertanggung jawab, menurutnya.
Zahra menatap bergantian Dua pemuda yang saling berseteru di hadapanya.
"Jaga mulut lo!" sarkas Alvaro, "Bukan urusan lo, ikut campur rumah tangga gue!"
Sambil bersedekap, Dion tersenyum miring menanggapi ucapan Alvaro.
"Cukup!" Zahra mencoba menghentikan perang dingin yang baru saja dimulai sebelum situasinya semakin memanas.
"Tolong Varo, aku mohon terima Amanda! Dimana hati nurani kamu? Yang ada di dalam kandungan Amanda itu adalah darah daging kamu," lanjut Zahra pada pokok permasalahan. Mengingatkan.
Zahra juga memberitahu tentang kondisi Amanda yang cukup mengkhawatirkan.
Satu jam yang lalu, jika saja Zahra dan Dion tidak datang tepat waktu, entah bagaimana kondisi Amanda saat ini. Mungkin saja sudah terbujur kaku, tak bernyawa.
Dion dan Zahra menemukan Amanda sudah dalam keadaan pingsan–bersimbah darah–dengan luka sayatan yang ada di pergelangan tangan.
Hening.
Alvaro menarik napas, lalu tersenyum penuh arti menatap gadis yang ada dihadapanya, seperti ada sesuatu yang direncanakan, "Oke, gue akan mengambil Amanda kembali. Tapi ...." Pria itu sengaja menggantung ucapanya. Tatapan matanya berpindah ke arah Dion. Di ikuti juga oleh Zahra.
Dion menyipitkan mata, curiga.
" ... Setelah anak itu lahir, gue akan menceraikan Amanda. Dan gue mau, lo serahin Zahra ke gue," lanjut Alvaro menekankan kata-katanya.
"Oke!" seru Dion menyetujui tanpa berpikir panjang.
Masih setia di tempat duduknya, ekspresi wajah penasaran Zahra akan kalimat Alvaro yang terjeda berubah melongo seketika, mencoba mencerna kata 'oke' yang di ucapkan kekasihnya.
Apa-apaan, dirinya dijadikan bahan taruhan! Batin Zahra memberontak, tidak terima.
"Gue pegang ucapan, lo!" ucap Alvaro memasang tampang culas sambil menjentikan jari tepat di depan wajah Dion. Menyela Zahra yang hendak membuka suara, terlihat dari bibir gadis itu yang mulai bergerak terbuka.
Sebelum Zahra menyuarakan keberatanya, buru-buru Alvaro baranjak berdiri tersenyum penuh kemenangan, meninggalkan sepasang kekasih yang ia yakini pasti sebentar lagi akan terjadi peperangan.
"Kak Dion, apa-apaan, sih?" protes Zahra memasang raut wajah kesal. Ia marah dengan keputusan Dion yang dianggap semaunya sendiri.
Bibir Zahra mengerucut beberapa senti, melipat kedua tangan di depan dada–angkuh–sambil membuang muka.
__ADS_1
Dion hanya tersenyum memandang wajah yang dianggapnya lucu. Ia sudah tahu akan begini akibatnya atas kesepakatan yang ia buat tanpa meminta persetujuan dari yang bersangkutan.
"Ya udah sih, udah terlanjur juga," sahutnya santai.
"Berarti selama ini Kak Dion gak beneran cinta sama aku?" tanya Zahra memastikan. Masih enggan melihat wajah menyebalkan pemuda yang duduk di seberang meja sana.
"Emang gue pernah bilang, kalo gue cinta sama lo?" jawabnya balik bertanya.
Seketika Zahra melonggarkan lipatan tanganya. Dengan gemulai sepasang lengan itu merosot ke bawah dengan sendirinya, lemas. Diikuti wajah yang perlahan menunduk kecewa. Bibirnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan pemuda itu.
Ada benarnya apa yang dikatakan Dion. Sekalipun pemuda itu tidak pernah menyatakan perasaanya. Dan kini Zahra sadar, ternyata cintanya selama ini hanya bertepuk sebelah tangan.
Menyadari perubahan ekspresi Zahra, Dion segera beranjak berdiri, lalu membenahi posisi tas ransel yang ia sandang di bahu sebelah kiri.
Sebelum pergi, Dion membungkuk badanya kembali, "Cuma mau bilang, sampe kapanpun gak akan gue biarin Alvaro merebut lo dari tangan gue!" bisiknya tepat di telinga sebelah kanan Zahra.
Gadis itu kembali menegakkan wajahnya, bola matanya membesar. Terperangah. Nggak cinta, tapi kok bilang seperti itu? Maksudnya apa coba? Batin Zahra meracau. Berusaha memahami maksud pemuda yang masih berada disampingnya.
"I Love You," lanjut Dion sebelum tubuhnya menegak dan benar-benar berlalu.
Baru ingin membuka suara, meminta penjelasan, seketika bibir Zahra kembali kelu, tubuhnya pun terasa kaku. Jantung yang semula melemah, kini ikut bertalu-talu.
Beberapa detik kemudian Zahra mulai tersadar, saat Dion sudah tak lagi berada disebelahnya.
Dengan cepat gadis itu memutar kepala, mencari keberadaan sang kekasih, sebelum pemuda itu menghilang lenyap dari pandangan.
"Kak Dion!" seru Zahra dengan senyum mengembang memanggil pemuda yang sudah berjalan memunggunginya.
Seseorang yang dipanggil pun sontak berbalik badan, memberikan tanda hati yang ia bentuk menggunakan jari.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
Hai ... para readers setiaku pasti kalian kecewa, karena aku lama banget updatenya. Mungkin juga banyak dari kalian udah pada kabur. Tapi gak pa-pa ini sudah konsekwensi. Namun, Author disini masih tetap melanjutkan cerita ini sampai tamat.
__ADS_1
Bonus visual Abang Dion sebagai ucapan permintaan maaf.