Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Ke Pasar


__ADS_3

Kumandang Adzan Subuh sudah seperti alarm otomatis bagi Khadija, yang tanpa harus di setel terlebih dahulu.


Saat Khadija membuka mata, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah senyum manis dari wajah tampan suaminya.


Khadija pun merasa terkejut, mengerjapkan matanya berkali_kali, namun senyuman itu tidak pernah pudar dari penglihatanya. Khadija masih belum terbiasa akan kehadiran seseorang disampingnya kecuali Putri kecilnya, Zahra.


" Selamat pagi Bunda?" Ucap Hafiz menyakinkan istrinya yang masih tampak kebingungan.


Ternyata Hafiz sudah bangun, namun ia tidak lekas membangunkan Khadija. Sengaja Hafiz bangun terlebih dahulu, agar ia bisa lebih puas memandang setiap inci wajah cantik alami Istrinya.


Khadija segera membangunkan tubuhnya dengan posisi duduk, tanpa menjawab ucapan suaminya. Khadija tampak meraba kepalanya dan turun melihat pakaianya, kemudian terakhir beralih mengintip kakinya yang masih berbalut selimut.


Alhamdulillah masih lengkap! gumam Khadija dalam hati.


Hafiz menautkan alisnya melihat kelakuan aneh Istrinya.


" Nyari apa sih Bund?" Tanya Hafiz yang sudah ikut duduk di sebelah Khadija.


" Ndak lagi nyari apa_apa Mas. Tapi semalam kamu ndak..."


"....Udah kok, makasih ya? Papa puas banget tadi malam." Hafiz baru menyadari akan tingkah aneh Khadija, terbesit ide untuk menjahilinya.


Bugh...Bugh...Bugh ...


Serangan bantal bertubi_tubi yang di layangkan Khadija, namun dengan sigap Hafiz menangkisnya.


" Kamu jahat Mas, katanya kamu ndak akan melakukanya tanpa seizinku!"Gerutu Khadija disela_sela aksinya. Mata Khadija pun sudah mulai berkaca_kaca.


Hafiz kemudian menggeser tubuhnya, agar lebih dekat dengan istrinya.


" Maafin aku sayang, aku hanya bercanda kok?" Hafiz menarik Khadija kedalam pelukanya. " Ya sudah, ayo kita Subuhan dulu, keburu habis waktunya." Ucap Hafiz kemudian.


" Tapi beneran kan Mas, semalam kita ndak itu..." Khadija mengulang pertanyaanya, memastikan.


" Coba kamu buat jalan, terasa sakit gak?" Dengan polosnya Khadija mengikuti arahan suaminya.


" Iya Mas, ndak sakit." Khadija kembali tersenyum.


Iya kamu gak sakit, tapi punyaku yang sakit! Hafiz menggerutu dalam hati.


Mereka pun segera menunaikan kewajiban Subuhnya dengan berjamaah, tidak lupa dengan si kecil Zahra yang sudah terbangun saat sang Bunda datang ke kamarnya.


Seperti biasa, Khadija selalu menyempatkan untuk melantunkan surat Al Waqiah yang rutin ia baca seusai Shalat Subuh.


Meski sudah beberapa kali mendengar Khadija mengaji, masih saja Hafiz di buat terpesona, bukan hanya karena suara Istrinya yang merdu namun rangkaian indah setiap ayatnya, mampu menenangkan jiwa.


Setelah selesai meletakan Al Quranya ditempat semula, Khadija kembali menghampiri suaminya untuk sekedar mencium tanganya.


" Mas, kapan kita ke rumah orang tua kamu?" Tanya Khadija sambil melipat mukenahnya.


" Nanti ya sayang? Aku gak mau ngerusak suasana kebahagiaanku bersama kamu dan anak kita saat ini."


Karena Hafiz tau, pasti Khadija akan mendapat penolakan lagi dari sang Ayah, dan itu akan membuat hatinya sakit. Kesedihan Khadija merupakan pukulan untuk Hafiz.


" Ya sudah, terserah kamu saja. Oh ya Mas, aku mau belanja bahan makanan, disini pasarnya dimana yo?"

__ADS_1


" Ke supermarket ajalah sayang, habis ini aku antar."


" Ndak usahlah Mas, aku pergi sendiri aja, lagian lebih enak di pasar tradisional, kasihan para pedagang_pedagang kecil disana, kalau kita membeli daganganya dengan begitu kita bisa berbagi sedikit rizki kepada mereka Mas?" Penjelasan Khadija yang membuat Hafiz bertambah kagum pada pemikiran Istrinya yang peduli dengan orang lain.


"Kamu sekarang gak boleh pergi sendiri, ada aku yang akan mengantar kemana saja kamu pergi."


" Mas Hafiz ndak kerja?"


" Gak dulu lah sayang, aku masih mau pengen di rumah."


" Kamu ndak boleh gitu, Rumah sakit itu tanggung jawab kamu."


" Iya deh ntar gampang, tapi temenin ya?"


" Hhmmm..." Khadija memutar bola matanya malas, melihat sikap manja suaminya.


***


"Mas Hafiz tunggu di mobil aja yo? Biyar aku masuk sendiri aja."


Hafiz segera merogoh dompetnya." Sayang nih pake." Hafiz mengulurkan Dua kartu, Satu kartu ATM, dan Satu lagi kartu kredit.


Khadija tertawa kecil. "Disini itu ndak pake yang beginian Mas? Bisa di marahi aku entar sama ibu_ibu bakul!"


" Ya udah ambil aja, buat jaga_jaga saja. Awas lho nanti, kalau gak kamu pake lagi seperti dulu!"


"Yo wes entar tak habisin!"


" Itu jauh lebih bagus."


Cukup lama mengobrol di dalam mobil, akhirnya mereka pun turun dari mobil, tanpa Zahra, karena Zahra mereka titipkan di rumah Aslan. Hafiz tidak tega pada Putri kecilnya, jika harus ikut berdesakan di dalam pasar.


" Sayang bau banget di sini." Bisik Hafiz pada Khadija yang sedang memilih ikan segar.


" Ya sudah nikmatin saja, tadi siapa suruh untuk ikut!" Jawab Khadija cuek.


Setelah cukup banyak Khadija berbelanja, ia teringat ada satu yang tertinggal belum dibelinya. Khadija pun berputar arah kembali ke tempat yang dituju.


" Kemana lagi sih sayang?" Tanya Hafiz jengah pada istrinya yang masih saja gesit berjalan setelah cukup lama memutari isi pasar. Hafiz pun tak luput menjadi kuli angkut dadakan buat Istrinya, ditanganya sudah menenteng Dua kresek, yang Hafiz tidak tahu apa isinya yang jelas itu terasa berat.


Khadija berhenti di stand pedagang Ayam.


" Buk, tolong Ayam kampungnya Dua kilo." Ucap Khadija pada penjual ayam.


" Saya juga, ayam kampungnya Sekilo setengah ya Buk?" Ucap pembeli yang baru datang dan berdiri disamping Khadija.


Seketika Khadija menoleh ke arah orang yang berada di sebelahnya.


" Sari?"


Orang itu pun menoleh, mendengar namanya disebutkan.


Terlihat Sari mengingat_ingat, karena penampilan Khadija yang berubah." Mbak Dija?" Pekik Sari Heboh, dengan reflek memeluk Khadija.


Hafiz yang semula menyibukan diri bermain game sejenak sambil menunggu istrinya yang masih sibuk berbelanja, seketika ikut menoleh ke asal suara yang tidak asing ditelinganya.

__ADS_1


" Ya ampun Mbak, aku pangling...Mbak Dija tambah cantik sekarang. Mbak Dija kesini sama siapa?" Tanya Sari setelah melepas pelukanya. Sari masih belum menyadari keberadaan majikanya yang berada dibelakang Khadija. Karena memang Hafiz sedang memakai topi, jadi wajahnya sedikit tersamarkan.


" Dengan saya." Sela Hafiz, sebelum Khadija sempat menjawab.


" Den Carel?" Mata Sari membulat, tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.


" Kalian...?" Sari menunjuk ke arah Hafiz dan Khadija bergantian.


***


" Iya, kami kemarin sudah menikah lagi."8 Jelas Hafiz pada Sari.


Kini mereka bertiga duduk diwarung makan yang berada di luar area pasar. Hafiz mengajak Khadija dan Sari mencari tempat yang nyaman untuk mereka mengobrol lebih tenang setelah mereka menyelesaikan acara berbelanja.


Hafiz memesan Satu cangkir kopi untuknya, dan Dua gelas teh hangat untuk Istrinya dan Sari.


Hafiz pun menceritakan semuanya pada Sari, termasuk kehadiran Zahra, dan Sari tampak senang mendengar penuturan dari majikanya. Bahkan Sari sangat penasaran ingin bertemu dengan Zahra setelah Hafiz memperlihatkan foto menggemaskan Putri kecilnya.


" Akhirnya, Den Carel bertemu kembali dengan cinta sejatinya." Ucap Sari sambil menoel dagu Khadija.


" Apaan sih kamu Sar?" Khadija tersipu malu.


" Tolong kamu rahasiain dulu ini dari Mama dan Papa, Sar!" Pinta Hafiz yang langsung di acungi kedua jempol oleh Sari.


" Sekarang udah gak Gegana lagi kan Den?" Tanya Sari menggoda majikanya.


" Apa Gegana?" Tanya Hafiz, mengangkat sebelah alisnya.


" Gelisah, Galau, Merana..." Jawab Sari.


" Owh...Ya gak lagi dong sekarang, kan ada Istri tercinta yang selalu nemenin tidur tiap malam, iya gak Bund?" Hafiz balik menggoda istrinya.


Khadija melotot ke arah Hafiz, Ia menilai ucapan suaminya itu terlalu frontal di ucapapkan di depan umum.


Setelah cukup lama berbincang, kopi Hafiz pun sudah tandas, dan Teh Khadija sudah tinggal setengah, mereka berdua pamit pada Sari.


" Den, makanan Sari udah dibayar kan ya?" Tanya Sari pada Hafiz saat Hafiz dan Khadija hendak beranjak pergi.


" Sudah, kalau masih kurang nambah aja." Jawab Hafiz.


" Makasih Den Carel, Mbak Dija?" Ucap Sari.


Hafiz dan Khadija pun tersenyum, kemudian beranjak pergi dari hadapan Sari.


" Semoga mereka selalu bahagia." Gumam Sari di sela_sela kunyahanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


*Bersambung....


Jangan lupa Like dan Komenya...🙏🙏🙏*


__ADS_2