Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK - S2 Hari yang berkesan 2


__ADS_3

"Manda! Tolong lepasin!" bentak Dion. Tubuhnya menggeliat, kedua telapak tangannya memegang bahu wanita yang memeluknya erat-- berusaha menjauhkan tubuh wanita itu.


Sedikit terhuyung ke belakang, tubuh ringkih Amanda akhirnya terlepas dari tubuh Dion.


"Dari mana lo tau, gue tinggal di sini?" tanya Dion menatap tidak suka pada wanita di hadapanya. Ia merasa terganggu dengan kehadiran wanita itu.


"Tadi gue tanya sama Alex," jawab Amanda gusar. Alex adalah rekan Dion seprofesi--sesama bartender.


Dengan mata berkaca-kaca, Amanda menatap sendu pria di hadapanya.


"Dion, tolongin gue," lirih Amanda dengan suara bergetar.


"Maksud lo?" Dion menyipitkan mata, tidak mengerti maksud kedatangan Amanda yang begitu mengejutkanya. Tiba-tiba saja datang meminta pertolongan.


Dia hamil sama suaminya, kenapa minta tolongnya ke gue? Apa-apaan?! batin Dion mendumal.


Dion bukanlah type orang yang suka mencampuri urusan orang lain--tidak mau bersikap sok pahlawan, terlebih pada orang yang tidak begitu di kenalnya. Bagi Dion, Amanda adalah orang asing--kebetulan saja wanita itu adalah istri dari rivalnya, Alvaro, sekaligus menjadi member VIP di tempatnya bekerja--entah di sengaja atau tidak, Amanda mau, setiap kali ia datang, Dion-lah yang harus melayaninya.


Sebagai seorang karyawan yang memang di tugaskan untuk melayani para pelanggan, Dion hanya bisa patuh pada peraturan, meski ada rasa keberatan.


Risih.


Ya, Dion tidak suka dengan orang yang sok akrab seperti Amanda.


Karena beban pikiran yang terlalu berat di tambah dengan pengaruh alkohol--Amanda sering kali meracau tidak jelas. Bahkan sempat beberapa kali, tanpa di tanya, wanita itu bercerita tentang masalah rumah tangganya pada Dion. Seolah Dion adalah tempat mencurahkan segala unek-unek yang terpendam di hatinya.


Namun, jangan lupakan pembawaan sikap Dion yang dingin dan cuek. Jangankan menyahut atau memberikan komentar--menghiraukanya saja tidak!


Lantas alasan apa yang membawa Amanda meminta pertolongon pada Dion?


"Please, Dion. Cuma lo yang bisa nolongin gue dari Alvaro," mohon Amanda memelas.


"Nggak! Gue gak mau berurusan sama orang Psychopath seperti suami lo!" sarkas Dion menolak permintaan Amanda. Tanpa ingin tahu alasan wanita itu meminta bantuanya.


Dion tidak ingin menambah Satu lagi masalah yang berhubungan dengan Alvaro. Cukup masalah Zahra--gadis yang kini telah resmi menjadi kekasihnya itu memang layak mendapat perlindungan darinya.


"Sekarang lo pergi! Gue gak peduli apapun masalah lo!" usir Dion sambil berlalu meninggalkan Amanda, tanpa permisi.


***


"Lho, malam-malam begini, Kakak mau kemana?" tanya sang bunda pada putrinya.


Bunda Khadija yang sedang duduk santai berdua dengan papa Hafiz di teras depan sambil menunggu kedatangan si bungsu--melihat si sulung keluar dari dalam rumah--sudah dalam keadaan rapi dengan tas selempang yang bergelayut di pundak gadis itu.


"Masih sore ini, Bund," sanggah Zahra melirik sekilas jam tangan yang melingkar di lengan sebelah kiri, "Zahra mau izin ke mini market sebentar, ada sesuatu yang ingin Zahra beli,"


"Ayo, Papa antar, sekalian Papa juga mau beli se ... "


" ... sekalian titip sama Zahra aja Pa," Gadis itu memotong ucapan sang papa, terbesit ide yang menguntungkan, "Jangan lupa, lebihin uangnya?" Zahra menaikturunkan alisnya sambil menodongkan telapak tangan ke arah sang papa.


Memberikan tawaran kepada sang papa merupakan peluang menguntungkan bagi Zahra. Dengan begitu ia mendapat bonus tambahan untuk jajan.


"Kebiasaan," cibir sang bunda. Putrinya ini sangat pintar memanfaatkan keadaan--tidak jauh berbeda dengan suaminya--hanya beda konteks saja.


"Ya 'kan uang lelah, Bund," cengir Zahra.


Papa Hafiz hanya mengiyakan penawaran putrinya. Merogoh dompet di saku celana belakang, lalu mengeluarkan Dua lembar kertas berwarna merah dari dalam sana.


Zahra pun tersenyum cerah ketika sang papa mengulurkan uang itu ke arahnya.


Selama ini uang jajan Zahra memang di jatah oleh sang Bunda. Bukan berarti hidup dalam kemewahan, bergelimang harta, Zahra bisa menghamburkan uang seenaknya.Tidak!


Bunda Khadija yang dulunya berasal dari keluarga tidak mampu, mendidik kedua putrinya untuk hidup prihatin dan sederhana--bukan berarti juga pelit. Namun, Bunda Khadija hanya ingin anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, peduli terhadap sesama dan yang terpenting--tidak menjadikan harta sebagai tumpuan hidup, yang terkadang membuat seseorang menjadi lupa, siapa sebenarnya jati diri mereka sebagai mahluk tak berdaya--tanpa adanya sang Maha Kuasa.

__ADS_1


"Jangan lupa itu nanti di bagi sama saudara-saudara yang ada di lampu merah," sang bunda mengingatkan untuk saling berbagi rizki pada mereka yang membutuhkan.


"Ya sudah, ini Papa tambahin lagi," Sebelum Zahra menjawab seruan sang bunda, pria berumur yang kini rambutnya mulai di tumbuhi uban tersebut mengulurkan Satu lembar yang sama ke arah putrinya.


"Makasih Papa," ucap Zahra sambil mencium punggung tangan sang papa, "Insyaalloh, amanah tersalurkan," sambungnya, ketika bibir mungil itu beralih mengecup punggung tangan sang bunda.


Hati-hati di jalan dan jangan kelayapan--pesan yang selalu terdengar saat Zahra keluar rumah.


.


Tiiinnn ... Tiiinnnn ...


"Butuh ojek, Mas?" tawar Zahra menggoda, pada pemuda berpakaian serba hitam.


Saat menyusuri jalanan Ibukota menuju tempat tujuan, dari jarak pandang Seratus meter--berjalan searah, Zahra menangkap satu sosok yang begitu ia hafal dari postur tubuh, cara berjalan dan yang paling menonjol--tas yang bersandar di balik punggung lebar seorang pemuda yang sedang berjalan menyusuri trotoar.


Dion.


Pemuda itu menghentikan langkah, saat mendengar suara yang begitu femiliar di telinganya. Ia pun memutar tubuhnya menghadap gadis yang sedang tersenyum manis duduk di atas motor--dengan mesin masih menyala.


"Kebetulan, ikut gue sekarang!" Tanpa basa-basi Dion langsung merebut kendali dari tangan Zahra--memaksa si pengemudi sebelumnya harus mundur ke jok belakang.


"Lho ... Lho ... Kak Dion, kenapa?" tanya Zahra gelagapan, bingung melihat ekspresi wajah Dion yang sulit di tebak.


"Pegangan!" seru Dion memberi perintah, mengabaikan pertanyaan gadis di belakangnya


Tidak mendapat respon, segera Dion meraih kedua tangan gadis di belakangnya dan melingkarkan di perutnya.


Zahra tampak kebingungan, semakin tidak mengerti dengan sikap aneh pemuda di depanya kini. Pikiran polosnya menerka, kalau kekasihnya itu sedang kesurupan.


"Kaaak ..." pekik Zahra semakin mengeratkan kedua tangannya yang melingkar, saat Dion memacu motor yang di kendarai dengan kecepatan maksimal.


Zahra tidak bisa berkata apa-apa lagi selain pasrah. Dengan mata terpejam merasakan kencangnya angin yang menerpa wajah, membuat gadis itu akhirnya menyembunyikan muka di balik punggung pemuda di depanya. Seraya di dalam hati Zahra merapalkan doa agar selamat dari segala apa yang ia takutkan. Kecelakaan misalnya.


Gadis itu membuka mata, menegakkan kembali wajahnya sembari melepas pelukan, saat merasakan kendaraan yang di tumpangi tak lagi bergerak.


Zahra mengedarkan pandangan,


Asing. Tapi gadis itu tahu, di mana ia sekarang.


Pantai.


Terdengar deburan ombak dari sisi sebelah kanan. Tampak beberapa orang berlalu-lalang bersama pasangan baik remaja maupun keluarga dengan anak-anak kecil mereka.


Saat hendak membuka suara, bertanya ...


Namun, Dion lebih dulu berdiri, lalu berjalan meninggalkan sang kekasih yang masih termangu di atas motor. Sesaat berhenti, menoleh lagi ke belakang ketika tidak ada langkah yang mengikuti.


Zahra lalu turun, setelah mendapat lambaian tangan dari pemuda itu.


Dion menggamit jemari Zahra saat gadis itu sudah berada di sampingnya. Genggaman tanganya semakin erat, membuat gadis itu menoleh. Lalu mengamati ekspresi wajah pemuda yang menjulang lebih tinggi darinya dengan bantuan cahaya lampu lapak-lapak pedagang yang ada di tepi pantai.


Tenang dan datar. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.


Masih diam, Tidak ada yang membuka suara, larut dalam pikiran masing-masing. Berjalan bergandengan menyisir jalan berpaving--salah Satu sarana yang ada di tempat wisata itu.


"Duduk," titah Dion, saat menemukan bangku kayu panjang berderet, hanya bejarak Dua meter dari bangku Satu ke bangku yang lainya. Sepertinya sengaja disediakan untuk para pengunjung untuk beristirahat atau sekedar duduk santai sembari menikmati keindahan pantai.


Tidak ada yang bisa Zahra lakukan selain menurut. Duduk.


Gadis itu terkesiap, saat kepala sang kekasih mendarat di atas pangkuanya.


Dion memejamkan mata, menyilangkan kedua tangan di depan dada. Merasakan hangatnya hati berada bersama sang kekasih di tengah dinginya angin pantai yang berhembus.

__ADS_1


"Ssstttt ..." Dion mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Zahra, setelah gadis itu menarik napas sesaat hendak berucap.


"Jangan katakan apapun. Biarkan gue sebentar saja seperti ini," ucap Dion menarik kembali tanganya.


Lagi-lagi Zahra menurut, seakan terhipnotis dengan semua perkataan pemuda yang saat ini ia tatap lekat--kagum akan pahatan maha karya Sang Pencipta.


Hening.


Tak ada yang bisa Zahra lakukan selain diam, seraya mengontrol irama degup jantung yang semakin kencang. Sedetik kemudian bibirnya mengembang memandang wajah damai sang kekasih yang ada di pangkuan.


Namun, Zahra melihat ada gurat lelah yang terpancar, diiringi tarikan napas yang teratur naik-turun.


Sepertinya dia tertidur. batinnya.


Tidak ada keinginan untuk mengganggunya. Zahra membiarkan kekasihnya itu menikmati apa yang sedang di rasakan. Rasa nyaman atau rasa kantuk? Entahlah.


Hanya dengan memandang, nyatanya tidak cukup membuat Zahra puas. Keinginan untuk membelai wajah tampan itu sudah tak bisa ia kendalikan.


"Terpesona, ya?" Dion tersenyum, membuka mata saat jari-jari halus gadis itu membelai lembut pipinya.


"Eh," Zahra tampak belingsatan, tertangkap basah.


Ingin hati menenangkan diri dan pikiran, tapi semua itu tidak bisa Dion lakukan. Di balik tarikan napas yang teratur, ada debaran jantung yang tak beraturan. Berada di sisi Zahra membuat Dion semakin tidak karuan, lebih tepatnya rasa yang terlampau senang. Kekesalanya beberapa saat yang lalu akan kehadiran Amanda, sekarang sudah meluap entah kemana.


"Cantik," kata pujian pertama yang terucap dari mulut pedas Dion.


Bukan lagi terkejut dengan pipi merah merona, tapi kali ini Zahra ingin sekali mengecup bibir itu sebagai hadiah. Eh,


Namun, sebisa mungkin harus ia tahan, kala teringat pesan sang bunda. 'Pacaran boleh, asal tahu batasan kalau tidak ingin disebut murahan'.


"Kakak, nggak kerja?" tanya Zahra mengalihkan perhatian dengan pertanyaan yang sebenarnya ia sudah tahu jawabanya--jelas tidak, karena di jam segini biasanya kekasihnya itu sudah stand by berada di tempat kerja.


"Pake nanya lagi," Dion mendengus. Baru saja ingin bermanis-manisan, tapi seseorang yang di puji merusak suasana dengan menanyakan kegiatan yang sementara ingin ia lupakan.


Persetan dengan gaji yang di potong, pikir Dion.


"Kak Dion, kenapa?" Zahra masih penasaran dengan perilaku aneh kekasihnya itu.


Dion bangkit, membenahi posisi duduknya menghadap gadis itu, "Gak pa-pa," jawabnya, menggelengkan kepala, "Cuma kangen lo aja. Yang tadi siang masih kurang." lanjutnya berkilah, sembari menahan senyum terlihat dari matanya yang menyipit, menggoda.


Zahra membuang muka, menyembunyikan pipinya yang kembali bersemu merah.


Dion menarik dagu Zahra, kembali menghadapnya. Tidak ingin sedetikpun ia melewatkan wajah menggemaskan kekasihnya itu.


Moodboster, bagi Dion.


"Iiddiih ... Ge-Er lo ya?" balas Dion merusak suasana. Membuyarkan kupu-kupu yang sedang berterbangan di hati Zahra.


Dion pun terbahak, lalu beranjak lari ketika Zahra hendak melayangkan pukulan, kesal mungkin.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan bosan kasih like, komen dan votenya ya ...🙏😊😘


__ADS_2