Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Duren VS Jamu


__ADS_3

Sore hari...


Setelah mengadakan klarifikasi dengan kedua sahabatnya selesai, Hafiz kembali ke ruang perawatan putrinya.


Setelah masuk ke dalam ruangan, Hafiz melihat Putri kecilnya sudah siuman.


" Alhamdulillah, Princes udah siuman?" Tanya Hafiz pada Zahra.


" Kok Om ada di sini?" Zahra balik bertanya dengan suara lemahnya.


Khadija dan Hafiz tersenyum ke arah Putrinya.


" Sayang, ini Papa kamu." Khadija menjelaskan.


"Papa?"


" Iya, ini Papa sayang." Ucap Hafiz sembari mencium kening Zahra lembut.


" Jadi, Papa udah datang ya Bunda?"


" Iya, Papa sudah datang." Khadija mengangguk.


Selama ini, jika Zahra menanyakan keberadaan Ayahnya, Khadija memberi alasan pada Zahra kalau sang Ayah sedang berkerja di tempat yang jauh.


" Mas, aku nitip Zahra sebentar, aku mau Sholat Ashar di Mushollah." Pamit Khadija sambil berlalu." Oh ya, kamu sudah Sholat belum?" Lanjut Khadija sebelum keluar.


" Sudah kok, tadi sebelum kesini."


Khadija pun pergi meninggalkan ruangan Zahra menuju ke Musholla. Khadija merasa tenang ketika meninggalkan Zahra pada Hafiz.


Aslan dan Aisyah beberapa saat yang lalu izin kembali pulang ke rumah Orang tua Aslan, dan membatalkan niatnya untuk pulang kampung, menunggu sampai kondisi Zahra membaik.


Dan Khadija berniat akan ikut pulang bersama Aslan dan Aisyah, untuk menjelaskan tentang semuanya pada kedua orang tuanya.


Setelah selesai menunaikan kewajibanya, Khadija menyempatkan untuk pergi menuju ruang perawatan Ummi Aminah.


" Assalamualaikum..." Ucap Khadija saat sudah muncul dari balik pintu.


" Waalaikum Salam..." Jawab Ummi dan Leni bersamaan.


Leni tampak sedang menyuapi Ummi Aminah.


Khadija berjalan mendekat ke arah Ummi dan Leni, lalu mencium punggung tangan Ummi Aminah.


" Ummi, maafin Dija, baru sempat nengokin Ummi." Sesal Khadija.


" Gak papa nak, harusnya Ummi yang minta maaf, karena Ummi kurang berhati_hati, menyebabkan anak kamu terluka."


" Ummi jangan bilang seperti itu, semua ini musibah Ummi? ndak ada satu orang pun yang menginginkanya, tapi di balik semua ini pasti ada hikmahnya." Kalimat teduh yang di lontarkan Khadija.


" Oh ya, gimana kondisi Zahra sekarang Ja?" Tanya Leni.


" Alhamdulillah kondisinya sudah stabil sekarang." Jawab Khadija sembari tersenyum cerah.


" Terus, kamu tinggal ke sini, Zahra sama siapa sekarang? Bukanya tadi Mas Aslan dan Aisyah sudah pulang ya?"


" Ada tadi, aku titipin sama Papanya."


" Jadi, sekarang dr.Hafiz udah tau?"


" Apa benar itu Nak?"


Khadija kembali mengangguk sembari tersenyum menjawab pertanyaan Leni dan Ummi Aminah.


Leni dan Ummi Aminah adalah orang yang pertama mengetahui perihal kehamilan Khadija sekaligus mengetahui siapa sosok Ayah dari bayi yang di kandung Khadija.


Dan mereka berdualah yang selalu menemani dan menyemangati masa_masa sulit di kehamilan pertama Khadija.


" ALHAMDULILLAH." Seru Leni dan Ummi bersamaan.


Setelah cukup lama Khadija berbincang dengan Leni dan Ummi Aminah, tidak terasa waktu Magrib pun hampir tiba, lalu Khadija pamit undur diri untuk kembali menunaikan Sholat Magribnya, barulah setelah itu kembali ke kamar Zahra.

__ADS_1


" Assalamualaikum..." Ucap Khadija saat kembali ke kamar Zahra, namun tidak mendapat sahutan.


Ternyata Zahra kembali tertidur di pelukan Hafiz yang ikut membaringkan tubuhnya di samping buah hatinya.


" Mas...Mas...Bangun, udah magrib, waktunya kamu sholat!" Khadija berusaha membangunkan Hafiz pelan, dengan menggoyangkan lengan Hafiz. Takut Zahra ikut terbangun.


Hafiz pun terusik dengan pergerakan yang ada dilenganya, matanya mengerjap menormalkan kesadaranya.


" Eh, kamu sudah datang?"


" Iya Mas maaf, aku lama tadi, soalnya mampir dulu jenguk Ummi."


" Siapa Ummi?"


" Orang yang selama ini menolong dan merawat aku, dan beliau Orang yang mengalami kecelakaan bersama Zahra."


" Owh, lalu bagaimana keadaan beliau sekarang?"


" Alhamdulillah sudah membaik, luka beliau tidak terlalu parah."


Hafiz kemudian turun dari brankar Zahra dengan hati_hati, kemudian pergi keluar untuk menjalankan Sholatnya di Mushollah.


Sembari menunggui Putrinya yang masih tertidur pulas, Khadija selalu menyempatkan waktu luangnya untuk membaca ayat_ayat suci Al Qur'an.


Hati Khadija selalu merasa tenang dan damai, kata_kata indahnya mampu menghipnotis setiap insan yang membacanya.


Khadija begitu menghayati setiap ayat yang ia lantunkan, ia selalu terpukau dengan setiap rangkaian kata indahnya. Makna yang mendalam tersirat di setiap ayatnya, membuat Khadija terbuai akan kecintaanya terhadap sang Maha Pencipta.


Sepasang mata yang memperhatikanya pun di buat terpesona akan kemerduan suara Khadija.


Sungguh indah ciptaan Mu Ya Robbi.


Cukup lama Hafiz menunggu Khadija menyelesaikan kegiatan mengajinya, namun itu tidak masalah untuk Hafiz, karena ia ikut hanyut menikmatinya.


Khadija mencium, lalu menutup Al Quran yang ada ditanganya, tanda ia telah selesai mengaji.


Perlahan Hafiz melangkah mendekat ke arah Khadija dan putrinya.


" Maaf, membuat kamu kaget, tadi aku masuk tapi kamu masih mengaji."


" Iya ndak papa."


" Ja, Ayo kita makan dulu, ini aku sudah bawakan malam malam." Ajak Hafiz dengan menenteng kantong kresek yang berisi kotak makanan yang ia pesan via online.


Khadija mengangguk setuju, karena memang perutnya sudah terasa lapar, karena sejak tadi siang perutnya belum terisi sama sekali. Bagaimana Khadija bisa makan dengan tenang sementara sang buah hati tengah berjuang bertahan antara hidup dan mati.


Hafiz dan Khadija beranjak menuju sofa yang ada di ruang VIP perawatan Zahra, yang di pilih Aslan sebelumnya.


" Oh ya, dimana suami kamu Ja?" Tanya Hafiz penasaran, ditengah kegiatan makan malamnya, karena ia tidak melihat sosok laki_laki yang menemani Khadija dalam kondisi saat ini.


Khadija menjawab dengan gelengan pelan di kepalanya sambil terus mengunyah lembut makananya.


" Jadi, selama ini kamu belum menikah lagi?"


" Belum Mas, bagiku ada Zahra disampingku itu sudah lebih dari cukup membuatku bahagia."


Kok bisa kebetulan begini si?


" Papa..." Tiba_tiba Zahra terbangun mencari keberadaan sang Ayah.


" Iya, sayang?" Sahut Hafiz beranjak dari kegiatan makan malamnya.


" Mas, kamu makan saja, biar aku yang urus Zahra." Cegah Khadija.


" Gak papa Ja, kamu lanjutin aja makan malam kamu."


Hafiz pun kembali berjalan menghampiri Zahra.


Zahra tersenyum senang melihat sang Ayah, karena kerinduanya yang begitu mendalam membuat Zahra tidak ingin ditinggal barang sejenak oleh Ayahnya.


" Kok, Princes Papa udah bangun, heum?"

__ADS_1


" Iya, Plinces kangen sama Papa."


Hafiz begitu bahagia mendengar ucapan Zahra, merasa dirinya begitu berharga.


" Iya deh, sekarang ada Papa, jadi lupa sama Bunda?" Goda Khadija, yang sudah berdiri bersebrangan dengan Hafiz. Pura_pura memanyunkan bibirnya.


" Bunda jangan ngambek, Plinces juga kangen sama bunda." Ucap Zahra membujuk sang Bunda.


" Bunda ndak ngambek kok sayang?"Khadija selalu di buat tersenyum dengan tingkah lugu sang buah hati.


Mereka bertiga pun larut dalam suasana kehangatan yang tercipta.


Tak terasa malam pun tiba menghampiri, si kecil Zahra kembali terbuai ke alam mimpi berada di dekapan sang Ayah.


" Mas, pulanglah Anak dan istrimu pasti sudah menunggu, maaf aku sudah meropatkanmu." Ucap Khadija merasa tak enak hati.


Hafiz dengan hati_hati membetulkan posisi Zahra agar tidak terbangun, lalu ia menegakan tubuhnya duduk di tepi brankar Zahra.


Hafiz menundukan kepalanya, tampak Hafiz menghela nafasnya sebelum menanggapi ucapan Khadija.


" Aku sudah bercerai dengan Alina Satu tahun yang lalu dan kami belum di karuniai Anak!"


Pernyataan Hafiz yang cukup membuat Khadija terkejut.


.


.


.


*Jeng...


.


.


.


.


Jeng...


.


.


.


.


.


Jeng...


.


.


.


.


.


Bersambung...


Author mau masak dulu ya?😁


Semoga semakin Pinisirin...


Jangan lupa Like dan Komen terus ya...Khop khun kha...🙏🙏🙏*

__ADS_1


__ADS_2