Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Gara-gara Lipstik


__ADS_3

Sepulang acara semua anggota keluarga sudah masuk ke kamar masing-masing, dan untuk kedua orang tua Khadija, Hafiz telah menyewa kamar Hotel untuk tempat beristirahat kedua mertuanya.


Selesai dengan semua ritual menjelang tidur, Khadija menselonjorkan kaki dan bersandar di punggung ranjang. Lalu di susul sang suami yang ikut naik ke atas ranjang setelah melepas setelan baju koko yang menempel di tubuhnya.


"Makasih ya Mas atas kejutanya?" ucap Khadija sambil mengusap rambut hitam legam suaminya. meski sebenarnya ia tidak pernah menginginkan adanya pesta ulang tahun, tetapi setidaknya Khadija ingin menghargai usaha Pria yang sedang merebahkan kepalanya di atas pangkuanya.


Hafiz membuka mata, setelah beberapa detik yang lalu sempat terpejam merasakan belaian lembut Wanitanya. "Sama-sama sayang. Semua yang aku lakukan ini masih belum ada apa-apanya di banding apa yang sudah kamu berikan ke aku."


Khadija tertegun denga ucapan sang suami. Seingatnya ia belum pernah memberikan hal spesial terhadap suaminya, "padahal aku ndak pernah kasih apa-apa ke kamu lho Mas?" terangnya.


"Enggak sayang... Kamu sudah memberikan kebahagian buat aku. Memilikimu dan seorang Peri kecil itulah kebahagiaan dalam hidupku saat ini.


"Sayang, copot dulu gih mukenahnya." Hafiz bangkit dari posisi tidurnya memberikan ruang istrinya untuk bergerak.


"Oh ya lupa." Khadija nyengir, baru menyadari jika tubuhnya masih terbungkus sempurna oleh pakaian khusus untuk beribadah.


Khadija lalu turun dari ranjang, melepas mukenahnya lalu melipat dan mengembalikan ke tempat semula.


"Sayang nih pake." Titah Hafiz sambil menyodorkan Papper bag berwarna merah bermotif batik ke arah perempuan di hadapanya.


"Apa ini Mas?"


"Udah sana cepet pake." Sebelum istrinya banyak bertanya, Hafiz mendorong pelan istrinya untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Kurang dari Dua menit, Khadija keluar dari bilik yang berukuran 3 x 4 itu.


"Sempurna." Kata yang keluar dari mulut Hafiz melihat ustrinya yang sudah berganti busana.


"Siapa sih ini yang pilihin Mas?" Tanya Khadija sembari menarik-narik bajunya ke bawah. Karena baju tidurnya kali ini terlihat lebih mini dari Lingeri yang ia kenakan semalam.


"Kamu sexy." Puji Hafiz melingkarkan tanganya di pinggang ramping istrinya tanpa menghiraukan pertanyaan sang istri sebelumnya.


Siapapun orang yang memilih, itu tidak penting bagi Hafiz, yang terpenting baginya saat ini, ia akan menyalurkan kerinduanya yang sempat tertunda berhari-hari terhadap wanita yang rindu akan belaianya.


Meski baju yang di pakai kurang nyaman baginya, namun malam ini Khadija tidak ingin mengecewakan suaminya.


Saat Hafiz membopong tubuh kecil istrinya ala brydal style, tanpa canggung lagi tangan Khadija berkalung manja di leher sang suami.


"Kok di sini Mas?" Tanya Khadija saat suaminya mendaratkan tubuhnya di atas sofa.


"Pengen suasana baru."


Hasrat yang sempat tertahan, akhirnya mencapai pada klimaksnya dengan menyemburkan benih ke rahim istri tercinta.


(Sssttttt....Jangan lupain agenda maskeran ya...😜😅)


***


"Sayang bangun yuk?" Hafiz memiringkan tubuhnya, menopang kepala dengan satu tangan menghadap ke arah istrinya.


"Sudah subuh ya Mas?" Tanya Khadija malas dengan mata masih terpejam, tubuhnya terasa sangat lelah. Entah berapa kali Hafiz menggarapnya. "Kamu ndak tidur Mas?" Lanjut perempuan itu sambil berusaha membangunkan tubuhnya.

__ADS_1


Hafiz menggeleng sambil tersenyum, "Kan kita baru selesai jam Tiga pagi, jadi nanggung buat tidur, lagian udah gak ngantuk."


Hafiz membopong kembali tubuh sang istri menuju kamar mandi, tanpa mendapat penolakan.


Khadija yang berada di gendongan sang suami, dengan rasa kantuk yang masih melanda, kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Mas kamu ndak kerja?" Tanya Khadija melihat suaminya mengembalikan kembali pakaian kerja yang telah di siapkanya ke dalam lemari dan mengambil sehelai kaus lalu memakainya.


"Hari ini aku mau di rumah aja, kumpul sama keluarga," Hafiz berjalan ke arah sang istri yang sedang berias di depan cermin.


"Mau kemana sih Bund, kok pagi-pagi udah dandan?" tanya Hafiz sembari menyisir rambut basah perempuan yang ia tatap dari pantulan cermin.


"Ya ndak kemana-mana. karena hari ini Mas di rumah ya aku dandan." Jawab Khadija sembari memoleskan Lipstik yang baru ia beli setelah sang Ibu mertua menyarankanya untuk lebih memperhatikan penampilan.


Hafiz mendongakan wajah istrinya dan,


Cup


"Mas!" Cicit Khadija sebal, Lipstik yang susah payah di poleskanya, seketika berantakan mencoret pipinya, setelah sang suami mendaratkan ciuman di bibirnya.


Hafiz terbahak melihat bibir sang istri yang sudah nengerucut dengan lipstik yang belepotan.


Ini kali pertama Khadija memakai Lipstik jadi wajar ia masih kaku waktu mengaplikasikan di bibirnya.


Dengan kasar Khadija mengusap bibirnya, membersihkan bekas lipstik yang masih menempel.


"Sini aku bantuin?" Hafiz merebut kapas yang sudah dibasahi dengan Micellar water dari tangan istrinya.


"Kamu itu gak usah dandan udah cantik..."


"... Tapi pelakor di luar sana lebih menarik!" sahut Khadija dengan wajah cemberut.


Hafiz tertawa kecil menanggapi omelan sang istri, "Sayang dengerin aku, secantik apapun perempuan di luar sana, aku gak akan tergoda, karena aku udah punya yang lebih segala-galanya."


Mulya, Cantik, indah berseri


Kulit putih bersih, merahnya pipimu


Dia Khadija putrinya Pak Bambang


Istrinya Mas Hafiz...


"Stop, Stop! Udah jangan diterusin lagi Mas!" Khadija membekap mulut Pria yang ada di hadapanya dengan satu tangan. Tangan yang satu memegang perut yang terasa kaku.


Bibir Khadija yang semula mengerucut seketika merekah mendengar sang suami menyanyikan lagu kesukaanya di pelesetkan.


"Kok, Khadija sih?" Tanya Khadija masih dengan tawanya, meski sang suami sudah menghentikan nyanyianya.


"Ya kalo Aisyah kan istrinya Aslan?" kekeuh Hafiz.


"Ndak boleh gitu, itu namanya merusak hak cipta."

__ADS_1


"Biarin, yang penting kamu bisa senyum lagi, gak masam kaya tadi."


Khadija tidak menyangka jika suaminya bisa sehumoris ini.


Setelah tawanya sudah mereda, Khadija memutar kembali tubuhnya menghadap cermin yang ada didepanya.


"Udah gak usah pake Lipstik." Hafiz meraih stik berwarna dusty pink dari tangan istrinya.


"Terus?"


"Ya udah buang aja!"


"Jangan Mas, kan sayang beli mahal-mahal malah di buang." Khadija berusaha merebut benda itu kembali, dengan cepat Hafiz menyembunyikan di balik badanya.


"Mahal berapa?"


"Lima puluh ribu, tapi itu di diskon lagi jadi Tiga puluh ribu."


"Hah, Emang ada Lipstik harga segitu?"


"Kemahalan ya?" Khadija menunduk, takut suaminya marah jika harga Lipstiknya terlalu mahal.


Hafiz penasaran dengan merk Lipstik yang murah meriah plus mendapat diskon.


"MUKE OPER" Hafiz tertawa setelah tahu merk pewarna bibir istrinya.


Tanpa meminta izin dari sang pemilik, Hafiz melempar benda kecil persegi panjang itu ke tempat sampah.


"Yah, kok di buang toh Mas? Padahal aku belinya sampai ngantri-ngantri." Khadija mendesah sebal.


"Maaf sayang, bukanya aku tidak menghargai usaha kamu membeli Lipstik itu, tapi asal kamu tau, Lipstik yang kamu beli itu palsu dan banyak mengandung zat berbahaya." Hafiz memberi pengertian pada Istrinya, "Kalau kamu mau nanti aku belikan buat kamu yang lebih bagus." Imbuhnya.


"Emang Mas tahu Lipstik yang bagus seperti apa?"


"Ya tahulah, kan Mas dulu sering beliin buat Al..." Hafiz buru-buru menutup mulutnya sebelum keceplosan menyebut nama mantan istrinya.


Khadija mengerti nama yang akan di sebutkan suaminya, "Alina kan?!" Lanjut Khadija sambil melengos. Lagi-Lagi Hafiz di buat salah tingkah dengan tebakan istrinya.


"Ii...iya Sayang," jawab Hafiz terbata melihat ekspresi istrinya yang sudah di tekuk. Semenjak Khadija mendapat mimpi buruk waktu itu sikapnya berubah lebih sensitif dan pencemburu.


.


.


.


.


.


*Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Komenya...😊🙏🙏🙏*


__ADS_2