
Satu Bulan kemudian...
Bulan Ramadhan pun telah berlalu, berganti bulan Syawal, namun Lebaran beberapa waktu lalu, Khadija tidak bisa berkumpul dengan Ibu dan Adiknya.
Lagi-lagi kabar perjodohanya yang terus gencar di serukan oleh sang Ayah, membuat Khadija enggan pulang.
Namun, kali ini Khadija menyerah. Sang Ayah mengancam akan menjemputnya secara paksa, jika Khadija masih bersikeras menolaknya, karena sudah setahun Khadija menghindari perjodohan tersebut.
Khadija berjanji di akhir bulan ini, ia akan pulang kampung menuruti permintaan sang Ayah.
Meski Khadija sangat membenci Ayahnya yang selalu berlaku semena-mena, tetapi sebagai Anak, Khadija tidak mau durhaka.
"Masyaalloh Dija, kamu cantik sekali nak?" puji Ummi Aminah pada Khadija yang baru keluar dari kamar.
Khadija kini ingin berhijrah menjadi muslimah sejati yang menutup semua auratnya.
Awalnya Khadija hanya memakai hijab dengan menggunakan setelan casualnya untuk menyamarkan keberadaan dirinya yang masih satu kota dengan mantan suaminya. Khadija tidak mau jika Hafiz dan Aslan menemukanya.
Khadija hanya ingin membuka lembaran baru tanpa ada embel-embel dari masalalunya.
"Terima kasih, ini berkat bimbingan dari Ummi." Khadija melangkah menghampiri Ummi Aminah, lalu duduk di samping perempuan paruh baya itu.
"Bukan Dija, ini semua hidayah dari Alloh untuk kamu, tentunya karena diri kamu sendiri yang ingin menjadi lebih baik dan semoga kamu bisa istiqomah." ucap Ummi Aminah membelai pipi Khadija penuh kasih sayang. Khadija pun memeluk wanita yang sudah banyak menolongnya itu dengan erat.
Bulir air matanya pun jatuh merasa terharu dengan kebaikan seorang Ummi Aminah, yang notabene adalah orang lain yang belum lama ini Khadija kenal, tetapi terasa seperti ibunya sendiri. Begitu juga sebaliknya Ummi Aminah sudah menganggap Khadija sebagai putrinya sendiri.
Ummi Aminah melepas rengkuhanya, "Bagaimana kamu suka dengan baju ini?" tanyanya pada Khadija dengan memandang Khadija intens.
"Suka sekali Ummi, Terima kasih banyak Ummi, Dija suka dengan baju-baju yang Ummi kasih." jawab Khadija senang. Ummi Aminah memberikan baju-baju gamisnya pada Khadija, meskipun bekas tetapi, masih sangat layak pakai dan ada beberapa juga yang masih baru.
Meski Usia Ummi Aminah sudah hampir mendekati kepala Lima, namun penampilanya sangat Fasionable dengan model gamis kekinian sesuai dengan usia.
"Oh ya, apa jadi kamu besok pulang kampung?" tanya Ummi Aminah memastikan kembali keputusan Khadija.
"Iya Ummi," Seketika keceriaan di wajah Khadija berubah muram.
"Apapun itu keputusan kamu, Ummi berharap semoga ini terbaik buat kamu, kamu harus ikhlas dengan semua yang digariskan oleh Alloh." tutur Ummi Aminah.
Khadija tidak tau harus bicara apalagi selain kata terima kasih kepada Ummi Aminah yang selalu bisa menenangkan hatinya.
"Bersyukur dan berterima kasihlah pada Alloh nak? Karenanya kita dipertemukan." Senyum Khadija kembali terpancar berkat kalimat-kalimat menenangkan dari Ummi Aminah.
"Mari Ummi kita buka toko sekarang, waktunya kita mengais rizki." ajak Khadija dengan semangat yang tidak pernah kendor, dengan bekerja Khadija merasa sejenak merilexkan pikiranya.
Mereka berdua pun melangkah menuju Toko, setelah Ummi Aminah membuka pintu Rolling Door. Khadija dan Ummi Aminah masuk menuju posisinya masing-masing.
Karena suasana masih pagi, seperti biasa Khadija dan Ummi Aminah stand by dengan kemoceng di tangan mereka masing-masing, untuk sekedar mengusir debu-debu yang menempel pada rak yang sudah tersusun rapi dengan semua kebutuhan rumah tangga.
Setelah selesai dengan Acara bersih-bersih Khadija bersiap di meja kasir dan Ummi Aminah masuk keruanganya untuk mengecek keuangan dan mengatur keluar masuknya barang.
Tak lama ada Satu pelanggan masuk. Namun, Khadija tidak terlalu memperhatikan.
"Selamat berbelanja?" kata sambutan pada setiap pelanggan yang baru masuk. Mata Khadija fokus pada layar komputer didepanya.
"Ini Mbak," kata seorang Wanita dengan menyodorkan sebotol air mineral dan beberapa snack.
Khadija mengalihkan pandanganya, matanya membulat melihat wanita yang ada di depanya yang terlihat cuek.
"Leni?" seru Khadija mengenali sahabat lamanya yang sudah lama tidak berjumpa.
Orang yang di maksud pun masih mengingat-ingat wajah yang kini sudah berbalut hijab.
Merasa tidak mendapat respon, Khadija keluar dari meja kasir berjalan mendekat ke arah sahabat lamanya itu.
"Aku Dija, Len?" Khadija berusaha mengingatkan, perempuan itu sudah tidak sabar ingin segera memeluk sahabatnya itu.
"Khadija?" Leni menunjuk wajah sahabat lamanya." Aaaarrgg ... Dija aku kangen banget sama kamu, kemana aja kamu selama ini?" jerit Leni histeris dengan pertanyaan bertubi-tubi. Spontan Leni memeluk sahabat yang dirindukanya.
Meski pertemanan Khadija dan Leni belum terlalu lama terjalin, namun keduanya sudah sangat dekat, apalagi mereka berdua pernah tinggal bersama dalam satu kost.
Semenjak pertengahan pernikahanya dengan Hafiz, Khadija dan Leni sudah jarang berkomunikasi, mungkin karena kesibukan mereka masing-masing.
Puncaknya sebulan yang lalu, Khadija meninggalkan ponselnya dan ia lupa mengambil simcardnya. Sejak saat itu mereka berdua Lost contack.
"Aku juga kangen sama kamu Len?" Khadija melonggarkan pelukanya.
"Dija, sumpah aku pangling banget sama kamu?" Leni menatap takjub penampilan Khadija dari atas sampai bawah dengan perubahan yang begitu drastis.
"Ah, bisa saja kamu." Khadija tersipu malu. "Kamu mau kemana Len?" tanya Khadija melihat tas besar yang tergeletak disamping kaki Leni.
"Belum tau masih Ja? Kontrak kerjaku di Rumah Sakit sudah habis, jadi aku mau pulang kampung aja." jawab Leni lesu.
__ADS_1
"Kita duduk dulu yuk?" Khadija menggiring Leni untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk para konsumen yang lelah menunggu saat mengantri di meja kasir.
"Kamu mau kerja gak disini, gantiin aku?" tawar Khadija.
Khadija tidak tahu pasti akan kembali lagi atau tidak setelah ia pulang kampung nanti, maka dari itu, Khadija ingin membantu Ummi Aminah mencarikan penggantinya.
Khadija tau Leni gadis yang baik, dan secara kebetulan Leni datang dengan kekosonganya.
"Tapi kamu mau kemana Ja?" tanya Leni penasaran.
"Aku mau pulang kampung Len? Keluargaku nyuruh aku pulang,"
"Kamu enak Ja, masih punya keluarga. Lah aku pulang kampung tapi udah gak punya siapa-siapa," ucap Leni menatap sendu ke arah Khadija.
Leni hidup sebatang kara setelah kakek neneknya meninggal. Ayahnya menitipkan Leni pada kakek neneknya sebelum sang Ayah meninggal terlebih dahulu dan ibunya pun sudah meninggal saat melahirkan Leni.
Khadija memeluk kembali sahabatnya," Kamu yang sabar ya Len?" Khadija memberikan usapan lembut di punggung gadis itu.
"Eh, ada tamu ya?" suara Ummi Aminah mengagetkan Khadija dan Leni. "Siapa Ja?" tanya Ummi Aminah seraya tersenyum ramah pada Leni.
"Kenalkan Ummi, ini teman Dija dulu waktu kerja di rumah sakit," Khadija mengenalkan satu sama lain kedua perempuan berbeda usia di hadapanya, "Len kenalin ini Ummi Aminah yang punya toko ini." lanjutnya beralih pada Leni.
"Saya Leni Bu." Leni terlebih dahulu memperkenalkan diri lalu menyalimi tangan Ummi Aminah.
"Saya Aminah, panggil saja Ummi."
Khadija pun mengutarakan maksudnya pada Ummi Aminah perihal orang yang akan menggantikannya untuk membantu Ummi Aminah mengurus toko.
Khadija merekomendasikan Leni, ia juga menjelaskan latar belakang Leni dan semua tentang Leni selama Khadija mengenalnya pada Ummi Aminah.
Leni sangat senang ia diterima bekerja atas bantuan dari Khadija, namun Leni juga sedih karena baru saja ia bertemu dengan sahabatnya, dengan waktu singkat ia harus berpisah lagi dengan Khadija.
Khadija mengantar Leni ke kamar yang sebelumya sudah ia tempati.
"Oh ya Ja, aku baru inget, kalau gak salah sebulan yang Lalu si Mr. Cuek nyariin kamu ke kosan aku?" Leni membuka suara saat sudah masuk kamar dan duduk di ranjang Khadija.
"Mr. Cuek siapa?" tanya Khadija menautkan alisnya, tidak mengerti siapa yang di maksud Leni.
"Yah, masa lupa sih? Itu dr. Hafiz?" Jelas Leni.
"Hah~..." Khadija terkejut.
"Ada urusan apa sih kamu sama dia?" tanya Leni penasaran.
Ternyata Mas Dokter nyariin aku juga toh? Eh, tapi, ada apa?
Khadija menepis ke Ge_Eran dalam hatinya.
"Kayanya serius banget waktu itu Ja," Leni mengingat kepanikan Hafiz pada waktu itu.
"Mau nagih hutang paling?" jawab Khadija asal, sambil mengangkat bahunya acuh.
Pada waktu itu, dengan kondisi penampilan yang masih acak-acakan namun terlihat masih tampan, kaki Hafiz melangkah masuk ke dalam gang sempit.
Tok ...Tok ...Tok ...
Ceklek,
Leni mengernyit melihat Bos tempat ia bekerja tengah berdiri di depan pintunya dengan wajah cemas.
"Lho, ada apa Dok? Ada angin apa tiba-tiba Dokter datang ke kosan saya?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Leni, Hafiz tanpa permisi menerobos masuk melewati sang tuan rumah yang masih berdiri diambang pintu dengan wajah cengonya.
"Dija ... Dija ..." suara Hafiz menggema memenuhi ruangan sempit kamar Leni.
"Tidak ada Khadija di sini Dok?"
"Dimana Khadija Len?"
"Saya tidak tahu Dok, kalau tidak percaya geledah saja kamar saya,"
Setelah mendapat kepastian dari Leni bahwa Khadija tidak berada di situ, Lagi-lagi tanpa permisi Hafiz langsung nyelonong keluar dengan langkah terburu-buru.
Pencarian Khadija waktu itu pun nihil, Hafiz tidak menemukan Khadija dimana pun, meski mereka masih dalam satu kota sampai saat ini.
Sama halnya dengan Aslan, semenjak pertemuanya yang terakhir pada waktu ia mengutarakan perasaanya seusai acara berbuka puasa bersama, ia tidak lagi bisa menghubungi Khadija apalagi bertemu.
Di sebuah kafe...
" Kenapa tuh muka cemberut gitu?" Tanya Dio, pada Aslan yang baru saja datang lalu duduk malas di depanya.
__ADS_1
Aslan menghembus nafas beratnya." Pusing gw!" Jawab Aslan acuh.
" Kalau pusing, minum obat sana?" Hafiz terkekeh melihat sahabatnya seperti anak kecil yang tidak dibelikan balon oleh orang tuanya.
" Iya, gw ngerti lo lagi seneng, makanya lo ngeledek gw kaya gini!" Jawab Aslan dengan lirikan sinis ke Hafiz..
" Iya...Sorry...Sorry... Gimana udah ada kabar belum dari Khadija?" Hafiz berusaha mengorek informasi dari Aslan mengenai keberadaan Khadija.
Bukan selama ini Hafiz hanya berdiam, namun ia juga selalu mencari keberadaan Khadija secara diam_diam.
Di dalam hati kecil Hafiz masih tersimpan rasa bersalahnya yang begitu besar terhadap Khadija atas perbuatanya.
Hafiz berharap suatu saat ia dipertemukan kembali dengan Khadija untuk sekedar meminta maaf.
Aslan menggeleng sambil mengaduk Ice Cappucino yang sebelumnya sudah di pesankan oleh Dio.
" Jangan putus Asa gitu dong?" Sahut Dio memberi semangat.
" Ternyata keputusan gw nembak Khadija waktu itu, salah!" Ucap Aslan.
" Jadi lo udah nembak Dija, Lan?" Tanya Hafiz terkejut.
" Kapan, di terima?" Lanju Dio
" Di tolak! Ya setelah kita buka bersama waktu itu!" Jawab Aslan. Aslan sengaja tidak menceritakan dengan para sahabatnya, karena Ia tahu bakal jadi bahan ejekan Hafiz dan Dio jika tahu cintanya di tolak oleh Khadija.
Maafin gw Lan, gw udah ngerusak semuanya! Batin Hafiz.
" Tapi gw curiga, ada sesuatu yang di sembunyiin oleh Khadija?"
" Maksud lo?" Tanya Dio, sambil menyecap kopinya.
" Jadi Alasan dia nolak gw tuh bukan karena dia gak suka sama gw tapi kaya ada alasan lain menurut gw?"
" Hahaha...udah tau di tolak masih aja Pe_De lo?" Ejek Dio.
" Kalo lo tau Dija suka sama lo, cari terus Dija sampe ketemu, jangan mudah nyerah Lan?" Hafiz berusaha menyemangati Aslan.
" Mau gw kaya gitu, tapi gw harus nyari dia kemana? " Tanya Aslan pada ke dua sahabatnya yang sama_sama tidak tahu dimana Khadija berada.
" Kemana aja, kalau perlu lo susulin ke kampungnya!" Usul Dio.
" Gw setuju, ide bagus tuh!" Hafiz menjawab semangat, seperti mendapat pencerahan.
" Aha...Secara Dija kan pernah kerja di Rumah sakit lo kan Rel? tentunya lo punya dong data_data tentang Khadija?" Timpal Dio menyalurkan aspirasinya. Aslan diam menyimak.
Hafiz menepuk jidatnya. " Ah...Gw lupa, waktu itu gw gak nahan ijazah dia, lagian dia gw terima kerja, gak lewat prosedur? Main gw terima aja, karena waktu itu gw kasihan ma dia yang terlantung di jalan." Hafiz menyesali kebodohanya, baru saja ia mendapat titik terang tentang Khadija, namun harapanya kembali pupus sama dengan Aslan.
" Sepertinya udah terlambat, Orang tua gw udah nentuin jodoh buat gw!" Ucap Aslan datar.
" Gila...Emang masih ya hari gini di jodoh_jodohin gitu?" Celetuk Dio.
" Ya masih, contohnya gw?" Timpal Hafiz dengan senyum bahagianya, mengingat perjodohanya dengan kekasihnya sendiri.
" Lo sih enak, di jodohin ma pacar lo sendiri. Nah gw? Tahu orangnya aja enggak!" Jawab Aslan kesal dengan nasibnya yang berujung pada perjodohan, akibat di Usianya yang sudah berkepala Tiga belum menemukan tambatan hatinya.
" Ya, udah gw mau pulang, Jangan lupa besok kalian wajib datang ke pernikahan gw! Kalo gak, gw bunuh lo_lo pada!" Pamit Hafiz menyudahi pertemuanya.
" Jadi kapan lo mau di jodohin?" Tanya Dio, setelah kepergian Hafiz.
" Katanya sih besok, mau ketemuin gw ma calon yang di pilih Bokap ga?" Jawab Aslan masih datar.
" Yah gw cuma bisa doain, semoga ini yang terbaik buat lo!" Ujar Dio menepuk bahu Aslan.
" Amiin."
Setelah cukup lama mengobrol Aslan dan Dio pun memutuskan untuk kembali ke tempat kerjanya masing_masing.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Komenya...🙏🙏🙏*