
Tok ...Tok ...Tok ...
Di tempat lain, Hafiz mengetok pintu sebuah Apartemen mewah yang ada di Ibukota.
Tak lama pintu pun terbuka, tampak wanita cantik menggunakan mini dress berwarna nude, sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih.
"Hai, Sayang?" sapa Alina ketika sudah membuka pintu. Kedua tanganya terulur, bergelayut di leher pria yang tengah berdiri di depan pintu. Hafiz pun membalas dengan melingkarkan tanganya di pinggang ramping Alina.
"Hai, juga Honey. Katakan, hari ini mau aku temani kemana?"
"Temani aku shopping yuk, yank?" ucap Alina manja pada kekasihnya.
"Okey, kita berangkat sekarang?" tanya Hafiz, lagi.
Alina mengangguk antusias, "Tunggu sebentar aku mau ambil tas dulu," jawabnya, kemudian masuk kembali ke kamar Apartemen meninggalkan Hafiz yang masih berada di depan pintu.
Hafiz dan Alina pun berjalan beriringan, tangan Hafiz merangkul pinggang Alina menuju bastman Apartemen.
Setelah sampai di lantai dasar area parkir, mereka berdua segera masuk ke dalam mobil sport berwarna hitam.
Hafiz melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria itu tidak ingin terburu-buru, jika sedang bersama kekasihnya.
Menghabiskan waktu dengan Alina merupakan hal paling menyenangkan untuk Hafiz, begitupun sebaliknya dengan Alina.
Hampir Satu jam, Hafiz menerobos kemacetan jalanan Ibukota, akhirya mereka berdua sampai di pusat perbelanjaan terbesar yang ada di Pusat kota.
Dengan setia Hafiz mengikuti kemana pun kaki jenjang Alina melangkahkan.
Dari mulai masuk ke dalam toko pakaian, tas, dan sepatu dari berbagai brand-brand terkenal.
"Sayang bagus gak?" Alina mencoba salah satu sepatu branded dari Christian Louboutin.
Hafiz masih memperhatikan sepatu yang dikenakan Alina, diam sesaat, "Bagus," jawabnya singkat sembari manggut-manggut.
Ketika sedang menunggu Alina yang masih sibuk memilih-milih sepatunya, binar mata Hafiz tertuju pada Satu baju yang terpasang pada manequen yang ada di seberang toko sepatu tempatnya sekarang.
Ingatan Hafiz tertuju pada Khadija. Semenjak awal menikah Hafiz tidak pernah memberikan apapun untuk wanita itu. Jadi apa salahnya, jika sekarang ia membelikanya? pikir Hafiz sambil terus memandang baju itu, membayangkan Khadija yang mengenakan.
Meskipun Khadija sudah di beri kartu ATM, tetapi tak sekalipun wanita lugu itu menggunakanya untuk membeli kebutuhan pribadinya. Dan itu membuat Hafiz jengah.
Tidak ada maksud lain, Hafiz membelikan baju itu, ia hanya ingin menunjukkan wujud terima kasihnya pada Khadija, yang sudah mengajarinya banyak hal tentang ilmu agama.
Setelah meminta izin pada Alina, untuk meninggalkanya sebentar, Hafiz bergegas menuju Toko baju yang ada di seberang sana.
Setelah masuk ke dalam toko, Hafiz memanggil salah satu Pramuniaga, "Mbak saya ambil baju yang ini," tunjuknya pada Dress selutut berwarna Navy dengan aksen kerah dan lengan di kombinasi brocade berwarna cream sebatas siku, yang telah di incar sebelumnya.
Tidak terlalu sulit untuk menentukan ukuran yang pas untuk tubuh kecil Khadija. Meski lingkar badan wanita itu kecil, tapi masih bisa dikatakan cukup ideal untuk tinggi badannya yang hanya mencapai 155 cm.
Selepas mencopot baju dari tubuh patung yang terpajang di dalam etalase, sang Pramuniaga lalu mengarahkan Hafiz menuju kasir.
Selesai melakukan transaksi, Hafiz kembali menghampiri Alina yang masih berada di toko sepatu semula.
"Sudah Yank?" tanya Hafiz mendekat ke arah Alina yang berada di depan meja kasir.
Alina menoleh ke arah sumber suara, bibir pink itu merekah mendapati sang kekasih sudah berdiri di sampingnya. "Udah kok," jawab Alina sambil mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompet yang baru ia keluarkan dari dalam tas.
"Udah, pake ini aja," cegah Hafiz, lebih dulu menyodorkan kartu debetnya ke arah kasir yang ada di depanya.
"Makasih ya, Sayang?" ucap Alina sambil melingkarkan tanganya di lengan kanan Hafiz. "Apa itu sayang?" sambungnya melihat Paperbag yang di pegang oleh Hafiz.
"Oh ini, hadiah buat Mama." dusta Hafiz, terpaksa.
Setelah selesai dengan acara Shopping-nya, Kemudian mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di salah satu kafe yang sedang nge-hits di kalangan anak muda, berada di dalam pusat perbelanjaan tersebut.
Jangan lupakan Hafiz yang sedang tidak berpuasa. Lantas, bagaimana dengan Alina? Entahlah. Memang sengaja tidak berpuasa atau karena sedang berhalangan? Hanya Alina yang tahu.
.
Hari ini, Hafiz tidak jadi pergi ke Rumah Sakit, hampir seharian waktunya ia habiskan menemani sang kekasih berbelanja dan jalan-jalan. Namun, itu semua tidak masalah bagi pria itu. Kebahagiaan Alina, kebahagiaanya juga.
__ADS_1
Hafiz pulang ke rumah saat sore hari, tidak lupa ia membawa sesuatu yang telah di belinya tadi untuk Khadija.
Hafiz mengetok pintu kamar Khadija. Tak lama setelah itu Khadija pun membuka pintu, tampak dari balik pintu Khadija keluar, masih menggunakan mukenah.
"Maaf Ja, aku ganggu kamu Sholat ya?"
"Ndak kok Mas, Dija sudah selesai."
Sebelum Khadija sempat bertanya apa maksud kedatangan Hafiz mengetuk kamarnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi dari dalam kamar.
"Angkat dulu Ja, siapa tahu penting," ucap Hafiz mempersilahkan Khadija. Gadis itu mengangguk, kemudian kembali ke dalam kamar mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur.
"Assalamualaikum Mas?" sapa Khadija saat menempelkan benda pipih itu di telinganya.
" (.......)"
"Iya ada apa Mas?"
"(......)"
"Hah! Buka bersama?" Jawab Khadija sedikit terkejut.
"(......)"
"Tapi~..."
Tut ...
Sambungan telfon terputus sepihak, sebelum Khadija melanjutkan ucapanya.
"Siapa Ja? Aslan ya?" tanya Hafiz kemudian menebak siapa yang telah menelfon Khadija.
Khadija sedikit terjingkat saat mengetahui Hafiz masih ada di depan kamarnya
"ii - iya Mas?" ucap Khadija ragu.
"Dia ngajakin kamu buka bersama ya?"
Hafiz tertawa ringan menanggapi. "Ya tahulah, orang Aslan dan Dio ngajakin aku juga, kamu ikut ya?"
"Tapi Mas~..."
"Udah, nanti pokoknya kamu harus ikut, kan ada aku juga nanti di sana? Nih buat kamu, semoga kamu suka." Hafiz memberikan Paperbag yang ada di tanganya ke arah Khadija.
"Apa ini Mas?" tanya Khadija, mengernyitkan kening.
"Kalau kamu suka, nanti di pakai ya?" ucap Hafiz setengah memohon.
Khadija kembali menutup pintu kamar. Dengan Penuh penasaran Khadija membuka isi dari Paperbag pemberian Hafiz.
Khadija di buat melongo melihat Dress yang begitu indah, seumur hidupnya ia baru memiliki Dua baju yang sangat indah, pertama baju yang di beri Aslan dan yang ke dua dari Hafiz.
Khadija sangat senang ketika ia mencobanya, Sambil berputar_putar tak henti_hentinya Khadija memuji baju yang ia pakai saat ini.
" Wah...Bagusnya baju ini, pas lagi di badan Dija." Gumam Khadija di dalam kamarnya.
***
Masih ada waktu Empat puluh lima menit lagi, menuju waktu berbuka puasa.
Khadija kini tengah bersiap_siap memenuhi ajakan Aslan.
" Mbak Dija, sudah ditunggu Den Carel di depan?" Suara Sari memanggil Khadija dari luar kamarnya.
" Iya Sar, aku udah selesai kok!" Jawab Khadija dari dalam kamarnya.
Setelah selesai, Khadija segera keluar dari kamarnya. Di edarkan pandanganya sampai menemukan sosok Pria gagah nan tampan tengah menunggunya, siapa lagi kalau bukan Hafiz, suaminya. Yang tinggal kurang lebih satu bulan akan menceraikanya.
khadija tampak anggun menggunakan Dress yang di berikan oleh Hafiz, dengan polesan wajah yang natural dan masih dengan gaya rambut andalanya, di cepol ke atas.
__ADS_1
" Cantik." Ucap Hafiz lirih, kedua kalinya Hafiz memuji Khadija.
" Dija udah siap, ayo berangkat Mas?" Ajak Khadija saat di hadapan Hafiz.
" Mas...Mas..." Panggil Khadija sambil mendadakan tanganya di depan mata Hafiz yang tak berkedip menatapnya.
"Eh...Maaf." Hafiz tersadar dari lamunanya. " Ya sudah kita berangkat sekarang!" Hafiz segera membalikan badan berjalan menuju garasi mobilnya.
Khadija yang mengekor dibelakan Hafiz, nampak senyum_senyum sendiri.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, namun Hafiz tak segera melajukan mobilnya.
" Ja kamu hadap sana deh?" Titah Hafiz, menyuruh Khadija untuk membelakanginya.
" Kenapa toh Mas?"Tanya Khadija tidak mengerti, namun tetap mengikuti arahan Hafiz.
Sreeeetttt....
Ternyata Khadija lupa menutup kembali resletingnya, sehingga sedikit menampakan punggung putih Khadija.
Khadija segera duduk ke posisi semula dengan wajah yang sudah bersemu merah. Khadija menundukan wajahnya menahan malu.
" Maaf Mas, Dija ndak sengaja tadi buru_buru." Ucap Khadija sambil meremas_remas jari_jarinya sendiri.
" Udah santai aja, masih mending aku yang lihat, kalau Aslan yang lihat bisa batal puasa itu anak!" Ucap Hafiz yang sudah bersiap dengan kemudinya.
" Hah~..." Khadija spontan menoleh ke arah Hafiz, mendengar ucapan Hafiz.
" Hahaha..."Hafiz menoleh sekilas ke samping, lalu menarik hidung Khadija karena merasa gemas dengan wajah bengongnya.
" Aauuwww...Sakit Mas." Rintih Khadija mengusap_usap hidungnya yang
memerah.
Meskipun Hidungnya terasa masih sakit, entah mengapa hati Khadija merasa senang dengan perlakuan Hafiz.
Ndak...ndak boleh aku suka sama Mas Dokter, Cinta Mas Dokter hanya ke Mbak Alina! Khadija berusaha menepis perasaanya.
" Ja, aku turunin di tempat biasa ya?" Ucap Hafiz yang fokus dengan kemudinya.
" Hhmmm.." Khadija hanya menjawab dengan deheman.
" Kamu sudah menghubungi Aslan kan?"
" Hhmmm..." Khadija kembali berdehem.
" Ja, kamu marah sama aku ya?" Tanya Hafiz yang sudah sampai ditempat ia biasa menurunkan Khadija.
Sebelum Hafiz menyuruh Khadija turun, Khadija terlebih dahulu turun tanpa menghiraukan pertanyaan Hafiz.
Lagi_lagi Khadija merasa kesal harus terjebak dalam sutuasi yang menurutnya tidaklah pantas di lakukan oleh pasangan suami istri.
Menurut Khadija, Lebih baik ia berdiam di rumah, dari pada harus melihat suaminya dengan wanita lain, dan dirinya dengan pria lain.
Bukankah Khadija sudah terbiasa dengan kemesraan yang ditunjukan Hafiz dan Alina?
Apakah kali ini Khadija merasa cemburu dengan Alina?
.
.
.
.
.
*Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Komenya...😘🙏*