
Kini Khadija, Aslan dan Aisyah duduk di kursi meja bundar yang berada di teras toko, yang sengaja di sediakan bagi para pengunjung untuk sekedar bersantai, bahkan sebagai tempat tongkrongan bagi kawula muda di waktu malam minggu tiba.
Masih tak ada yang membuka suara, semua masih terlihat shock dengan situasi yang baru saja terjadi.
Mereka masih sibuk dengan fikiranya masing_masing, sesekali Aslan mencuri pandang ke arah Khadija yang sekarang sudah jauh berbeda dari segi penampilan.
Khadija tampak jauh lebih mempesona dengan tampilan Syar'inya.
" Jadi, apa hubungan kalian berdua?" Tanya Aslan memecah keheningan.
" Aisyah adik kandungku." Khadija menjawab, matanya menatap Aisyah.
Aisyah mengangguk mengamini pernyataan Khadija.
" Lalu Apa hubungan kalian berdua?" Tanya Khadija kemudian.
" Aisyah istriku, kami di jodohkan." Jawab Aslan, yang mengejutkan Khadija.
Khadija kembali menatap Aisyah meminta penjelasan.
" Iya Mbak, aku dijodohkan dengan Mas Aslan sebagai pengganti Mbak Dija."
Fakta baru yang membuat Aslan dan Khadija kembali terkejut. Aslan tidak menyangka jika gadis yang dijodohkan denganya saat itu adalah Khadija. Begitu juga sebaliknya dengan Khadija.
Empat tahun silam...
"Gimana ini Buk, sampai jam segini Mbak Dija belum datang?" Tanya Aisyah gusar pada sang Ibu.
" Tunggu sebentar lagi, mungkin Mbakmu masih di jalan!"
Aisyah mondar mandir di dalam kamarnya menunggu kedatangan Khadija, beberapa kali Aisyah mencoba menghubungi Khadija namun nomor Khadija sudah tidak aktif.
Terdengar suara riuh dari arah ruang tamu, menandakan tamu yang di undang telah tiba.
Aisyah semakin gusar, dia takut jika sampai Khadija tidak datang, maka ia harus bersedia menggantikan perjodohan itu.
Dalam bayangan Aisyah waktu itu, orang yang dijodohkan dengan Kakaknya adalah orang kaya yang sudah berumur sekitar Lima puluh tahunan, orangnya gendut, perut buncit, rambutnya keriting, dan segala hal yang buruk yang ada di fikiran Aisyah, membuat Aisyah bergidik ngeri.
Masih dalam kegelisahan, terdengar pintu kamar Aisyah terbuka.
Wajah sang Ayah yang muncul di balik pintu.
" Sepertinya kakakmu sudah tidak bisa diharapkan lagi, sekarang cepat kamu siap_siap jangan sampai bikin Bapak malu lagi!" Ucap sang Ayah, lalu pergi tanpa memberi kesempatan Aisyah berbicara.
Mencoba kabur pun sudah tidak ada waktu, Aisyah hanya bisa pasrah menghadapi situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dalam hatinya, Aisyah sangat marah bahkan mengutuk Khadija yang membuatnya berada dalam posisi yang sulit.
Aisyah, gadis ABG berusia Tujuh belas tahun, yang masih labil cara berfikirnya, memiliki banyak cara untuk menggagalkan perjodohan itu, ia tidak perduli jika sang Ayah akan marah kepadanya.
Jika Mbak Dija bisa menghindar, kenapa aku enggak!
Aisyah terpaksa mengikuti kemauan sang Ayah, namun dengan sebuah rencana yang sudah tersusun rapi di otaknya.
Aisyah akan berpura_pura mengatakan di depan semua orang jika ia tengah hamil, hasil hubungan dengan pacarnya.
Aisyah tersenyum setan sembari menyisir rambutnya sebelum keluar dari kamar.
Perlahan kaki Aisyah melangkah menuju ruang tamu tempat semua orang berkumpul.
Dengan wajah menunduk, Aisyah sudah berdiri di hadapan semua orang dengan menggunakan Dress selutut berwarna Maroon sangat pas di tubuh bongsornya.
Tampilan Aisyah lebih kekinian di banding Khadija yang terkesan lugu.
Menunduknya Aisyah bukan karena malu, tetapi ia tidak sanggup melihat lelaki yang di jodohkan denganya, jika sesuai apa yang ada di benaknya.
__ADS_1
" Nak Aslan, kenalkan ini anak kami yang akan kami jodohkan dengan kamu." Ucap Ayah Aisyah pada orang yang akan di jodohkan denganya.
Aslan berdiri mengulurkan tanganya, perlahan Aisyah menegakan wajahnya, karena penasaran dengan orang yang ada di hadapanya.
Rencana sesat Aisyah seketika meluap entah kemana melihat sosok tampan nan manis dengan tampang Cool nya menatap Aisyah.
Aslan sedikit terkejut melihat wajah gadis yang tengah berdiri dihadapanya.
Khadija? batin Aslan
" Aisyah." Ucap Aisyah menerima jabat tangan dari Aslan.
" Aslan." Sahut Aslan datar. Aslan kecewa, ketika mendengar nama yang disebutkan gadis yang ada didepanya, meski gadis yang ada di hadapanya sangat cantik namun dia bukanlah Khadija yang seperti ia bayangkan.
Dia hanya mirip!
Aisyah dan Aslan kembali duduk di tempatnya masing_masing.
Kedua keluarga saling berbincang membahas perjodohan Aslan dan Aisyah.
" Jadi, bagaimana Nak Aisyah kamu terima perjodohan ini? Tanya Ayah Aslan.
" Aslan ini seorang Pengacara lho nak Aisyah?" Timpal Ibu Aslan.
Profesi Pengacara dari sosok Pria yang dijodohkan denganya, membuat hati seorang Aisyah merasa bangga.
kapan lagi dapat Pengacara? Kalo cowok_cowok sini paling mentok jadi karyawan swasta. Batin Aisyah senang.
Aisyah mengangguk malu, berbeda dengan Aslan yang terlihat cuek dan pasrah.
" Kamu gimana Lan?" Tanya sang Ayah.
" Terserah Papa saja lah!" Jawab Aslan malas.
Aslan pasrah dengan keputusan sang Ayah, meskipun tidak ada rasa sama sekali terhadap Aisyah. Mengharapkan Khadija pun percuma karena sudah sebulan terakhir Khadija tidak ada kabar sama sekali.
" Tapi, sekolah Aisyah bagaimana? Aisyah masih kelas XI SMA, apa tidak sebaiknya menunggu Aisyah lulus dulu." Aisyah menyuarakan pendapatnya.
Hah...Masih sekolah kelas XI ?
Aslan tidak kalah terkejut, ternyata calon Istrinya adalah ABG labil yang masih bau kencur, Parawakan dan umurnya sama sekali tidak sesuai.
Namun ide konyol tumbuh di otak Aslan. Aslan mengira bahwa gadis didepanya itu akan lebih memilih sekolah dari pada menikah. dengan begitu pernikahan batal, dan ia bisa mencari wanita yang usianya tidak terpaut jauh denganya.
" Ya sudah, Aslan mau menikah Dua hari lagi, kalau tidak mau terpaksa batal!" Pungkas Aslan dengan maksud tersembunyi.
Gw yakin pasti lo gak mau putus sekolah kan? Aslan menyeringai dalam hati.
Tidak mau menyia_nyiakan kesempatan emas, Aisyah membuka suaranya kembali.
" Baiklah Aisyah setuju!"Ucap Aisyah mantap.
Perkiraan Aslan salah sasaran.
Awas aja lo ntar, gw bikin mewek lo pagi, siang, sore, malam! Cibir Aslan dalam hati.
Dua hari kemudian, pernikahan pun dilangsungkan setelah meminta bantuan dari para rekan Aslan untuk mengurus semua persyaratan adminitrasi Pernikahan, sehingga tidak butuh waktu lama semua beres tepat waktu.
Sengaja Aslan memberi tahu para sahabatnya secara mendadak, karena ia tidak mau jadi bulan_bulanan Hafiz dan Dio jika tau dia menikah dengan seorang ABG.
Bisa di anggap kaum Pedofil gw ntar!
***
"Maafin Mbak ya Dek?" Ucap Khadija memegang tangan Aisyah.
__ADS_1
" Ndak papa Mbak, justru Aisyah yang harus berterima kasih sama Mbak Dija, kalau waktu itu Mbak Dija datang, pasti bukan aku yang jadi Istrinya Mas Aslan." Jawab Aisyah. menatap Aslan yang duduk disampingnya
Khadija tersenyum melihat Aisyah yang tampak bahagia bersuamikan Aslan.
" Ciee...ciiee...Udah jadi bucinya Mas Aslan toh sekarang?" Goda Khadija pada Aisyah. Aisyah tersenyum dengan semburat merah di pipinya.
" Mbak Dija sama Mas Aslan udah saling kenal ya sebelumnya?" Tanya Aisyah penasaran, menatap Aslan dan Khadija bergantian.
Aslan dan Khadija terkesiap dengan pertanyaan Aisyah, mereka berdua bingung harus mulai dari mana menjelaskanya, jika di masalalu Aslan pernah jatuh cinta pada Khadija.
Aslan tampak salah tingkah, mengusap tengkuknya.
" Jadi Khadija ini lah perempuan yang pernah aku ceritain ke kamu?" Aslan mencoba menjelaskan masalalunya.
" Owh, jadi perempuan yang bikin Mas gagal move on itu Mbak Dija toh?" Tanya Aisyah mengingat hal yang pernah di ceritakan suaminya. Expresi Aisyah sudah mulai berubah masam.
Aslan mengangguk ragu dan Khadija masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Aslan memang pernah gagal move on dari Khadija saat itu. Dengan dia menikahi Aisyah, Aslan mengira bisa melupakan Khadija, tetapi dengan kemiripan wajah dari Aisyah justru membuat Aslan sangat susah membuka hatinya untuk orang lain. Aslan menganggap hanya bersama Khadija ia akan bahagia.
Sampai suatu saat, dengan kegigihan Aisyah merebut Hati Aslan, akhrinya Aslan pun luluh dengan ketulusan cinta Aisyah.
Siapa sangka yang dulunya Aslan mengejar cinta Khadija, tetapi sekarang justru cinta Aslan jatuh kepelukan Aisyah, adik dari Khadija.
" Tapi, itu dulu sayang?" Jawab Aslan dengan menggenggam tangan Aisyah, meredam emosi Aisyah yang sudah bersungut di kepalanya. " Sekarang cinta Mas, hanya untuk kamu!"Lanjut Aslan menyakinkan Istrinya.
Khadija pun mengangguk cepat dengan wajah takut ke arah Aisyah, mensetujui ucapan Aslan.
Khadija tidak ingin adiknya cemburu terhadap dirinya, toh dari dulu Khadija tidak pernah menaruh hati pada Aslan, Khadija hanya merasa nyaman dengan perlakuan manis Aslan.
" Bener ya Mas, Mbak?" Tanya Aisyah pada Aslan dan Khadija memastikan.
Aslan dan Khadija mengangguk dengan cepat dan kompak. Seulas senyum pun kembali terukir di bibir Aisyah.
" Terus bagaimana kabar kamu sekarang Ja?" Tanya Aslan pada Khadija setelah dirasa suasana sudah kembali kondusif.
" Ya seperti yang kalian lihat, aku baik_baik saja."
" Terus Mbak Dija apa ndak pernah pulang?" Pertanyaan Aisyah membuat Khadija tertegun menunduk.
Kepalanya menggeleng pelan, gurat sendu di wajah Khadija menggambarkan akan kerinduan yang mendalam terhadap ibunya, namun apalah daya butuh persiapan mental untuk menjelaskan semua yang dialaminya selama ini.
Meskipun sudah tidak pernah saling berkomunikasi lagi dengan Ibunya, tetapi Khadija setiap bulan ia selalu mengirim uang pada Ibunya, hasil dari kerjanya dengan Ummi Aminah.
" Sebenarnya Mbak sudah~..." Kalimat Khadija terpotong ketika mendengar suara lengkingan yang Khadija kenal.
*DUUUUAAAAARRRR... BUNDAAAAAA...
.
.
.
.
.
..
Bersambung...
Aslan dan Aisyah
__ADS_1
Oh ya, yang penasaran sama visualnya Hafiz dan Alina udah ada di Part 27 dan visual Nio ada di Part 30 ya...untuk yang lain menyusul.
Jangan lupa Like dan Komenya*...Khob khun kha...🙏🙏🙏