
Khadija mengikuti langkah cepat suaminya tanpa banyak bertanya. Para staf dan perawat menyapa ketika Hafiz dan Khadija saling berpapasan, namun hanya di balas deheman oleh Hafiz. Tidak dengan Khadija yang selalu menebar senyum dan menganggukan kepalanya ramah.
Sebagian para pegawai Rumah Sakit sudah tahu siapa Khadija, terutama para pegawai yang sudah lama bekerja di sana, bahkan banyak diantara staf, perawat, hingga teman seprofesi sesama Dokter dengan Hafiz yang masih single merasa iri dengan keberuntungan yang di peroleh Khadija, Seorang mantan Office girl yang diperistri oleh Direktur utama sekaligus pemilik dari Rumah Sakit tempat mereka bernaung mencari nafkah.
Pernikahan yang di dasari kesepakatan yang pernah Hafiz dan Khadija jalani masih tertutup rapat hingga saat ini. Yang khalayak tahu jika Hafiz yang berstatus Duda menikahi Khadija yang sudah berstatus janda beranak Satu pada waktu itu.
"Mas Haikal?" Gumam Khadija lirih, menangkap sosok Pria yang pernah singgah di hatinya tengah berjalan mondar-mandir di depan ruang Operasi.
Ternyata Hafiz tidak menyadari keberadaan Haikal, karena Fikiran Hafiz terfokus pada salah seorang pasien yang tengah membutuhkan pertolongan berada di dalam ruang Operasi.
Hafiz pun melupakan Khadija yang sedari tadi mengikuti di belakangnya. Tanpa berpesan apapun Hafiz segera berlalu masuk ke dalam Ruang Operasi.
Khadija tidak masalah jika sejenak suaminya melupakan keberadaanya, karena Khadija tahu jika suaminya dalam kondisi panik.
"Mas Haikal? Kenapa Mas ada disini?" Sapa Khadija pada orang yang di penuhi gurat kekalutan di wajahnya.
"Dek?" Haikal mengangkat wajahnya ketika mendengar suara yang begitu dikenalnya. "Mihrima pendarahan!" Jawab Haikal.
"Innalillahi...Tenang dulu Mas. Sebaiknya Mas Haikal duduk dulu, kita berdoa sama-sama agar Mihrima dan anaknya tidak terjadi apa-apa." Khadija mengarahkan Haikal untuk duduk di kursi tunggu.
Tidak ada lagi obrolan di antara Haikal dan Khadija.
Haikal berkali-kali mengusap wajahnya kasar, menunggu seseorang membawa kabar akan kondisi calon istrinya dan juga bayinya.
Khadija hanya bisa berdoa, agar suaminya bisa membantu menyelamatkan seseorang yang tengah berjuang di dalam sana.
Dua jam berlalu. Akhirnya ada salah seorang perawat keluar dari Ruang Operasi.
Khadija dan Haikal secara bersamaan mendekat ke arah Perawat yang berdiri di depan pintu.
"Bagaimana keadaan..." Haikal menjeda ucapanya, ia bingung menyebut status Mihrima.
"...Gimana kondisi kakak saya dan bayinya Sus?" Sambung Khadija melanjutkan maksud ucapan Haikal.
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, Bayinya masih dibersihkan, sedang ibunya masih di tangani oleh dr. Hafiz." Jawab sang Perawat. Setelah memberikan kabar, sang Perawat pun kembali masuk ke dalam Ruangan.
Khadija dan Haikal merasa lega, setelah mendengar kondisi Mihrima dan bayinya dalam keadaan baik-baik saja.
Tanpa sempat Haikal bertanya, Khadija sudah berlalu entah kemana.
Setelah beberapa menit, Khadija datang kembali dengan membawa Dua botol air mineral berukuran sedang.
"Minum dulu Mas?" Khadija menyodorkan sebotol air ke arah Haikal setelah duduk di sebelah Haikal dengan memberi jarak Satu meter.
Haikal menoleh dan meraih botol yang disodorkan Khadija, "Makasih Dek." Ucapnya, tanpa mengganti panggilanya terhadap mantan calon istrinya dulu.
"Sama-sama Mas." Balas Khadija. "Kalau boleh tahu, kenapa Mihrima bisa pendarahan Mas?" Imbuh Khadija bertanya, setelah Haikal menenggak separuh air mineral di tanganya.
"Aku juga gak tahu, gimana kejadianya Dek! Waktu aku jenguk dia di Apartemen, dia udah gak sadarkan diri ada di kamar mandi." Jelas Haikal. Selama Haikal belum menghalalkan Mihrima secara resmi, Haikal sengaja menyewa Apartemen untuk tempat tinggal sementara. Dalam seminggu hanya Dua kali Haikal datang menjenguk, kecuali jika Mihrima benar-benar membutuhkan bantuanya ia akan datang lebih dari Dua kali.
Cukup lama Khadija dan Haikal mengobrol, sesekali di selingi tawa kecil dari mereka berdua.
"Sepertinya seru obrolan kalian berdua!" Ucap Hafiz datar, berdiri di hadapan Khadija dan Haikal.
"Eh, Mas...Sudah selesai?" Tanya Khadija yang baru menyadari keberadaan suaminya.
__ADS_1
Haikal dan Khadija bangkit dari duduknya, namun Hafiz segera berlalu dari hadapan mereka tanpa berucap apapun lagi dari mulutnya.
Yang semula Haikal ingin bertanya akan kondisi Mihrima, tapi di urungkanya melihat tatapan tak bersahabat dari sorot mata mantan rivalnya.
Khadija segera menyusul suaminya setelah berpamitan pada Haikal, hanya dengan isyarat anggukan kepala.
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Khadija saat berada di ruangan Hafiz.
Hafiz menghempaskan tubuhnya dengan kasar duduk diatas sofa.
"Enak saja dia diluar ketawa-ketawa, sedangkan calon istrinya hampir sekarat berjuang melahirkan anaknya!" Gerutu Hafiz tentang Haikal yang di lampiaskan pada Khadija.
"Maksud kamu itu apa toh Mas?" Khadija mengeryitkan keningnya.
"Iya itu si Haikal, dia tadi godain kamu kan?"
"Astagfirullohaladzim...Jangan Suudzon gitu, ndak baik! Tadi itu kita ngobrol biasa, ndak ada itu yang namanya Mas Haikal godain aku."
"Belain aja terus!" Nada bicara Hafiz sedikit meninggi.
Khadija menghirup nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. "Sabar." Khadija bergumam pelan sembari mengelus dada.
Khadija pun memilih diam, sengaja Khadija membiarkan suaminya untuk tenang terlebih dahulu, karena berdebat dengan seseorang yang sedang emosi hanya akan memperkeruh suasana dan tentunya buang-buang tenaga, menurut Khadija.
"Kenapa diam? Ngomong aja kalau ada yang disampaikan!" Tanya Hafiz ketus. Setelah beberapa saat saling diam.
Meski masih di kuasi ego yang tinggi, nyatanya Hafiz tidak akan betah berlama-lama untuk tidak bicara dengan istrinya.
"Ngomong!" Jawab Khadija asal.
"Hah~...Ppffttt..." Terdengar Hafiz menahan tawanya, mendengar jawaban absurd dari istrinya.
"Sayang, kamu marah sama aku?" Tanya Hafiz , dengan nada merendah.
"Ndak!" Balas Khadija ketus.
Hafiz menggeser tubuhnya mendekat pada istrinya. "Maafin aku ya Bund?"
"Untuk?"
"Tadi aku sempat marah-marah gak jelas sama kamu. Padahal sebenarnya aku marahnya sama Haikal sialan itu!"
Khadija menoleh, menajamkan tatapanya pada Hafiz, suaminya. "Dengar aku Mas! Kamu sudah salah menilai Mas Haikal seperti itu, karena memang dia sama sekali ndak ngelakuin apa yang kamu tuduhkan. Dia mulai bisa tertawa ketika mendengar Mihrima dan Bayinya dalam keadaan baik-baik saja!" Jelas Khadija jujur sesuai apa yang ia saksikan, tanpa ada yang dikurangi maupun ditambahi.
"Tapi tatapan mata dia sama kamu itu beda Bund?" Kekeuh Hafiz pada asumsinya.
"Stop! Jangan diterusin lagi pembicaraan ini. Percuma ngomong sama orang yang lagi cemburu buta." Pungkas Khadija, ia tidak ingin suaminya berprasangka buruk terhadap orang lain. "Kalau sudah selesai, ayo kita pulang." Ajak Khadija, beranjak dari duduknya.
"Urusan kita belum selesai!" Jawab Hafiz.
"Apa?" Tanya Khadija, namun di abaikan oleh Hafiz yang berjalan melewatinya.
Cetrek...Cetrek...
Suara kunci diputar, lalu Hafiz mencabutnya dan dimasukan kedalam saku celananya.
__ADS_1
"Lho kenapa di kunci?" Tanya Khadija tidak mengerti akan maksud suaminya.
"Menurut kamu?" Hafiz menyringai mesum berjalan mendekat ke arah Khadija.
"Kamu mau ngapain Mas?" Khadija memundurkan wajahnya, ketika wajah Hafiz tepat berjarak satu jengkal di depanya.
"Kalau sepasang suami istri berada didalam ruangan terkunci seperti ini, enaknya ngapain ya?" Tanya Hafiz ambigu, pura-pura berfikir sambil mengelus-elus dagunya.
Khadija menautkan alisnya, "Jangan bilang kamu mau..."
"...Aku mau kamu tanggung jawab, karena kamu sudah bikin aku cemburu, sayang?" Bisik Hafiz yang terdengar sensual, membuat Khadija meremang.
Tak ingin berlama-lama, tiba-tiba Hafiz membopong tubuh kecil istrinya menuju kamar pribadinya.
"Eh, turunin aku Mas!" Berontak Khadija.
"Gak bisa!" Tolak Hafiz sambil terus berjalan, mengabaikan rengekan istrinya.
Hafiz pun menurunkan tubuh istrinya dengan pelan diatas kasur empuknya.
"Mas, jangan sekarang ya?" Pinta Khadija memelas.
"Nolak, DOSA!!" Kata pamungkas yang di lontarkan Hafiz, berhasil membuat Khadija diam tak berkutik.
Khadija akhirnya pasrah dengan segala perlakuan suaminya.
"Mas, aku mau ke kamar mandi sebentar!" Khadija mendorong pelan dada bidang suaminya saat sudah berada tepat diatasnya.
"Jangan lama-lama, aku mau keluar dari kamar mandi, kamu sudah dalam keadaan polos!" Bisik Hafiz, lalu mengecup sekilas bibir Istrinya.
Kurang dari satu menit, Khadija keluar dari kamar mandi, dengan senyum sumringahnya.
"Kok, belum di buka bajunya?"
"Hehehe...Maaf yo Mas? Kali ini kamu kurang beruntung, coba lagi minggu depan."
"Maksudnya?"
"Hhhmmm.." Khadija mengangguk, tersenyum penuh kemenangan.
"Aaarrggghhh.....Hafiz mengerang kesal, menghempaskan tubuhnya kasar di atas spring bed miliknya.
Sebelum pertarungan di mulai, namun naas pertumpahan darah sudah tak terelakan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*Bersambung...
Terus tinggalkan Like, Komen dan Votenya..🙏🙏🙏*