
"Bagaimana kondisi mertuamu nak?" tanya sang Ibu, saat Khadija kembali setelah menelepon sang suami.
Khadija sudah menceritakan kepada Orang tuanya perihal keadaan sang Ayah mertua yang sedang sakit parah, sehingga tidak memungkinkan suaminya untuk ikut bersama pulang ke kampung halaman.
"Kata Mas Hafiz sampai saat ini mereka belum mendapatkan pendonor, keadaanya pun semakin memburuk." jawab Khadija, duduk di tepi ranjang sang Ibu.
"Kalau cocok, Bapak mau mendonorkan ginjal Bapak," sahut sang Ayah yang duduk di kursi samping brankar Istrinya.
"Kalau begitu Ibu juga bersedia, kan Ibu sudah sembuh " timpal sang Ibu menyetujui usulan suaminya.
"Jangan Pak, Buk Mas Hafiz pasti ndak akan setuju!" tolak Khadija.
"Ya kalau begitu ndak usah ngomong sama suamimu." kekeh Pria paruh baya itu. "Nanti kita tesnya diam-diam saja."
Khadija tampak menimang-nimang usulan sang Ayah.
"Bapak yakin?" tanya Khadija ragu, "Kenapa Pak?" lanjut Khadija meminta alasan.
"Rasa kemanusiaan Nduk, toh kita juga masih bisa hidup dengan satu ginjal." jawab sang Ayah penuh keyakinan.
"Apa salahnya, kita berbagi kehidupan untuk orang lain." imbuh sang Ibu. Tangan kasarnya menggenggam lembut tangan Perempuan muda yang ada di depanya.
Khadija masih diam terpaku setelah mendengar penuturan kedua Orang tuanya.
***
"dr. Hafiz saya ada berita bagus untuk anda." ucap seorang Dokter yang menangani Ayahnya.
"Maksud dr. Harsa apa?" tanya Hafiz pada seseorang yang datang ke ruanganya.
"Saya baru mendapat kabar, bahwa ada seseorang yang mau mendonorkan ginjalnya. Dan ternyata cocok dengan ginjal Papa anda." jawab seorang Dokter yang bernama Harsa.
"Benarkah? Dimana orang itu sekarang?" Seperti mendapat angin segar, Hafiz tampak begitu antusias.
"Orang itu berada di Luar kota, dan saya besok akan kesana untuk mengurusnya."
"Lakukan yang terbaik. Saya percayakan semuanya pada anda." pungkas Hafiz dengan lengkungan di kedua sudut bibirnya.
[Alhamdulillah sayang, Papa sudah mendapatkan pendonor yang cocok.]
[Benarkah itu Mas? Syukurlah.]
[Makasih ya sayang, ini berkat doa kamu.]
[Bukan aku aja Mas, tapi berkat doa semua orang.]
Karena rasa bahagianya, Hafiz langsung memberi kabar baik ini pada Istrinya. Baru setelah itu Hafiz datang menemui sang Ibu yang tengah menemani sang Ayah di ruang ICU.
__ADS_1
***
Setelah melakukan serangkaian tes dan dinyatakan semuanya cocok, akhirnya operasi pun dilakukan.
Karena sang Pendonor ingin identitasnya di rahasiakan, membuat dr. Harsa harus berkerja extra. Ia melakukan operasi di tempat asal sang pendonor setelah berkoordinasi dengan pihak Rumah sakit setempat, baru kemudian membawa donor ginjal tersebut kembali ke tempat dimana ia semula bertugas.
Tidak lupa Hafiz juga menitipkan cek dengan nominal yang cukup fantastis sebagai bentuk ucapan rasa terima kasih, karena telah bersedia membantu menyelamatkan nyawa Ayahnya.
Dengan segenap perjuangan, akhirnya operasi pun barhasil di lakukan. Berangsur kondisi sang Ayah pun mulai membaik.
"Bagaimana kondisi Papa sekarang?" tanya Hafiz, berjalan mendekat ke arah ranjang besar sang Ayah.
Sudah hampir sebulan, Ayah Hafiz berada di ruang perawatan khusus keluarga pemilik Rumah sakit pasca operasi untuk menjalani masa pemulihan.
"Seperti yang kamu lihat, Papa sudah kembali sehat." jawabnya jumawa.
"Siapa orangnya yang bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Papa, dan dimana orang itu sekarang?" tanya Ayah Hafiz penasaran.
"Entahlah Pa, orang itu sengaja merahasiakan identitasnya." jawab Hafiz. Sejujurnya ia pun merasa penasaran dengan motif dan tujuan orang tersebut.
Mendonorkan ginjal bukan perkara sepele, karena seseorang yang memiliki satu ginjal akan hidup dalam serba keterbatasan dalam menjalani kehidupanya sehari-hari.
"Tapi apa sudah kamu beri imbalan yang pantas untuk dia Rel?" timpal sang Ibu, sambil menyuapai suaminya.
"Itulah Ma, yang membuat Carel bingung. Bahkan orang itu mengembalikan cek yang pernah Carel titipkan pada dr.Harsa." Pikiran Hafiz pun menerawang dan menerka-nerka siapa sosok baik hati itu.
"Apa mungkin kita mengenalnya?" imbuh sang Ibu timbul rasa curiga.
Ucapan sang Ayah membuat Hafiz tersentak. Tak ada sedikit pun rasa empati Pria yang usianya tidak muda lagi itu terhadap orang yang sudah rela membagi ginjalnya. Tanpa permisi Hafiz beranjak pergi karena ia sangat muak dengan sikap angkuh sang Ayah.
"Kamu mau kemana Rel?" tanya sang Ibu saat melihat putranya berjalan ke arah pintu keluar.
Hafiz menengok sekilas, "Carel, mau menjemput Khadija Ma."
"Kenapa harus dijemput, sudah bagus dia tidak ada di sini!" Sindir sang Ayah sebelum Hafiz melanjutkan langkahnya.
"Pa!" gumam sang Istri pada suaminya. Ia tahu jika ucapan suaminya tersebut akan melukai hati Puteranya.
Hafiz mengepalkan kedua tanganya, menahan geram atas kalimat yang membuat panas telinganya.
Sebelum emosinya semakin tersulut, Hafiz segera beranjak meninggalkan ruangan itu.
***
Sepulang dari Rumah Sakit, Hafiz terlebih dahulu pulang ke Apartemenya untuk menjemput puteri kecilnya Zahra dan Ina, sang Baby sitter.
Hari ini Hafiz akan memberi kejutan kepada Khadija. Ia berencana akan menjemput Perempuan yang begitu di rindukanya dengan membawa serta buah hati mereka.
__ADS_1
Setiap kali terbayang wajah cantik istrinya, entah mengapa kekesalan Hafiz terhadap sang Ayah sebelumnya meluap begitu saja.
Dengan rasa bahagia dan rasa rindu yang membuncah membuat perjalanan yang cukup melelahkan terasa sangat cepat.
Hafiz sudah tidak sabar untuk memeluk Istrinya dengan erat. Melepaskan rindu yang begitu berat.
Waktu menandakan sore hari telah tiba. Perjalanan yang panjang dan memakan waktu yang lama, akhirnya membuahkan hasil yang tak sia-sia. Bayangan orang terkasih sudah menari-nari di pelupuk mata.
Hafiz memarkirkan mobilnya tepat di depan halaman rumah sang Mertua. Tampak depan situasi rumah sangat sepi, pintu rumah tertutup rapat seperti tak berpenghuni.
Beberapa kali Hafiz mengetuk pintu seraya mengucap salam, namun tidak mendapat sahutan dari dalam.
Sambil memangku Putrinya yang sedang tertidur karena kelelahan Hafiz duduk dibangku kayu yang ada diteras rumah bersebelahan sedikit jauh dengan Ina, menunggu kedatangan sang Tuan rumah yang entah pergi kemana.
Setelah Satu jam menunggu, Hafiz melihat mobil berjenis mini bus berwarna putih berhenti tepat di belakang mobilnya.
Khadija membelalakan matanya, terkejut melihat mobil sport berwarna hitam bertengger di halaman rumah Orang tuanya.
"Nduk, itu bukanya mobil suami kamu?" tanya sang Ayah sebelum turun dari taxi yang di tumpanginya.
"Iya Pak, itu mobil Mas Hafiz."
"Apa dia ndak ngomong dulu kalau mau kesini?" tanya sang Ibu, melihat ekspresi terkejut dari Putrinya.
"Tadi pagi telepon, Mas Hafiz ndak ada ngomong apa-apa Buk." papar Khadija
"Ingat, jangan sampai nak Hafiz curiga!" Instruksi Pria setengah tua itu sebelum turun dari mobil yang ditumpangi pada kedua Perempuan beda usia yang ada di sampingnya.
Hafiz berdiri lalu memindahkan tubuh mungil Puterinya ke pangkuan Ina. Kemudian berjalan menghampiri Tiga orang yang baru turun dari mobil putih itu.
"Sayang kamu kenapa?" sambut Hafiz bertanya pada Istrinya setelah menyalami kedua mertuanya.
Bola mata Khadija bergerak menatap kedua Orang tuanya bergantian.
"Ayo kita masuk dulu." sela Pria beruban yang tak lain Ayah Khadija.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*Bersambung...
Jangan lupa Like dan Komenya Ya? Sisihkan juga Vote buat author...Okeh...👍🙏😊😘*