Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Malam jum'at


__ADS_3

Pagi ini adalah pagi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya bagi Khadija. Jika biasanya ia hanya mengemban tugas sebagai ibu rumah tangga, berbeda sekarang, Ibu satu anak itu kini sedang merintis usaha yang baru ia buka.


Tidak hanya Khadija, kini Hafiz pun memiliki tugas baru. Selain mengantar putri kecilnya kesekolah, tapi mulai hari ini ia juga akan mengantar putri hatinya setiap pagi ke toko sebelum ia barangkat berkerja.


"Aku masuk dulu ya Mas?" pamit Khadija, mencium tangan suaminya sebelum turun dari mobil.


Hafiz pun membalas dengan kecupan lembut di kening istrinya, sebelum bibir ranum itu terangkat dari punggung tanganya, "Ingat ya Bund, gak boleh terlalu capek." ucapnya memberi peringatan. Ada maksud tersembunyi di balik kalimatnya tersebut. Hafiz tidak mau jika acaranya nanti malam sampai gagal karena istrinya kelelahan.


Hafiz tahu jika istrinya itu sering lupa waktu untuk beristirahat jika sudah terlalu asik dengan kegiatanya.


"Iya, Sayang?" Ciuman di bibir pun di layangkan Khadija. Hatinya terlampau senang mengawali hari barunya pagi ini.


Senyuman hangat dan ciuman mesra sang suami membuat hati perempuan itu bertambah semangat. "Hati-hati Mas." ucap Khadija melambaikan tangan, menatap mobil suaminya berlalu dari hadapanya.


Setelah mobil sport itu menghilang di ujung jalan, Khadija segera masuk ke dalam toko. Tidak sabar untuk memulai harinya.


Di lihatnya Leni dan Sari sudah menyambut kedatanganya dengan senyum yang mengembang, tidak lupa pula saling berbalas salam.


"Gimana sudah siap?" tanya Khadija merangkul bahu kedua pegawainya.


Leni dan Sari kompak mengangguk bersama.


"Semangat!" seru Leni mengangkat kepalan tanganya ke udara, lalu di ikuti oleh Sari dan Khadija.


____


"Hooaaaamm ..." sudah hampir lebih dari Sepuluh kali Sari menguap. Baru setengah jam berada di Pantry, tanpa bisa di tahan lagi mulut gadis itu berulangkali terbuka lebar.


Cetrek ...


Khadija mematikan mesin Mixer yang tengah mengaduk adonan, "Sar, kalau masih ngantuk tidur lagi aja ndak apa-apa." kata Khadija, memperhatikan karyawanya tersebut mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mengusir rasa kantuknya.


Khadija menyadari, mungkin gadis itu terlalu lelah karena beberapa hari terakhir harus bekerja extra untuk membantunya.


"Eh, ndak papa kok Mbak," jawab Sari dengan tatapan sayunya. Tanganya terus bergerak menuangkan adonan kue kedalam loyang.


"Gimana gak ngantuk, orang semalaman dia gak tidur?" sahut Leni mengambil alih pekerjaan Sari. "Udah sana tidur dulu sebentar. Nanti kalau udah segeran balik kerja lagi." lanjutnya menyuruh pergi rekan kerjanya tersebut.


"Gak ah, aku takut di atas sendiri." Sari merebut kembali pekerjaanya. Apapun yang terjadi gadis itu tidak akan mau tidur sendiri di kamar meski itu di siang hari.

__ADS_1


"Takut kenapa?" Kedua alis Khadija saling bertautan, meminta jawaban.


Sari menceritakan pengalamanya bertemu wanita misterius kemarin sore dan kejadian bau kentut yang tidak di ketahui siapa pembuangnya. Setelah Leni kekeuh mengelak bukan dia pelakunya.


Alhasil semalam suntuk Sari tidak bisa tidur nyenyak, dan baru bisa tertidur ketika menjelang Subuh. Itupun hanya Setengah jam setelah itu bangun kembali menunaikan kewajibanya.


"Aku gak mau tidur disini lagi Mbak." rengek Sari menggelengkan kepalanya cepat. Bisa gila jika ia harus bertahan ditempat ini, pikir Sari.


"Eh, eh, eh, gak bisa." tolak Leni, "Masa aku harus tinggal sendiri disini?" imbuhnya. Bukan karena gadis itu takut tetapi, dengan tinggal sendiri itu akan terasa membosankan seperti halnya ketika ia masih tinggal di rumah Ummi Aminah.


"Sudah, sudah, nanti aku akan bicara dulu sama Mas Hafiz." Khadija mengusap-usap punggung Sari menenangkan. "Sementara kamu bertahan dulu disini, kasihan Leni sendirian."


"Tapi Mbak ..." Sari menatap nanar ke arah Khadija.


"Jangan takut Sar, perbanyak dzikir, baca ayat-ayat Alloh sebanyak yang kamu bisa dan setelah Shalat usahakan baca Dua ayat terakhir surat Al Baqarah. Insyaalloh kamu akan terhindar dari gangguan jin dan setan." tutur Khadija. Itu pula yang ia lakukan pada Zahra saat ini setelah mendapat petuah dari ibunya.


"Mereka itu sama seperti kita. sama-sama mahluk Alloh. Semakin kita takut maka mereka akan semakin gencar menggoda untuk melemahkan iman kita." lanjut Khadija menasehati.


"Iya Sar, benar apa yang di bilang Khadija, jadi jangan biarkan hati dan fikiran kamu kosong karena ketakutanmu." imbuh Leni menimpali. Gadis berambut sebahu itu merasa iba terhadap teman sekamarnya tersebut, "Ini minum dulu." lanjut Leni menyodorkan gelas air minum ke arah Sari.


Sari pun menerimanya lalu meminumnya hingga tandas. "Makasih Len." ucap Sari meletakan gelas kosong itu di atas meja.


"Hai ... Hai ... Pagi semuanya?" sapa seseorang yang baru masuk kedalam toko menyela obrolan Khadija, Sari dan Leni. Tatapan mereka bertiga pun beralih pada pintu masuk yang terbuka.


"Ups, Assalamualaikum semuanya?" ulang Alina cengengesan.


"WAALAIKUM SALAM ..." koor Leni dan Sari. Mulut kedua gadis itu menjawab ucapan salam dari Alina. Namun, tatapan matanya tertuju pada seseorang yang berada di belakang janda cantik itu.


"Manis banget senyumnya?" lirih Sari kagum. Namun, terdengar jelas di telinga Leni.


"Nah, dia maksud aku si pemilik senyum manis itu." balas Leni tanpa mengalihkan pandanganya.


Sari menengok ke arah Leni yang berada tepat di sampingnya, "jadi, semalam itu Mas Fino maksud kamu?" Sari baru menyadari seseorang yang semalam dimaksud gadis di sebelahnya itu.


Karena Aslan sahabat dari majikanya, tentu saja Sari tahu jika Fino adalah sepupu Aslan. Meski hanya sekedar tahu dan melihatnya dari jauh, Sari juga pernah mengagumi paras tampan Fino jauh sebelum Leni.


"Oh, dia namanya Fino? Nama yang indah, seindah wajahnya." puji Leni dengan nada yang di buat seimut mungkin. Sambil menangkup wajahnya dengan kedua telapak tanganya.


____

__ADS_1


Malam hari,


Hafiz duduk berselonjor di atas tempat tidur dengan menopang benda persegi di atas pangkuanya. Entah apa yang menarik di dalam layar kotak tersebut, Hingga Pria itu begitu fokus menatapnya.


Pandangan matanya pun beralih ketika pintu kamar mandi berderit, terbuka. "Sexy." Hafiz menaik turunkan jakunya.


Hafiz turun dari ranjang, berjalan menghampiri istrinya yang sudah berganti busana.


"Mas geli." Khadija menggeliatkan lehernya.


Hafiz memeluk istrinya dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher perempuan itu.


"Harum." ucap Hafiz melalui indera penciumanya. Namun, bibirnya yang bereaksi, menjelajah di lekuk leher istrinya.


"Mas." beo Khadija gagal konsentrasi ketika memoles krim malam di wajah mulusnya, akibat ulah jahil suaminya.


Bukan hanya bibir, kini tangan yang semula melingkar di pinggang, sudah mulai bergrilya meraba bahkan sesekali Hafiz memberikan remasan nikmat di area favoritnya.


Baju tidur yang dikenakan Khadija saat ini, begitu memudahkan pria yang ada di belakangnya berbuat nakal.


"Aku udah gak tahan Sayang?" bisik Hafiz di telinga Khadija. Perlakuanya terhadap istrinya membuat dirinya berada di ujung gairah.


Khadija mengangguk pasrah di iringi desahan yang lolos dari bibirnya. Merasakan sensasi panas yang diberikan suaminya.


Setelah cukup melakukan pemanasa, Hafiz segera mengangkat tubuh ramping istrinya lalu membawanya menuju tempat pergulatan selanjutnya.


(Tolong acara Smack down'nya di bayangin sendiri-sendiri aja ya? Jangan lupa sambil makan Klepon. Masih ingatkan sloganya?)


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya...😊🙏😘


__ADS_2