
"Dipta sama Nio kemana?" tanya Abi Haikal sambil memutar kemudi mobilnya, keluar dari area parkir kampus.
"Zahra gak tau Bi, mungkin lagi pada sibuk," Bukan bermaksud bohong, tapi emang aku tidak tau pasti dimana mereka berada. Meski tadi sempat di beritahu kak Nando juga sih. Tapi kan ya nggak enak juga, masa aku bilang kak Nio lagi sibuk pacaran.
"Lain kali, kalo nggak ada yang nganter pulang, kamu bilang sama Abi," Ya beginilah Abi Haikal, protektifnya udah ngalahin Papa.
"Sip Abi," Aku mengacungkan kedua ibu jari mantap.
Merasa bahagia dan beruntung jika di kelilingi orang-orang yang tulus menyayangi, meski terkadang rasa sayang itu berujung penghianatan. Seperti yang ku rasakan saat ini, rasa sayangku untuk seseorang kini berubah menjadi benci.
Alvaro. Laki-laki itu yang saat ini aku benci.
Tetapi aku berharap, semoga rasa benci ini tidak selamanya tertanam di hati. Karena bagaimanapun suatu saat keadaan akan berganti, apapun bisa saja terjadi. Sangat mungkin jika lain hari aku yang akan menyakiti dan tidak menutup kemungkinan justru aku yang akan di benci.
Di benci dan membenci sesungguhnya rasanya tidak enak sekali.
Hening.
Abi Haikal fokus pada kemudinya, dan aku menatap kosong ke arah luar jendela.
"Kenapa? Kok di remas-remas gitu undanganya?"
Aku menoleh sekilas ke arah Abi Haikal yang baru saja kembali membuka suara, lalu beralih menatap ke arah pangkuanku, secara nggak sadar undangan yang tadi aku taruh di dalam tas, tiba-tiba sudah berpindah ke genggaman.
Kartu undangan yang di dominasi warna gold itu, kini sudah lecek tak berbentuk lagi.
"Hehehe ... Gak sadar Bi,"
"Bukan karena kesal kan?" Abi Haikal tersenyum ke arahku.
Aku tersenyum masam lalu diam menunduk. Ada benarnya yang di katakan pria paruh baya di sebelahku ini. Sudah berusaha melupakan, tapi kenapa rasa kesal ini selalu datang.
Wajar. Karena baru beberapa jam yang lalu, aku menelan kenyataan pahit ini.
"Kamu harus ikhlas, memang jalanya kalian berpisah harus seperti ini. Abi tahu kamu pasti marah, sakit hati, bahkan Abi lihat kamu masih belum terima di tinggal Alvaro menikah."
Tebakan Abi Haikal Seratus persen tepat. Memang ku akui sejenak pikiranku bisa teralihkan saat berhadapan dengan kak Nando yang selalu bertingkah lebay dan kak Dion dengan segala pesonanya, tapi di sudut hati kecil ini masih menyimpan rasa nano-nano untuk Alvaro.
Meski aku ini type orang yang selengek'an, tapi urusan hati, aku type orang yang setia, jadi sangat membenci segala bentuk penghianatan.
__ADS_1
Aku menghirup napas cukup dalam, lalu ku hembuskan pelan-pelan, ku angkat wajah, lalu menoleh, "Zahra hanya nggak menyangka aja alasan dia mutusin Zahra,"
"Untuk zaman sekarang, mungkin terdengar lucu jika pernikahan di dasari karena perjodohan,"
Perjodohan? Apa lagi ini! Terus yang di katakan kak Nando, Tiga bulan itu ...
"Bukanya calon si Varo udah hamil duluan ya Bi?" tanyaku memastikan dengan kening berkerut.
"Astagfirullohaladzim," Abi Haikal menatap tajam ke arahku, "Itu tidak benar Zahra, kamu dapat info seperti itu dari mana? Mereka itu memang sejak kecil sudah di jodohkan, dan yang Abi tahu mereka masih kerabat jauh," tegas Abi Haikal.
Dasar si Nando ember bocor! Bikin orang Husnudzon.
"Ya maklumlah Bi, namanya juga gosip. Mungkin karena pernikahan yang terkesan mendadak jadi menimbulkan asumsi liar seperti itu.
"Dan kamu percaya?"
"Awalnya sih iya, tapi setelah mendengar cerita yang sebenarnya barusan, ya Zahra lebih percaya yang di katakan Abi."
Ya tentu saja aku lebih percaya dengan apa yang di katakan Pak Dosen yang berada di balik kemudi sampingku ini.
Ayah Alvaro merupakan seorang Dekan di Universitas tempat kuliahku saat ini dan Abi Haikal menjabat sebagai wakil Dekan, maka dari itu beliau tentu lebih tahu.
Abi Haikal tersenyum, sebelah tanganya mengusap puncak kepalaku dengan sayang.
"Boleh Bi," Aku pun menyambut antusias ajakan Abi Haikal. Lagi pula aku udah lama gak berkunjung ke tempat Umi Alin, terakhir bareng bunda Satu bulan yang lalu.
____
"Assalamualaikum Sayang," ucap Abi.
"Assalamualaikum Ummi," kataku menyusul.
"Sayang, ini Abi datang bersama Zahra. Katanya Elif dan Khanza kemarin habis kesini ya? Maaf, Abi kemarin belum sempat menemani mereka."
"Ummi apa kabar? Maafin juga Zahra lama gak kesini, Ummi pasti kangen ya sama Zahra?" sapaku ikut berjongkok di seberang Abi Haikal.
"Putri kita sekarang sudah besar Ummi, dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas persis seperti kamu. Kami semua rindu Ummi." Sesungging senyum terbit dari bibir Abi Haikal.
Tepat Lima tahun ummi Alina meninggalkan kita semua. Saat itu aku berusia Lima belas tahun. Sedih sekali rasanya jika harus kembali teringat dimana saat kehilangan seseorang yang kita sayang untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Ketika usia pernikahan menginjak Lima tahun, Ummi Alina dan Abi Haikal di karuniai seorang putri cantik yang mereka beri nama Khanza. Namun, belum sempat ummi Alina bisa menimang dan menyusui putrinya, ternyata Alloh berkehendak lain.
Ummi Alina di panggil kembali keharibaanya. Satu jam setelah melahirkan, beliau mengalami komplikasi Emboli paru (Gumpalan darah yang menghambat pembuluh darah di paru-paru).
Saat itu kami semua sangat terpukul dengan kepergian ummi Alina yang tak pernah kami duga sebelumnya. Tetapi, tidak dengan Abi Haikal, dia terlihat ikhlas dan tegar duduk di samping jenazah istrinya sambil menggendong putrinya yang masih merah.
Cukup aneh bagiku waktu itu melihat ekspresi tenang dari seorang suami yang di tinggal oleh istrinya. Seulas senyuman senantiasa terukir dan sesekali mencium lembut kening sang istri yang sudah terbujur kaku.
Rasa penasaran terus terlintas di benakku saat itu, hingga aku memberanikan diri untuk bertanya, apa alasan di balik wajah tenang dan senyuman itu? Apakah senang, jika seorang istri meninggal terus bisa menikah lagi?
Oh, ternyata tidak. Dan jawabanya cukup membuatku tercengang ...
"Abi bahagia, ummi Alina sudah mendapatkan tempat terindah disisinya. Meninggalnya seorang istri ketika melahirkan itu termasuk golongan mati dalam keadaan Syahid dan surga_lah jaminanya. Bukan berarti Abi tidak sedih, jika hati ini tampak oleh mata, sudah jelas hati Abi-lah yang paling hancur. Hanya saja Abi tidak ingin melepas kepergianya yang tenang dengan tangisan, karena itu hanya akan menyiksa dan membuatnya menderita karena tangisan kita."
Semoga Ummi selalu bahagia dan tenang di alam sana, Amin.
Dan sampai sekarang Abi Haikal belum menikah kembali. Pernah aku bertanya ...
Jangan heran, jika aku suka kepo orangnya,
... Jangankan untuk menikah lagi, kepikiran pun tidak sama sekali. Menurut Bapak dua anak tersebut, dengan memiliki kedua putri yang menemani hari-harinya sudah cukup membuat hidupnya bahagia.
Setelah Papa Hafiz, ada Abi Haikal yang menjadi kriteriaku mencari pasangam hidup. Sama-sama sosok pria setia, sayang keluarga dan yang utama beliau berdua adalah pria yang sholeh. Meski kesolehan Papa masih di bawah Abi Haikal, hehehe.
Maafin Zahra ya Pah?
Aku dan Abi Haikal pun pamit pulang, setelah selesai berdoa dan menabur bunga diatas pusara ummi Alina, lalu menyiramkan air mawar setelahnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Komen, dan Votenya ya ...🙏😊😘