
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINYA KHADIJA BINTI FULAN DENGAN MASKAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI!"
Plak...
"SAH!"
Rangkaian kalimat sakral itulah yang selalu membayangi fikiran Hafiz. Ingin rasanya pria itu mengulang kalimat tersebut untuk wanita yang dicintainya.
"Main sah-sah aja. Masih besok kali akad nikahnya? Yakin lo udah siap jadi saksi di pernikahan Khadija?" Keplakan tangan Aslan mengejutkan Hafiz yang tengah berdiri melamun di atas balkon Apartemen.
Hafiz menoleh, mengangkat kedua bahunya.
"Belum tahu gw!" jawab Hafiz cuek setelah kembali duduk di sofa santainya, di ikuti Aslan duduk di sebelahnya.
Semenjak Tiga hari yang lalu, setelah peristiwa keributan antara dia dan Haikal, Hafiz hanya mengurung diri di Apartemen. Urusan Rumah Sakit sudah ia serahkan kepada orang kepercayaanya untuk mengurus sementara waktu dan tentunya ada Dio yang turut mengawasi.
"Gw harap lo bisa ikhlasin Khadija. Waktunya untuk lo berkorban untuk dia," Nasehat Aslan yang kesekian kalinya memberikan pengertian kepada sahabatnya itu.
"Sebenarnya masih berat buat gw nerima semua ini Lan?" Hafiz tertunduk lesu. Bahkan ia tidak bisa membayangkan jika besok Khadija akan menikah dengan orang lain di depan mata kepalanya sendiri dan ia sendiri lah yang menjadi saksi pernikahan sang mantan istri.
Tidak rela!
Namun apalah daya, cinta Khadija sudah memilih.
"Tumben malam-malam lo kesini, ngapain? tanya Hafiz kemudian.
"Nih Zahra, pengen vidio call," jawab Aslan dengan maksud kedatanganya. Setelah Aslan menghubungkan sambungan lewat vidio call terlihat wajah imut Zahra dengan rambut di kucir Dua, dikanan dan kiri kepalanya.
Sudah Tiga hari Hafiz tidak mengunjungi buah hatinya. Hafiz beralasan jika ia sedang ada pekerjaan di luar Negeri. Sengaja pria itu berbohong karena untuk sementara waktu, Ia tidak ingin bertemu dengan Khadija dengan alasan MALU. Setelah sikap kasarnya waktu itu.
Seperti kebiasaanya, Hafiz akan menonaktifkan ponselnya jika sedang berada pada kondisi tidak stabil.
Orang yang paling direpotkan dalam permasalan Hafiz kali ini, adalah Aslan dan Aisyah. Semenjak tidak ada kemunculan Hafiz menyambangi Putri kecilnya itu, membuat Aslan mencari-cari alasan agar Zahra berhenti merengek meminta kehadiran sosok ayahnya.
Seperti yang dilakukan Aslan malam ini, ia harus rela malam-malam datang ke Apartemen Hafiz, satelah mendapat telepon dari Khadija jika Zahra ingin vidio call dengan ayahnya. Aslan yang sudah bersiap-siap untuk tidur pun segera bergegas menuju kediaman Hafiz hanya menggunakan setelan piyama tidurnya.
Setelah selesai dengan tugasnya Aslan pun kembali pulang, dengan harapan ia dapat tidur dengan nyenyak di dekapan Aisyah, istrinya.
Sepulang Aslan, kini Hafiz sendiri berada di Apartemenya. Setiap malam ia selalu merasa gelisah akan kondisinya yang sulit untuk melupakan Khadija.
Dalam kesendirianya selama mengurung diri, Hafiz berusaha menyakinkan diri agar bisa menerima kenyataan yang akan terjadi. Jika biasanya ia melampiaskan permasalahanya pada minum-minuman keras namun, kali ini Hafiz sadar bahwa tempat sesungguhnya untuk ia berserah dan memohon hanya kepada sang Maha Pencipta.
Di tengah kegundahanya, mata Hafiz tertuju pada benda yang tergeletak di atas meja. Benda itu yang selama ini mengingatkanya akan sosok Khadija yang menuntunya mengenal akan Tuhan dalam hidupnya.
Dengan berbekal pengetahuan dari google, Hafiz mulai mencari-cari obat yang bisa mendamaikan hatinya.
"KEISTIMEWAAN SHALAT TAHAJUD" Hafiz menemukan Satu judul artikel yang cukup membuatnya tertarik. Perlahan ia membaca isi artikel tersebut, dan mempelajari tata cara dalam pelaksanaan Shalat Tahajud.
"Ternyata tidak jauh beda dengan shalat biasanya." gumam Hafiz, manggut-manggut paham.
Setelah Hafiz menghafal niatnya, segera pria itu beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu sebagai syarat sah melaksanakan Shalat.
Sekilas Hafiz melihat jam analog yang tertera pada layar ponselnya, jarum pendek berada diangka 2 dan jarum panjang berada di angka 7, itu bararti Hafiz tepat berada di waktu sepertiga malam sesuai dengan anjuran pelaksanaan Shalat Tahajud perdananya.
Benar saja, setelah menjalankan Shalat sunah yang satu ini, Hafiz benar-benar merasakan kedamaian yang selama ini tak pernah ia rasakan.
Hafiz larut di titik nyamanya kali ini, segala doa ia panjatkan, dilanjut membaca bacaan dzikir sebatas yang ia tahu.
***
Di kediaman Ummi Aminah, Khadija hingga larut malam masih terjaga, mata Khadija enggan sekali terpejam.
Pikiranya melayang memikirkan sang calon suami yang tidak ada kabar setelah Tiga hari yang lalu berpamitan untuk pergi keluar kota, mengisi sebuah acara seminar.
Sudah Dua kali dalam sebulan semenjak kedatanganya, Haikal seperti ini. Namun, untuk yang pertama Khadija tidak terlalu mempermasalahkanya, tetapi untuk saat ini Khadija begitu mengkhawatirkan keadaan Haikal. Sudah tinggal beberapa jam lagi menunggu esok hari pernikahanya akan di laksanakan.
"Ummi, apa sudah ada kabar dari Mas Haikal?" Khadija memutuskan untuk bertanya kepada Ummi Aminah selaku uwak dari calon suaminya.
__ADS_1
"Belum Ja. kamu jangan khawatir, Haikal besok pasti datang." Ummi aminah mengusap bahu Khadija, menenangkanya.
Khadija mengangguk pasrah, walau hatinya masih tidak tenang.
Khadija tidak pernah berfikiran negatif akan calon suaminya, karena Khadija yakin Haikal adalah calon imam yang baik untuk keluarga kecilnya kelak.
Khadija selalu memikirkan akan keselamatan Haikal. Apakah calon suaminya itu dalam keadaan baik-baik saja? Khadija berharap tidak ada hal buruk menimpa Haikal.
Sama hal dengan yang dilakukan Hafiz malam ini, Khadija pun segera mengambil wudhu untuk mendirikan Shalat Tahaju. Sudah menjadi rutinitas yang ia lakukan setiap malam, terlebih saat ini Khadija sangat membutuhkan ketenangan.
"Astagfirullohaladzim," pekik Khadija ditengah kegiatan berdzikirnya.
Sekelebat bayangan wajah seseorang yang sudah Tiga hari terakhir tidak muncul di hadapanya, membayang di pelupuk mata.
"Ampuni dosa hamba Ya Alloh. Sungguh ini di luar kendali hamba, hamba tidak ada maksud memikirkan orang lain, kecuali calon suami hamba," Gumam Khadija dalam doanya.
Khadija merasa bertambah gusar, semakin ia berusaha menghapus bayangan itu semakin lekat pula wajah seseorang itu melekat di benaknya.
Berbagai macam cara di lakukan khadija untuk mengalihkan fikiranya yang semakin tidak karuan. Dari mulai memperpanjang waktu dzikirnya, kemudian ia lanjutkan dengan membaca kitab suci Al Quran, berharap jiwanya akan kembali tenang.
Yang semula Khadija memikirkan Haikal, justru yang membayang adalah wajah mantan suaminya, Hafiz.
Kira-kira doa apa yang dipanjatkan Hafiz untuk Khadija?
Hingga subuh menjelang, Khadija masih fokus pada bacaan ayat-ayat suci yang ia lantunkan, itu artinya semalaman perempuan itu terjaga.
Setelah bunyi Adzan berkumandang, segera Khadija menunaikan Shalat Subuhnya.
Tidak lama berselang, Khadija selesai dengan kewajibanya, pintu kamar Khadija diketuk oleh seseorang di luar sana.
"Iya, ada apa Ummi?" tanya Khadija setelah ia membuka pintu kamarnya.
"Itu ada pihak dari WO datang untuk merias." jawab Ummi Aminah memberitahu.
"Baik Ummi suruh tunggu sebentar. Dija mau ganti baju dulu." Khadija pun masuk kembali ke dalam kamar.
Tinggal Lima jam lagi dari jadwal yang ditentukan untuk melangsungkan prosesi akad nikah.
"Waalaikum Salam Dek ku sayang, maaf semalam Mas baru datang. Belum sempat kasih kabar."
Sudut bibir Khadija terangkat tatkala sang calon suami membalas pesan chartnya. Ada kelegaan di hati Khadija kali ini, ternyata sang calon suami dalam keadaan baik-baik saja.
Khadija dan Zahra telah selesai di rias, keluarganya pun datang menghampiri di rumah Ummi Aminah untuk menggiringnya menuju tempat dilangsungkanya akad nikah sekaligus tempat resepsi yang akan digelar setelahnya.
Ayah dan Ibu Khadija sudah datang dari kampung, Dua hari sebelum hari pernikahanya. Karena rumah orang tua Aslan cukup besar, maka mereka diperkenankan untuk menginap disana, selain itu Ayah Khadija dan Ayah Aslan merupakan sahabat lama.
***
Si Duda galon duduk ditepi kasur king sizenya. Ditanganya memegang gawai yang berlogo apel digigit, jari jempolnya sibuk menscroll naik turun foto yang ada di galeri ponsel tersebut.
Hafiz memilih beberapa foto yang akan ia hapus, yaitu foto-foto Khadija yang kebanyakan ia ambil secara diam-diam. Karena meminta baik-baik pun Khadija selalu menolak jika di ambil gambarnya.
"Semoga kamu selalu bahagia Khadija. Akan aku jaga hati ini selalu untukmu." ucap Hafiz sebelum jari jempolnya menekan panel Deleted.
Hafiz melirik sekilas jam yang ada di tangan sebelah kirinya, segera ia menyambar jas dan kunci mobil yang tergeletak diatas tempat tidurnya.
____
"Bismillahirrohmanirrohim," ucap Hafiz saat akan memasuki sebuah gedung digelarnya acara pernikahan.
Hafiz masuk dengan langkah terburu-buru. Duda satu anak itu akan menemui mantan istrinya terlebih dahulu untuk meminta maaf, sebelum ia menjadi saksi pernikahan sang mantan istri tersebut.
Brugk...
Seketika langkahnya Hafiz terhenti, saat ia tidak sengaja menabrak seorang wanita cantik berhijab.
Beruntung wanita itu tidak sampai terjatuh, karena Hafiz berhasil menahan tubuh buncit wanita itu.
__ADS_1
Tampak Hafiz berbincang sejenak, mungkin hanya untuk berbasa-basi untuk meminta maaf. Lalu Hafiz kembali masuk mencari keberadaan Khadija.
***
"Mas, kamu sudah datang?" tanya Khadija dengan mata berbinar, melihat Haikal yang baru datang dari balik pintu.
"Maaf ya Dek, Mas bikin kamu Khawatir." ucap Haikal saat duduk di samping Khadija.
"Mas, kamu kenapa? Kok pucet banget mukanya?" tanya Khadija mencium ada yang ganjil dari diri Haikal.
"Tidak apa-apa kok Dek, mungkin hanya kecapean aja kok," jawab Haikal dengan senyum terpaksa, "Dek, ada hal yang mau Mas sampaikan ke kamu ..." lanjut Haikal menatap serius ke arah Khadija,
"... Tentang?
"Eeumm ... " Haikal tampak ragu dengan apa yang akan ia sampaikan.
"Sebenarnya~ ..."
Tok ...Tok ... Tok ...
Ucapan Haikal terpotong saat ada seseorang mengetuk pintu. Setelah pintu terbuka, ternyata Hafiz pelakunya. Pria itu berjalan mendekat ke arah Haikal dan Khadija.
"Haikal, Khadija aku minta maaf atas segala kesalahanku tempo lalu," ucap Hafiz yang sudah berdiri dihadapan Khadija dan Haikal.
"Sudahlah Fiz, lupakan itu semua," Haikal berdiri mendekat ke arah mantan suami dari calon istrinya, "Toh kami juga sudah memaafkan kamu kok? "sambung Haikal sambil menepuk pundak rivalnya itu. Khadija pun mengangguk menyetujui ucapan calon suaminya.
"Mbak Dija, Mas Haikal ayo buruan kedepan, Pengghulunya sudah datang," seru Aisyah datang memberitahu.
Khadija dan Haikal pun sudah duduk berdampingan di depan penghulu, Hafiz mengambil duduk di tengah, dideretan paling depan keluarga Khadija. Karena ia di tunjuk sebagai saksi di pernikahan mantan istrinya.
"Siapa tadi Rel, cewek yang ngobrol sama lo di depan tadi?" tanya Aslan berbisik duduk dibelakang Hafiz.
"Gebetan baru ya? Cepet amat move on nya?" timpal Dio.
Hafiz sedikit menengok kebelakang, "Udah pada diem, gak usah ribut!" jawab Hafiz tegas.
Wajah Khadija tampak berseri-seri, menampilkan wajah bahagianya di depan semua para tamu undangan yang didominasi kelurga dari kedua belah pihak.
Berbeda dengan Haikal, yang tampak risau, tatapan matanya tidak fokus.
"Mas, tenanglah jangan tegang seperti itu." bisik Khadija sedikit memiringkan kepalanya. Haikal mengangguk dengan senyum yang di paksakan.
Wajar Haikal gugup, ini pengalaman perdana baginya akan mengucapkan ijab qabul di hadapan banyak orang.
Kali ini sang Ayah sendirilah yang akan menikahkan Khadija.
Ayah Khadija sudah menjabat tangan Haikal yang terasa dingin berkeringat.
"SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN ENGKAU AHMAD HAIKAL BIN FULAN, DENGAN PUTRI KAMI YANG BERNAMA KHADIJA BINTI FULAN DENGAN MASKAWIN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DAN EMAS SEBESAR LIMA PULUH GRAM." Ijab Ayah Khadija, menghentak tangan Haikal.
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINYA KHADIJA BINTI FULAN DENGAN MASKAWIN TERSEBUT DI BAYAR TUNAI," Dengan satu tarikan nafas, Haikal sukses mengucapkan ikrar Qabulnya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung Aahh....
Hayo kira-kira Hafiz bakal bilang SAH gak ya?
__ADS_1
Mohon maaf jika ada kekeliruan atau kesalahan dalam pelafalan ijab qabul.
Jangan lupa Like dan komenya... 🙏🙏🙏