Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Kado Ulang tahun


__ADS_3

"Aaahhh...Oowhhh Baby..."


Tok...Tok...Tok


"Mas...Mas...Kamu ndak papa toh di dalam?" Khadija panik mendengar erangan suaminya yang ada di dalam kamar mandi.


Sebagai laki-laki normal, Hafiz butuh pelepasan untuk menyalurkan hasratnya. Morning wood itulah yang terjadi padanya saat ini.


Lagi dan lagi Hafiz harus melakukanya seorang diri. Hanya kamar mandi menjadi tempatnya untuk berSolo Karir.


Ceklek...


Hafiz mengerutkan keningnya, "Ngapain sayang, kok kamu bawa-bawa sapu gitu?" Tanya Hafiz sambil membetulkan lilitan handuk dipinggangnya.


"Aku denger tadi, katanya didalam ada B^bi?" Jawab Khadija berusaha mengintip ke dalam kamar mandi yang terhalang tubuh suaminya.


Hafiz salah tingkah, ternyata istrinya mendengar aktifitas yang ia lakukan.


"Owh itu...anu...Ah iya, kamu salah dengar mungkin?" Hafiz menggaruk rambut belakangnya yang mendadak gatal, bingung mencari alasan. Tidak mungkin untuk Hafiz menceritakan yang sebenarnya terjadi.


" Masa sih, aku salah dengar?" Gumam Khadija.


"Baju aku, udah kamu siapin?" Tanya Hafiz berjalan melewati istrinya, guna mengalihkan perhatian.


Khadija pun turut mengekor dibelakang Hafiz, kemudian menuju lemari pakaian, mengambilkan baju kerja untuk suaminya. Sapu yang ia bawa, sudah diletakan kembali di balik pintu setelah mendapat jawaban dari sang suami.


"Mas nanti aku sama Zahra mau diajak Mas Aslan dan Aisyah jalan-jalan, boleh?" Khadija meminta izin, sambil membantu mengancingkan baju suaminya.


"Boleh, mau jalan kemana?" Tanya Hafiz menatap Khadija yang sudah beralih memakaikan dasi untuknya.


"Hhhmmm, paling juga ke Mall." Jawab Khadija.


"Sayang?" Panggil Hafiz, menatap lekat netra coklat sang Istri.


"Apa Mas?" Tatapan mata mereka pun beradu.


Perlahan Hafiz mencondongkan wajahnya, semakin dekat hingga tidak ada jarak lagi diwajah mereka.


Cup


Khadija terkesiap, kala Hafiz mencium bibirnya untuk pertama kali selama mereka menikah. Khadija mendorong tubuh suaminya.


Tanpa berucap, Khadija berlalu dari Hadapan Hafiz, namun dengan cepat Hafiz menarik pergelangan tangan Khadija.


"Kamu kenapa?"


"Maaf Mas, aku belum siap!"


"Tapi, sampai kapan? Apa kamu belum bisa mencintai aku?" Tanya Hafiz penuh penekanan.


"Aku masih takut dan trauma Mas!" Khadija menunduk, menggelengkan kepalanya. Perlakuan kasar yang pernah dilakukan Hafiz membuat Khadija belum bisa memenuhi kewajibanya sebagai seorang istri.


Hafiz menarik Khadija kedalam pelukanya. "Maaf sayang, harusnya aku mengerti, karena akulah yang menyebabkan kamu seperti ini." Hafiz sangat menyesali perbuatanya dulu.


Entah kenapa pagi ini Hafiz begitu bergairah melihat Khadija, meski tubuh sang istri terbungkus gamis dan hijab yang selalu setia membalut kepalanya. Sehingga membuatnya sulit untuk mengendalikan nafsunya.


***


Siang hari, di cafe sebuah Mall...


" Gimana Mbak, udah ada tanda-tanda pendatang baru belum?" Tanya Aisyah tersenyum nakal pada Khadija.


Khadija menggeleng sambil mengaduk Lemon tea yang telah ia pesan sebelumnya."Belum." Ucapnya.


"Belum dikasih apa belum mau nambah?" Taya Aisyah ambigu.


"Masih belum pernah." Jawab Khadija polos, menopang dagu dengan sebelah tanganya.


"Astagfirulloh Mbak...? Tega kamu Mbak sama suami sendiri." Aisyah menggelengkan kepalanya, tidak habis fikir dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada "Dapur" Rumah tangga sang Kakak.


"Mbak masih trauma Dek!" Ujar Khadija memberikan alasan.


"Iya, aku tau Mbak, tapi pernikahan kalian itu udah jalan Dua bulan, dan kalian belum...? Aku gak bisa bayangin gimana kesiksanya Mas Hafiz?"


"Bundaaaa..."Lengkingan suara Zahra menghentikan pembicaraan Khadija dan Aisyah.

__ADS_1


"Princesnya Bunda dari mana?" Tanya Khadija sambil mengangkat tubuh mungil Zahra ke atas pangkuanya.


"Abis naik mobil-mobilan cama Om Alan." Jawab Zahra tersenyum ceria.


"Bom-bom car maksudnya?" Aslan yang baru duduk disamping Aisyah, memperjelas maksud Zahra.


"Kok tante gak diajak sih?" Aisyah mencubit pelan pipi gembul Zahra.


"Oh ya Mas, Mas Hafiz itu sukanya apa sih?" Sela Khadija bertanya pada Aslan yang tengah menyecap ice cappucino yang telah dipesankan Aisyah, istrinya.


"Hafiz itu sukanya ya sama kamu." Jawab Aslan asal namun fakta.


"iihh...ditanya serius juga?"Balas Khadija.


"Emang kenapa?" Tanya Aslan lagi.


"Jadi gini, kemarin itu Mas Hafiz bilang katanya hari ini itu dia ulang tahun, jadi dia minta kado, gitu?" Jelas Khadija


"Oh ya, aku lupa kalau sekarang itu ulang tahunya Carel," Aslan menepuk jidatnya. Kalau dia melupakan hari jadi sahabatnya. Biasanya Aslan tidak pernah melupakan hari penting kedua sahabatnya, begitu juga sebaliknya dengan Dio dan Hafiz selalu memberinya kejutan saat Aslan berulang tahun. Mereka bertiga memang sahabat sejati.


"Mbak ayo ikut aku?" Ajak Aisyah, menarik tangan Khadija."Sayang, tolong jagain Zahra lagi ya?" Lanjut Aisyah beralih pada suaminya.


"Mau kemana?" Tanya Aslan bingung.


"Ini urusan perempuan sayang." Jawab Aisyah mengerlingkan satu matanya ke arah suaminya.


"Ya sudah hati-hati, jangan lama-lama lho?" Ucap Aslan mengingatkan, lalu Aisyah mencium sekilas pipi suaminya


Khadija menyetujui ajakan Aisyah setelah menitipkan kembali Zahra pada Aslan yang tengah menikmati makan siang di cafe yang berada di dalam area Mall, meski Khadija sendiri belum tahu kemana Aisyah akan mengajaknya.


Khadija dan Aisyah memasuki sebuah toko.


"Ngapain kita kesini Dek?"


"Udah ayo Mbak, kita pilih-pilih dulu."


Kemudian Khadija dan Aisyah berkililing mengitari area toko dengan mata yang terus menjelajah mencari sesuatu yang menurut Aisyah cocok dan pas, tidak dengan Khadija yang masih bingung dengan maksud sang Adik.


"Ini Mbak, gimana?" Aisyah menunjuk salah satu benda yang tergantung.


"Iya Mbak, waktu itu pas Mas Aslan ulang tahun, aku kasih dia kado ini, dia suka banget."


"Kan kadonya buat Mas Hafiz bukan buat..."


Tanpa mendengar alasan apapun dari sang Kakak, Aisyah segera membawa benda tersebut ke kasir. Karena Aisyah akan menjelaskanya nanti setelah mereka pulang. Akan butuh waktu cukup lama untuk memPrifat sang Kakak yang otaknya agak sedikit lemot, menurutnya.


Setelah Khadija membayar atas perintah sang adik, mereka berdua pun kembali ke Cafe tempat Aslan dan Zahra berada.


***


10.30 Malam


Setelah menemani sang buah hati tidur, Khadija kembali ke kamar. Ditengoknya jam yang tertempel cantik di atas pintu kamar, Khadija tampak gelisah, sembari menggigit kuku jari-jarinya, menunggu kedatangan sang suami yang hampir larut malam belum menampakan deretan gigi putih yang selalu ditebarnya.


Empat jam yang lalu Hafiz sudah kembali kerumah tepat waktu, Setelah menunaikan Shalat Isya' mendadak Hafiz mendapat telepon dari rumah sakit, bahwasanya ia harus menggantikan jadwal operasi yang seharusnya di lakukan oleh dr.Vera, rekan sesama Dokter spesialis kandungan yang bekerja di Rumah Sakit miliknya. Karena dr. Vera sedang ada urusan yang tidak bisa ditinggalkanya.


"Assalamuallaikum...Bunda?" Ucap Hafiz saat sudah masuk ke dalam kamar. Namun orang yang dipanggil tidak ada di dalam kamar."Sayang kamu dimana?" Hafiz terus mencari keberadaan istrinya.


"Jangan terlalu lama menyiksa suami kamu Mbak! Ingat, itu dosa besar!"


Kalimat mujarab Aisyah yang selalu terngiang-ngiang di telinga Khadija.


" Bismillahirrohmanirrohim..."Ucap Khadija memantapkan niatnya.


Ceklek...


Suara pintu kamar mandi terbuka, ketika Hafiz hendak mencari keberadaan Khadija.


Hingga beberapa detik tak ada orang yang muncul dari balik pintu. Satu langkah kaki Hafiz maju, tiba-tiba seseorang yang dicarinya pun menampakan diri.


Mata Hafiz takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini. Mulutnya pun seakan terkunci, tidak ada satu kata yang mampu mewakilkan keajaiban yang terjadi.


Perlahan kaki Khadija melangkah menghampiri sang suami yang terpaku berdiri menatap kearahnya.


Pandangan mata Khadija tak mampu membalas tatapan suaminya.

__ADS_1


"WOW...Ini benar kamu sayang?" Hafiz mencekal kedua bahu mulus Khadija, untuk memastikan apa yang ia lihat benar-benar nyata, bukan hanya halusinasi semata.


Dimulai dari membelai rambut panjang Khadija, dari beberapa tahun yang lalu, Hafiz tidak pernah lagi melihatnya, hingga sampai Khadija kembali menjadi istrinya.


Khadija memang tidak pernah membuka hijab sekalipun saat ia sedang tertidur dan Hafiz tidak pernah menuntut istrinya untuk melepas hijabnya.


Kali ini Hafiz benar-benar memanjakan matanya. Tak sejengkal pun luput dari pandanganya menjelajah keindahan tubuh istrinya yang hanya memakai dress tidur warna maron Satu jengkal diatas lutut hingga menampakan kulit putih mulus Khadija.


Khadija berusaha merapatkan kedua kakinya, karena tidak nyaman dengan pakaian yang terlalu sexi baginya.


Khadija terus menunduk tanpa berani menatap sang suami yang kapan saja bisa menerkamnya.


"Maaf Mas, jika kamu ndak suka, aku mau ganti..."


Sebelum Khadija berlari menghidar, Hafiz segera menarik pinggang ramping Khadija.


Hafiz menyringai nakal, "Siapa bilang aku gak suka?" Ucapnya dengan nada sensual.


"Kamu benar-benar sudah menggodaku sayang?"


Khadija mengangkat wajahnya, menggelengkan kepalanya cepat, "Nn...ndak kok Mas?" Ucap Khadija takut melihat tatapan memangsa dari Suaminya.


"Hhmmmppp...." Hafiz medaratkan ciumanya kembali di bibir ranum Khadija. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatanya kali ini, saat umpan sudah mendekat dengan sukarela.


Hafiz melepas ciumanya, ketika melihat istrinya sudah terengah-engah kehabisan udara.


"Boleh aku melakukanya malam ini?" Pinta Hafiz lembut.


"Ingat dosa Mbak, menolak ajakan suami!"


Kembali suara Aisyah berputar di kepala Khadija. Setelah beberapa detik terdiam, Khadija mencerna ucapan sang adik.


"Aku takut Mas?"


"Aku akan melakukanya dengan lembut sayang?"


Khadija memejamkan matanya, dan mengangguk pelan.


Persetujuan sudah di dapat, tak ingin membuang waktu, Hafiz segera membopong tubuh kecil Khadija membawa ke atas ranjang besarnya.


Desahan demi desahan menggema mewarnai malam pertama dengan penuh keromantisan.


Jejak kepemilikan tak lupa Hafiz tinggalkan di setiap area sensitif istrinya.


Rintih kesakitan yang terdengar, segera tergantikan dengan erang kenikmatan.


SEKIAN TERIMA KASIH...🤗😘


MAAF TIDAK BISA MENDESKRIPSIKAN SECARA DETAIL, KARENA TIDAK BAIK UNTUK KESEHATAN BAGI PEMBACA DI BAWAH UMUR.🤕🤒


UNTUK YANG CUKUP UMUR, SILAHKAN MEMBAYANGKAN SENDIRI SEMERDEKA KALIAN.


"Terima kasih sayang, untuk kado ulang tahun yang sungguh berkesan." Ucap Hafiz di akhir pertempuranya. Hafiz mencium lembut kening sang istri sebelum terlelap dalam tidurnya.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung...


Ciee...ciee...yang habis dapet jatah, seger bener mukanya Bang?😁



Penampilan Khadija yang bikin Hafiz melek_merem...😁😜(fokus pada bajunya saja, abaikan wajah yang berbeda)


__ADS_1


Jangan lupa Like dan komenya...🙏🙏🙏*


__ADS_2