
Ooowwweeekkk...oowweekk...oowweekk...
Suara tangis bayi menggema di salah satu ruangan klinik bersalin.
Senyum kebahagian serta kelegaan terpancar dari semua orang yang ada di ruang bersalin itu.
Peluh yang bercucuran serta rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh, seketika terhapuskan dengan kehadiran Karunia terindah dari Sang Maha Pencipta.
" Selamat ya Ibu Khadija atas kelahiran Putri cantik anda?" Ucap salah satu perawat yang menghampiri Khadija dengan membawa bayi mungil yang sudah lengkap dengan bedongnya.
Dengan penuh hati_hati Perawat memindahkan sang Bayi mungil ketangan Khadija.
Mata Khadija berkaca_kaca melihat betapa cantiknya Putri kecil yang berada di dekapanyanya.
" Kamu cantik sekali sayang, Hidung dan Mata kamu persis sekali dengan Papamu." Gumam Khadija, dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya.
" Mau kamu kasih nama siapa?" Ucap seseorang yang berdiri di samping Brankar Khadija.
" FATIMAH AZ ZAHRA "
***
*Pukul 11.30 Malam...
Ceklek*...
Terdengar suara handle pintu di putar, perlahan pintu kamar terbuka.
" Apa pantas seorang Istri, pulang selarut ini!" Ucap Hafiz dingin, membelakangi Alina yang sudah masuk ke dalam kamar.
" Kamu itu yang apa_apaan, main tinggalin aku gitu aja!" Alih_alih menjawab pertanyaan Hafiz, Alina justru meluapkan amarahnya akibat ditinggal suaminya.
" Kenapa? Kamu marah?" Hafiz berbalik badan dengan menyilangkan tangan di depan dadanya.
" Ya jelas aku marah, untung ada James yang mau mengantar aku pulang!" Jawab Alina santai.
Air muka Hafiz seketika berubah, ketika Istrinya menyebut nama laki_laki lain." Kalau begitu saja kamu marah, lalu bagaimana dengan aku yang melihat kamu lebih peduli dengan Pria lain, tanpa memperdulikan aku, suami yang ada disamping kamu!"
" Kamu itu kenapa sih sekarang jadi aneh banget!"
" Bukan aku yang aneh, tapi kamu yang keterlaluan, selama kita menikah pernah gak kamu peduli dengan aku, yang kamu perdulikan hanya karir dan karir kamu!"
Hafiz meluapkan unek_uneknya yang ia pendam selama ini.
" Tapi aku lakukan semua ini, demi masa depan kita Rel?" Alina membela diri.
" Apa kamu bilang? Masa depan kita? Perlu kamu tahu, kekayaanku gak bakal habis sampai Tujuh turunan, jadi tanpa kamu harus bekerja pun aku bisa penuhi semua kebutuhan kamu!" Jawab Hafiz jumawa.
" Kamu gak bisa larang_larang aku Rel!" Nada Alina mulai meninggi.
" Ingat Alina, aku ini suami kamu jadi jangan pernah melawanku!" Sarkas Hafiz.
Hafiz menyesal telah mengizinkan Alina untuk berkarir. Andai waktu bisa di putar kembali, ia akan lebih memilih Alina untuk menjadi Ibu Rumah tangga biasa, ketimbang menjadi seorang Wanita karir.
Seperti biasa, Hafiz akan pergi meninggalkan Alina sendiri, jika ia sudah mulai tersulut emosi, karena Hafiz tidak ingin terjadi hal_hal yang tidak di inginkan seperti halnya KDRT.
Blam...
Hafiz membanting pintu, keluar dari kamarnya
" Sar, bikinkan saya kopi dan bawa ke tempat biasa!" Ucap Hafiz datar ketika mendapati Sari tengah mematikan lampu yang ada diruang bawah, karena waktu sudah larut malam.
" Iya Den." Sari sudah hafal dimana tempat yang di maksud.
Sekitar Lima menitan, Sari datang mengantarkan kopi yang di pesan oleh sang majikan.
Tok...Tok...Tok...
Sari mengetuk pintu yang sudah terbuka.
" Masuk Sar." Ucap Hafiz yang tengah duduk bersila di atas kasur mantan Istrinya. Pandangan Hafiz intens ke layar ponselnya, entah apa yang sedang di lihatnya.
" Silahkan Den?" Ucap Sari saat sudah meletakan secangkir kopi di hadapan Hafiz.
" Makasih Sar."
__ADS_1
" Sama_sama Den." Jawab Sari, dengan sedikit mengintip ke arah ponsel Hafiz. " Den Carel lagi lihatin fotonya mbak Dija ya?"
Hafiz terhenyak karena tertangkap basah oleh pembantunya sendiri saat sedang memandang foto mantan istrinya.
" Iya Sar, kira_kira gimana kabar Dija sekarang?" Hafiz tak mengelaknya.
" Sari juga tidak tau Den, kami semua para ART disini sangat merindukan mbak Dija!" Ucap Sari sendu.
Saya juga merindukan Khadija.
Entah mengapa di saat seperti ini bayangan Khadija sangat lekat di benak Hafiz.
Khadija yang perhatian, Khadija yang selalu bisa menenangkan, Khadija yang keibuan, dan Khadija yang setia akan ikatan pernikahan.
Kalimat_kalimat itulah yang mewakilkan kerinduan Hafiz dari sosok seorang Khadija.
" Nyesel ya Den, udah melepas mbak Dija?" Tanya Sari, melihat sang majikan masih terdiam.
" Sangat, andai kesempatan itu datang kembali, saya akan memperbaikinya." Jawab Hafiz jujur jauh dari lubuk hatinya.
" Sari doain semoga kesempatan itu datang Den?" Sari mengamini ucapan Hafiz. " Terus Non Alina gimana Den?" Sambung Sari mengingatkan.
" Astagfirullohaladzim..." Hafiz seketika tersentak mendengar Sari menyebutkan nama Alina."....Lupakan saja ucapan saya barusan!" Hafiz sadar tak seharusnya ia memikirkan Orang lain, sementara ia adalah seorang Suami dari Seorang Istri yang sah.
Tak seindah yang di bayangkan, dan tak selamanya yang saling mencintai akan saling mengerti.
Ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi Rumah Tangga Hafiz dan Alina saat ini.
Di usia pernikahan yang masih seumur Jagung, konflik dalam rumah tangga mereka mulai terjadi.
Yang awalnya tidak pernah di permasalahkan, namun sekarang telah berubah menjadi Bomerang.
Ternyata rasa Cinta saja tidak cukup untuk membina suatu hubungan. Perhatian dan kepedulian terhadap sesama pasangan juga merupakan faktor penting dalam menjaga keselarasan dalam biduk Rumah tangga.
Kesuksesan dalam berkarir yang dicapai Alina, tidak lantas membuat Hafiz bangga, justru Hafiz sering merasa kecewa di buatnya.
***
Pagi Hari...
Setelah semalaman Hafiz tidur di kamar mantan Istrinya dulu, Hafiz terbangun saat Azdan Subuh berkumandang, ia kembali kekamarnya dan mendapati Alina yang masih pulas dalam tidurnya.
Hafiz tersenyum kala ia mengambil Baju koko dan sarung pemberian Khadija.
Terima kasih Ja, aku beruntung pernah memilikimu.
Setelah selesai dengan kewajibanya, tanpa ingin membangunkan Alina seperti biasa, Hafiz bergegas menyiapkan segala keperluanya sebelum berangkat bekerja. Hafiz tidak mau keteteran dan akan membuatnya terlambat.
Coba aja ada Khadija, pasti aku gak akan seribet ini setiap pagi.
Meskipun Hafiz adalah Pemilik dari Rumah Sakit tempatnya bekerja, tidak lantas membuatnya mengabaikan peraturan yang ia buat sendiri, justru karena itu dia yang membuat peraturan maka dia juga yang harus memberikan contoh yang baik bagi semua karyawanya.
" Selamat pagi Sayang?" Ucap Alina yang baru turun dari ranjangnya, lalu memeluk Hafiz dari belakang saat Hafiz mengikat dasinya.
" Hhmmm..." Hafiz hanya berdehem cuek.
" Sini aku bantuin ikat dasinya." Alina berpindah posisi berdiri di hadapan Hafiz.
" Tidak usah, aku bisa sendiri." Ucap Hafiz sambil berlalu dari hadapan Istrinya.
Alina mendengus kesal, karena Hafiz masih mencuekinya.
" Kamu itu kenapa sih?" Alina menghentakan kakinya dengan bibir yang mengerucut.
" Cepatan siap_siap, kamu ikut aku, atau bawa mobil kamu sendiri!" Tawar Hafiz dingin, tanpa menjawab pertanyaan Alina.
" Aku di jemput James, kita pagi ini mau survey lokasi!" Jawab Alina, menolak tawaran Suaminya.
Hafiz sekilas menatap Alina dengan tatapan sinisnya, lalu keluar dari kamarnya.
Blam...
Alina berjengkit ketika Hafiz membanting pintu dengan kasar.
Masih belum reda kekesalan Hafiz semalam, sekarang sudah ditambah kekesalan yang baru, lebih tepatnya Hafiz cemburu ketika Alina menyebut nama James.
__ADS_1
Tanpa mengindahkan kedua orang tuanya yang sedang menunggunya untuk sarapan, Hafiz terus berjalan menuju pintu keluar.
Hafiz masuk ke dalam mobilnya, bersiap memacu kendaraanya menuju Rumah Sakit miliknya.
Langkah Hafiz terhenti di Lobby Rumah sakit, ketika mendengar seruan yang terdengar nyaring di telinganya.
" Om Eleeeeelll..." Panggilan khas dari seorang bocah kecil pada Hafiz. Hafiz membalikan badan menyambut bocah kecil Laki_laki Putra dari sahabatnya.
Nio merentangkan tanganya, berlari menghampiri Hafiz yang tengah menunggunya. Senyum Hafiz seketika mengembang melihat wajah Nio yang menggemaskan.
Hafiz menangkap tubuh kecil Nio ke dalam dekapanya, yang di ikuti Papinya dari belakang.
" Om Elel, kemarin kemana? Nio sama Papi kerumah Om?" Tanya Nio yang sudah berada digendongan Hafiz.
" Sorry, Om kemarin pergi nganterin Tante Alin." Jawab Hafiz sambil terus berjalan.
" Dari kemarin si Nio ngebet banget pengen ketemu lo!" Timpal Dio yang berjalan beriringan dengan Hafiz.
" Emang ada apa, Nio mencari Om? Tanya Hafiz pada Nio, yang sedang memainkan dasi yang melingkar di lehernya.
" Nio cuma minta anter ke tempat Tante cantik, Om? Nio kangen sama tante cantik." Jawab Nio polos
Kamu sekarang di mana Dija semua orang merindukanmu!
Hafiz menoleh pada Dio yang ada disampingnya, Dio pun hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
" Om, juga gak tau sayang, dimana Tante cantik sekarang?" Kembali Hafiz menatap Nio.
" Tapi kemarin Nio lihat Tante cantik waktu Nio pulang dari rumah Om, tapi tante cantik gak denger Nio panggil_panggil..."
Deg...
Seperti mendapat angin segar, mendengar ucapan Nio bertemu dengan Khadija.
" Bukan Rel, Nio hanya salah lihat, mungkin hanya mirip, pas gw tengok orangnya sudah masuk ke dalam angkot. Lagian mana mungkin Khadija gak nengok kalo di panggil sama Nio?" Ucap Dio mengklarifikasi.
Nyatanya angin segar itu hanya sekedar lewat, harapan Hafiz bisa bertemu dengan Khadija pun kembali di patahkan oleh pernyataan Dio.
" Iya juga sih?" Hafiz membenarkan. " Tapi dimana Nio melihat orang yang mirip dengan Khadija kemarin?" Tanya Hafiz merasa penasaran, meski sudah di sangkal oleh Dio.
Tapi Hati Hafiz mengatakan jika Nio tidak salah lihat.
" Kira_kira Lima ratus meter dari rumah lo!" Jawab Dio.
Itu kan tempat dulu dimana Khadija menunggu angkot?
Batin Hafiz bermonolog, menghubung_hubungkan kebiasaan Khadija dulu waktu mereka masih bersama.
Akhirnya Dio berbelok menuju ruanganya, namun Nio bersikukuh ingin ikut dengan Hafiz.
Hafiz pun tidak masalah, karena adanya Nio, bisa sedikit menghibur hatinya yang sedang kacau memikirkan rumah tangganya dengan Alina dan kegalauanya memikirkan Khadija yang akhir_akhir ini sering menghantuinya.
Dihati Hafiz ada Alina, Istrinya, tetapi di fikiranya ada Khadija sang mantan Istrinya.
Apakah suatu saat orang yang ada difikiranya bisa berpindah ke hatinya? Atau malah jika sudah ada dihatinya, ia sudah tak bisa memilikinya...
.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Nio
Tambah penasaran gak? Tunggu kejutanya di Part selanjutnya...Ayo dikomen, kita tebak_tebak buah manggis, kalau salah jangan nangis...hehehe...😁Semoga cerita Author ini bisa menjadi hiburan buat para Readers yang tengah menjalankan ibadah puasa di tengah pandemi Corona.
__ADS_1
Semoga puasa kita di beri kelancaran dan di jauhkan dari penyakit yang sedang mewabah...Aamiiinnn...🙏
Jangan lupa Like dan Komenya...🙏🙏🙏*