
" Sial, kalah start lagi gw!" Gumam Hafiz di dalam mobil, ketika kedua pasang matanya menangkap Satu sosok lelaki yang dianggap sebagai sainganya.
Seperti biasa, sepulang bekerja Hafiz selalu menyempatkan untuk bertemu Putri kecilnya, Zahra. Tidak untuk itu saja tujuanya kali ini, setelah mendapat masukan dari para sahabatnya, semangat Hafiz kembali membara untuk mendapatkan kembali hati sang mantan tercinta.
Hafiz datang dengan membawa misi meluluhkan hati Khadija yang sudah ia susun rapi. Hafiz ingin menghilangkan kesan buruk akan sikapnya di mata Khadija.
Maka dari itu ia harus lebih bersabar menahan rasa cemburunya, agar ia tidak terpancing emosi.
" Assalamualaikum" Hafiz menampilkan senyum palsunya, saat berada dihadapan Khadija dan Haikal yang tengah duduk bersantai di kursi teras.
Khadija mengernyit heran, dengan sikap Hafiz kali ini yang terlihat lebih tenang, dan kembali ramah, berbeda dengan sikapnya yang kemarin, terkesan dingin dan tak bersahabat.
" WAALAIKUM SALAM" Koor Khadija dan Haikal.
Setelah saling bertegur sapa dan sedikit berbasa_basi, Hafiz pun masuk menemui sang buah hati.
Hampir Satu jam Hafiz menemani Zahra bermain, akhirnya Zahra pun merasa lelah dan meminta sang Ayah untuk menemaninya tidur.
Zahra sudah terlelap dalam tidurnya, itu artinya sudah waktunya untuk Hafiz kembali pulang.
Saat sudah keluar dari kamar, hendak menutup pintu, Khadija datang menghampiri Hafiz.
"Mas, bisa bicara sebentar?"
Hafiz mengangguk, kemudian ia mengekor di belakang Khadija.
Sudah tidak ada Haikal disana, karena Haikal sudah pulang dari beberapa menit yang lalu. Sebelum Khadija datang menghampiri Hafiz.
Khadija dan Hafiz kini sudah duduk di kursi teras, tempat biasa Khadija saat menerima tamu yang berlainan jenis, karena tempatnya terbuka menjadi alasan bagi Khadija menghindari fitnah.
" Mas, kamu udah ndak marah sama aku?" Khadija menatap ragu ke arah Hafiz.
" Gak ada alasan untuk aku marah sama kamu Ja, harusnya aku yang sadar diri dengan posisi aku saat ini." Tatapan Hafiz lurus ke depan." Lupain saja kata_kata aku semalam."
" Menikahlah lagi Mas, biar kamu bisa lupain aku."
Sudah tidak ada harapan lagi kah, untuk aku hidup bersamamu, Khadija?
Hafiz tersenyum kecut, " Gak semudah itu Ja?"Hafiz menatap ke arah Khadija."Aku akan menunggu jandamu untuk yang ke Dua kali." Lanjut Hafiz.
" Hah~..." Khadija tersentak akan ucapan Hafiz.
" Hahaha...Becanda Ja, serius amat?" Kelakar Hafiz menggoda Khadija. Namun Hafiz berharap ucapanya itu menjadi kenyataan.
" Ndak lucu Mas!" Cibir Khadija.
" Sorry...Sorry..." Hafiz menahan tawanya melihat expresi Khadija."Tapi, kita masih bisa jadi sahabat kan?"
Sahabat jadi cinta, maksudnya...
" Tentu Mas, bagaimana pun ada Zahra anak kita, jadi kita harus tetap menjalin hubungan yang baik, dalam konteks sebagai sahabat."
" Oh ya, mumpung besok weekend kita ajak Zahra ke taman bermain, bagaimana?" Ajak Hafiz, melancarkan misinya.
" Aku ajak Mas Haikal ndak papa?" Tanya Khadija.
Kenapa harus ngajak dia sih? Ini tuh usaha aku buat ngedeketin kamu lagi Khadija!
Hafiz mengangguk terpaksa." Terserah kamu saja."
Karena hari sudah mulai malam, Hafiz pun pamit pulang pada Khadija dengan hati yang berbunga namun terasa ambyar mengingat nama Haikal di antara mereka.
***
08.00 Pagi
Hafiz sudah datang dengan baju santainya. Karena hari ini ia akan mengajak Zahra dan Khadija ke taman bermain, Hafiz hanya menggunakan celana selutut berwarna hitam di padu dengan kaus oblong berwarna hijau army dengan memakai topi yang senada dengan celana yang dipakainya, simple namun terlihat keren. Sangat kontras di banding keseharianya yang berprofesi sebagai Dokter.
" Gimana udah siap?" Tanya Hafiz ketika sudah berada dihadapan Khadija dan Zahra.
" Sebentar Mas, kita tunggu Mas Haikal dulu." Jawab Khadija.
Sembari menunggu Haikal datang, Hafiz bermain dan mengobrol sejenak dengan Putri kecilnya.
" Sayang, Papa sama Abi, ganteng siapa?" Pertanyaan iseng Hafiz pada Zahra yang berada di pangkuanya.
Khadija, menoleh sekilas ke arah Hafiz lalu menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol sang mantan suaminya itu
Zahra tampak berfikir, dengan mengetuk_ngetuk pelipisnya." Ya ganteng Papa dong?" Jawab Zahra dengan suara imutnya.
__ADS_1
"Tapi Papa heran, kenapa Bunda lebih suka sama Abi dari pada sama Papa?" Tanya Hafiz kemudian dengan maksud menyindir Khadija.
Khadija memilih diam dari pada menanggapi pertanyaan Hafiz yang semakin ngelantur.
" Iya ya Pa, kenapa Bund?" Tanya Zahra pada sang Bunda.
Khadija menatap pada Hafiz dan Zahra." Orang itu bukan hanya dilihat dari wajahnya saja sayang? Tapi iman dan Ahlaqnya jauh lebih penting." Jawab Khadija dengan senyum penuh kemenangan.
Hafiz yang merasa tersindir dengan pertanyaan konyol yang ia ciptakan sendiri, hanya bisa membuang muka menahan malu.
Niat hati Hafiz ingin membuat Khadija salah tingkah, justru ia sendiri yang di buat mati kutu akan tingkahnya.
Bunyi notif ponsel Khadija berbunyi, Khadija tampak fokus pada layar ponselnya.
" Mas, kamu berangkat dulu sama Zahra, nanti aku nyusul, soalnya Mas Haikal masih ada janji dengan pihak WO, katanya."
Hah~...WO? itu artinya tidak lama lagi! gumam Hafiz dalam hati.
" Ayo Bunda, kita belangkat baleng aja cama Papa, biyal nanti Abi nyucul?" Rengek Zahra, yang mendapat anggukan setuju dari Hafiz.
" Ayolah Bunda, kan kasihan anak kita?" Imbuh Hafiz dengan nada manja.
" Mas, jangan mulai!" Hafiz mendapat tatapan intimidasi dari Khadija.
khadija pun mengalah, dari pada ia harus mendengar godaan Hafiz yang akan terus menyerangnya.
Akhirnya Khadija dengan terpaksa mengikuti kemauan Zahra. Keterpaksaan Khadija justru membawa berkah untuk Hafiz.
Sepanjang perjalanan, senyum hafiz terus mengembang dari bibir sexynya. Hafiz berharap kebersamaanya dengan Khadija hari ini tidak akan pernah berakhir.
Haikal! Satu nama yang selalu berhasil membuyarkan harapan indah Hafiz kembali bersama Khadija.
Masih tak ada yang bersuara, hanya suara tawa renyah Zahra yang terdengar melihat seekor kucing dan tikus yang saling berseteru dari posel sang Ayah.
Ada banyak vidio kartun yang di downloud Hafiz di dalam ponselnya, bukan untuknya, melainkan untuk Zahra yang selalu meminta ponsel sang Ayah untuk menonton dan bermain game ketika saat bertemu.
Tak terasa mereka pun sampai di tempat yang dituju. Setelah membeli tiket, mereka kemudian masuk berjalan beriringan dengan menggandeng Zahra yang ada ditengah antara Hafiz dan Khadija.
Semua wahana satu persatu di coba oleh Hafiz dan Zahra. Tidak dengan Khadija yang selalu merasa mual dan pusing jika berhubungan dengan wahana yang berputar dan yang berada di ketinggian.
" Papa, Plinces mau es klim?" Pinta Zahra ketika selesai turun dari wahana komedi putarnya bersama sang Ayah.
" Boleh, Princes Papa mau rasa apa?" Tanya Hafiz sembari mendudukan Zahra di bangku panjang yang berada di tengah_tengah taman bermain yang di hiasi dengan pemandangan air mancur.
" Okey, Princes sama Bunda tunggu disini dulu ya? Papa mau beli ice creamnya dulu. Bunda mau rasa apa?" Tanya Hafiz beralih pada Khadija yang berada disamping Zahra.
Khadija membiarkan Hafiz yang mengubah panggilan terhadapnya. untuk protes pun percuma, karena Hafiz akan selalu mengadu pada Zahra yang membuat Khadija tak berkutik.
" Terserah kamu saja." Jawab Khadija.
Hafiz menyeringai." Kalau rasa sayang dari Papa mau nggak?" Ucap Hafiz ketika lewat dibelakang Khadija dengan mendekatkan wajahnya ditelinga Khadija yang terbungkus hijab.
Sebelum mendapat tatapan membunuh dari Khadija, Hafiz segera pergi menjauh sembari terbahak membayangkan wajah merah Khadija yang begitu menggemaskan.
Lima belas menit kemudian Hafiz datang dengan membawa Dua cup ice cream di tanganya.
Sengaja Hafiz hanya membeli Dua cup, berharap ia bisa menikmati ice cream satu cup berdua dengan Khadija.
" Ini ice cream vanila, coklat buat Princes Papa." Hafiz menyodorkan Ice cream di depan Zahra.
" Yeay..." Sorak Zahra, matanya berbinar melihat Ice cream yang ada di depan matanya tengah melambai meminta untuk segera disuapkan kemulutnya.
" Kok cuma Dua, buat aku mana?" Tagih Khadija dengan mengulurkan tanganya.
" Jawab dulu, pertanyaan Papa yang tadi?"
Khadija mendengus kesal dengan ulah Hafiz."Ya sudah, ndak di kasih juga ndak papa!" Ucap Khadija acuh.
Jawaban yang tidak sesuai dengan harapan Hafiz.
" Sayang, Bundanya ngambek tuh?" Adu Hafiz pada Zahra yang tengah asik menikmati Ice creamnya.
Zahra menatap ke arah sang Bunda yang tengah membuang muka.
" Bunda ngambek kenapa Pah?" Tanya Zahra.
" Bunda ngambek karena minta di suapin sama Papa!" Dusta Hafiz.
Seketika kepala Khadija berputar menatap Hafiz, dengan bola mata yang sudah membulat sempurna, yang ditatap tampak santai tak berdosa tanpa melihat khadija.
__ADS_1
Grep...
Tanpa permisi, Khadija yang di buat kesal oleh Hafiz langsung merebut ice cream yang berada ditangan mantan suaminya itu.
Khadija langsung melahap ice creamnya dengan cepat, meluapkan kekesalanya.
" Bunda, Papa minta dong?" Ucap Hafiz manja.
Khadija hanya melirik sinis ke arah Hafiz.
" Sayang, Bunda gak mau suapin Papa?" Hafiz untuk kedua kalinya mengadu pada Zahra.
" Bunda ndak boleh pelit cama Papa, ayo Bunda cuapin Papa!" Khadija reflek menggigit sendok kayunya, mendapat titah dari Zahra. Kemudian ekor mata Khadija beralih melirik ke arah Hafiz yang tengah menahan senyumnya.
" Nih..." Khadija menyodorkan cup ice creamnya ke arah Hafiz, namun Hafiz menggelengkan kepalanya.
"Say~...Hhhmmmpp" Baru akan mengadu kembali pada Zahra, namun dengan cepat Khadija menyuapkan satu sendok ice creame ke mulut Hafiz.
Suapan demi suapan Khadija layangkan ke mulut Hafiz, membuat Hati Hafiz berjingkrak tidak karuan.
Hafiz merebut kembali ice creame dari tangan Khadija.
" Ayo sekarang gantian bunda." Khadija menggelengkan kepalanya, namun Hafiz tak menghiraukanya. " Aaaaa..."
Khadija kembali kalah, ia pun membuka mulutnya ketika sendok ice cream yang di sodorkan Hafiz tepat menyentuh bibir ranumnya.
Mata Hafiz dan Khadija sejenak bersitatap, Hafiz menatap Khadija penuh cinta.
Tangan Hafiz terulur, melihat ada bekas coklat di sudut bibir Khadija, lalu ia mengusap lembut dengan ibu jarinya, Khadija terbuai akan sikap romantis Hafiz.
" Assalamualaikum..." Ucap seseorang yang baru datang mengagetkan Hafiz dan Khadija.
Hafiz menurunkan tanganya dari bibir Khadija.
" WAALAIKUM SALAM..." Koor Hafiz dan Khadija.
Hafiz dan Khadija menoleh bersamaan ke asal suara. Wajah Khadija seketika pias mendapati sang calon suami sudah berdiri di hadapanya.
Khadija kemudian berdiri, "Ma...maaf Mas, ini ndak seperti yang Mas fikirkan." Ucap Khadija tergagap, ia takut Haikal marah ketika melihat perlakuan Hafiz padanya.
Hafiz yang melihat Khadija ketakutan, akhirnya ikut angkat bicara," Iya Kal, jangan salah paham, itu tadi gak sengaja ada bekas coklat di bibir Khadija, jadi aku membantu membersihkan, itu aja kok!" Hafiz mencoba membantu menjelaskan sikapnya terhadap Khadija.
Haikal menautkan kedua alisnya, melihat sikap aneh Hafiz dan Khadija." Ya udahlah santai aja lagi, kenapa jadi tegang begini sih?" Ucap Haikal santai.
" Jadi kamu gak marah kan sama Dija?" Tanya Hafiz memastikan.
" Hahaha...Kenapa aku harus marah, memangnya apa yang habis kalian lakuin di tempat seramai ini? Lagian aku percaya sama calon istriku ini."
" Ya gak ngapa_ngapain sih." Jawab Hafiz mengingat_ingat adegan romantisnya dengan Khadija beberapa menit yang lalu.
Khadija menarik nafasnya lega, karena Haikal bukanlah tipe orang pencemburu buta.
Kemudian Haikal menghampiri Zahra yang masih sibuk dengan ice creamnya yang hampir mencair.
Jika Hafiz yang membersihkan bekas ice cream di bibir Khadija, kini giliran Haikal yang membantu Zahra membersihkan pipi dan mulutnya yang belopatan bekas ice cream dengan menggunakan sapu tangan yang Haikal keluarkan dari saku celananya.
Melihat sikap perhatian Haikal pada Zahra, membuat hati Hafiz kembali bimbang.
Antara maju terus atau berhenti untuk melanjutkan misinya.
Jika Hafiz berhenti, itu artinya ia harus merelakan hatinya terluka, namun jika Hafiz maju terus, maka ia akan merasa bersalah pada Haikal yang tidak tahu apa_apa.
Astagfirullohaladzim...Ucap Hafiz dalam hati.
Mintalah yang terbaik di setiap Doa mu Jangan pernah minta ini, minta itu. yang pada akhrinya penyesalan dan kekecewaan yang engkau dapat.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Expresi Hafiz melihat Haikal bersama Khadija
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan Like dan Komenya...🙏🙏🙏*