
"Maaf saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini!" Haikal menarik tanganya dari jabat tangan Ayah Khadija
Hanya menunggu kata SAH di ucapkan, tiba-tiba Haikal menarik ucapanya untuk tidak melanjutkan pernikahanya dengan Khadija.
Sontak membuat semua orang terkejut, begitu juga dengan Khadija. Perempuan itu begitu shock menatap tak percaya ke arah Haikal yang sudah berdiri di sampingnya.
Haikal menarik tangan Hafiz yang masih terbengong, menyaksikan Wedding drama yang tengah terjadi.
"Tolong gantikan aku Fiz. Aku tau selama ini kamu sangat mencintai Khadija," pinta Haikal yang masih tidak di mengerti oleh semua orang. Haikal menuntun Hafiz untuk duduk di kursi sebelah Khadija.
Hafiz tak bergeming, ia merasa saat ini ia tengah bermimpi dan bertanya-tanya di dalam hati. Apa yang sedang terjadi? Kenapa begini?
"Aku ndak mau menikah dengan Mas Hafiz, sebelum kamu jelaskan apa maksud semua ini!" Khadija berdiri menatap tajam ke arah Haikal.
"Baik, Mas akan menjelaskan semuanya tapi tidak disini."
Haikal meminta izin kepada Penghulu untuk meminta waktu menunda jalanya pernikahan saat ini. Kemudian ia mengajak keluarga inti darinya maupun keluarga Khadija, tak terkecuali dengan Hafiz yang mendadak menjadi pemeran pengganti.
Mereka semua kini sudah berada di dalam ruang ganti, menunggu Haikal memberikan penjelasan.
Haikal telah kembali masuk kedalam ruangan, setelah sebelumnya Pria itu meminta izin untuk keluar sebentar.
Namun, kedatangan Haikal kali ini tidak sendiri, ia menggandeng seorang wanita yang berparas cantik, berkulit putih, hidung mancung, bernetra kehijauan khas Wanita timur tengah.
Bukan kecantikan dari wanita itu yang menjadi pusat perhatian semua orang, melainkan ada sesuatu yang menonjol dibalik busana yang di kenakan wanita yang dibawa oleh Haikal.
"Mihrima?" gumam Hafiz lirih, namun masih terdengar oleh Khadija yang duduk disampingnya. Khadija pun sekilas menoleh ke arah Hafiz lalu kembali menatap Haikal dengan seorang wanita yang berdiri di hadapan semua orang. Khadija tidak peduli apakah Hafiz mengenal perempuan itu atau tidak! Yang ingin ia tahu saat ini adalah siapa perempuan yang di bawa calon suaminya itu.
Hafiz sudah mengenal Mihrima. Dia wanita yang tidak sengaja bertabrakan dengan Hafiz saat akan masuk ke dalam gedung satu jam yang lalu.
Semua orang masih tampak diam, berspekulasi dengan fikiranya masing-masing.
"Sekarang jelaskan, apa maksud semua ini Mas?" Khadija membuka suara, tatapan intimidasi tertuju pada Haikal.
Haikal menghela nafas dan menghembuskanya kembali, sebelum menjawab pertanyaan semua orang yang sudah diwakilkan oleh Khadija.
"Ini Mihrima, dia bukan kekasihku namun juga bukan Istriku, tapi dia sekarang mengandung anakku..." jelas Haikal yang semakin menimbulkan tanda tanya besar dibenak semua orang.
Tenggorokan Khadija terasa tercekat tak mampu untuk berkata-kata, dadanya pun terasa sesak seperti ditimbun batu yang sangat besar, tanpa diminta air matanya pun luruh seketika.
Seorang Pria paruh baya berjalan mendekat, lalu tangan besarnya mencengkeram leher Haikal. " Apa kamu sudah memperkosanya, Huh! Jawab Abi!" Kali ini Ayah Haikal sudah mulai tersulut emosi mendengar pernyataan Putranya tersebut.
"Tenang Om!" Hafiz berusaha meredam ketegangan Ayah Haikal, dan menuntunya kembali duduk ditempatnya semula.
Kemudian Hafiz mengarahkan Wanita yang bernama Mihrima untuk duduk ditempatnya, tepat disamping Khadija. Karena Hafiz tidak tega melihat Wanita hamil dibiarkan berdiri, apa lagi dengan profesinya sebagai dokter kandungan, Hafiz tahu betul semua hal yang dirasakan oleh ibu hamil.
Jangankan untuk menoleh, melirik pun Khadija enggan melakukan pada orang yang sudah duduk di sebelahnya.
"Jelaskan Kal, biar semua orang tidak salah faham." ujar Hafiz dengan menatap semua orang. Haikal pun mengangguk pasrah.
"Kami di jebak, ada salah seorang kawan yang iri dengan prestasi yang kucapai, dia berniat menghancurkan reputasiku sebagai Mahasiswa teladan dengan cara Universitas akan mengeluarkanku setelah mereka tahu jika aku menghamili salah seorang mahasiswinya." terang Haikal akan cerita masalalu yang membuatnya gagal menikah dengan Khadija.
__ADS_1
Di suatu malam, tepat Tujuh bulan yang lalu setelah Lima bulan Haikal memutuskan untuk bertaaruf dengan Khadija, entah bagaimana kejadian laknat itu bermula.
Haikal yang pada saat itu, mengerjakan tugas bersama Enam teman satu kelompok di tempat salah satu teman mereka, ada pula Mihrima pada saat itu, mereka terdiri Tiga wanita dan Tiga pria.
Mihrima teman satu jurusan dan satu angkatan dengan Haikal namun mereka berdua tidak terlalu akrab, karena mereka satu kelompok, maka mengharuskan mereka untuk bekerja sama.
Selesai mengerjakan tugas, mereka sejenak saling mengobrol sembari menikmati makanan dan minuman ringan yang di bawa oleh salah satu kawan mereka.
Setelah itu, Haikal tidak tahu lagi apa yang terjadi pada dirinya, ia hanya mengingat setelah meminum minuman kaleng yang di sodorkan oleh salah satu teman wanitanya, kepalanya terasa pusing dan Haikal tidak mengingat apa_apa lagi.
Haikal baru menyadari saat ia sudah terbangun dan Mihrima sudah ada di sampingnya, mereka berdua sudah dalam kondisi tanpa busana.
Haikal dan Mihrima sama_sama Shock dengan apa yang terjadi diantara mereka. Yang semula mereka sudah tidak terlalu akrab, dengan kejadian itu Haikal dan Mihrima pun jaga jarak, hingga akhirnya Satu bulan sesudahnya Mihrima memberi tahu kepada Haikal secara sembunyi_sembunyi jika ia tengah hamil.
Haikal kembali terkejut dengan berita yang di bawa Mihrima. Haikal pada waktu itu sudah pasrah apa bila ia harus di keluarkan dari Universitas dan pulang membawa sejuta kekecewaan.
Namun di luar dugaan, sebelum kabar kehamilanya menyebar, Mihrima rela keluar dari Universitas dengan alasan ia pulang karena di jodohkan oleh orang tuanya. Dan itu ia lakukan demi menyelamatkan Masa depan Haikal, meski ia harus mengorbankan masa depanya sendiri yang sudah terlanjur hancur bukan karena kesalahanya.
Mihrima juga tidak habis fikir dengan ulah temanya_temanya pada waktu itu, dengan tega mereka menjadikanya umpan untuk menghancurkan orang lain hanya karena rasa iri.
Dan Akhirnya Mihrima memutuskan pulang ke Negara asalnya yaitu Negri Kebab, untuk menghilangkan bukti agar pendidikan Haikal terselamatkan.
Ternyata Mihrima mendapat penolakan dari keluarganya, ia terpuruk dan sempat terombang_ambing akan kemana ia selanjutnya setelah di usir oleh keluarganya.
Satu_satunya jalan, ia kembali menghubungi Haikal untuk meminta perlindungan sampai bayi mereka lahir. Mihrima pun sudah tahu jika Haikal sudah memiliki tunangan, dan tidak ada niat Mihrima untuk merusak hubungan Haikal dan Khadija.
Haikal pun merasa kasihan dengan apa yang menimpa Mihrima, yang sebenarnya sama_sama menjadi korban. Dan Haikal menyuruh Mihrima untuk datang ke indonesia. Haikal pun menyembunyikan Mihrima di luar kota, hingga pertemuanya yang terakhir menjelang pernikahanya dengan Khadija.
Meskipun tidak ada rasa cinta yang tumbuh di antara Haikal dan Mihrima, tetapi Haikal akan tetap bertanggung jawab mengingat Mihrima sudah rela berkorban untuknya, dan tiba saatnya Haikal untun membalas pengorbanan Mihrima, karena bagaimana pun anak yang ada dikandungan Mihrima adalah darah dagingnya.
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Haikal, hati Khadija perlahan melunak, ia salut dengan apa yang di lakukan Mihrima dan ketegaran hati Mihrima dengan cobaan berat yang ia hadapi.
Tanpa menjawab ucapan Mihrima, Khadija menarik Mihrima kedalam pelukanya." Jangan pernah meminta maaf, karena ini bukan kesalahan kalian, dan ini semua jalan hidup yang sudah digariskan oleh Tuhan." Jawab Khadija disela tangisanya.
Haikal dan Hafiz tersenyum bahagia melihat Dua orang wanita yang sudah saling menerima dan sama_sama memiliki ketulusan hati yang luar biasa.
Begitu juga dengan semua keluarga yang turut menyaksikan, mereka kini sudah lega, karena sesungguhnya yang terjadi tidak seburuk apa yang mereka fikirkan sebelumnya.
***
" SAH...SAH...SAH..." Seru semua orang yang hadir, menyaksikan prosesi ijab qabul Hafiz dan Khadija.
Lalu Khadija mencium punggung Hafiz yang kini sudah resmi secara agama menjadi suaminya kembali. Dan Hafiz mencium lembut kening Khadija.
Mengapa hanya sah secara agama saja? Hafiz dan Khadija kembali menikah secara Siri, karena memang persyaratan_persyatatan adminitrasi yang belum di urus.
Tidak ada resepsi pernikahan setelahnya, meskipun Haikal sudah mempersilahkan Khadija dan Hafiz untuk melanjutkan acara resepsi yang sudah di persiapkan sebelumnya.
Menurut Hafiz ada waktunya sendiri baginya mempersembahkan yang terbaik untuk Khadija, Istrinya. Ia akan menggelar resepsi pernikahan jika nanti pernikahanya sah di mata hukum dan tentunya sudah mengantongi restu dari kedua orang tuanya.
Akhirnya Hafiz dan Khadija di persatukan kembali dengan cara yang tidak disangka_sangka.
__ADS_1
Tanpa dihadiri satu pun dari keluarganya, tidak mengurangi kebahagian Hafiz, baginya Khadija dan Zahra lah yang terpenting saat ini. Baru setelahnya ia akan memohon restu kepada kedua orang tuanya, meskipun tata cara ini salah. Kembali lagi Hafiz tidak akan pernah menyia_nyiakan kesampatan emasnya kali ini.
Satu persatu dari semua tamu dan keluarga yang hadir, memberi ucapan selamat kepada Pengantin dadakan satu ini.
Senyuman lebar tak pernah luntur dari bibir Hafiz, berbeda dengan Khadija yang memasang Expresi datarnya.
" Weits...Akhirnya, kalian bisa bersatu kembali, selamat ya Dija, Carel?" Ucap Dio yang disambut pelukan oleh Hafiz.
" Kakak ipar senyum dong? Nanti jeleknya ilang lho?" Goda Aslan pada Khadija, dan berhasil membuat Khadija tersenyum." Gitu dong? " Kemudian Aslan beralih pada Hafiz sahabatnya.
" Selamat ya Mbak, Mas?" Ucap Aisyah memeluk Khadija, lalu beralih menyalami Hafiz.
Terakhir Haikal dan Mihrima datang memberi selamat.
Entah mengapa Khadija kembali meneteskan air matanya, meski ia sudah ikhlas melepas Haikal, tetapi hatinya tidak serta merta bisa melupakan Haikal.
Hafiz yang menyadari akan itu, kemudian membawa Khadija ke dalam pelukanya.
Haikal yang mengerti akan perasaan Khadija memilih segera pergi setelah bersalaman dengan Hafiz " Jaga Khadija baik_baik Fiz, jangan pernah sia_siakan dia lagi!" Pesan Haikal menepuk punggung Hafiz Dua kali.
" Udah jangan nangis lagi ya, aku ngerti kok perasaan kamu." Ucap Hafiz melepas pelukanya, lalu menghapus lembut air mata Khadija dengan ibu jarinya.
Kemana Zahra? Zahra sudah tertidur, saat para orang tua masih sibuk menyelesaikan masalahnya beberapa saat yang lalu.
Untuk Haikal dan Mihrima akan menikah setelah bayi mereka lahir nanti, karena dalam hukum islam wanita yang tengah Hamil tidak boleh di nikahi (menurut sebagian ulama)atau pun di ceraikan.
.
.
.
.
.
*Bersambung....
Gimana udah gak pinisirin lagi kan?
Wajah ganteng Hafiz setelah nikah
Khadija saat akad nikah
Mihrima
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Komenya, di kasih bonus vote pun Author ikhlas kok...
😘😁🙏🙏🙏*