Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Salah Paham


__ADS_3

Mungkin untuk sebagian orang, hidup satu atap dengan seorang wanita yang notabenya adalah mantan istri dari sang suami merupakan hal yang sulit diterima akal sehat. Sama halnya yang dilakukan oleh Khadija.


Terlalu Naif. Dua kata yang mewakili sikap yang diambil oleh Nyonya Carel Hafiz Edsel. Dengan memaafkan dan memberikanya kesempatan, Khadija berharap mantan istri dari suaminya itu akan berubah menjadi pribadi lebih baik.


Khadija yakin di balik semua kejadian yang terjadi akan membawa hikmah tersendiri.


Hari demi hari berlalu, ternyata Alina menepati janjinya pada Khadija. Bahkan kedua Perempuan cantik itu semakin terlihat akrab, lebih tepatnya Alina lah yang selalu mendekat pada Khadija. Alina ingin sekali belajar banyak hal dari sosok seorang perempuan sederhana yang tidak memiliki keahlian apa-apa. Namun, memiliki ketulusan hati yang luar biasa.


Lantas bagaimana sikap Hafiz terhadap Alina? Nyatanya Pria itu tetap bersikap dingin walau mantan istrinya itu sudah tidak pernah lagi mengganggu ataupun menggodanya, dalam tanda kutip. Ayah satu anak itu selalu berusaha menjaga jarak dan akan bicara seperlunya saja pada sahabat kecilnya tersebut.


_____


Seperti kebiaasaan di keluarga Edsel setiap harinya, setelah makan malam usai semua anggota keluarga selalu menyempatkan berkumpul di ruang keluarga untuk saling bercengkrama. Meski tetap ada kecangguan antara ketiga anak manusia. Sikap dingin yang ditunjukan Hafiz pada Ina, dan kini bertambah Satu lagi pada Alina.


Tetapi malam ini Hafiz tidak berada di tengah-tengah mereka. Karena sebelum jam pulang kerja tiba, Hafiz mengabari kepada Khadija jika Pria itu akan pulang terlambat. Karena ada pasien melahirkan yang harus ditanganinya.


Ayah Hafiz duduk di sofa sembari merentangkan lembar koran yang tadi pagi belum sempat ia baca dan sang Ibu entah pergi kemana setelah mendapat panggilan telepon dari salah satu sanak saudara.


Serta Ina yang selalu setia menemani putera dan cucu sambungnya bermain di atas karpet yang tergelar di ruang keluarga. Bermain Lego adalah pilihan yang tepat ketika Zahra dan Dipta bermain bersama. Lego salah satu jenis mainan yang dapat di lakukan tanpa memandang perbedaan gender. Selain itu bermain Lego dapat mengasah saraf motorik anak untuk selalu berkreasi menciptakan bentuk-bentuk baru sesuai selera.


"Kopi-nya Pa," tawar Alina setelah meletakan secangkir kopi dan beberapa gelas jus untuk anggota keluarga lainya yang ia bawa dari dapur lalu meletakkanya di atas meja.


"Makasih Lin," Ayah Hafiz melipat kembali lembar koran yang semula dibaca, tidak ingin menyia-nyiakan Kopi favoritnya yang masih mengepulkan asap dan membangkitkan selera pada siapa saja yang menghirupnya.


Di ikuti Khadija di belakang Alina sambil membawa nampan yang berisi hasil kreasinya tadi sore.


"Waahh ... Bikin apa lagi kamu Ja?" sambut Ayah mertua melihat beberapa potong irisan kue yang tertata di atas piring besar setelah Khadija menyajikanya di atas meja.


"Cake bolu tape Pa," jawab Khadija, mendaratkan tubuhnya duduk di sofa sebelah Alina bersebrangan dengan Ayah mertua. Tidak lupa Khadija juga menawarkan kuenya pada Ina dan Dua bocah kecil yang tengah asik bermain dibawah sana.


"Lama-lama bisa gendut Papa kalau begini Ja?" sindir Ayah mertua sambil menikmati kue yang ia kunyah.

__ADS_1


"Kok bisa gitu Pa?" sahut Alina sambil memasukan potongan kue ke mulutnya.


Ayah Hafiz mengangguk, "Ya gara-gara setiap hari disuguhin kue enak begini," sindiran yang berakhir dengan pujian.


"Kenapa sih Pa, menantunya ini gak di buatin Outlet kue atau Cafe aja? Kan sayang punya keahlian tapi gak di salurkan," cerocos Alina menanggapi ucapan mantan Ayah mertua.


"Papa sih dengan senang hati jika Khadija mau," sang Ayah mertua mengulang tawaranya Satu bulan yang lalu.


"Nah, bagus dong kalau begitu. Tunggu apalagi Ja, nanti aku bantu pasarin kue-kue hasil buatan kamu deh," seru Alina bersemangat tanpa memberi kesempatan Khadija untuk menjawab.


"Iya Ja, nanti biar aku ikut bantu-bantu sambil nunggu anak-anak pulang sekolah. Aku juga jenuh di rumah terus gak ada kegiatan," Semua mata berpindah menatap ke arah Ina yang ikut bersuara.


"Mama juga dukung kalau begitu," timpal Ibu Hafiz keluar dari kamar.


"Papa juga setuju,"


"Tap ..."


Seketika keseruan obrolan terhenti. Saking serunya hingga mereka semua tidak menyadari kehadiran seseorang yang begitu berpengaruh akan keputusan Khadija.


"Dija permisi dulu semuanya," pamit Khadija segera berlalu menyusul suaminya. Ada rasa sedikit gusar pada diri Khadija ketika Hafiz menunjukkan raut wajah yang tak biasa.


Perempuan itu berharap suaminya tidak marah dengan gagasan yang di setujui semua orang. Namun, ia pun belum sempat memberikan jawaban.


"Sini aku bantu Mas," tawar Khadija saat akan membantu suaminya melepas kemeja.


"Tidak usah," Hafiz menepis tangan istrinya yang hendak terulur ke arahnya, "Kan aku sudah pernah bilang, kalau aku tidak setuju jika kamu bekerja!" bentak Hafiz meluapkan amarahnya. Rasa penat setelah bekerja ditambah dengan apa yang ia dengar barusan dari obrolan keluarganya membuat pria itu terpancing emosi.


Khadija terhenyak, untuk pertama kali ia mendengar suara keras yang dilontarkan Hafiz untuknya.


"Tapi Mas ..."

__ADS_1


"... Aku tegasin sekali lagi, jangan pernah membantah ucapan suami!" Lagi-lagi tak ada kesempatan untuk Khadija mengutarakan ucapanya. Tatapan tajam pun di dapat oleh Khadija. Entah setan dari mana yang mengikuti Hafiz saat ini.


Hafiz melemparkan kemeja yang sudah terlepas kesegala arah, kemudian berlalu menuju kamar mandi tanpa menghiraukan sang istri yang diam mematung dengan perasaan tak menentu.


Dipungutnya baju sang suami yang tergeletak di lantai, tanpa terasa bulir-bulir bening mengalir dari sudut mata Khadija. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kepada suaminya. Bahkan kesempatan bicara pun tidak di dapatnya.


Sambil menunggu Hafiz keluar dari kamar mandi, Khadija berusaha menenangkan diri duduk di sofa setelah menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


Meski ada rasa kecewa karena Hafiz sudah membentaknya, Khadija berencana meluruskan apa yang menjadi kemarahan suaminya itu agar tidak ada lagi salah paham diantara mereka.


Tidak sesuai harapan. Setelah keluar dari kamar mandi, Hafiz segera memakai baju yang telah disiapkan istrinya lalu menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur.


"Mas ..." panggil Khadija dengan suara lembut, menyusul suaminya duduk di tepi ranjang. Meski hatinya sakit, Khadija tidak ingin membalas kemarahan suaminya dengan ikut berkata kasar.


Tidak ada sahutan dari Hafiz. Pria itu malah merubah posisi membelakangi Khadija, dari semula tidur terlentang, dengan satu tangan terbalik menutupi mata.


Khadija menghela nafas berat. Ia Memutuskan akan mengajak sang suami bicara kembali esok hari jika pria itu sudah dalam keadaan tenang.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya...🙏😊*


__ADS_2