
"Ja nanti kamu Desain interiornya mau seperti apa?" Alina menyodorkan Smartphone miliknya ke arah Khadija.
Setelah menerima ponsel Alina, Khadija men-Scroll ke bawah melihat beberapa contoh Desain interior yang di rekomendasikan oleh Alina, "Aku mau konsepnya Minimalis, nyaman dan cocok untuk semua kalangan gitu pokoknya Mbak," papar Khadija tanpa mengalihkan pandanganya, terus mencari gambar yang sesuai dengan keinginanya.
"Nah, kayanya ini cocok deh Mbak?" Khadija menunjuk salah Satu gambar dan memperlihatkan pada Alina yang sedang duduk disebelahnya.
Alina sedikit memiringkan posisinya, menengok ponsel yang ada di tangan Khadija. Untuk beberapa detik Alina diam, "Boleh juga," Perempuan itu manggut-manggut setuju, "Oke, berarti nanti Desain_nya kurang lebih seperti ini ya?"
"Eh, tapi apa ndak sebaiknya kita minta pendapat yang lain juga Mbak?" Khadija menyodorkan kembali ponsel itu ke empunya.
"Tadi aku udah tanya Papa, dan Papa bilang terserah aku sama kamu aja. Makanya aku minta pertimbangan sama kamu," jelas Alina, "Kamu mau sekalian ikut gak? ini aku mau ke lokasi ada janji ketemu sama Desainer_nya disana," tawar Alina.
"Boleh deh Mbak, sekalian antar makan siang buat Mas Hafiz dan jemput Zahra di Sekolah. Tunggu sebentar aku mau nyiapin makanan dulu,"
"Ya udah aku tunggu,"
Khadija pun bangkit dari kursi, kemudian berlalu menuju dapur.
Setelah hampir Lima belas hari, pengerjaan renovasi ruko sudah mencapai Sembilan puluh persen. Tinggal tahap Finishing yaitu menata ruangan sesuai konsep yang diinginkan. Tentunya dengan bantuan Desainer interior, seseorang yang ahli dibidang tata ruang.
Satu jam perjalanan dari rumah ke ruko, Khadija dan Alina telah sampai di lokasi. Tapi sebelum itu mereka mampir ke sekolah Zahra untuk menjemput gadis kecil tersebut. Karena hari ini Dipta sakit jadi Ina tidak bisa mendampingi Zahra.
Mereka bertiga pun turun dari mobil. Lalu berjalan masuk menemui seseorang yang lebih dulu datang.
Setelah saling sapa dan hanya Alina yang berjabat tangan dengan sang Desainer, pembahasan pun di mulai. Tampak Alina memberikan beberapa contoh konsep yang di pilih Khadija beberapa saat yang lalu.
Setelah mencapai kesepakatan, sang Desainer pun pamit undur diri karena proses pengerjaan akan di mulai esok hari. Kini tinggallah Khadija dan Alina di lokasi sembari melihat-lihat hasil kerja dari para tukang renovasi.
"Zahra mana Mbak?" Khadija clingak-clinguk mencari keberadaan sang buah hati ketika baru menyadari gadis kecil itu tidak ada di sekitarnya.
"Oh iya, Zahra kemana?" Alina balik bertanya.
"Zahra ... Zahra ..." panggil Khadija dan Alina bersahutan.
"Kamu cari kebelakang dan aku cari keatas," usul Alina ketika tidak mendapat jawaban dari Zahra.
Dengan wajah panik Khadija dan Alina terus mencari keberadaan Zahra di setiap sudut ruangan.
"Gimana Mbak?" tanya Khadija melihat ke arah Alina yang baru turun dari lantai Dua.
"Gak ada Ja,"
"Gimana ini Mbak," Khadija semakin panik, takut terjadi sesuatu pada puteri kecilnya tersebut.
"Coba kamu hubungi Carel, suruh dia datang kesini," usul Alina dengan maksud pria itu bisa membantu mencari keberadaan Zahra.
Khadija pun langsung merogoh ponselnya dari dalam tas hendak menghubungi Hafiz sesuai usulan dari Alina. Baru saja Khadija akan menekan panel hijau di nomor kontak suaminya, tiba-tiba ...
__ADS_1
"Bunda ..." pekik Zahra dari arah belakang. Seketika Khadija dan Alina mengalihkan pandanganya.
Terkejut. itulah ekspresi kedua wanita cantik itu saat ini. Kemudian keduanya saling menatap tak percaya.
"Bukanya tadi kamu sudah mencarinya ke belakang?" gumam Alina yang dibalas anggukan oleh Khadija.
"Bunda ayo kita pulang, Zahra udah laper," rengek Zahra menarik-narik tangan Khadija
"Sayang kamu darimana?" tanya Khadija, memeluk buah hatinya.
"Main disitu," tunjuk Zahra ke arah belakang.
"Tadi Bunda cari Zahra kesana, tapi Bunda ndak lihat Zahra," jelas Khadija sesuai apa yang dilihatnya.
"Beneran Ja, tadi kamu gak lihat Zahra disana?" sela Alina sedikit berbisik, memastikan. Sekali lagi Khadija mengangguk mantap menatap Alina.
"Tapi tadi Zahra liat Bunda kok," timpal Zahra.
"Hah~..." Khadija dan Alina semakin tidak percaya dengan kesaksian Zahra.
Aneh tapi nyata, itulah yang dialami Khadija, Alina dan Zahra saat ini. Terkejut, bingung dan takut, rasa yang bergelayut di benak kedua wanita dewasa tersebut.
Sekilas Alina bergidik ngeri, "Ya udah yuk, kita pergi dari sini," ajak Alina tidak mau berlama-lama berada di tempat itu. Bulu kuduknya sudah mulai berdiri merasakan hawa dingin menyelimuti tengkuknya.
"Tunggu Mbak!" seru Khadija menghentikan langkahnya. Dirogohnya kembali ponsel yang baru saja berbunyi di dalam tas, "Kita langsung pulang aja Mbak, Mas Hafiz sedang ada rapat," ujar Khadija setelah membaca pesan pemberitahuan yang di kirim Hafiz, suaminya.
***
Malam hari,
Entah kenapa malam ini, mata Khadija susah sekali terpejam. Pikiranya terus berputar mengingat kejadian yang ia alami bersama Alina dan Zahra tadi siang.
Berulangkali Khadija membolak balikan tubuhnya, miring kekanan dan kekiri mencari posisi ternyaman.
"Sayang kamu kenapa?" Hafiz terbangun karena terusik pergerakan orang di sampingnya.
"Ndak papa Mas," Khadija miring kekanan, menghadap suaminya.
"Sepertinya kamu gelisah gitu," tebak Hafiz melihat raut wajah dan ucapan sang istri yang tak seirama, "Ada apa? Coba cerita," Hafiz menggeser tubuhnya mendekat lalu memeluk istrinya dengan erat, memberikan kenyamanan.
Untuk beberapa saat, Khadija masih tak bergeming, hingga hembusan nafas panjang mengawali mulutnya membuka suara, "Tadi siang pas di ruko, ada kejadian aneh Mas," paparnya.
"Kejadian aneh bagaimana, maksudnya?" Hafiz memundurkan wajahnya dengan dahi berkerut.
Khadija pun mulai menceritakan pengalaman anehnya di ruko tadi siang. Diantara serangkaian kejadian yang ia alami ketika mencari Zahra, ada satu moment yang begitu mengganggu pikiranya.
Pada saat perjalanan pulang, didalam mobil Khadija dan Alina mengintrogasi Zahra untuk menjawab rasa penasaran atas kejadian di luar nalar yang mereka alami.
__ADS_1
"Memang tadi Zahra ada di sebelah mana, kok Bunda ndak lihat?" tanya Khadija pada Zahra yang berada di pangkuanya.
"Tadi Zahra ada di pojokan, main sama temen Zahra Bund,"
Khadija dan Alina saling menatap, semakin tidak percaya.
"Terus, kenapa tadi Zahra tidak langsung menghampiri Bunda? Kan kasihan tadi Bundanya bingung nyariin Zahra," Meski ada rasa takut, Alina berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya di alami Zahra.
"Tadi Zahra udah mau nyamperin Bunda, Tante, tapi temen Zahra melarang. Zahra tidak boleh pulang, katanya dia masih mau main sama Zahra,"
"Terus dia bilang apa lagi?" desak Alina penasaran.
"Katanya besok, Zahra suruh kesana lagi. Boleh ya Bund?" Zahra sedikit mendongakan wajahnya menatap sang Bunda.
"Tapi besok Zahra harus sekolah," Khadija berusaha mencari alasan, menolak permintaan putrinya tersebut.
"Yah, Zahra gak bisa ketemu lagi dong sama temen Zahra," Gadis kecil itu mendesah kecewa.
"Memang temen Zahra itu seperti apa sih? Cowok atau Cewek?" Alina semakin gencar menjawab rasa penasaranya.
"Dia sama kaya Zahra tante, rambutnya panjang, pake baju putih tapi sepertinya dia sedang sakit, wajahnya pucat," jelas Zahra polos sesuai apa yang dilihatnya.
.
"Kamu yakin Bund, waktu tadi di sana kamu gak lihat sama teman yang di maksud Zahra?" Hafiz pun mulai ikut penasaran dengan cerita istrinya.
"Jangankan temenya, sama Zahra aja aku ndak lihat. Padahal aku udah bolak-balik ketempat yang di maksud Zahra. Dan disitu benar-benar ndak ada siapa-siapa," Khadija berusaha menyakinkan suaminya.
Hafiz menggelengkan kepalanya, "Ada yang gak beres dengan tempat itu," ucapnya datar.
"Mungkin karena sudah lama ndak di tempati jadi ada mahluk halus yang menghuni,"
"Besok-besok, Zahra gak usah di bawa lagi kesana," larang Hafiz, "Ya sudah, sekarang kita tidur. Besok kita pikirkan lagi solusinya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan Vote nya ya...🙏😊😘