Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Salah paham 2


__ADS_3

"Kamu kenapa toh Mas, awet banget marahnya? Ini tanggal berapa toh? Kamu ndak lagi nge_Prank aku kan?" pertanyaan beruntun Khadija dengan tatapan malas mengajak bicara dirinya sendiri dari pantulan cermin meja rias sambil mengingat-ingat tanggal kelahiranya. Barangkali sang suami sedang mengerjainya sama seperti dulu Hafiz pernah lakukan.


Tidak seperti hari-hari sebelumnya, pagi ini Khadija sama sekali tampak tidak bersemangat. Khadija kembali ke kamar, setelah melepas kepergian buah hatinya ke sekolah dengan diantar oleh Alina dan Ina, istri muda sang Ayah mertua.


Hafiz jangan ditanya, pria itu sudah berangkat pagi-pagi sekali ketika Khadija berada di dalam kamar mandi.


Kebetulan hari ini bahan-bahan untuk membuat kue juga sudah habis, hendak belanja pun Khadija sudah terlanjur malas. Apalagi gara-gara hoby barunya ini menjadi salah satu penyebab kemarahan Hafiz.


Bukan marah pada kue buatan istrinya. namun, Hafiz marah dengan rencana yang dirancang oleh keluarganya.


Sudah Dua hari sang suami mendiamkanya. Membuat Khadija semakin bingung, sebesar apa kesalahan yang telah di perbuatnya? Kalaupun hanya masalah rencana itu saja, harusnya Hafiz cukup menanyakanya. Apakah yang bersangkutan setuju atau tidak? Begitu pikir Khadija.


"Mbok ya kasih kesempatan dulu buat aku ngejelasin? Ini malah diem-dieman, baru mau di ajak ngomong ada aja alasanya, yang ngantuklah, capeklah, perut muleslah! Mboh lah sak karepmu!" cerocos Khadija karena merasa tidak dihiraukan oleh suaminya. Perempuan itu masih duduk di depan kaca sambil terus mengoceh meluapkan kekesalanya.


"Nanti gak usah bawain makan siang." Bunyi memo yang di tinggalkan Hafiz pada secarik kertas yang ia letakkan di atas meja solek tempat dimana Khadija berada sekarang.


"Awas saja kalau nanti sakit perut gara-gara ndak makan siang," ancam Khadija pada suaminya yang tengah bekerja. Ia tahu jika sedang ada masalah, Hafiz selalu kehilangan selera makan. Bahkan untuk sarapan pun dari kemarin pria itu selalu melewatkanya dan pulang ketika lewat jam makan malam.


Setelah cukup puas mengomel sendiri di dalam kamar, Khadija pun memutuskan turun kebawah untuk mengambil air minum karena tenggorokanya terasa kering.


Tak ...


Satu gelas tandas dalam Satu tegukan, Khadija meletakan gelasnya diatas meja makan.


"Ja, kamu kenapa?" sang Ibu mertua menepuk kecil bahu Khadija ketika melihat menantunya itu tengah bertopang dagu duduk sendiri di kursi ruang makan.


"Eh, Mama?" Khadija mendongakkan kepala melihat seseorang berdiri di sampingnya.


"Mama perhatikan dari kemarin kamu sama Carel diem-dieman? Apa gara-gara obrolan kita kemarin lusa itu, membuat suami kamu marah?" tebak Ibu mertua dengan memberondong beberapa pertanyaan.


"Ee ... Endak kok Ma," dusta Khadija dengan senyum terpaksa. Khadija memiliki prinsip, ia tidak mau masalah "Dapur" rumah tangganya di ketahui orang lain, terlebih itu orang tua. Menurutnya, tidak seharusnya orang tua ikut pusing dengan persoalan rumah tangga anaknya, cukup mereka tau yang baik-baik saja.


"Kamu jangan bohong Ja, Mama tahu kalian pasti sedang ada masalah," kekeuh Ibu Hafiz akan feelling nya.


Khadija menggenggam tangan perempuan yang duduk dihadapanya, "Mama ndak usah khawatir. Dija dan Mas Hafiz baik-baik saja kok, mungkin Mas Hafiz lagi banyak kerjaan Ma, jadi agak pendiam," ujar Khadija sambil tersenyum menyakinkan.


"Ya sudah, kalau kata kamu seperti itu. Mama harap kalau kamu sedang ada masalah cerita sama Mama, jangan di pendam sendiri," pinta sang Ibu mertua.


"Iya Ma," Khadija mengangguk seraya tersenyum berusaha menyembunyikan kegundahanya yang sempat tercium oleh Ibu mertuanya.


***


Siang hari,


Saat ini Hafiz tampak duduk sendiri disudut ruangan dekat jendela di sebuah Cafe yang tampak nyaman dan sepi sambil menikmati secangkir kopi yang disajikan oleh seorang pramusaji.


Namun, ada Tiga cangkir kopi yang disuguhkan. Nampaknya Hafiz tengah menunggu seseorang. Siapa?


"Udah lama lo?"


"Sorry, kita telat,"


Tidak lama terdengar suara bersahutan dari Dua orang pria yang baru saja datang. Siapa lagi kalau bukan Dua sahabat Hafiz, Dio dan Aslan.


"Udah hampir karatan gw, nungguin kalian berdua!" ketus Hafiz, bersandar malas di kursinya.


"Roman-romanya ada yang gak dikasih jatah ini Yo?" sindir Aslan melihat wajah cemberut Hafiz, sahabatnya. Aslan dan Dio pun duduk di depan Hafiz, mereka bertiga saling berhadapan.


"Gimana-gimana apa ada masalah?" sambut Dio dengan banyolanya.


"Iya nih, curhat dong Mah?" Mode gila Aslan terpancing. Nada bicaranya pun di buat-buat seperti ibu-ibu jamaah sebuah acara kajian.


"Iya dong ... silahkan," sahut Dio menirukan slogan salah Satu Ustadzah kondang, demi mendalami peran. Gaya duduknya pun mengikuti layaknya seorang ibu-ibu begitu juga dengan Aslan.

__ADS_1


Hafiz menatap aneh pada kedua sahabatnya yang mendadak gila dengan menyilangkan kedua tanganya di depan dada.


"Kenapa ya Mah, akhir-akhir ini suami saya jarang nyoblos saya? Apa saya kurang aduhai Mah?" Naik Dua level tingkat kegilaan Aslan.


"Hahaha ... " Hafiz pun tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya. Beruntung situasi Cafe belum terlalu ramai oleh pengunjung, ada beberapa namun, cukup jauh dari tempat Tiga serangkai kini berada.


Selalu ada tawa ketika salah satu dari Tiga sahabat ini sedang ada masalah. Mereka bertiga akan saling menghibur meski harus menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang Dokter dan Pengacara. Tetapi di luar mereka tetaplah seorang yang berwibawa sebagai mana Profesinya.


"Dasar gila," cibir Hafiz pada kedua sahabatnya.


"Kita rela jadi gila, asal lo bahagia," timpal Aslan.


"Jadi bagaimana, apa sudah bisa bercerita kenapa anda tadi bermuram durja?" imbuh Dio masih dengan kalimat gurauan.


"Tolong serius, gw mau curhat," ucap Hafiz setelah tawanya mereda.


Seketika Aslan dan Dio pun menghentikan kekonyolanya. Mereka berdua melihat ada ketegangan di wajah sahabatnya itu.


"Lo lagi bertengkar sama Khadija?" todong Aslan berganti mode serius.


Hafiz menggeleng, "Gw gak tengkar, cuma udah Dua hari ini gw diemin dia," papar Hafiz.


"Terus masalahnya?" tanya Dio.


Hafiz pun menceritakan kepada Aslan dan Dio perihal sepenggal rencana yang ia dengar dari keluarganya, mengusulkan pada Khadija untuk membuka usaha. Dan Hafiz juga bercerita kalau ia sempat membentak istrinya tersebut.


"Apa Khadija setuju dengan tawaran itu?" tanya Aslan kemudian.


"Gw gak tau Dija setuju atau gak dengan tawaran Papa,"


Dio mencebik, "Nah, lo sendiri aja gak tau istri lo setuju apa gak, udah main bentak-bentak aja," cicit Dio.


"Makanya jangan terlalu Baperan jadi orang," ledek Aslan, "Lagian bagus juga sih menurut gw kalo Khadija buka usaha toko kue. Toh Dia punya keahlian dan gw ngedukung idenya Om Bram," lanjut Aslan ikut mendukung rencana keluarga sahabatnya itu.


"Harusnya lo ikut ngedukung Rel. Sekarang lo pilih mana punya istri dengan gaya ala-ala sosialita yang ngabisin duwit suami atau punya istri yang mandiri?" terang Dio memberikan pilihan.


"Itu gak termasuk pilihan kampret!" seru Aslan melempar buntalan tissue yang ia remat-remat ke arah Kakak iparnya tersebut.


"Terus apa yang harus gw lakukan?" tanya Hafiz meminta solusi.


"Terserah lo! Lo mau ngegelundung dari atas Monas gw gak peduli," gerutu Aslan, Pria itu kesal dengan sifat keras kepala sahabatnya itu.


Ganti Hafiz memanuver buntalan Tissue yang tadi ia terima ke arah Aslan, "Ck! Gw nanya srius?" balas Hafiz melirik sinis ke arah adik iparnya tersebut.


"Begini ya dr.Carel Hafiz Edsel yang terhormat tapi geblek ... Tadi saya kan sudah memberikan pilihan dan harusnya dari Dua opsi yang saya ajukan tadi, anda bisa menyimpulkan sendiri sikap mana yang harus anda ambil," jelas Dio mendikte ulang perkataanya lalu menyesap kembali kopinya yang sempat terlantar.


"Dari sini anda sudah mengerti dr.Carel?" sindir Aslan, lalu melihat jam yang terpasang di lengan kirinya, "Ya udah gw mau balik kantor, ada janji dengan Clien," lanjut Aslan berpamitan.


"Sama, gw juga ada janji dengan pasien," imbuh Dio sama-sama memiliki janji, "Lo gak balik ke Rumah sakit?" tanya Dio ketika berdiri dari kursinya.


"Gw mau disini dulu," jawab Hafiz lesu.


"Saran gw, mending lo pulang selesein masalah lo. Bicarain baik-baik ambil keputusan yang terbaik juga, dan jangan lupa turunin tu ego," Nasehat Aslan sambil menyeruput kopi yang sudah dingin sebelum bangkit dari tempat duduknya, "Oh ya Satu lagi! Sini gw bisikin," Hafiz pun mencondongkan telinganya ke samping, Aslan membisikan sesuatu ditelinga sahabatnya itu.


Hafiz pun tampak mengerutkan keningnya, "Artinya apa?" tanya Hafiz tidak mengerti.


"Udah bilang gitu aja, ntar kasih tau gw reaksi istri lo," lanjut Aslan sebelum pergi.


"Ngomongin apaan sih?" tanya Dio ikut penasaran.


"Udah ayo kita cabut, ntar lo gw kasih tau juga," Aslan pun merangkul pundak Dio mengajaknya segera berlalu.


Setelah itu Aslan dan Dio pun pergi meninggalkan Hafiz yang masih bergelut dengan pikiranya sendiri.

__ADS_1


***


Ceklek ...


Seseorang memutar handle pintu dari luar sana. Khadija yang sedang membaca buku di kamar pun mengalihkan pandanganya dari benda persegi ditanganya.


"Mas, kok sudah pulang?" tanya Khadija menutup kembali bukunya lalu turun dari ranjang menyambut kedatangan suaminya yang datang tiba-tiba.


Sepulang dari Cafe Hafiz memutuskan putar balik ke rumah, mengikuti saran Aslan.


"Aku mau bicara sama kamu," Hafiz menggiring istrinya menuju sofa.


Tanpa banyak bertanya, Khadija pun menurut mengikuti langkah suaminya. Karena memang inilah moment yang ia tunggu-tunggu untuk meluruskan masalahnya.


"Jadi gimana kamu terima tawaran Papa?" tanya Hafiz To the Poin pada inti permasalahan. Ketika sudah duduk berdampingan di sofa.


"Aku sudah pernah bilang, apapun yang akan aku lakukan itu semua harus ada izin dari kamu. Jadi aku masih belum mensetujui ..."


" ... Kalau sekarang aku bilang setuju, bagaimana?" Hafiz menatap istrinya sambil tersenyum.


"Maksudnya?" Khadija menyipitkan mata meminta penjelasan.


"Iya, aku setuju jika Bunda menerima tawaran Papa," Hafiz memperjelas kalimatnya.


"Aaaa ... Beneran kamu Mas? Ndak lagi bohongin aku toh?" pekik Khadija girang. Dengan mata berbinar, Ia pun dengan spontan memeluk suaminya.


"Maafin aku ya Bund? Aku terlalu egois," ucap Hafiz di pelukan istrinya.


Plak ...


Reflek tangan Khadija memukul pundak Hafiz saat melonggarkan pelukanya, "Makanya tanya dulu, jangan asal diem gak jelas gitu?" rajuk Khadija dengan bibir mengerucut mengingat sikap suaminya.


"Kan aku udah minta Maaf? Sekarang senyum dong?" goda Hafiz sambil kedua tanganya menarik kedua sudut bibir istrinya.


Khadija pun tersenyum kembali. Perempuan itu selalu merasa lemah jika sudah melihat senyum manis sang suami tercinta.


"Gitu dong? Bunda Djanc*k deh?" (Orang jawa pasti tahu kata itu)


Pluk ...


Reflek telapak tangan Khadija mendarat mulus di bibir suaminya. Senyum yang mengembang hilang seketika, "Siapa yang ngajarin kamu ngomong kaya gitu Mas?" ketus Khadija.


"Aslan," jawab Hafiz singkat menyebut Satu nama sambil memegang bibirnya.


"Kamu tau ndak itu artinya apa?"


Hafiz menggeleng, "Kata Aslan, Dia juga sering bilang gitu kok kalau Aisyah lagi ngambek," jelasnya polos sesuai arahan Adik ipar sekaligus sahabatnya waktu di Cafe.


Khadija pun menjelaskan arti ucapan suaminya barusan.


"Sialan si Aslan. Awas aja entar!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya...🙏😊🤗


__ADS_2