
Di kantor Aslan. Pria itu terbahak di dalam ruanganya, teringat gombalan maut yang ia ajarkan kepada Hafiz, sahabatnya.
Aslan sedikit banyak mengerti akan bahasa Daerah dari istrinya. Ia sengaja mempelajarinya karena sang istri selalu menggunakan bahasa Jawa jika sedang marah.
Berbekal Search di internet Aslan mempelajarinya. Untuk kata umpatan yang ia ajarkan ke Hafiz, bukan karena Aisyah sering mengucapkanya, tetapi saat pulang ke kampung istrinya tidak sengaja Aslan mendengar kata tersebut dari salah seorang tetangga.
Aslan pun penasaran, dan tanpa ragu ia menanyakan arti kata itu kepada tetangganya tersebut.
Ting,
Bunyi ponsel Aslan, menandakan ada notif pesan yang masuk,
Carel
[Sialan lo Lan!]
[Ciee ... Ciee ... Yang habis ajeb-ajeb, semangat bener?] Aslan terkikik sambil membalas pesan dari Hafiz. Sengaja Pria itu menggoda Kakak iparnya tersebut. Ia tahu mungkin saat ini Hafiz tengah bersungut-sungut akibat ulahnya.
Carel
[Ajeb-ajeb dari Irak ... Kena tabok mah iya! Dasar sahabat sesat!]
Aslan semakin terbahak, setelah membaca pesan kedua dari Hafiz, tanganya pun sudah gatal ingin membalas pesan pria di seberang sana,
Tok ... Tok ... Tok
Ketukan pintu dari seseorang di balik pintu, membuat jari-jari Aslan seketika berhenti bergerak, "Masuk!" sahut Aslan melihat ke arah pintu yang masih tertutup.
Setelah pintu terbuka ternyata Fino lah pelakunya, "Bang, ada temen lo yang mau ketemu," Fino membawa pesan dari seseorang yang berada di luar ruangan.
"Siapa?" Aslan mengangkat Satu Alisnya.
"Katanya namanya Haikal,"
"Oke, suruh masuk," titah Aslan.
Aslan pun lupa dengan keseruanya berbalas pesan dengan Hafiz. Ponsel itu di letakkannya kembali di atas meja. Beranjak berdiri menyambut kawan lama semasa SMA.
***
Setelah mendapat izin dari sang suami, Khadija pun berniat membawa kabar baik tersebut ke semua anggota keluarganya. Perempuan cantik berhijab itu menghampiri semua orang yang tengah menikmati udara sore hari di teras rumah sambil membawa teh hangat dan cemilan sebagai pelengkap waktu bersantai.
__ADS_1
Sang Ayah mertua sedang bermain bersama anak dan cucunya sedangkan ketiga perempuan berbeda usia sedang berkebun sambil menyirami tanaman yang menghiasi halaman rumah.
Setelah Khadija menyampaikan kabar gembira tersebut kepada sang Ayah mertua, pria paruh baya itu pun menyambutnya dengan semangat Empat Lima.
Percakapan seru antara mertua dan menantu itu pun menarik perhatian ketiga wanita yang berada tidak jauh dari tempat keduanya.
"Beneran Ja, Carel udah kasih izin?" seru Alina mendengar jelas obrolan Ayah HaFiz dan Khadija.
Khadija menoleh ke arah Alina yang sudah berjalan mendekat ke arahnya, "Iya, Mbak," Khadija mengangguk cepat seraya mengumbar senyum.
"Jangan seneng dulu, semua itu ada syaratnya," sela seorang Pria dari dalam rumah berjalan keluar menuju pintu utama, "Aku izinkan kamu punya kegiatan di luar rumah asal tidak lupa memperhatikan aku dan Zahra." ucap Hafiz merangkul bahu perempuan yang sudah berdiri ketika melihat kedatanganya.
"Kamu tenang saja Mas. Itu sudah menjadi kewajibanku, jadi mana mungkin aku melupakanya," Khadija mencubit kecil hidung mancung suaminya. Khadija merasa gemas denga sikap Hafiz yang terkadang melebihi Zahra yang selalu ingin di perhatikan dan di manja.
"Ow ... Jadi, dari dulu itu alasan kamu tidak mengizinkan Khadija menerima tawaran Papa untuk membukakan usaha?" sang Ayah ber-Spekulasi terhadap sikap Posesive anaknya.
Ternyata sebegitu traumanya kamu terhadap sikapku memperlakukanmu dulu Rel? batin Alina mengingat sikapnya dulu yang selalu mengabaikan mantan suaminya itu, bahkan hampir tidak pernah memberikan perhatian ketika masih berstatus suami istri.
"Satu lagi Pa, aku dan Khadija sedang melakukan program hamil jadi Khadija tidak boleh terlalu lelah," Hafiz mengutarakan alasanya yang kedua.
"Tenang saja Rel, nanti di sana Mama, Alina dan Ina akan ikut membantu, kita nanti akan saling bekerja sama," sahut sang Ibu yang sudah ikut bergabung. "Anggap saja ini usaha iseng untuk mengisi waktu luang saja," sambung sang Ibu sambari mengambil teh yang tadi di bawakan oleh menantunya.
Obrolan santai di sore hari itu pun di tutup dengan pemberian tugas terhadap Alina dari Ayah Hafiz untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Mengingat sepak terjang Alina di dunia bisnis membuat Ayah Hafiz mempercayakan segala sesuatunya kepada mantan Direktur tersebut. Alina pernah menjabat sebagai Direktur perencanaan sewaktu memimpin perusahaan milik keluarganya dulu, sebelum perusahaan Ayahnya bangkrut.
***
Hari berganti hari. Sudah Satu Minggu berjalan, Alina masih disibukan oleh tugas yang di amanahkan kepadanya. Hampir setiap hari ia berada di luar rumah.
Dengan bantuan dari orang dalam di beberapa kedinasan yang ia kenal ketika dulu masih memimpin perusahaan ayahnya, membuat Alina lebih mudah mengurus prosedur membuka usaha serta mengurus beberapa dokumen-dokumen penting lainya.
"Akhirnya, semua beres," desah Alina melihat beberapa berkas penting yang ada ditanganya.
Setelah seharian kesana kemari mengurus beberapa surat perizinan dan jual beli tempat yang akan digunakan untuk membuka usaha kuliner keluarga Edsel, yaitu keluarga sang mantan suami yang selama ini menampungnya, Alina berhenti sejenak, memarkirkan mobil yang di fasilitasi oleh keluarga barunya tersebut di sebuah taman yang berada tidak jauh dari pusat kota.
"Kapan ya, aku memiliki keluarga yang bahagia seperti meraka?" gumam Alina.
Duduk sendiri dibangku taman, tatapan matanya lurus memandang beberapa keluarga yang tampak bahagia, anak-anak kecil yang berlarian dengan riang.
Banyak orang berkunjung ke taman kota ketika sore menjelang untuk sekedar menikmati udara segar di sore hari. Selain pengunjung yang sudah berkeluarga banyak juga para kaula muda yang datang meski hanya untuk nongkrong dan bersantai karena memang tempatnya yang hijau dan tertata rapi.
__ADS_1
"Elif ... Jangan lari-lari sayang?" pekik seorang pria mengikuti langkah kecil seorang balita.
Dugh ...
"Huuuu ... Huuu ...
Alina berlari menghampiri balita yang jatuh tersungkur tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini, "Sayang, kamu gak papa?" Alina langsung mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendonganya.
Tangan lembut Alina mengusap air mata bercampur keringat di pipi merona gadis kecil itu.
"Terima kasih, sudah menolong anak saya," ucap Ayah balita tersebut dari balik punggung Alina.
Alina berbalik menghadap pria tersebut, "Ah, iya sama-sama Tuan," balas Alina sembari tersenyum.
Alina pun memberikan tubuh kecil itu kepada pemiliknya.
"Ayo Elif, bilang apa sama Tante?" titah sang Ayah pada putrinya.
"Maacih," ucap balita bernama Elif.
"Kalau begitu saya permisi," pamit Ayah dari balita itu.
"Maaf Tuan, boleh saya mencium putri anda?" pinta Alina sebelum pria itu berlalu dari hadapanya. Dan Pria itu pun dengan senang hati mengizinkanya.
"Sampai berjumpa lagi Elif," Alina melambaikan tangan ketika Ayah dan anak itu berjalan menjauh dari hadapanya.
Alina menepuk dahinya pelan, "Oh iya, aku lupa pasti Om Bram dan Khadija sudah menunggu di lokasi," Alina teringat akan janji ketemuan yang telah ia buat untuk melihat lokasi yang akan di jadikan Outlet toko kue.
Segera perempuan itu menuju mobil yang ia parkir di tepi jalan. Injakan pedal gas membawanya pergi menuju ke tempat tujuan selanjutnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*Bersambung ...
Jangan lupa Like dan Komenya ya*...