
Dengan hati berbunga-bunga, Zahra melenggang masuk ke dalam rumah, setelah memarkirkan motornya di dalam garasi. Sudah ada Dua mobil terparkir di sana, Satu mobil miliknya yang jarang sekali di pakai, dan Satu lagi milik sang papa. Itu artinya pria paling tampan di rumah itu sudah berada di rumah.
Sesampainya di ruang keluarga, gadis itu disambut oleh papa Hafiz dan bunda Khadija. Ternyata pria yang kini berusia setengah abad tersebut baru saja datang, tampak dari dasi yang melingkar di leher masih terpasang, hanya saja terlihat sudah mengendur.
Tidak lupa, kemudian Zahra mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Lalu menanyakan dimana keberadaan adiknya yang cerewet, ketika mahluk kecil itu tidak nampak di sekitar rumah, bahkan suara berisiknya tidak terdengar dimana-mana. Pertanyaan gadis itu pun di amini oleh sang papa.
Sang bunda menjawab, putri bungsunya tersebut sedang berada di kediaman sang kakek. Sekitar Satu jam yang lalu, gadis kecil itu di jemput oleh si nenek muda, oma Ina.
"Perasaan tadi pagi kamu ndak pakai baju ini, Sayang?" Sang bunda heran melihat ada yang berbeda dengan penampilan putrinya.
Bunda Khadija memperhatikan pakaian Zahra dari atas sampai bawah, sepertinya ia baru melihat baju yang di kenakan putrinya tersebut.
"Iya Bund, ini tadi Zahra di beliin sama temen," jawab Zahra sambil senyum-senyum. Kemudian menjelaskan insident memalukan yang tadi ia alami.
"Temenya cowok apa cewek?" Papa Hafiz menimpali, melihat senyum yang tak biasa dari bibir putrinya. Seperti senyumnya dulu saat merasakan jatuh cinta pada istrinya.
Saat akan menjawab, ponsel yang ada di dalam tas, berdering. Dengan cepat Zahra membuka resleting tasnya, kemudian merogoh benda yang ada di dalamnya.
Es balok kesayangan memanggil ...
"Maaf, Pa, Bund, Zahra angkat telepon dulu," pamit Zahra meminta izin, setelah melihat siapa pemanggil dari seberang sana.
Dengan senyum semeringah, Zahra segera berlalu, berlari kecil menaiki anak tangga menuju tempat ternyaman, untuk sekedar menikmati suara datar yang akan ia dengar.
[Assalamualaikum] ucap Zahra, setelah mengangkat teleponya.
[Waalaikum salam] jawab Dion dari ujung sambungan.
[Dah, nyampek?]
[Udah, Kak] jawabnya, masih dengan senyum yang mengembang.
Pipi Zahra sudah merah merona, padahal bukan rayuan atau gombalan yang ia terima di indera pendengaranya--hanya pertanyaan biasa. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Dion, selalu membuat gadis itu bahagia, meskipun itu terkadang menjengkelkan.
[Oh, yaudah. Cepet makan. Assalamualaikum ]
[Eh, tap ...]
Tuuuttt ...
Sambungan terputus sepihak, sebelum Zahra menjawab salam.
Gadis itu mendengus kesal, selalu saja begitu! Entah itu lewat telepon ataupun berhadapan langsung, topik pembicaraan selalu singkat, jelas dan berujung menyebalkan.
.
"Kok belum berangkat ngaji?" tanya papa Hafiz, melihat putri sulungnya sedang duduk santai di depan TV, saat menjelang Magrib.
Zahra mendongak, melihat sang papa yang sudah berdiri di sampingnya "Kan, Zahra lagi ada tamu, Pa," jawabnya sambil merogoh cemilan dari dalam toples yang ada di pangkuanya.
Ternyata papa Hafiz lupa dengan penjelasan putrinya beberapa jam yang lalu--faktor 'U'. "Kebetulan, Papa tadi mampir ke mini market, stockin pembalut buat kamu dan Bunda," papa Hafiz lantas menyuruh putrinya itu mengambil barang yang di maksud--masih berada di dalam bagasi mobil.
Zahra pun beranjak berdiri, mengikuti perintah sang papa.
"Apa itu, Sayang?" tanya Bunda Khadija, datang dari arah dapur, membawa nampan berisi Dua cangkir teh, dan segelas susu--untuk dirinya, sang suami dan si sulung--menemani waktu santai sore hari.
__ADS_1
"Roti, Bund," Zahra menaruh kresek yang ia bawa, ke atas meja. Lalu duduk di tempatnya semula, tidak lupa toples berisi emping yang sempat ia letakkan di atas meja, di raihnya kembali--di dekap erat.
Papa Hafiz hanya geleng-geleng kepala, melihat kelakuan usil Zahra. Membuat wanita cantik yang sedang meletakkan suguhanya di atas meja, penasaran.
"Bunda kira roti apa?" Bunda Khadija menjeb setelah memeriksa isi kresek. Kemudian mengambil posisi duduk di samping suaminya
"Ya, kan bener Bund, itu roti kempit," jawab Zahra, nyengir kuda.
Papa Hafiz tertawa, "Bunda juga gitu, kayak baru kenal sama anaknya," ledeknya, sambil meraih cangkir teh di atas meja, menyecapnya sedikit memastikan suhu air teh tersebut--hangat ataukah masih panas.
"Oh ya, tadi pas belanja di mini market, Papa ketemu seorang pemuda lagi kebingungan, sepertinya dia pengantin baru," Papa Hafiz menceritan kejadian saat ia mampir ke sebuah mini market saat dalam perjalanan pulang. Masih lekat di ingatanya ekspresi lucu yang di tampilkan oleh pemuda yang di temuinya--lalu mempraktekanya.
Bunda Khadija dan Zahra terpingkal-pingkal melihat wajah lucu Papa Hafiz menirukan ekspresi wajah seseorang yang di maksud.
"Masa sih, kaya orang cengo gitu, Pa?" tanya Zahra, tidak percaya, dengan tawa yang masih berderai.
"iih, Papa paling bisa niruin orang," Bunda Khadija menepuk paha suaminya, gemas. Semakin tua, pria yang sampai saat ini setia menemaninya tersebut makin humoris saja. Ada saja cerita lucu yang di bawa. Entah itu dari para pasien yang di tangani, ataupun orang-orang yang tidak sengaja di temui.
"Ganteng gak Pa, orangnya?" tanya Zahra lagi.
"Nah itu, untung dia ganteng. Jadi, muka cengonya masih bisa tertolong," Papa Hafiz meletakkan kembali cangkir teh yang sudah kosong ke tempat semula.
Beberapa saat tawa sudah mereda. Namun, Zahra masih terlihat senyum-senyum sendiri. Teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Membayangkan orang yang di ceritakan sang papa adalah kekasihnya. Mungkin seperti itu juga ekspresi Dion saat membelikanya pembalut dan celana dalam, tadi.
Zahra terkikik geli.
Papa Hafiz dan bunda Khadija, saling beradu pandang, melihat putrinya cengar-cengir tidak jelas.
Topik lucu yang di bawa sang papa sudah berlalu. Lantas ada apa dengan Zahra? Mungkin seperti itu arti tatapan sepasang suami istri yang kompak mengendikan bahu.
"Aduuhh! Bunda, kenapa sih?" tanya Zahra kaget saat bantal tersebut menghempas di wajahnya.
"Dari tadi, Bunda perhatikan Kakak senyum-senyum terus?" tanya sang bunda, curiga.
"Hayo, Kakak lagi mikirin, siapa?" sahut sang papa, menggoda. Menaik turunkan kedua alisnya.
"Mau tau aja, apa mau tau banget?" balas Zahra balik menggoda kedua orang tuanya, "Kasih tau nggak ya?" Zahra berdiri, meletakkan toples yang sudah kosong di atas meja, lalu beralih mencium pipi sang papa dan bunda bergantian.
Tanpa pamit, Gadis cantik itu kemudian berbalik dengan langkah ringan hendak kembali ke kamar.
Namun, baru berapa langkah, bunda Khadija memanggil kembali anak gadisnya itu--menuntut jawaban.
"Ada deh," jawab Zahra berbalik sebentar, mengerlingkan mata.
Bunda Khadija memutar bola mata, jengah. Selalu saja, anak gadisnya itu membuatnya penasaran.
"Hhmmm ... Anak kamu tu, Pa,"
"Anak Bunda, juga lah? Tapi, ngomong-ngomong soal anak, mumpung si kecil di rumah Papa, gimana, kalo kita bikin anak lagi aja?" Papa Hafiz mengedip mata sebelah, beralih menggoda istrinya.
"Inget, umur udah kepala Lima!" cibir Bunda Khadija.
"Biar umur udah kepala Lima, tapi tenaga gak kalah sama yang muda, yuk?" Papa Hafiz menarik lengan istrinya, hendak berdiri.
"Auw ..." rintih Papa Hafiz melepas genggamanya, beralih memegang pinggangnya sendiri.
__ADS_1
"Nah loh, belum apa-apa sudah encok," Bunda Khadija terkekeh dengan kelakuan sang suami yang masih sama seperti dulu, pandai membaca situasi--tapi, tidak sadar kondisi.
***
Si Bawel Kesayangan
[Hati-hati ya Kak?]
[Jaga kesehatan]
Dion tersenyum mendapat pesan dari gadis yang beberapa hari ini terasa spesial di hatinya.
[Y]
Sambil mengulum senyum, Dion membalas pesan kekasihnya tersebut dengan sesingkat-singkatnya.
Menggoda Zahra merupakan hal paling menyenangkan untuk Dion. Dalam benaknya, ia membayangkan gadis di seberang sana pasti sedang mencak-mencak karena mendapat balasan yang tidak melegakan sama sekali.
Seusai shalat isya, Dion bersiap-siap berangkat bekerja, tidak seperti biasa pemuda itu mengenakan pakaianya dengan malas-malasan.
Hari ini Dion izin masuk telat pada seniornya. Entah kenapa hari ini, tubuhnya terasa sangat lelah. Ingin sekali rasanya malam ini ia beristirahat untuk sehari saja, merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai yang tergelar di dalam kamar kos yang tak seberapa lebar.
Pasti sangat nyaman. Dion membayangkan.
Dalam sehari, Dion hanya memiliki waktu istirahat--Dua jam--jam Empat pagi sampai jam Enam pagi--kemudian di lanjut aktifitasnya berangkat kuliah.
Tapi, jika ia izin, itu artinya uang gaji yang di terima pada awal bulan akan berkurang alias di potong. Dan Dion tidak mau itu terjadi--rizkinya melayang hanya demi rebahan.
Beberapa kali Dion menghela napas panjang, mengumpulkan energi agar tetap semangat mengais rizki.
Di rasa cukup dengan penampilanya malam ini, Dion segera meraih tas ransel yang tergantung di balik pintu lalu menyandarkanya di balik punggung sebelum tangan kekarnya meraih gagang pintu, bersiap untuk keluar.
Sambil membaca doa keluar rumah, Dion membuka pintu kamarnya perlahan.
"Elo?" Dion terkejut, "Ngapain lo ke sini?" tanyanya pada seorang wanita yang tengah berdiri di depan teras kamar kosnya.
Tanpa menjawab, wanita itu menghambur, memeluk tubuh Dion, tiba-tiba.
"Gue hamil," ucap wanita itu sambil terisak.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan votenya ya ... 🙏😊😘