
Tak sedikitpun mata coklat Hafiz berpaling dari wajah cantik Putri kecilnya. Lengkungan sudut bibirnya tak pernah ia turunkan.
Seumur hidupnya Hafiz tak pernah merasakan kebahagiaan yang teramat sangat seperti saat ini.
Begitu juga dengan Khadija yang tak henti_hentinya mengucap rasa syukurnya terhadap Sang Maha Kuasa.
Akhirnya sang buah hati tercinta bisa bertemu dengan orang yang selama ini dinantikanya.
Hal tersulit bagi Khadija ketika harus menjawab pertanyaan Zahra, kala bertanya dimana keberadaan Ayahnya.
Setelah sekian lama tidak berjumpa, kecanggungan kembali terjadi antara Hafiz dan Khadija.
Diedarkan pandanganya kesekeliling ruangan, Hafiz baru menyadari jika diruangan itu hanya ada ia dan Khadija yang berdiri di ujung brankar Zahra.
Hafiz berdiri dari duduknya, sedikit mendekat ke arah Khadija.
Baru saja tangan Hafiz ingin meraih tangan Khadija, namun dengan cepat Khadija menarik tanganya disembunyikan di balik badanya.
" Maaf Ja?" Ucap Hafiz salah tingkah, mendapat penolakan dari Khadija.
Khadija hanya mengangguk.
" Dija, maafin aku, atas kesalahanku!" Ucap Hafiz sambil menunduk malu.
" Yang lalu biarlah berlalu Mas, aku udah maafin kamu kok!" Jawab Khadija tulus.
" Jadi, kamu gak marah sama aku Ja?" Hafiz menegakan wajahnya menatap lekat ke arah Khadija, yang di tatap tampak membuang muka.
" Awalnya aku marah, karena kamu melanggar kesepakatan yang kamu buat sendiri, dan kini ndak ada lagi alasan buat aku marah, karena hadirnya Zahra membawa kebahagian dalam hidup aku."
" Makasih Ja, sekarang aku merasa lega, bertahun_tahun rasa bersalah itu terus menghantuiku, tapi kenapa kamu gak pernah memberitahuku?"
Khadija hanya tersenyum masam, kala mengingat waktu itu.
Dengan perut yang sudah membesar, karena memang usia kehamilanya sudah mendekati hari persalinan, Khadija berjalan tertatih menuju suatu tempat.
Meski ada keraguan di hatinya saat itu, namun ia harus melakukan sesuatu demi anak yang ada dikandunganya.
Langkah kaki Khadija terus maju, meski terasa berat, dengan kedua tangan yang selalu berada diatas perut buncitnya. Khadija memasuki area pekarangan rumah yang cukup luas.
Dilihatnya seseorang yang sangat dikenalnya, orang itu terkejut kala melihat Khadija.
" Mbak Dija?" Pekikakan suara Bik Onah, dengan berlari kecil menghampiri Khadija yang semakin berjalan mendekat ke arahnya.
" Ya ampun, ini beneran Mbak Dija?" Tanya Bik Onah takjub melihat perubahan yang ada pada Khadija. Khadija mengangguk dan tersenyum menanggapinya.
" Mas Dokter ada Bik?" Tanya Khadija. Matanya mengedar kearah belakang Bik Onah yang tertuju di pintu utama rumah megah mantan suaminya.
" Baru saja Tuan Muda keluar sama Istrinya Mbak." Jawab Bik Onah sambil menatap perut buncit Khadija." Mbak Dija hamil anaknya Den Carel ya?" Lanjut Bik Onah dengan senyum cerahnya.
" Iya Bik ini~..."
" Cih! Berani_baraninya kamu, setelah lama menghilang kini datang_datang mengaku hamil anak dari Putra saya!" Suara seseorang yang tiba_tiba muncul dari arah pintu utama berjalan mendekat ke arah Khadija dengan tatapan tajamnya.
" Tapi ini benar anaknya Mas Hafiz Tuan?"
" Kamu pikir saya percaya, Huh? Dasar Jal^ng, saya tahu, kamu hanya ingin menguras harta anak saya kan?!"
" Demi Alloh Pak, saya tidak ada maksud ke situ, saya hanya ingin anak ini mendapat pengakuan dari Ayahnya."
" Jangan mimpi kamu! Sampai kapanpun Saya dan Anak saya tidak akan pernah mengakui anak yang kamu kandung bagian dari keluarga saya! Sekarang kamu pergi, jangan pernah tampakan wajah kampungan kamu disini lagi!"
Bik Onah yang sedari tadi hanya diam menunduk, berdiri tidak jauh dari Khadija tampak meneteskan air matanya mendengar Khadija di caci maki oleh sang Majikan.
" Baiklah, saya akan pergi...Tapi ingat satu hal Tuan, tidak ada yang bisa memisahkan ikatan antara Ayah dan Anaknya, dan tanpa saya memberitahu, Alloh dengan caranya sendiri pasti akan mempertemukan mereka suatu saat nanti!" Pungkas Khadija sebelum pergi.
"Cih! Omong kosong, dan saya pastikan itu tidak akan pernah terjadi, karena anak saya akan memiliki anak sendiri dari wanita terpandang dan terhormat!" Ayah Hafiz tersenyum sinis menanggapi ucapan Khadija.
__ADS_1
Khadija pun pergi meninggalkan rumah besar itu dengan hati yang hancur untuk kedua kalinya.
Khadija berusaha sekuat tenaga melangkahkan kakinya untuk segera pulang.
Namun tiba_tiba Khadija dikejutkan oleh suara yang sudah lama ia tak mendengarnya.
" Tante Cantiiiikkk...."
Khadija semakin mempercepat laju jalanya, meski di dalam hatinya ia sangat merindukan pemilik suara itu. Khadija tidak ingin pertemuanya dengan Nio membuat Hafiz tau kondisinya saat ini.
Bukankah tujuan Khadija memang untuk memberi tahu Hafiz? Tapi itu sebelum ia mendapat hujatan dari sang mantan Mertua.
Beruntung ada angkot yang lewat, jadi Khadija bisa menghindar dari kejaran suara yang terus menyerukan panggilan terhadapnya.
Jadi, bukan tidak pernah Khadija berusaha untuk memberitahu Hafiz, namun penolakan yang pernah ia dapatkan membuat Khadija menyerahkan semuanya pada sang Maha Pencipta.
Dan Saat ini Alloh sudah membuktikan kebesaranya.
" Sudah Mas, ndak usah dibahas lagi, yang penting sekarang kamu sudah bertemu dengan Anak kamu." Khadija berusaha mengalihkan pembicaraan.
Jangan mengira Khadija memberitahukan semuanya pada Hafiz?
Tidak! Karena Khadija tidak ingin mengadu domba Hafiz dan Ayahnya.
Tiba_tiba Ponsel Hafiz berdering, Hafiz mengernyit melihat kontak yang tertera di layar ponselnya.
Hafiz mengusap panel hijau ponselnya lalu menempelkan benda persegi itu ketelinganya.
" Ada apa?"
"(.....)"
"Hhmmm...Tunggu sebentar!"
Tut...
Setelah memutuskan panggilanya Hafiz pamit kepada Khadija.
" Kalau Mas Dokter sibuk, ndak usah kesini~..."
" ....Sesibuk apapun itu, gak akan pernah aku mengabaikan putriku, kalau perlu aku batalin semua acara demi menemani Zahra." Ucap Hafiz mantap.
" Ya sudah, terserah kamu saja." Jawab Khadija pasrah. Khadija senang, ternyata Hafiz sangat menyayangi Zahra, Putrinya.
Sebelum pergi Hafiz mencium Zahra yang masih belum sadar dari tidurnya.
" Sayang Papa pergi dulu, Papa janji nanti Papa ke sini lagi temenin Princes."
Cup...
***
" Sekarang lo jelasin ke kita berdua, rahasia besar apa yang lo sembunyiin selama ini!" Ucap Aslan tanpa basa_basi saat Hafiz baru saja duduk di singgahsananya. Aslan menatap Hafiz dengan sorot mata penuh intimidasi, berbeda dengan Dio, meski penasaran namun lebih terkesan santai.
" Rahasia yang mana?" Tanya Hafiz santai, berlagak tak mengerti.
" Semuanya!" Jawab Aslan singkat, Dio hanya manggut_manggut.
" Sebelumnya gw minta maaf, karena gw udah rahasiain ini dari kalian berdua."
" Jadi?" Beo Dio
" Jadi sebenarnya, gw dan Khadija sudah pernah menikah dan itu tepatnya Empat tahun yang lalu, sebelum gw menikah dengan Alina." Jelas Hafiz.
Hafiz menceritakan alasan ia nenikahi Khadija dari A sampai Z, dan kesepakatan yang di buat selama masa pernikahan berjalan.
" Berarti, waktu lo nyuruh gw jalan sama Dija waktu itu, status dia udah jadi istri lo?" Tanya Aslan setelah mendengar semua penjelasan dari Hafiz.
__ADS_1
" Iya." Jawab Hafiz, menganggukan kepalanya.
" Wah...Parah lo Rel, Istri sendiri lo empanin ke sohib lo sendiri!" Timpal Dio.
Wajah Aslan sudah memerah, menahan emosinya.
" Gw gak nyangka, otak lo bisa sepicik itu! lo permainin perasaan Khadija, sekarang gw ngerti alasan Khadija nolak gw waktu itu!" Aslan memberikan tatapan membunuh ke arah Hafiz.
" Iya maaf, tapi waktu itu diantara kita memang gak ada rasa sama sekali!" Hafiz mencoba membela diri.
" Dan parahnya lagi, lo tega mesra_mesraan dengan Alina di depan mata Istri lo sendiri, meskipun waktu itu lo gak ada rasa sama Khadija, paling gak lo hargain status dia sebagai Istri lo!" Cibir Dio semakin menyudutkan Hafiz. Tampak raut penyesalan dari wajah Hafiz.
Hati Aslan semakin memanas. Aslan pun berdiri dari duduknya, mendekat ke arah Hafiz, ditariknya ke atas krah kemeja Hafiz. Aslan tampak mengeratkan rahangnya, ia tak mampu lagi menahan amarahnya.
Bugh...
Satu bogem mentah di luncurkan ke pipi sebelah kiri Hafiz, hingga membuatnya tersungkur.
Aslan masih ingat, betapa Khadija begitu menjaga jarak denganya dan sangat menjaga kehormatanya, yang ternyata pada saat itu sudah berstatus sebagai Istri dari sahabatnya sendiri.
Dio pun berdiri, berusaha melerai kekacauan yang terjadi.
" Sudah Lan, kendaliin Emosi lo!" Dio memegangi tubuh Aslan yang terus memberontak.
" Lepasin gw Yo, orang kaya dia harus di kasih pelajaran, kalau perlu gw bunuh sekalian!" Ucap Aslan berapi_api.
" Biarin Yo, gw pantes terima ini semua!" Ucap Hafiz pasrah sambil mencoba berdiri. Tinjuan dari Aslan membuat sudut bibirnya berdarah.
" Kalo lo bunuh Carel, kasihan Zahra jadi yatim, enak di carel dong lepas tanggung jawab!" Ucapan Dio berhasil meredam amarah Aslan.
Di dudukan kembali tubuh Aslan ke posisinya semula, begitu juga dengan Hafiz yang kembali duduk di kursi kebesaranya.
Untuk beberapa saat, keheningan terjadi...
" Tunggu Rel, tadi lo bilang kalo selama lo menikah dengan Khadija, lo gak pernah nyentuh dia kan? Terus si Zahra benih siapa?" Dio kembali bersuara menjawab rasa penasaranya atas kesepakatan yang di buat Hafiz dan Khadija. Setelah suasana sudah mulai tenang kembali.
" Zahra memang anak gw, tapat sebelum Khadija pergi gw ngelakuin kesalahan itu." Jawab Hafiz dengan wajah sesalnya.
" Dan gara_gara lo, Khadija ngehindar dari perjodohanya dengan gw!" Timpal Aslan, yang berspekulasi tentang ketidak hadiran Khadija dalam acara perjodohanya waktu itu.
Hafiz dan Dio terkejut dengan penuturan Aslan.
" Maksud lo?" Sahut Dio.
" Sebenarnya orang yang di jodohin ke gw itu Khadija." Jawab Aslan kesal.
" Tapi, Istri lo juga gak kalah cantik dari Khadija, lebih muda lagi?" Puji Hafiz.
" Gimana gak sama cantiknya coba, orang Istri gw adeknya Khadija, dia yang ngegantiin posisi Khadija, karena waktu itu khadija gak datang. Usia gw sama Aisyah memang terpaut jauh, Tiga belas tahun." Jelas Aslan.
" Gila nih Aki_aki sekalinya nikah dapetnya daun muda, gak sia_sia lo Bro telat nikah!" Canda Dio sambil menepuk_nepuk pundak Aslan.
Hafiz ikut tersenyum dengan candaan Dio ke Aslan.
Akhirnya semuanya terungkap, ada kelegaan dari diri Hafiz.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like dan Komenya...🙏🙏🙏