Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK - S2 Berusaha mengelak


__ADS_3

"Kayaknya lo seneng banget tadi di samperin Varo," suara berat bernada datar itu terbawa hembusan angin menembus ke telingaku. Terdengar sayup, tapi cukup jelas tiap kata yang di ucapkan. Memecah kebisuan beberapa menit yang lalu ketika memutuskan pulang.


Sedikit terkejut, ternyata kak Dion tau. Emang tadi dia ada dimana? Apa diam-diam dia mengawasiku dari jauh tanpa sepengetahuanku?


Senang. Mulai ada perhatian, sedikit.


"Kalo iya kenapa?" sahutku bertanya dengan senyum terkulum. Ku lihat dari kaca spion, wajah kak Dion tampak masam. Tatapan matanya tetap fokus ke arah jalanan.


"Gak pa pa," jawabnya singkat.


Hening.


Tak ada pembicaraan lagi setelahnya. Hanya siulan angin dan dengung mesin kendaraan yang berlalu-lalang yang terdengar. Senyumku mengembang sambil tengok kanan, tengok kiri, takut ada yang memperhatikan tingkahku ini. Bisa di sangka gila, senyum-senyum sendiri.


"Napa lo senyum-senyum?"


Nah loh ...


Sedikit ku condongkan wajahku, satu jengkal dari bahu pemuda di depanku. Ternyata kaca spion itu sudah berubah posisi mengarah ke arahku, tanpa kusadari.


Pantas saja kak Dion bisa melihat ekspresiku tadi. Jadi malu, ketahuan sedang mesam-mesem sendiri.


Ku hanya menjulurkan lidah menjawab pertanyaan kak Dion. Dengan ekor matanya, kak Dion melirik ke arah kaca berbentuk bundar tersebut melihat ekspresi jelek-ku.


Dari pantulan kaca itu pula, ku lihat kak Dion menanggapi dengan raut tak terbaca.


Cemburu, mungkin?


Ah, apa iya dia cemburu? Atau hanya perasaanku saja, yang akhir-akhir ini sering sekali terbawa suasana? Hadeeuuh ...


Memang susah menebak sosok seorang Dion. Bukan hanya mendapatkan cintanya saja butuh perjuangan, tetapi menerka apa yang ada di dalam hati dari sorot wajahnya pun benar-benar menguras pikiran.


Sudahlah, biar waktu yang menjawab.


Seperti biasa, kak Dion memberhentikan motorku tepat di depan halte tempatnya setiap pagi menunggu. Selalu saja menolak niat baikku, ketika ku menawarkan untuk mengantarnya langsung sampai ke kosan


"Udah sono langsung pulang," ujarnya ketika sudah turun dari motor sambil melepas helm lalu menyerahkanya padaku.


Alih-alih berucap terima kasih atau sekedar basa-basi bilang hati-hati, nyatanya dia langsung pergi.


Menyebalkan sekali!


Biip ... Biip ...


Saat tubuh jangkung kak Dion sudah menghilang dari pandangan, tiba-tiba mobil sedan hitam datang mengagetkan dengan membunyikan klarkson, lalu menepi tepat dibelakang-ku.


"Zahra, kamu ngapain berhenti disini?" tanya seorang pria yang baru turun dari mobilnya.


"Sayang, sorry ... udah lama ya, nunggu?"


Aku yang sedang menoleh kebelakang setelah mendapat seruan dari seseorang yang ternyata itu adalah mantaku, Alvaro. Tiba-tiba dikejutkan lagi suara kak Dion yang kembali terdengar dengan nada di buat sok mesra.


Sandiwara mode on.


Tapi, muncul dari mana dia? Bukanya tadi sudah pulang.


Sudah seperti Jin Tomang ini orang, cepat menghilang, secepat kilat kembali datang.


Ku alihkan pandanganku dari sosok Alvaro, kuputar lagi kepala ini, menoleh ke arah kak Dion, yang lebih dulu akan ku jawab pertanyaanya.


"E--enggak kok, baru aja dateng," jawabku tergagap mengikuti sandiwara kak Dion, tapi ku buat senatural mungkin, mirip pemain sinetron yang baru ikut casting. Agar Alvaro yang sedang mendengar percakapan kami tidak curiga.


"Ya udah, kita jalan sekarang," ucap kak Dion, yang tidak ku mengerti sama sekali. Dan kak Dion kembali ke atas motor sambil menggunakan helm yang baru ia lepas beberapa menit yang lalu. Setelah sebelumnya aku bergeser ke belakang memberinya ruang.


Jalan kemana?


Ku arahkan kembali pandanganku, melihat Alvaro yang sedang berdiri di samping mobil mewahnya. Sepertinya Alvaro tidak jadi menghampiriku karena kehadiran kak Dion, yang aku sendiri tidak tahu, dia muncul lagi dari arah sebelah mana.


"Var, aku duluan ya?" pamitku sambil melambaikan tangan saat motor kembali melaju di bawah kendali kak Dion.


Varo mengangguk dan mengangkat tangan, melambaikanya pelan.


Kak Dion hanya menampilkan sikap tak acuh di depan Alvaro. Entah apa maksud dari sikapnya itu.


Sepanjang perjalanan, pikiranku berkecamuk, hatiku pun mulai bertanya-tanya. Kak Dion sama sekali tak bersuara sejak ia membawaku menyusuri jalanan Ibukota.


Mau dibawa kemana aku?

__ADS_1


Kenapa tadi dia balik lagi?


.


"Loh, kok kita kesini?" tanyaku sambil melepas helm. Cukup pusing ternyata kalau berlama-lama memakai benda bulat ini.


Tanpa menjawab, setelah melepas helm-nya sendiri, kak Dion pergi begitu saja meninggalkanku yang masih terbengong duduk di atas motor, dengan helm yang masih ku apit di pinggang. Di parkiran.


Kesal, geram! Ingin sekali ku lempar benda keras ini mengenai kepalanya.


Tapi, jangan! Rasa cintaku, tidak mengijinkan berbuat sesuatu yang bisa menyakitinya.


Jiiaaahhh ... Ternyata, aku sudah se-bucin ini di buatnya.


Ku tancapkan helm pada spion sebelah kiri, lalu ku kejar kak Dion yang sudah duduk sambil melepas sepatunya.


"Ngapain kita kesini kak?" tanyaku lagi, masih bingung sambil mengambil posisi duduk disebelah kak Dion.


"Biasanya kalo lo ke Masjid, ngapain?"


Ya Sholat lah? Kenapa harus balik bertanya? Yang menjadi pertanyaaku kenapa kak Dion tiba-tiba mengajakku ke Masjid di jam ...


... Astagfirullohal'adzim, aku baru ingat setelah kak Dion menunjukkan jajaran angka yang tertera di layar ponselnya.


15.35 WIB.


"Hehehe," Cuma bisa nyengir.


Pletak,


"Adduuuhh ..." Ku usap keningku yang terasa panas


"Cepetan masuk sana, gak usah kebanyakan nyengir, ntar gigi lo kering," tukasnya setelah menghadiahiku sentilan yang menyakitkan.


"Tapi, gak usah KDRT juga kali," balasku sewot, ikut melepas sepatu.


Lagi, aku pun tak dihiraukanya. Kak Dion sudah berlalu menuju tempat yang bertuliskan 'Tempat wudhu khusus pria'.


Biarpun kening ini masih terasa panas, tapi tak sebanding dengan rasa bahagia yang tengah ku rasakan.


Tidak seperti kebanyakan pasangan yang membawa kekasihnya ke tempat-tempat romantis, nonton film, Dinner di resto mewah, seperti yang pernah di lakukan Alvaro dulu kepadaku. Tetapi, kali ini suatu hal yang sederhana, justru membuatku jauh berkesan luar biasa.


Selain Papa, untuk pertama kalinya aku di ajak seorang pria datang ke Masjid. Karena sebelumnya tidak pernah. Terlebih Alvaro, jangankan mengajakku datang ke Masjid, untuk shalat saja lebih sering aku yang mengingatkan.


Benar-benar nilai plus.


Menantu idaman mertua. Sepertinya sesuai dengan kriteria kedua orang tua-ku. Bunda pernah bilang, 'Carilah pria yang mampu menjaga Shalatnya, maka dirimu pun akan selalu di jaganya'.


Setelah meletakkan sepatu-ku dan sepatu kak Dion ketempat penitipan yang sudah di sediakan untuk para jemaah masjid yang hendak beribadah, aku pun segera bergegas mengambil wudhu di tempat khusus wanita.


Ku lihat juga tadi kak Dion sudah masuk kedalam. bersiap menggugurkan kewajiban.


.


Setelah selasai, aku pun keluar dan berbelok arah menuju tempat penitipan, mengambil sepatu yang tadi ku simpan.


Pandanganku mengedar mencari keberadaan kak Dion.


Sepi. Karena memang shalat ashar berjamaah sudah berakhir sebelum aku datang. Hanya ada seorang Bapak tua yang sedang duduk bersandar sambil berdzikir, memegang untaian tasbih ditangan.


Ku putuskan menunggu sambil mengenakan sepatu.


Cukup lama. Jadi penasaran, doa apa yang di panjatkan, hingga membuat pemuda itu betah berlama-lama berada di dalam.


Atau aku yang shalatnya kecepetan? Tidak juga. Waktu Sepuluh menit untuk shalat Empat rakaat, bukankah waktu yang pas. Tidak terlalu lama, dan juga tidak terlalu singkat.


"Sorry, gue lama,"


Panjang umur.


"Iya gak pa-pa," jawabku seraya tersenyum ke arah kak Dion. Namun, senyum ini lagi-lagi di abaikan begitu saja, Jangankan mendapat balasan, menoleh saja tidak.


Kruuuuukk,


Waduh, kenapa ini cacing di perutku tidak bisa di ajak kompromi sama sekali. Mana dia bunyi di depan kak Dion lagi.


Kan aku jadi malu.

__ADS_1


"Lo laper?" tanyanya, menoleh ke arahku.


Harus ya, bikin malu dulu, baru dia melihatku?


Ingin menjawab 'Tidak' tapi bukti baru saja berbunyi, kalau pun mengatakan 'Iya' tapi aku gengsi.


Akhirnya, aku pun mengangguk pelan sambil nyengir sebagai jawaban.


Masa bodoh, dia mau berfikir apa, tapi yang ada sekarang perutku benar-benar terasa lapar.


.


"Gak pa-pa kan lo makan disini?" tanya kak Dion saat berhenti di depan sebuah warung lesehan yang berada di pinggir jalan. Tadi sempat ku baca ada tulisan "Warles lalapan Cak Darmo".


Memang belum pernah, tapi apa salahnya di coba.


"Gak pa-pa kak,"


Setelah memakirkan motor, kami berdua pun turun, lalu mencari tempat untuk duduk.


Setelah mengambil posisi duduk di meja paling ujung, agar tidak terlalu dekat dengan jalan raya, tidak lama sang pelayan pun datang menanyakan pesanan.


Berbeda dengan restauran yang pernah ku datangi, menu makanananya tersusun rapi di dalam buku menu, tapi disini cukup unik menurutku, menunya terpampang pada spanduk berwarna hijau muda yang terpasang di depan tenda.


Untuk pesanan, aku menyerahkan pada kak Dion, cukup menurut apa yang pria itu pesan, aku pun ikutan. Aku yakin, makanan pilihan kak Dion pasti enak.


Jujur, rasa penasaranku terhadap kembalinya kak Dion begitu tiba-tiba beberapa jam yang lalu saat kehadiran Alvaro, cukup mengganggu pikiranku.


Berusaha menerka, tapi ... atau jangan-jangan ... Ah, sudahlah, mending langsung ku tanyakan saja, "Kok tadi kak Dion balik ..."


"Gak usah ge-er," Seperti tau apa yang ada di fikaranku, kak Dion langsung saja mematahkanya. "Gue tadi balik, soalnya air dikosan gue mati. Kebetulan gue lihat lo masih ada disitu tadi, ya udah gue ajak aja lo sekalian shalat di Masjid," jelasnya panjang lebar tanpa menatap ke arahku.


Pandanganya fokus pada layar persegi yang ada di tanganya. Mungkin ada sesuatu yang menarik disana ketimbang melihat wajahku, entahlah.


"Gue harap, lo jaga jarak dengan Varo," Kali ini kak Dion menatapku serius, memperingatkan. Ponsel yang semula di pegang, kini sudah ia letakkan.


Sepertinya ada aroma-aroma cemburu mulai tercium.


"Nggak usah berfikir gue cemburu!"


Eh,


sudah seperti paranormal saja, bisa menebak pikiran orang.


Baru saja hati ini bersorak senang, ada kemajuan dari sikap kak Dion terhadapku, Tapi kak Dion kembali mematahkan persepsi itu.


"Gue harap lo cukup peka dengan sikap Varo. Jangan sampai lo di cap sebagai orang ketiga nantinya."


Sumpah, aku tidak mengerti sama sekali maksud ucapan kak Dion kali ini. Memang ada apa dengan sikap Varo? Terus, yang cukup membuatku bingung, 'Orang ketiga' maksudnya?


"Gue lihat, Varo masih belum bisa lupain lo," tegasnya lagi.


Melihat senyum dan tatapan Varo di kantin tadi, sepertinya ada benarnya juga yang di katakan kak Dion.


Tapi yang jelas sekarang aku sudah tidak peduli lagi dengan segala hal tentang Alvaro, karena rasa yang dulu ada, kini sudah hilang tak bersisa. Tidak mungkin aku akan tergoda, karena di hati ini sudah ada penggatinya.


Justru sepertinya aku harus berterima kasih pada mantanku itu, karenanya, aku bisa melihat ada kecemburuan dari sorot mata pria yang ada di hadapanku saat ini, meski kak Dion berusaha mengelak.


Secara tidak langsung, mendengar dari semua alasan-alasan yang di utarakan kak Dion, justru semakin membuatku yakin ada ketidak relaan darinya, jika aku sampai dekat lagi dengan mantan ku itu.


Kalaupun dia tidak memiliki rasa terhadapku, atau masih menganggap hubungan ini hanya sebatas status, harusnya dia tidak peduli dengan hal-hal semacam itu.


Bukankah yang dia perlukan hanyalah sebuah status, untuk menghindari olokan dari kedua sahabatnya?


.


.


.


.


.


Bersambung ....


Yang kemarin, belum puas dengan visual Dion

__ADS_1



Jangan lupa like, komen dan votenya ya ....🙏😊😘


__ADS_2