
Pagi hari ...
"Tuan Hafiz, Mbak Dija, saya pamit dulu." ucap Ina bersama tas jinjing besar yang bergelayut di lenganya.
"Ya sudah hati-hati. Di bawah saya sudah siapkan travel yang akan mengantar kamu sampai kampung." ujar Hafiz.
"Nanti kalau sudah sampai, jangan lupa kabarin yo? Salam juga buat Ibu kamu dan Dipta." imbuh Khadija.
Ina mengangguk bahagia dengan kebaikan kedua majikanya tersebut, "Terima kasih Tuan, Mbak Dija. Saya janji tidak akan lama." paparnya.
"Princes, Mbak Ina pulang dulu ya?" pamit ini pada Zahra sambil berlutut, mensejajarkan tinggi badanya pada gadis kecil yang berdiri didepan kedua orang tuanya.
"Hati-hati Mbak Ina." Zahra melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
Setelah kepergian Ina, tidak lama kemudian Ibu Hafiz datang mengantar Sari, setelah semalam Hafiz menelepon sang Ibu untuk meminjam Sari sementara waktu sampai batas waktu yang tidak di tentukan.
Hafiz pun sudah memberitahu pada sang Ibu jika Istrinya tengah mengandung anak kedua buah cinta mereka.
"Selamat ya sayang, semoga kalian berdua selalu diberi kesehatan." kata sang Ibu mertua sambil memeluk menantunya.
"Makasih Ma." ucap Khadija.
"Selamat ya Den, Mbak Dija. Udah mau Dua aja." celetuk Sari pada sang majikan.
"Terus kamu kapan?" sindir Hafiz pada Sari. Mereka berdua sudah seperti teman semenjak Hafiz sering menjadikan Sari sebagai tempat curhat selain kedua sahabatnya.
"Gak tau lah Den, gagal mulu!" jawab Sari mengendikan bahunya acuh. Hatinya sedih mana kala teringat hubunganya dengan seorang Pria selalu kandas dan sungguh naas dialah yang selalu di tinggalkan oleh para mantan pacarnya.
"Sabar yo Sar, mungkin sebentar lagi jodoh kamu akan datang." sahut Khadija menenangkan sembari merangkul pundak Perempuan sebayanya itu.
"Jangan-jangan jodoh kamu udah mati kali Sar," ledek Hafiz sambil berlalu ketika mendapat pelototan dari Khadija.
Sari tidak menghiraukan ucapan Majikanya itu, ia tahu jika Hafiz hanya bergurau.
Lalu Khadija mempersilahkan Sari untuk membawa barang-barang nya ke dalam kamar yang sudah di persiapkan sebelumnya.
Zahra di bawa sang nenek masuk kedalam kamar. Di ajaknya sang cucu bermain sekaligus untuk melepas rindu, setelah beberapa hari tidak bertemu karena kesibukanya mengurus sang suami yang baru sembuh pasca operasi.
Kemudian Khadija kembali ke kamar menyusul sang suami yang terlebih dahulu masuk.
"Mas, jangan masuk kerja dulu ya?" pinta Khadija, tiba-tiba memeluk sang suami dari belakang.
"Eh," Hafiz yang tengah memasang dasi merasa terkejut ada tangan melingkar di perutnya.
Untuk pertama kali Khadija bersikap manja terhadap sang suami. Jika Hafiz seorang artis mungkin ia akan mengumumkan kepada media tentang moment langka yang terjadi saat ini. Terdengar lebay, namun itulah yang di rasakan Hafiz mengingat Istrinya adalah orang yang jarang sekali menampakan perasaanya. Antara malu atau gengsi, Entahlah.
Hafiz melepas lingkaran tangan Perempuan yang tengah menyandarkan wajah di punggungnya, "Kok tumben jadi manja begini?" tanya Hafiz saat sudah berbalik menghadap sang Istri.
"Si dedek minta di temenin Papanya." jawab Khadija jujur. Entah kenapa saat ini ia tidak ingin di tinggal oleh sang suami barang sebentar.
Jawaban Khadija membuat senyum Hafiz semakin lebar, "Si dedek atau Bundanya yang mau di temenin?" goda Hafiz membuat pipi Perempuan yang berdiri menghadapnya itu bersemu merah.
"Apaan sih Mas." Khadija tersipu malu.
"Iya, iya, mau itu si dedek atau bundanya bakal Papa turutin." pungkas Hafiz sebelum mood Bumil berubah. Pria itu pun memeluk Istrinya dengan erat seakan menyalurkan keinginan Perempuan yang tengah hamil muda tersebut.
Hafiz tentu mengerti dengan perubahan siklus hormonal yang di alami oleh setiap Ibu hamil yang mudah sekali sensitif dan memiliki tingkat emosional yang sering kali berubah-ubah seperti halnya saat Perempuan dalam masa Menstruasi.
Menurut Hafiz, beruntung sekali di masa kehamilanya saat ini sang Istri bersikap manja terhadapnya. Meskipun semalam Perempuan itu sempat membuatnya kesal dalam diam.
Makin betah di rumah jika kesayangan selalu bersikap seperti ini.
Hafiz senyum-senyum sendiri sambil menciumi pucuk kepala sang Istri yang sudah melepas hijabnya saat berada di dalam kamar.
__ADS_1
***
"Papi, jangan deket-deket Mami!" teriak Clara saat suaminya baru keluar dari kamar mandi lalu berjalan mendekat ke arah Perempuan yang sedang duduk di meja rias.
"Kenapa Mi?" tanya Dio menghentikan langkahnya.
"Papi Bau! Mami gak suka!" cibir Clara sambil memencet hidungnya.
"Hah," Dio terkejut sambil mengendus-endus tubuhnya yang masih lembab, "Papi udah mandi kok." ucapnya kemudian, setelah memeriksa bau tubuhnya yang masih beraroma wangi khas Bunga melati, sabun pilihan sang Istri.
"Pokoknya Papi jangan deket-deket Mami dulu, Mami mual." Perempuan itu pun melangkah keluar dari kamar, sambil terus menutup hidung.
Dio hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi tingkah Ibu hamil yang tidak lain Istrinya sendiri. Kandungan Clara saat ini sudah menginjak usia Sembilan minggu, aroma-aroma ngidam sudah mulai tampak.
Semalam sang Istri memintanya untuk tidak mandi selepas pulang bekerja, dengan alasan bau keringatnya sangat harum dan alhasil Dio tidur dalam kondisi bertelanjang dada atas permintaan Clara yang selalu menempel diketiaknya.
Dio merasa di kehamilan kedua Istrinya saat ini, sikapnya sungguh aneh berbeda saat hamil anak pertama yang terkesan normal-normal saja. Justru kebalikanya dulu sang Istri tidak ingin jauh darinya.
"Mami kenapa?" tanya Nio, melihat sang Mami tumben memakai masker di dalam rumah.
"Papi kamu bau." sahut Clara, sambil membuatkan sarapan untuk putranya.
Nio penasaran dengan pernyataan sang Mami. Ia pun turun dari kursi beralih mendekat ke arah sang Papi yang tak lagi menghiraukan ucapan Perempuan yang masih sibuk mengoles selai dan mentega membuatkan sarapan untuknya dan Puteranya.
"Papi gak bau kok Mi," Nio menoleh pada sang Mami setelah mengendus bau tubuh Papinya.
"Gak papa kok sayang, Mami kamu cuma lagi ngidam." Dio berusaha memberikan penjelasan pada Puteranya.
"Memang ngidam apaan sih Pi?" tanya Nio penasaran. Di usianya yang baru menginjak Sembilan tahun Nio sudah mulai kritis dan selalu mencari tahu apapun yang belum ia ketahui.
Dio menggaruk kepalanya yang mendadak gatal, bingung menjelaskan apa itu arti ngidam, "Nanti Nio tanya sama Om Carel, dia ahlinya." jawaban pamungkas dari Dio agar Puteranya itu tidak mendesaknya.
"Ayo sarapan dulu, nanti telat sekolahnya." potong Clara sambil meletakan irisan roti yang sudah berisikan toping di dalamnya ke atas piring Nio.
"Buat Papi mana Mi?" tanya Dio melihat Istrinya yang hendak berlalu menghentikan aktifitasnya.
Dio kembali terbengong, tidak menyangka ternyata sampai segitunya tingkah ngidam Istrinya kali ini. Membuat Pria itu mendesah frustasi, sarapan yang dinanti hanyalah harapan palsu semata.
Ingin marah takut dosa, mau nangis pun malu dengan Nio, Putera semata wayangnya.
***
Seorang Pria di dalam taxi tampak gelisah, entah apa yang ada di pikiranya saat ini. Hatinya meracau ingin sekali mengumpat saat terjadi kemacetan di pagi hari. Keinginanya untuk cepat sampai di rumah, hanyalah harapan sia-sia.
"Kapan rencana suami kamu pulang Syah?" tanya Fino saat sedang menemani Aisyah berjalan-jalan pagi di sekitar komplek rumah.
Kini Aisyah dan Fino sudah terlihat akrab semenjak mendengar penjelasan dan itikad baik dari Pria itu.
Dan kedua orang tua Aslan sudah mengetahui, mereka pun menyambut bahagia dengan niat baik Fino yang ingin memperbaiki hubungan yang sempat terputus bertahun-tahun antar keduanya.
"Kata Mas Aslan rencananya dalam waktu dekat ini. Kontrak kerjanya udah selesai," tampak senyum bahagia dari wajah Aisyah terbayang akan sosok Pria yang begitu di rindukanya. "Tapi, dari kemarin Mas Aslan susah sekali di hubungi, Fin," sambung Aisyah, raut bahagia yang semula ia tampilkan mendadak berubah masam.
Aslan mempercepat kepulanganya karena memang pekerjaanya sudah selesai dari batas waktu yang ditentukan. Tiga bulan waktu yang di jadwalkan namun, dalam waktu Satu bulan tugasnya sudah selesai.
"Mungkin dia lagi sibuk Syah," Fino mencoba menenangkan Perempuan yang berjalan beriringan denganya. "Kenapa? Kamu kangen ya?" goda Fino sambil nyengir menampilkan deretan gigi putihnya.
Aisyah mengangguk masih dengan wajah yang di tekuk. Hatinya cemas jika sehari tak mendengar suara suaminya, meskipun ada Fino yang selalu berusaha menghiburnya.
Bagi Aisyah suara Aslan merupakan obat penawar rindu yang paling mujarab. Beruntung semasa kehamilanya yang barada jauh dari sang suami, ia tidak pernah ngidam yang aneh-aneh. Hanya dengan melihat wajah Aslan di balik layar Handphone sudah cukup membuat hatinya lega.
"Auuuwww..." rintih Aisyah tiba-tiba sambil memegang perut bagian bawah.
"Kamu kenapa Syah?" tanya Fino panik melihat Aisyah meringis kesakitan.
__ADS_1
Aisyah menggeleng, ia pun tidak mengerti kenapa tiba-tiba perutnya menjadi sakit.
Fino berusaha membantu Aisyah, di papahnya tubuh Aisyah menuju bangku taman yang berada di lingkungan komplek.
Sepasang mata melihat pemandangan yang begitu mengganggu penglihatanya.
"Stop di sini pak!" Seseorang memberhentikan kendaraan yang sedang ia tumpangi.
Bugk ...
Satu tinjuan keras melayang di pipi kemerahan Fino.
"Mas Aslan?" pekik Aisyah melihat suaminya yang tiba-tiba datang membawa amarah.
"Berani-beraninya lo pegang-pegang Istri gw!" tunjuk Aslan pada Fino yang sudah jatuh tersungkur.
"Mas, Mas, sudah," Aisyah memegang lengan Aslan yang sudah bersiap melanjutkan baku hantam saat Fino hendak bangkit.
"Lepasin! Akan Mas kasih pelajaran si Brengs*k ini!" Emosi Aslan yang semakin berapi-api.
"Auuuwww..." perut Aisyah semakin terasa sakit, genggamanya pun terlepas dari lengan suaminya.
"Sayang kamu kenapa?" tatapan Aslan beralih pada Aisyah yg tengah menahan rasa nyeri di perutnya.
"Mending kita bawa Aisyah ke Rumah sakit Bang," Fino yang sudah berdiri kembali menghampiri sepasang suami istri itu.
"Cepat ambil mobil!" sentak Aslan pada Fino. Amarahnya pun berubah menjadi kepanikan, membuat emosinya teralihkan.
***
"Gimana Rel, kondisi Istri gw?" tanya Aslan panik setelah Hafiz memeriksa kondisi Aisyah.
"Istri lo cuma mengalami kram, hal biasa terjadi pada Ibu hamil." jawab Hafiz santai. "Ngomong-ngomong Kapan lo dateng?" tanya Hafiz meninju pelan lengan sahabatnya.
Lagi-lagi waktu yang ia sempatkan untuk bermanja-manja bersama Istrinya di rumah harus terganggu dengan panggilan mendadak dari Aslan.
dr. Vera ada, namun karena permintaan dari Aisyah yang memaksa untuk di periksa oleh sang Kakak ipar, dengan alasan ngidam akhirnya terpaksa Aslan mengiyakan permintaan aneh Istrinya. Kemudian Pria itu menelpon Hafiz yang sedang tidak berada ditempat untuk datang ke Rumah Sakit.
Hafiz pun mengajak Istrinya untuk ikut denganya. Karena Khadija merasa cemas akan keadaan adiknya setelah mendapat kabar dari seseorang yang menghubungi suaminya.
"Barusan gw dateng, terus langsung bawa Aisyah kesini." jawab Aslan.
"Ya udah, biarin Istri lo istirahat dulu disini, biar di temenin sama istri gw." ujar Hafiz yang langsung di setujui oleh Aslan.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Buat yang kemarin minta visualnya Aslan dan Aisyah
__ADS_1
Sorry Up_nya lama... Karena si Emak harus ngalah ketika si bocil minta Hp buat maen game, walhasil acara ngetik jadi terlantar...😁😅
Yuklah kasih semangat buat emak Author, kasih Like dan Komenya, ngemis juga buat Vote_nya...🙏😊😘*