
"Cepetan mau ngomong apaan? Gue gak punya waktu banyak!"
"Sebenernya, udah lama aku pendam rasa ini ..."
"... To the point, gak usah berbelit-belit!"
"Aku suka, aku sayang, aku cinta sama kak Dion,"
"Shit! Buang-buang waktu gue tau nggak!"
"Tapi, aku tulus sayang sama kakak,"
"Asal lo tau, gue udah punya pacar!"
"Aku nggak percaya, selama ini aku lihat gak ada cewek yang deket sama kakak. Jangan bohong kak?" Ngeyel.
"Kak Dion gak bohong kok, gue pacarnya kak Dion,"
"ZAHRA?!" Kaget? Ya wajarlah, orang aku tiba-tiba nongol kayak anak tuyul.
"Ayo sayang kita pergi dari sini," Ku gandeng lengan kak Dion yang masih melongo menatap ke arahku dengan pikiran entah.
"Oh ya satu lagi, jangan pernah lo deketin cowok gue lagi!" Sebelum berlalu pergi, aku nunjuk wajah pias cewek yang tadi nembak kak Dion.
Hahaha ... Cowok gue? Ternyata nyaliku cukup basar, mengakui si es balok sebagai pacar. Kasihan juga sih sebenarnya melihat wajah pucat pasi cewek itu karena kecewa.
Ada rasa ngeri juga saat melihat wajah garang kak Dion menolak cinta cewek itu tadi, sudah seperti Singa ingin menguliti mangsanya. Tapi ku acungi jempol buat gadis itu, karena sudah berani melakukan hal paling Ekstrem, menurutku.
Mungkin jika aku yang berada di posisinya, akan ku pikir Seribu kali sebelum melakukan tindakan konyol itu.
Tapi, begitulah cinta, siapapun rela berkorban. Jangankan harga diri, nyawa pun rela di pertaruhkan untuk mendapatkanya.
Menyatakan cinta kepada seorang DION PRATAMA yang memiliki sikap dingin bak kutub utara, benar-benar harus memiliki persiapan jasmani dan rohani yang kuat. Lebay.
Ya, memang terdengar berlebihan, tapi itu kenyataan, setelah Dua tahun melakukan pengamatan untuk menjawab rasa penasaran ketika dulu kak Nio menceritakan satu persatu karakter dari kedua sahabatnya.
"Kalo Dion mah jangan ditanya punya cewek, di sapa cewek aja, langsung tatapan tajam melayang," Itu jawaban yang di lontarkan kak Nio saat pertama kali aku penasaran siapa pemilik hati dari pria keren bernama Dion.
Entah apa alasan di balik sikap dingin dari pemuda yang juga memiliki sifat tertutup tersebut.
Sempat aku berfikir, dimana kak Nio bertemu mahluk aneh seperti kak Dion? Huh, untung keren!
Sebelum terjadi sesuatu yang tak di inginkan, dan demi kebaikan bersama, aku yang mengintip adegan penembakan dari balik pohon akasia, segera ku hampiri mereka berdua.
Jangan di tanya gimana deg-deganya aku pas waktu memutuskan hal itu. Ngeri.
Entah mendapat bisikan setan dari mana, hingga aku berani melakukan hal senekat Itu. Bahkan resikonya pun, aku tidak sanggup untuk membayangkanya.
Mungkin karena naluri sesama perempuan, itu ku lakukan untuk menyelamatkan gadis tersebut dari mulut cabe kak Dion sebelum pemuda itu mengeluarkan kata-kata pedas andalanya. Dan bagi siapapun yang belum terbiasa, itu tidak baik untuk kesehatan mental nantinya.
Dilihat dari tampang polos gadis cantik tadi, dan wajahnya pun tidak begitu familiar, ku rasa dia mahasiswi semester bawah, yang belum tahu karakter spesies langka dari salah Satu Most wanted-nya Universitas Harapan Negara.
Untuk pengakuan tadi, aku cuma pura-pura. Kebetulan saat hendak ke perpus, aku melihat dari kejauhan sekelebat dari ujung koridor, kak Dion di tarik oleh seorang cewek menuju arah taman belakang kampus.
Jiwa kepo-ku pun meronta. Tumben-tumbenan itu es balok mau di tarik-tarik sama cewek? Dari pada mati penasaran, akhirnya niat ke perpus pun ku urungkan. Setelah kelar urusan acara pengintaian, baru nanti akan ku lanjutkan mencari bahan tugas untuk penelitian.
"Lo apa-apaan sih, ngaku-ngaku jadi cewek gue?" tanyanya kesal, setelah melepas paksa tanganku yang melingkar di lenganya.
"Kak Dion itu harusnya berterima kasih, bukan malah marah-marah. Untung tadi aku dateng, kalo nggak ..."
" ... Kalo nggak apa?" potongnya sambil melotot, menatapku galak.
"Kalo nggak, cewek itu pasti masih ngeyel, dan nanya siapa cewek kak Dion," Ku coba memberi alasan. "Kan benar, apa yang cewek itu bilang, kak Dion kan nggak punya pacar?" sindirku memojokkan.
Kulihat wajah garangnya sudah mulai gelagapan. Mau bilang apa coba?
"Shit!" umpatnya. Dengan wajah dingin tanpa ekspresi kak Dion berjalan melewatiku.
Enak saja! Tidak akan ku biarkan dia lolos.
"Eh, mau kemana?" cegahku, menarik tanganya.
"Bukan urusan lo!" sarkasnya tanpa menoleh.
"Jadi, gak ada ucapan terima kasih nih?" godaku, memiringkan kepala sambil mengerlingkan mata. Menghadapi cowok dingin seperti Dion itu harus dengan cara selow.
__ADS_1
Kak Dion mengangkat sebelah alisnya, menatap ke arahku, "Jadi lo gak ikhlas nolongin gue?"
Akhirnya, ngaku juga merasa di tolong.
"Oh, kalo itu ikhlas banget, tapi ada syaratnya?" balasku memberikan penawaran, "Itu sih kalo kak Dion bersedia, kalo nggak, juga gak papa. Tinggal aku balik lagi, terus ngomong sama cewek it ..."
" ... Ya udah cepet ngomong, apaan?" Hehehe ... Berhasil juga masukin kak Dion kedalam perangkap. Emang paling gampang ngerjain cowok yang anti sama cewek. Gertak dikit, langsung tak berkutik.
Sebenernya gak ada maksud buat memanfaatin ini cowok, tapi berhubung ada kesempatan, kan mubadzir jika di sia-siakan.
"Kak Dion pasti dapet undangan dari Varo kan?" tanyaku memberi kode. Ya jelas dia dapat, kan mereka Satu angkatan plus Satu jurusan.
"Terus?" Dasar nggak peka!
"Ya terus, kita nanti datengnya barengan," jawabku tersipu malu. Berharap dia nanti bersedia jadi pasanganku gitu? Tengsin lah datang sendiri, jika yang menikah bukan Alvaro mungkin aku tidak masalah datang tanpa pasangan.
"Oh, jadi lo mau manfaatin gue buat manas-manasin mantan lo itu?" Eh, sadar juga dia ternyata. "Sorry, gue bukan cowok tol*l yang bisa lo perbudak!" Kak Dion langsung pergi, meninggalkanku tanpa permisi.
Sumpah demi apa, dia bilang aku memperbudak? Astagfirulloh ... Nggak ada kosa kata yang lebih halus apa?
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bukan hanya pedas ucapan cowok itu kali ini, tapi wajah manisku ini rasanya sudah seperti di siram cairan cabe. Panas dan pedih.
***
"Yakin, kakak datang sendiri?" tanya Bunda memastikan sambil membantu anak gadisnya ini berdandan. Mungkin Bunda takut kalau nanti aku jatuh pingsan atau malah nangis kejer melihat sang mantan duduk di kursi pelaminan.
Bisa kupastikan adegan itu tidak akan pernah terjadi. Seminggu ini aku sudah benar-benar memantapkan hati dan aku pun sudah ikhlas karena memang aku dan Alvaro tidak berjodoh.
"Bunda tenang aja, Zahra anak Bunda Khadija bukan gadis cengeng." jawabku memberikan kepastian, "Insyaalloh, Zahra sudah ikhlas kok Bund. Dan itu artinya Varo bukan yang terbaik buat Zahra," lanjutku memasang senyum termanis. Bunda pun tersenyum lega.
Semoga yang ku ucapkan di depan Bunda, bisa seirama ketika aku sudah berada disana. Meski hati dan mulut sudah berkata ikhlas, tetapi tidak pula di pungkiri jika suasana hati bisa saja berubah ketika teringat akan masa-masa indah berdua.
"Sayang kamu udah bawa minyak angin kan?" tanya kak Nio pada kak Melisha saat kita baru saja sampai di depan gedung acara.
Karena tidak ada yang mengantar, Papa masih ada urusan di rumah sakit dan kak Dipta sedang ada pejalanan bisnis ke Luar Kota bersama Opa, seperti biasa aku akan meminta kak Nio menjemput yang kebetulan jika datang ke acara formal seperti ini dia pasti membawa mobil.
Yaiyalah bawa mobil, ya kali bonceng kak Melisha yang memakai kebaya bawa motor? Bisa awut-awutan dandanan ketiup angin.
"Sudah dong?" Kok mereka melihat ke arahku sambil senyum-senyum?
"Apaan sih?" tanyaku, merasa ada yang aneh.
"Kalo nanti nggak kuat lambaikan tangan ya Ra?" Tambah aneh aja deh kak Melisha, maksudnya apa coba? Emang aku lagi uji nyali.
"Kalo nanti mau pingsan, ngomong dulu Dek, biar nanti gue bisa panggilin security buat gotong lo,"
Kamvret!
Jadi itu maksud kak Nio nanyain minyak angin ke kak Melisha? Kalau begini, aku bisa saja nangis bukan karena di tinggal Varo kawin, tapi nyesek terus-terusan di ledekin.
Sambil tertawa sepasang kekasih itu turun dari mobil, lain hal denganku yang memasang wajah cemberut akibat bombardir ledekan dari mereka berdua. Dan mungkin karena ekspresiku inilah yang menyebabkan mereka tertawa.
Bodo amat lah!
Dengan langkah gontai aku mengekor di belakang kak Nio dan kak Melisha memasuki area gedung resepsi.
"Eh, si gemoy cantik bener? Sendirian ya? Abang temenin yuk?"
Yaelah, baru juga masuk udah ketemu aja sama si playboy kabel.
Aku memutar bola mata malas. Kenapa sih di saat-saat seperti ini, terus-terusan mendapat cobaan bertubi-tubi. Heran deh!
"Auw," pekik kak Nando ketika mendapat cubitan cantik di pinggang oleh cewek di sebelahnya.
Sukurin!
Sudah bawa pasangan masih aja godain cewek lain. Entah siapa lagi itu gadis yang di bawa si don juan, sepertinya bukan anak satu kampus. Wajahnya asing.
Tanpa menanggapi ocehan kak Nando, aku pun mlengos pergi menyusul kak Nio dan kak Melisha yang berjalan terlebih dahulu menuju antrian naik ke atas pelaminan.
Perlahan tapi pasti, langkah kaki ini sudah mulai menaiki anak tangga menuju tempat mempelai yang sedang berbahagia.
Jangan di tanya lagi suara jantung yang mengiringi. Semakin dekat detaknya sudah mulai tidak beraturan. Tangan dan kakiku pun terasa dingin seperti es.
Ya Alloh, jangan sampai apa yang di khawatirkan Bunda dan kak Nio terjadi.
__ADS_1
Aku harus kuat!
"Santai aja, gak usah grogi,"
Eh, tangan siapa ini main genggam sembarangan?
Aku yang sedari tadi berjalan pelan dengan wajah sedikit menunduk, seperti mencari sesuatu yang terjatuh dibawah sana, merasa terkejut saat ada tangan besar menggamit jamariku. Dan suara itu ...
... Ya, aku sangat mengenal pemilik suara tersebut. Ku dongakkan kepala, melihat ke samping, benar saja, "Kak Dion?" suara ku tertahan melihat wajah datar pria yang berdiri tegap dengan memakai kemeja batik berlengan pendek yang sangat pas di badanya yang atletis.
"Kok ..."
"Gak usah Ge-Er!"
Hellooooo ... Siapa juga yang Ge-Er? Awas saja, tunggu pembalasanku nanti! Kalau saja bukan di tempat umum seperti saat ini, sudah aku remes muka datar bin nyebelin kak Dion.
Baru kemarin dia bikin aku sakit hati karena mulut pedesnya, saat ini, detik ini juga dia mengulanginya. Semenjak kejadian kemarin aku tidak bertemu lagi dengan kak Dion.
Males. Kalau pun bertemu, aku akan memilih menghindar. Namun, sekarang justru kebalikan, dia yang tiba-tiba datang mendekat dengan maksud entah.
"Ra, makasih ya udah mau dateng,"
Hah, kok tiba-tiba ada suara si Varo?
Sumpah, gara-gara rasa kesal yang sudah menumpuk di ubun-ubun sedari sebelum masuk ke gedung, sampai-sampai aku nggak sadar kalau saat ini sudah berada tepat di depan mempelai pengantin pria.
"Eh, gak usah peluk-peluk. Dia ini cewek gue sekarang," kak Dion menahan tubuh Alvaro yang hendak merangkulku.
Etolong, itu kalimat bisa di replay nggak ya?
Lagi nggak salah denger kan ini telingaku?
Mataku mengerjap berkali-kali, tidak percaya mendengar kalimat ajaib. 'Pacar gue?'
Sejak kapan?
"Ra, bener yang di bilang Dion?" Alvaro menyipitkan mata, menatap tak percaya. Sama seperti diriku yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda di sampingku ini barusan.
"Iya kan sayang?" What!! Si kutub utara panggil aku sayang sambil tersenyum? Apalagi ini Ya Tuhan, kejutan apa lagi yang aku dapat setelah ini.
Kesambet jin apa'an sih ini kak Dion? Pemandangan langka dia bisa tersenyum manis. Nggak senyum aja dia udah ganteng, apa lagi senyum, asli bisa bikin aku jantungan.
Sepertinya kalau begini terus, aku akan benar-benar pingsan.
"ii--iya," jawabku terbata mengiyakan. Tapi Boongan.
Tapi kenapa, wajah Varo jadi masam gitu? Cemburu?
"Secepat itukah kamu sudah move-on dariku Ra?" pertanyaan macam apa ini. Terus mau kamu, aku nangis-nangis sambil meratapi nasib gitu?
Sorry!
"Ngapain aku harus terpaku pada masalalu, jika masa depan sudah menunggu,"
Jiiaaaahhhh ... Kata-kata dari mana ini woy!
Setelah mengucapkan selamat kepada Varo dan istrinya, aku dan kak Dion pun turun masih dengan bergandengan tangan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
Jangan lupa kasih Like, Komen. dan Votenya ya?
Ini kenapa, readersku semakin hari semakin berkurang saja ya? Kalian pada kemana sih? atau sudah pada kabur? ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1