
Setelah semuanya masuk kedalam rumah, dan sudah mengambil posisi duduk masing-masing, Khadija duduk berjajar dengan Suaminya bersebrangan dengan sang Ayah dan Ibu duduk bersisihan di kursi tunggal.
Sedangkan Zahra yang masih tertidur dibawa masuk ke kamar Aisyah oleh Pengasuhnya.
Khadija mengeluarkan amplop berwarna putih bertuliskan "Rumah Sakit Citra Medika" dan mengulurkanya ke arah Hafiz, suaminya.
Hafiz menerima amplop dari tangan istrinya, "Apa ini Bund?" tanya Hafiz dengan menautkan kedua alisnya setelah membaca tulisan yang ada di lembar kantung kertas tersebut.
Seolah sedang bermain teka-teki, raut ketiga wajah orang yang ada di ruangan itu seolah menyiratkan arti, dan itu membuat Hafiz semakin tak mengerti.
Bukankah Ibu mertua sudah sembuh dari Tiga minggu yang lalu? Terus kenapa mereka datang kembali ke Rumah Sakit? Atau jangan-jangan...
Hafiz menatap Satu persatu wajah diantara mereka bertiga, semuanya tampak sehat dan wajar tidak seperti orang sakit, hanya saja Khadija yang terlihat sedikit pucat dengan bibir yang mengering.
"Buka saja." titah Khadija
Hafiz pun membuka secarik kertas yang ia keluarkan dari amplop itu, dan membacanya perlahan.
Bola mata Hafiz bergerak mengikuti rentetan huruf yang tersusun rapi berwarna hitam. Sepersekian detik lengkungan manis terbit dari sudut bibirnya.
"Benar ini Bund?" tanya Hafiz mengguncang lengan orang disampingnya. Setelah mendapat anggukan Hafiz seketika memeluk istrinya.
"Iya Mas." Tangan Khadija bergerak mengusap lembut punggung Pria yang masih menempel di tubuhnya.
"Ekhem, ekhem..." sang Ayah berdehem mengingatkan akan keberadaan ia dan istrinya.
Sontak Hafiz melepaskan pelukanya.
"Maaf Pak, saya kelewat bahagia." ucap Hafiz dengan wajah yang memerah. Karena tanpa sadar ia memeluk sang Istri di hadapan kedua mertuanya sedikit lama.
"Iya, ndak papa nak?" ucap Ibu sembari tersenyum.
"Dari tiga hari yang lalu, Khadija terus muntah-muntah tanpa sebab dan mengeluh kepalanya terasa berat, makanya tadi siang Bapak bawa dia ke Rumah Sakit." jelas Sang Ayah mertua sebelum menantunya bertanya.
"Kenapa kamu gak kasih kabar ke aku sih Bund?" tanya Hafiz beralih pada Istrinya.
"Tadinya aku mau kasih kamu kejutan." Khadija tersenyum, meraih tangan Suaminya dan mengelus punggung tangan Pria itu. "Sebenernya aku udah feeling sih, soalnya aku udah telat dari seminggu yang lalu."
Hafiz tidak menyangka kedatanganya kali ini yang berniat memberi kejutan kepada Istrinya, justru ia dikejutkan dengan kabar bahagia, kehamilan sang Istri tercinta.
Setelah memberikan penjelasan, Khadija mengajak suaminya pergi ke kamar untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh.
Sedang sang Ibu pergi kedapur, untuk memasak menyiapkan makan malam keluarganya sambil di temani sang suami yang siap siaga membantunya.
Ketika sudah berada di dalam kamar, Hafiz merebahkan tubuhnya di atas kasur Istrinya.
"Ayo balik badan," perintah Khadija pada Pria yang sedang tidur terlentang.
"Ngapain Bund?" tanya Hafiz mengangkat kepalanya.
Tanpa menjawab, Khadija langsung mendorong tubuh kekar suaminya agar membalikan badan.
Dengan gemulai jari lentiknya menari diatas punggung suaminya.
Hafiz tersenyum setelah mengerti maksud dari Istrinya. Tanpa banyak bertanya lagi Pria itu begitu menikmati setiap pijatan lembut sang Istri dan perlahan membuatnya terbuai terjun ke alam mimpi.
***
Di tempat lain. Aisyah selalu merasa was-was jika sedang berada di rumah sendiri. Semenjak kehadiran Fino di rumah itu, Aslan yang berada jauh dari Istrinya selalu merasa khawatir.
Sebulan berada di dalam rumah yang sama, terasa sulit bagi Aisyah untuk tidak bertemu dengan Fino.
Sebisa mungkin Aisyah selalu menghindar ketika bertemu atau tidak sengaja berpapasan dengan Pria berparas tampan itu.
Meski belum pernah mendapat kejelasan, mengapa sang Suami melarangnya untuk terlalu dekat dengan Pria blasteran yang tak lain merupakan sepupu ipar denganya, Aisyah dengan patuh mengikuti anjuran Aslan, suaminya.
__ADS_1
Dari Dua hari yang lalu kedua orang tua Aslan pergi keluar kota untuk melakukan pertemuan bisnis. Hanya ada empat orang di rumah besar itu, Aisyah, fino, satu ART dan Satu orang tukang kebun.
Jika sedang tidak ada orang di rumah, Aisyah lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar terlebih dengan kondisinya yang tengah hamil muda. Usia kandungan Aisyah kini sudah berjalan Empat bulan.
Tak pelak rasa jenuh sering menghinggapinya. Jika sudah seperti itu, Aisyah biasanya akan duduk di gasebo taman belakang rumah di sebelah kolam renang sembari menata tanaman hias milik ibu mertua.
"Auw..." rintih Aisyah ketika ujung jari tengahnya tertusuk duri bunga mawar.
Hump...
Aisyah berjengkit, ketika seseorang dengan tiba-tiba menyambar tangannya lalu menghisapnya.
Dengan cepat Aisyah menarik tanganya, "Jangan macam-macam kamu Fino!" ancamnya dengan mengacungkan jari telunjuk tepat di depan wajah Pria itu.
Fino menurunkan jari telunjuk Aisyah, "Bukanya terima kasih, malah marah-marah!" Ucap Fino dengan senyuman miring di bibirnya.
"Lagian siapa juga yang minta pertolongan kamu!" elak Aisyah ketus.
Grep...
Fino mencekal tangan Aisyah saat hendak berlalu dari hadapanya.
"Lepasin Fin!" Aisyah menghentak-hentakan tanganya yang berada di cengkraman Pria itu. "Akan aku aduin kamu ke Mas Aslan!" lanjut Aisyah menatap sinis ke arah Fino.
"Baik akan aku lepaskan, tapi ada syaratnya," Fino menatap teduh ke arah Aisyah.
"Apa syaratnya?!" ucap Aisyah terpaksa.
"Temani aku ngobrol di sini."
"Oke, tapi awas jangan macem-macem!" Aisyah mengulang ancamanya.
Fino tertawa kecil menanggapi ancaman Perempuan yang ada di hadapanya, "Sejauh mana Suami kamu mendoktrin, hingga kamu begitu antisipasi terhadapku?" Fino pun melepaskan tangan Aisyah.
"Mas Aslan ndak pernah ngomong apa-apa." jawab Aisyah jujur.
"Ndak, aku disini aja." Aisyah berjalan menuju dua kursi yang berjajar tempat biasa kedua mertuanya menikmati secangkir teh di sore hari.
Fino pun beralih duduk di kursi kosong sebelah Aisyah yang di pisah oleh meja bundar di tengahnya.
Aisyah menatap tidak suka ke arah Fino, "Ngapain kamu kesini?"
"Duduk." jawab Fino singkat menoleh sekilas ke arah Aisyah yang mamasang wajah kesal.
"Ternyata sepupuku itu benar-benar tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya." Fino menatap lurus ke arah kolam renang yang ada di depanya.
"Maksud kamu?" Aisyah menautkan alisnya melihat orang di sebelahnya.
"Ada masalalu yang membuat Aslan trauma terhadapku." ucap Fino mengingat kelakuanya. "Dulu aku pernah merebut calon tunanganya," lanjutnya.
Aisyah terdiam, ada rasa penasaran di hatinya, namun ia bingung harus memulai dari mana.
"Mungkin kamu penasaran, bagaimana itu terjadi."
"Eh,~" Aisyah mengerjap, ternyata Fino tau apa yang ada di pikiranya.
Tepatnya Enam tahun yang lalu, Aslan yang menjalin hubungan dengan seorang gadis yang di cintainya, dan berniat ingin serius melanjutkan kejenjang pernikahan dengan tiba-tiba Fino hadir di tengah-tengah mereka.
Awalnya Fino tidak ada niat merebut kekasih sepupunya itu. Namun, dengan segudang pesona yang dimilikinya, membuat gadis itu mudah berpaling dari Aslan.
Gadis itupun selalu menunjukan perhatianya terhadap Fino di belakang Aslan. Fino yang haus akan perhatian pun terbuai akan rayuan kekasih sepupunya itu.
Aslan dibesarkan dikeluarga yang hangat akan cinta dan kasih sayang terlebih dirinya adalah anak tunggal yang membuatnya tidak pernah luput dari perhatian kedua orang tuanya.
Sedangkan Fino tumbuh di keluarga yang Broken Home, Ayah dan Ibunya sudah berpisah sejak ia usia Enam tahun. Hidupnya yang terombang ambing, membuatnya kurang mendapat perhatian.
__ADS_1
Semula hubungan Aslan dan Fino terbilang dekat, sudah seperti saudara kandung. Usia mereka berdua pun tidak terpaut jauh hanya selisih Dua tahun lebih tua Aslan.
Ibu Fino merupakan adik dari Ibu Aslan. Kemudian Ibu fino menikah dengan Warga Negara asing, namun pernikahan keduanya hanya mampu bertahan selama Enam tahun sesuai dengan usia Fino kala itu.
Setelah lulus kuliah, Fino lebih sering datang dari luar negeri hanya sekedar ingin merasakan hangatnya keluarga yang ia peroleh dari keluarga Aslan, sepupunya. Hingga sampai tragedi itu terjadi.
Tepat sehari sebelum acara pertunangan Aslan dan kekasihnya di gelar, Fino membawa lari gadis itu, dengan alasan sang gadis mengatakan jika dia lebih mencintai Fino daripada Aslan.
Sejak kejadian itu hubungan Aslan dan Fino pun merenggang, semua kontak di block oleh Aslan, jika Fino sedang berkunjung maka keduanya bak orang asing yang tidak saling mengenal.
Kehadiran Fino selalu di abaikan oleh Aslan. Aslan pun sering menghabiskan waktunya bersama kedua sahabatnya. Hanya orang tua Aslan yang menyambut kehadiran Fino dengan baik, meski setelah apa yang di perbuat Fino terhadap Puteranya, kedua orang tua Aslan menyikapinya dengan bijaksana. Mereka menganggap jika gadis itu bukanlah jodoh terbaik untuk Aslan.
"Tega kamu Fin, pantas suamiku sangat membencimu!" Kalimat pertama yang di ucap Aisyah setelah mendengar penjelasan Fino.
Fino mengangguk, menyetujui ucapan Istri dari sepupunya, "Dan kamu ikut membenciku?" tanyanya menatap netra coklat Perempuan yang ada di sebelahnya.
"Ya iyalah!"
"Hahaha...Harusnya kamu itu berterima kasih sama aku Syah."
"Untuk apa aku berterima kasih sama kamu? Jelas-jelas kamu udah menyakiti hati suami aku!"
"Justru karena itu sekarang Hati Aslan ada bersamamu, nona manis." Fino tersenyum ke arah Aisyah.
Gila! Pantesan tunangan Mas Aslan suka sama Fino? Sudah bule, manis pula senyumnya.
"Syah..." Fino melambaikan tangan di depan wajah Aisyah yang tampak melamun menatapnya.
Cetrek...
"Eh, Astagfirullohaladzim." Aisyah tersadar setelah mendengar jentikan jari Pria yang masih memasang senyum manisnya. Buru-buru Aisyah membuang muka, menutupi wajahnya yang sudah memerah karena malu.
Fino tertawa, "Bahkan kamu pun ikut terpesona melihat ketampananku." kelakar Fino bangga.
"Asal kamu tahu ya Fin, tetap Mas Aslan yang paling tampan di hati aku!" Aisyah berusaha mengusir fikiran kotor yang ada di otaknya.
"Dan memang harusnya seperti itu," Fino mengangguk setuju. "Dan asal kamu tahu, suamimu itu dulu seorang Playboy. tapi Aslan juga type cowok yang setia, jadi aku harap kamu bisa menjaga cintanya baik-baik." pesan Fino pada Aisyah.
"Terus bagaimana kelanjutan hubungan kamu sama perempuan itu?" Aisyah penasaran akan kehidupan Fino setelah merebut mantan dari suaminya.
"Dia pergi ninggalin aku Syah, dan mungkin itu karma buat aku." Fino menunduk menyesali akan semua perbuatanya.
Perlahan kecanggungan diantara Aisyah dan Fino pun memudar. Meskipun awal perjumpaan Fino menunjukan sikap dingin dan cuek, namun di balik itu Fino juga sosok Pria yang cukup menyenangkan, mudah akrab dan ramah.
"Aku harap setelah ini kamu tidak menjauhiku Syah, dan aku berjanji akan memperbaiki hubunganku dengan Aslan, tolong bantu aku." pinta Fino tulus dari dalam lubuk hatinya.
"Insyaalloh Fin, aku akan bantu kamu."
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Tampang orang yang bawa kabur calon tunangan Aslan.
Jangan lupa Vote, Like dan Komen ya...😘😊🙏*
__ADS_1
"