Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Liburan


__ADS_3

Akhir pekan yang di tunggu pun telah tiba. Rencana liburan bersama yang di gagas Aslan pun sudah disepakati.


Hafiz, Aslan dan Dio mereka sepakat untuk berkumpul di toko Khadija, sebelum melakukan perjalanan liburan di akhir pekan. Satu persatu dari mereka sudah berdatangan.


Hafiz dan Khadija sudah datang terlebih dulu, di susul kemudian dengan Alina yang membawa mobil sendiri dan nantinya ia akan membawa Sari dan Leni.


Lima menit menunggu, kemudian tibalah mobil Aslan. Sambil menunggu Dio datang, Aslan pun turun dari mobil bersama anak dan Istrinya serta Fino adik sepupunya hendak masuk kedalam toko.


Belum sampai Aslan masuk ke dalam toko, tiba-tiba klarkson mobil seseorang sengaja di bunyikan, membuat Aslan dan keluarganya menoleh kembali kebelakang, ternyata mobil berwarna merah milik Dio sudah terparkir di belakang mobilnya.


Melihat para sahabatnya datang, Hafiz pun keluar dari toko bersama Khadija, Alina, Leni dan Sari.


"Zahra mana Mbak?" tanya Aisyah tidak melihat keponakanya itu ikut keluar.


"Ikut sama Oma dan Opanya pulang ke kampungnya Mbak Ina Dek," jawab Khadija.


"Loh, Nio gak ikut Yo?" Gantian Hafiz bertanya pada Dio yang sudah mendekat ke arahnya.


Dio hanya datang bersama istri dan putri kecilnya Dira yang sepantaran dengan Khumaira, anak dari sahabatnya, Aslan


"Dia gak mau ikut kalau Zahra gak ikut. Terus dia minta nginep di rumah Mama," jelas Dio.


Semalam Nio menelpon Zahra, sekedar mengingatkan untuk membawa jaket yang tebal karena udara di puncak sangat dingin. Namun, Zahra mengatakan dia tidak ikut, karena Dipta hendak menjenguk neneknya di kampung dan gadis cilik itu memilih untuk ikut bersama adik tiri Papanya tersebut.


"Kecil-kecil udah sehati aja tu bocah," celetuk Aslan sambil terkekeh dengan kesolidan kedua anak sahabatnya.


"Ya sudah, karena semua sudah datang, yuk kita berangkat sekarang," ucap Hafiz melihat semua sudah siap, tidak ada yang tertinggal.


"Tunggu Mas," cegah Khadija.


"Kenapa Bund?" Dahi Hafiz berkerut melihat istrinya tampak mengedarkan pandangan ke arah jalan raya, seperti sedang menunggu seseorang.


Belum sempat perempuan itu menjawab, bibirnya tersenyum melihat mobil yang baru saja menepi di bahu jalan.


"Dija, I Love You so much," Tiba-tiba Alina mencium pipi Khadija secara bergantian. Janda cantik itu merasa terkejut dengan kehadiran seseorang yang belum menampakan diri. Namun, Alina tahu betul siapa pemilik dari mobil berwarna putih itu.


Dan perempuan itu pun tahu, jika ini adalah rencana Khadija yang tidak ia ketahui sebelumnya. Alina sangat senang mendapat Seurprise tak terduga. Meskipun Satu minggu ini ia sudah intens berkomunikasi dangan Haikal, tetapi pria itu tidak pernah membahas tentang liburan yang di adakan saat ini.


Khadija tersenyum dengan mengangkat satu jempolnya.


Tak pelak membuat berpasang-pasang mata orang disekitar tertuju ke arah Khadija dan Alina. Tatapan mereka menyiratkan tanda tanya, 'Ada apa dengan Alina dan Khadija?' Begitulah kira-kira.


"Kamu ngajak Haikal, Bund?" Hafiz menatap curiga ke arah istrinya. Pria itu ingat dengan cegahan istrinya saat ia mengajak untuk segera berangkat.


"Gw yang ngajak," sela Aslan. Ia tahu dengan sifat pencemburu kakak iparnya itu. Memang benar Aslan yang mengajak Haikal. Namun, itu atas permintaan Khadija yang menghubunginya secara diam-diam.


Khadija memberi alasan, jika ia memiliki misi tersembunyi dan ia tidak memberitahu perihal misinya itu, tetapi jika nanti misinya berhasil tanpa ia mengatakan, sudah pasti Aslan akan tahu dengan sendirinya.


Dan Aslan percaya dengan Khadija, jika perempuan itu tidak mungkin melakukan hal bodoh ataupun memiliki rencana yang tidak baik.


"Maaf, belum terlambat kan?" tanya Haikal berbasa basi pada semua orang, "Oh ya, tidak mengganggu juga kan, jika aku bawa Elif?" lanjutnya.


"Santai Bro, kita semua juga bawa anak, kecuali Carel sama Khadija yang free gak bawa buntut," seloroh Aslan setengah menyindir pria di sampingnya.


"Jadi berangkat gak? Atau kita ngobrol aja disini?" timpal Dio menyudahi acara basa basi mereka.


Akhirnya semua masuk kedalam mobil masing-masing.


"Fin, kamu ikut mobilku," pinta Alina melempar kunci mobil ke arah Fino. Karena menempuh perjalanan yang cukup jauh, Alina butuh pengganti untuk menyetir mobilnya. Sebenarnya tanpa di minta pun Fino sudah pasti akan beralih ke mobil Alina. Pria bule itu tidak mungkin membiarkan sahabatnya itu kelelahan.


Leni pun tersenyum cerah berada Satu mobil bersama pria yang begitu dikaguminya.


"Abi, eif au tama Ante ni," rengek Elif meminta bersama Leni.


Leni yang hendak masuk kedalam mobil Alina, membuatnya menengok ke belakang melihat gadis kecil yang tengah menggeliatkan tubuhnya meminta ikut denganya.


"Iya, nanti disana Elif bisa main sama tante Leni," bujuk Haikal pada putrinya yang terus memberontak.


"Ya sudah Mas, sini biar Elif sama aku aja," Leni mengulurkan tanganya saat berada di depan Haikal. Gadis itu tidak tega melihat Elif yang merengek hampir menangis meminta untuk ikut bersamanya.


"Maaf, Len sudah merepotkan kamu," ucap Haikal merasa tidak enak hati.


Leni mengangguk sambil tersenyum, meski ada rasa kecewa di dalam hati. Kesempatan berlama-lama memandang pria tampan idaman hati sirna sudah. Dengan terpaksa, ia juga harus menumpang di mobil Haikal.


***


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih Tiga jam dan melintasi jalan perbukitan yang berkelok-kelok membuat mereka semua merasa kelelahan.


Namun, rasa lelah mereka terbayarkan dengan pemandangan hamparan hijau perkebunan teh yang membentang luas, udara sejuk yang tak pernah mereka dapatkan di perkotaan.


Setelah turun dari mobil mereka semua tidak langsung masuk ke dalam Villa. Sejenak mereka merentangkan tangan menghirup udara segar yang begitu menenangkan.

__ADS_1


Hafiz memeluk istrinya dari belakang, "Kamu suka Sayang?" bisiknya.


"Suka sekali Mas," ucap Khadija sambil memejamkan mata, merasakan udara dingin yang menyeruak menembus hidungnya.


Aslan dan Dio hanya bisa memandang iri ke arah Hafiz yang bisa dengan leluasa bermesraan dengan Khadija. Berbeda dengan mereka berdua yang di sibukan oleh tingkah aktif dari para malaikat kecil yang berlarian kesana kemari.


Clara dan Aisyah melakukan hal yang sama dengan Khadija. Menghirup udara segar melepas kepenatan dari keseharianya mengurus rumah tangga.


Tidak ingin menyia-nyiakan moment langka, Fino dan Alina menyibukan diri ber_swafoto menggunakan kamera digital milik Fino dengan background pemandangan yang begitu indah.


Sedang Haikal hanya bersandar di badan mobil memperhatikan putrinya yang begitu riang bermain bersama Leni dan Sari.


Setelah puas dengan keseruanya masing-masing, akhirnya mereka memutuskan masuk ke dalam Villa yang cukup besar.


Mereka di sambut oleh sepasang Asisten rumah tangga paruh baya. Nampaknya mereka adalah sepasang suami istri yang di tugaskan untuk menjaga dan mengurus Villa tersebut.


Sang Asisten rumah tangga pun menunjukan ada Enam kamar di Villa itu, Tiga di atas dan Tiga di bawah.


Mereka memutuskan untuk yang sudah berumah tangga mengambil kamar yang ada di lantai atas.


Leni dan Sari, sudah pasti mereka akan tidur berdua dalam Satu kamar.


Disini Haikal merasa bimbang, ingin ia meminta kamar sendiri dengan alasan putrinya, tetapi bagaimana dengan Fino dan Alina, tidak mungkin mereka harus sekamar. Karena Satu kamar hanya untuk Dua orang.


"Ayo Mas, kita masuk ke kamar," ajak Fino pada Haikal yang sedari tadi hanya diam di saat yang lain bingung memilih kamar. Mereka berdua kebagian kamar yang berada di bawah tangga setelah Dua kamar yang lain sudah terlebih dahulu di pilih oleh kaum hawa.


"Fin, kamu gak papa, kalau aku ngajak Elif?" tanya Haikal ragu. Ia takut jika nanti putri kecilnya akan mengganggu istirahat rekan sekamarnya tersebut.


"Ya gak papalah Mas," jawab Fino menepuk pundak Haikal. Bukan masalah baginya, toh tidak mungkin anak sekecil Elif akan memakan tempat waktu tidur.


Karena waktu sudah sore, mereka pun segera masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan membaringkan sejenak tubuh yang kelelahan selama di perjalanan.


____


Setelah melakukan Shalat Isya' berjamaah yang di imami oleh Haikal, dan di lanjut makan malam bersama yang telah di sediakan oleh sang Asisten rumah tangga, mereka semua memilih berkumpul di ruang tengah.


Hafiz dan Khadija mengambil duduk di sofa panjang yang menghadap langsung ke arah home teater yang ada diruangan itu.


Aslan dan Aisyah duduk berdampingan di sofa panjang sebelah kanan Hafiz berhadapan dengan sofa yang di duduki Dio dan Clara.


Kebetulan Khumaira dan Dira sudah tertidur saat sebelum Isya'. Jadi para Papa dan Mama muda bisa bersantai sejenak.


Terkecuali Haikal yang kembali masuk ke kamar untuk menidurkan Elif yang sudah mulai sering menguap.


"Enaknya ngapain nih?" tanya Aslan untuk mengisi waktu dengan berseru-seruan. Jarang-jarang bisa berkumpul seperti saat ini.


"Gimana kalau kita main game," usul Fino.


"Game apaan?" tanya Dio.


Fino tampak berfikir game apa yang seru dan cocok di mainin rame-rame.


"Oke kita main Hot Potato Camera Game," cetus Fino.


Fino pun menjelaskan cara main dari permainanya tersebut.


Permainan ini sebenarnya versi modern dari Hot Potato yang sering di mainkan waktu kecil. Hanya saja sekarang permainan itu menggunakan bantuan camera digital atau Smartphone.


Pertama lakukan pengaturan timer agak lama dan jangan lupa aktifkan flash_nya agar mudah mengetahui jika kamera sudah selesai mengambil gambar.


Smartphone akan di oper bergantian, dan siapa yang beruntung mendapat jepretan kamera, mereka akan di beri reward berupa pertanyaan atau melakukan hal konyol, seperti menyanyi, berjoged atau ber_Stand Up Comedy. Siapa pun bebas mengajukan pertanyaan sebagai hadiah.


Setelah semua setuju, Fino mengarahkan para peserta duduk melingkar. Haikal yang baru keluar dari kamar tidak luput dari ajakanya.


Lalu Haikal mengambil posisi duduk diantara Fino dan Aslan. Disebelah kiri Fino ada Alina, Sari, Leni, Clara, Dio, Hafiz, Khadija, Aisyah, Aslan dan Haikal hingga membentuk formasi lingkaran.


Dengan menggunakan ponsel Fino, permainan pun dimulai sesuai arahan. Sambil menyanyi Smartphone di giring memutar, di awali dari sebelah kiri.


Bukanya saling berebut, mereka justru buru-buru melempar ke arah teman yang ada di sebelah agar tidak terkena jepretan. Yang berimbas pada pemberian hadiah yang menakutkan.


Riuh suara mereka mengiringi permainan. Jepretan pertama terkena Aslan.


"Oke siapa yang mau kasih reward?" tawar Fino.


"Gw," Dio mengangkat tangan, sambil tersenyum setan ke arah sahabatnya itu.


"Jangan aneh-aneh lo Yo," Aslan sudah mencium aroma mengerikan dari senyuman Dio.


"Tenang aja. Oke gw mau kasih lo pertanyaan, jawab jujur. Dari usia berapa lo mulai nonton vidio bokep?"


Sontak pertanyaan Dio membuat semua orang tertawa dan penasaran.

__ADS_1


"Sialan lo Yo!" umpat Aslan. Pertanyaan Dio membuatnya malu, terlebih ada Haikal yang duduk di sebelahnya. Satu teman yang dikenal paling alim dari yang lain. "Kelas Tiga SMA," tegasnya.


"Waaahhh ... Bohong lo Bang!" protes Fino tidak puas dengan jawaban sang Abang. Ia tahu jika pria itu sedang berbohong. "Lo jawab sendiri, atau gw yang bilang," lanjutnya mengancam.


"SMP kelas 1," ucap Aslan jujur, Reflek mendapat cubitan manis di perut dari istrinya. Aslan meringis, karena cubitan tersebut kecil tetapi anarkis.


"Pantes itu otak mesum banget," cibir Aisyah.


Permainan pun di mulai kembali, dan kali ini jepretan kedua pas terkena wajah Hafiz.


"Gw gk mau kasih pertanyaan, gw mau kasih tantangan," ucap Aslan bersemangat seperti sudah direncanakan sebelumnya. "Gw minta lo lakuin hal yang menurut lo belum pernah lo lakuin seumur hidup di depan umum,"


"Apaan?" Hafiz bingung.


"Udah kamu joged atau nyanyi aja, ndak pernah kan?" Khadija tau untuk pria cuek seperti suaminya itu pasti tidak pernah melakukan apa yang baru saja ia usulkan.


Suara bersahutan dari semua peserta permainan, menyerukan Hafiz bernyanyi. Karena mereka pun penasaran bagaimana suara asli dari seorang Dokter kandungan saat bernyanyi, bahkan Alina sahabat sedari kecil, sekalipun tidak pernah mendengar pria itu bernyanyi ataupun bersenandung.


"Oke tenang, gw harap para jomblo-jomblo di sini gak ada yang nangis dengan apa yang gw lakuin," ucap Hafiz setelah menemukan ide.


Mereka pun menajamkan pandangan ke arah Hafiz. Terkhusus mereka yang tidak memiliki pasangan merasa penasaran, karena seruan itu di peruntukan bagi mereka.


Cup ...


Tanpa aba-aba, dengan cepat Hafiz menarik tengkuk istrinya.


Khadija terkesiap mendapat serangan tiba-tiba, matanya membelalak sempurna ketika bibir Hafiz menempel di bibirnya. Sepersekian detik Hafiz memberikan lum*tan kecil di bibir tipis itu lalu melepasnya dan mengusap lembut bibir istrinya. Khadija masih terbengong tak percaya.


Semua pasang mata melihat terkejut, mengerjap berkali-kali melihat keromantisan yang terjadi. Sari dan Leni sebagai jomblo abadi hanya bisa menelan saliva. Jika bukan Hafiz dan Khadija yang melakukanya, mungkin mereka akan biasa saja.


Haikal? Ya cuma dia yang tampak membuang muka. Cemburu atau malu, hanya dia dan Tuhan yang tahu.


"Ya Alloh tolong, otak gw Travelling kemana-mana woy ..." suara Fino menyadarkan mereka.


"Parah lo Rel!" seru Aslan masih tidak percaya.


"Kenapa? Sudah halal ya bebaslah." ucap Hafiz santai. Beda dengan Khadija yang masih menahan malu, akibat ulah suaminya.


"Huwaaa ... Den Carel jahat! Kan Sari juga pengen?" celetuk Sari dengan tangis yang di buat-buat sambil menghentak-hentakan kakinya duduk berselonjor.


Semua kembali tertawa karena tingkah Sari.


Permainan berlanjut, kini lampu Flash itu menyorot tepat di wajah Dio.


"Sebutkan Satu hal yang bikin lo menderita Bang?" giliran Fino mengajukan pertanyaan.


"Cakep pertanyaan lo Fin," puji Dio sambil mengulang pertanyaan Fino, "Saat istri gw lagi dapet, disitu gw merasa sangat-sangat menderita," sambung Dio dengan menunjuk kedua sahabatnya meminta persetujuan.


"Setuju!" seru Aslan.


"Mantap," Hafiz mengangkat jempol.


"Gimana Kal?" tanya Dio beralih pada pria yang selalu menunjukkan sikap kalem dan tidak banyak bersuara.


"Iyain aja lah," jawab Haikal singkat.


"Len kita tidur yuk, ini game gak bagus buat kesehatan fikiran kita. Dari tadi mata dan telingaku ternoda sama kata-kata para Bapak-bapak tak ber_akhlaqul karimah," ajak Sari pada leni dengan selorohanya sambil bangkit menarik tangan gadis di sampingnya.


Bangkitnya kedua gadis itu, berbarengan dengan suara tangisan Khumaira yang membuat Aslan dan Aisyah segera beranjak dari tempat duduknya.


Dengan terpaksa permainan pun di akhiri. Satu persatu mereka beringsut undur diri menuju kamar masing-masing.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Ayo dong readers-readers_ku yang baik hati, kasih komen biarpun cuma satu kata 'next', karena itu membantu banget buat author nambah jumlah view.


Ngetik segini panjangnya, author putar otak lho Say, biar cerita ini gak ngegantung. Author sadar, mungkin ceritanya udah mulai ngebosenin, tapi mau gak mau harus nerusin alur ceritanya dulu. Dan Insyaalloh bakal ada Season 2, author mau bahas kehidupan Zahra yang mulai beranjak dewasa. Dan untuk Season 1 ini, mungkin sudah tinggal 2 Bab lagi.


Mungkin ada kritik dan saran, monggo Author dengan senang hati menerima. 😘😚

__ADS_1


__ADS_2