Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK - S2 Hari yang berkesan


__ADS_3

Situasi kantin sudah tampak sepi. Para pedagang yang ada di kantin pun Satu-persatu mulai menutup stand-nya masing-masing.


Mahasiswa yang biasa memadati ruangan itu pun sudah tidak tampak lagi, terkecuali Dion dan Zahra yang masih setia duduk di bangkunya.


"Neng Zahra, Mas Dion, nggak pulang?" teriak salah seorang pedagang sambil mengunci pintu lapaknya.


"Ya, habis ini." sahut Dion.


"Kalo lo mau nginep di sini terserah, gue mau pulang!" ucap Dion kesal. Tanpa alasan yang jelas, dari setengah jam yang lalu, Zahra selalu mengulur-ulur waktu jika di ajak pulang.


Beberapa kali Dion bertanya, ada apa? Zahra hanya menggelengkan kepala.


"Kak," Zahra mendongak, melihat Dion beranjak berdiri.


Zahra menggigit bibir bawahnya, hendak mengatakan sesuatu, tapi ragu.


Tanpa menjawab, Dion kembali duduk. Berniat ingin menggertak, tapi nyatanya, hati yang biasa membeku itu kini tidak tega kala melihat kaca-kaca yang membias di pelupuk mata Zahra--seperti anak kucing kehilangan induknya.


Manis dan menggemaskan.


"Lo kenapa sih, Ra?" tanyanya dengan lembut, berusaha membujuk. Dion merasa ada yang aneh dengan tingkah kekasihnya itu hari ini. Tidak seperti biasa.


Zahra menenggelamkan wajahnya di atas kedua tangan yang terlipat di atas meja.


"Kenapa sih, Kak Dion ngeselin banget, nggak pernah peka," cicit Zahra.


Kening Dion berkerut, tidak mengerti, apa maksud ucapan gadis itu.


Di gertak, salah. Di lembutin, dikata-katain.


Dion menghela napas panjang. Inilah salah Satu alasannya, kenapa selama ini ia malas berurusan dengan gender yang memiliki jargon 'Wanita selalu benar'.


Ribet.


Dion berdiri, lalu berpindah tempat di samping Zahra. Duduk dengan mengapit bangku panjang di antara kedua paha menghadap ke arah gadis yang sedang menyembunyikan wajahnya.


Dion membelai kepala kekasihnya pelan, "Oke, gue minta maaf, kalo gue ada salah," ucap Dion mengalah. Meski ia sendiri tidak merasa melakukan kesalahan. Kurang peka, mungkin, iya.


"Kak Dion, gak salah." sahut Zahra setelah menegakkan kembali wajahnya, menatap sendu pemuda di sampingnya.


Ini cewek maunya apa, sih? batin Dion. Serba salah. Ternyata memahami seorang wanita butuh kesabaran yang berlipat ganda.


Di tanya kenapa, cuma geleng-geleng kepala. Memilih diam--tidak ingin ada keributan, di bilang tidak peka. Mengaku salah, katanya tidak punya salah. Hhmmm.


Untung cinta.


Eh,


Beruntung, jeritan batinya barusan tidak ada yang mendenger. 'Masa sih, gue udah jatuh cinta beneran ama nih cewek?' Dion tersenyum tipis, akan suara hatinya sendiri.


"Kenapa senyum-senyum?" ketus Zahra. Siklus hormonal membuat Zahra sensitif. sebentar melow, sebentar bisa menjadi galak--tergantung suasana hatinya.


Lah ... Salah, lagi? Ingin sekali, Dion menjitak kepala gadis ini.


Sabar, Dion! Berusaha menenangkan diri sendiri.


"Ya udah, makanya buruan ngomong,"


Bola mata Zahra memutar seperti orang kebingungan, memastikan apa ada orang masih tertinggal di sekitarnya.


"Lo kebelet pipis?" tanya Dion lagi, memperhatikan posisi duduk Zahra seperti orang ambeyen. Beberapa kali gadis itu menggerak-gerakkan pantatnya.


Zahra menggeleng pelan seraya menggigit ujung jari. Gugup, "Eum ... Aku ... Eum ..."


"Please, Ra, jangan bikin gue bingung. Ngomong aja,"


Zahra sendiri bingung. Tidak tahu bagaimana cara ia memberitahu hal memalukan ini pada kekasihnya itu.


Kenapa dia datang disaat yang tidak tepat. Mana datang tanpa ada konfirmasi, lagi! batin Zahra, merutuki nasibnya saat ini.


Gadis itu melambaikan tangan agar pemuda disampingnya itu mendekat.


Dion menautkan kedua alisnya, "Apa?" tanyanya heran. Kenapa harus berbisik? Padahal, disekitarnya sudah tidak ada siapapun. Bahkan sepotong manusia tidak ada di sana, kecuali ia dan perempuan aneh di hadapanya kini.


Dasar aneh!


"Aku lagi kedatangan tamu," bisik Zahra.


Seketika, Dion menarik kepalanya, pandanganya menyapu keseluruh ruangan.


Kosong!


"Mana?"

__ADS_1


"Apanya?"


"Tamunya,"


Zahra menahan senyum, tidak menyangka


begitu polos kekasihnya ini.


"Maksudnya, aku lagi DA-PET," Zahra menekankan kalimatnya pada kata terakhir yang ia ucapkan.


"Dapet apa'an?" Dion menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak berketombe, bingung.


Zahra menepuk jidatnya pelan. Kemudian menjelaskan secara spesifik maksud ungkapan yang ia utarakan.


"Bilang aja lagi datang bulan, gak usah pake sandi morse," omel Dion setelah mengerti maksud kekasihnya itu.


"Ya udah, ayo pulang? Ngapain juga kita masih di sini," tambahnya sambil berdiri.


"Aku malu, nodanya tembus," ucap Zahra kikuk.


Tanpa berfikir panjang--mengerti akan kegelisahan yang di rasakan Zahra, Dion segera melepas kemeja yang ia kenakan. Kemudian, menginstruksikan gadis itu untuk berdiri.


Dengan malu-malu, Zahra pun mengikuti arahan Dion tanpa banyak bertanya. Setelah berdiri, Dion segera melingkarkan kemejanya di belakang tubuh Zahra, dan mengikat bagian lengan kemeja tersebut tepat di bagian perut gadis itu.


Sesungging senyum terbit dari kedua sudut bibir tipis Zahra. Merasa tersanjung akan perlakuan manis dari spesies cowok yang terkenal dingin dan cuek seperti Dion.


"Kan jadi kotor bajunya, Kak?"


"Ya, lo cucilah. Entar baru balikin ke gue,"


Perlakuan boleh Sweet, tapi mulut tetep aja Spacy. Padahal Zahra berharap Dion mengatakan hal yang lebih manis dari apa yang dilakukan--merelakan baju itu untuknya di simpan sebagai obat kangen, misalnya.


Ah, khayalan memang selalu indah, daripada kenyataan. Zahra menggumam dalam kalbu.


.


"Loh, ngapain kita ke sini?" tanya Zahra, saat Dion memarkirkan motor tepat di depan sebuah mini market.


"Udah, lo tunggu di sini aja. Biar nggak bayar parkir," jawab Dion. ketika sudah turun dari motor sambil melepas helm, lalu menaruhnya di atas spion, "Jangan banyak gerak, duduk aja di atas motor" sambungnya sebelum beranjak.


Zahra mengangguk patuh. Namun, di dalam hati ia mendumal, seberharga itukah uang Dua ribu perak bagi cowok itu, hingga mengorbankan dirinya terpapar matahari sore yang masih cukup menyengat--memang sedang musim panas.


Sesaat Zahra terbangun dari lamunan, teringat sesuatu, "Kak, aku ... " panggilnya terpotong. Gadis itu tidak jadi melanjutkan kalimatnya, melihat Dion sudah memasuki pintu kaca. Di teruskan pun percuma, pasti Dion tidak mendengar.


Di dalam toko, Dion menyusuri rak demi rak yang berjajar dengan segala macam produk yang di jual.


Ketemu.


Sesaat Dion berpikir, memilih dan menimang mana yang pas. Ada yang warna orange, hijau, pink, ungu, biru, navy dengan berbagai ukuran.


Bingung.


Dion menyerah, dan ingin kembali keluar hendak bertanya, tapi saat baru melangkah ada suara yang mengagetkanya,


"Bingung ya Mas?" tanya seseorang. Tampaknya orang itu mengerti apa yang sedang di pikirkan Dion.


Dion berbalik, ia merasa seseorang itu sedang berbicara denganya.


"Biasanya kalo hari pertama datang, cocoknya pakai yang ini,"


Seorang bapak-bapak menyodorkan benda yang sempat di pilih Dion beberapa saat yang lalu, tetapi di kembalikanya lagi. Ragu.


Dion mengangguk, lalu menerima benda itu.


"Untuk istrinya, ya?"


"Eh," Dion gugup, harus menjawab bagaimana.


"Tidak usah malu seperti itu, saya juga sering membelikan untuk istri saya. Memang harus begitu, jangan mau enaknya saja," ucap bapak itu santai.


Dion terpelongo dengan apa yang dikatakan bapak itu. Otaknya mendadak blank.


"Ini, saya juga lagi nyetok buat istri saya," ucap bapak itu, mengisi keranjang belanjanya dengan barang yang sama.


"Terimakasih, saya duluan Om," ucap Dion mengakhiri, seraya menganggukkan kepala. Tidak ingin berlama-lama sebelum orang itu ngelantur kemana-mana dan akan membuatnya semakin bingung.


Bapak itu pun mengangguk dan tersenyum ramah.


Setelah itu Dion berlalu, hendak ke kasir. Tapi, sebelum sampai ke meja kasir, ia teringat sesuatu. Terpaksa Dion berbalik, mencari barang yang baru saja terfikirkan


Kembali Dion di buat bingung, setelah menemukan apa yang ia cari.


"Masa iya, sama ukuran istri sendiri tidak tahu?"

__ADS_1


Dion lagi-lagi di kejutkan oleh suara yang sama. Sontak ia menoleh ke samping.


Memang sih, mini market ini tidak terlalu besar, tapi kenapa harus bertemu dengan orang yang sama. Sok tau pula! batin Dion.


"Saya sarankan ambil yang ini saja, bahanya bagus, menyerap keringat dan lentur muat untuk ukuran segini sampai segini, " ujar bapak itu sambil menggerakkan kedua tangannya, menggantung ke udara tepat di depan dada. Menyempit lalu melebar ke samping.


Kening Dion berkerut. Tidak menyangka, sebegitu detailnya orang di hadapanya saat ini terhadap urusan yang sering kali di abaikan oleh para suami, dan cenderung kebanyakan laki-laki malu untuk melakukanya. Bahagia sekali pasti seseorang yang menjadi istrinya, pikir Dion.


Meski sedikit risih, tapi ada untungnya juga bertemu dengan bapak itu--cukup membantu. Setelah itu Dion kembali mengucapkan terima kasih, kemudian segera menuju kasir. Merasa kasihan dengan Zahra, sudah menunggu terlalu lama.


"Beliin pacarnya ya, Mas?" Tampak mbak kasir senyum-senyum sambil mentotal barang yang di sodorkan Dion di atas meja.


Dion mendengus, "Harus ya, belanja seperti di interview dulu," ucapnya dingin.


"Ya jarang aja gitu. Yang kayak Mas itu udah langka, Seribu Satu di jaman sekarang," ujar si mbak kasir sambil mengerling genit.


Dion memutar bola mata malas.


"Anggap saja, saya Satu dari Seribu itu." ketus Dion sambil mengeluarkan lembar berwarna merah dari dalam dompet, lalu mendorong uang yang ia letakkan di atas meja itu ke arah sesembak yang sudah menundukkan kepala.


Seketika si mbak kasir pun kicep dan tidak berani menatap kilatan tajam yang di layangkan Dion.


.


"Lama banget sih?" omel Zahra, sudah memberengut kesal. Mana sudah kepanasan di tambah lagi mood yang berantakan karena siklus datang bulan.


"Iya, maaf," jawab Dion sambil menyodorkan kantung kresek yang ia tenteng.


Zahra pun menerimanya. Tanpa bertanya, ia pun mengintip isi di dalam kresek putih tersebut.


Mulut Zahra terbuka, kaget dengan apa yang di lihatnya.


"Sriusan ini Kak?" tanya Zahra tidak percaya sambil melihat barang yang di belikan kekasihnya itu. Sebungkus pembalut dan sebuah kotak berwarna bening yang berisi Dua buah CD di dalamnya.


"Gue, nggak tau itu cocok atau nggak," jawab Dion, memposisikan tubuhnya di balik stang kemudi sambil memakai helmnya kembali.


"Makasih ya, Kak?" ucapnya senang. Apa yang di berikan Dion sesuai seleranya.


"Kok bisa tau?" lirih Zahra saat Dion melajukan kembali motornya. "Ah, bodo amat, anggap aja kode alam kalo kita memang jodoh."


Ternyata di balik berharganya uang Dua ribu, ada kepedulian dan perhatian yang tak terduga.


Hanya berjarak sekitar Tiga ratus meter dari mini market, Dion kembali menghentikan motornya di depan sebuah toko baju. Sama seperti sebelumnya Dion menyuruh Zahra menunggu di atas motor. Meski kali ini tidak ada tukang parkir di sana.


Melainkan kemeja yang di kenakan Zahra untuk menutup tubuh bagian belakang, kini sudah ikut terkena noda.


Dion kembali dalam waktu Sepuluh menit sambil menenteng paper bag.


Lagi-lagi Zahra di buat terkejut. Dion membelikanya Satu stel baju. Ternyata selera fashion kekasihnya itu cukup bagus.


"Gimana, cocok gak Kak?" tanya Zahra setelah mengganti pakaianya. Setelah dari toko baju, Dion mencari pom bensin untuk menumpang ke kamar mandi agar kekasihnya itu bisa berganti.


Dion yang duduk di atas motor, menunggu, menggut-manggut setuju, "Cantik,"


Zahra tersipu malu, semburat merah terpampang jelas di pipinya.


"Maksud gue, bajunya yang cantik," ralat Dion, sengaja menggoda Zahra.


Zahra mencebik, kecewa.


Sedangkan Dion menahan senyum melihat wajah menggemaskan kekasihnya itu ketika ngambek.


.


Dion memandang punggung gadis itu berlalu dari hadapanya. Untuk pertama kali, Dion merasa ingin terus memandang wajah manis itu, tidak ingin kebersamaanya kali ini cepat berakhir.


Tidak menyangka, jika sebelumnya hal yang di alami kekasihnya itu dianggap sesuatu yang merepotkan, tetapi kenyataanya justru memberikan pengalaman yang berkesan.


Dia gadis manja, berisik, ceplas-ceplos, tapi entah kenapa melihatnya tersenyum, merajuk bahkan mengomel sekalipun membuat hidup Dion yang semula abu-abu, kini perlahan menghadirkan setitik warna yang singgah.


"Jika nanti kamu tahu siapa aku, apa kamu tetap mau menerimaku, Zahra?" ucapnya setelah sang gadis lenyap dari pandangan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan bosan kasih like, komen dan votenya ya?🙏😊😘


__ADS_2