
"Belum tidur Mas?" tanya Alina pada Haikal yang sedang duduk sendiri di teras Villa sambil mengutak-atik ponselnya.
Haikal menoleh dan tersenyum, "Belum," jawabnya singkat.
"Boleh aku temenin?" tawar Alina ragu, meski ia tahu Haikal tidak mungkin menolak.
"Oh iya, silahkan," Haikal menjulurkan tangan ke arah kursi yang ada di sebrang tempat duduknya saat ini.
Alina pun beranjak ke arah kursi yang di tunjuk Haikal.
"Dingin ya Mas?" basa-basi Alina menyilangkan kedua tangan sambil mengusap-usap lenganya. Entah sengaja atau tidak perempuan itu hanya menggunakan setelan piyama berlengan pendek di daerah yang terkenal dengan suhu dingin seperti saat ini.
Haikal kembali menegakkan wajahnya, melihat ke arah Alina yang tampak kedinginan sambil menggerak-gerakkan kaki, "Ini pakai," Duda satu anak itu mencopot jaketnya lalu mengulurkanya kearah Alina.
Alina menatap ragu kearah Haikal, "Beneran Mas?"
Haikal tersenyum, "Iya, ayo pakai. Nanti keburu masuk angin,"
Alina pun menerimanya, "Tapi, kamu gimana?" tanyanya kemudian. Ingin rasanya perempuan itu bersorak kegirangan. Namun, sebisa mungkin harus ia tahan. Karena bagaimanapun perempuan itu harus jaga image sebagai selayaknya seorang wanita yang anggun dan elegan.
"Gak apa-apa. Ini sudah cukup," jawab Haikal menunjukkan baju lengan panjang yang ia kenakan.
Pria itu pun kembali fokus pada benda pipih yang ada di tanganya.
"Lagi sibuk sama siapa sih Mas?" Alina merasa kesal, hampir Tiga puluh menit ia berada di situ, Haikal sama sekali tidak mengajaknya bicara.
"Oh ini lagi ngecek email masuk dari para mahasiswa yang mengirim tugas," jawab Haikal tanpa mengalihkan pandanganya.
Meskipun Alina dan Haikal dalam seminggu ini sudah mulai intens berkomunikasi lewat media sosial, itupun Alina yang selalu memulainya terlebih dahulu, ternyata di kehidupan nyata Haikal juga tidak menunjukkan sikap aktif. Masih terlihat datar-datar saja.
Alina berdiri lalu menghentakkan kakinya ingin segera pergi, ia merasa keberadaanya hanya dianggap angin oleh Haikal.
"Mau kemana Lin?" tanya Haikal ketika Alina lewat di depanya.
Alina berhenti, "Mau balik ke kamar, percuma disini hanya dianggap patung," sindirnya dengan nada ketus.
Haikal meletakkan ponselnya di atas meja, lalu berdiri dengan menyelipkan kedua tangan di saku celananya, "Oh, jadi ngambek? Iya deh maaf,"
Alina tidak menjawab, perempuan itu memalingkan wajah melipat kedua tanganya di depan dada.
"Besok pagi, mau nggak temenin aku dan Elif jalan-jalan?" tawar Haikal dengan intonasi pelan.
Alina tak bergeming, masih setia membelakangi Haikal.
"Ya sudah, kalau nggak mau ya nggak apa-apa," pungkas Haikal, "Jangan lama-lama kalau ngambek, nanti cantiknya hilang," lanjutnya menggoda.
Alina tersenyum kembali dan pipinya pun merona. Beruntung saat ini Haikal berada di belakanya, kalau tidak sudah pasti Alina akan sangat malu jika Haikal tau.
"Iya, aku ma--" ucap Alina terpotong saat berbalik melihat Haikal sudah pergi entah kemana.
"Dasar laki-laki nggak peka!" gerundel Alina, sendiri. Kembali Alina menghentakan satu kakinya hendak melangkah masuk dengan bibir mengerucut.
Saat akan masuk ke pintu utama, Alina melihat Haikal keluar dari arah dapur membawa Dua cangkir di tanganya. Perempuan itu pun tidak tahu pasti isinya apa.
__ADS_1
Segera Alina mengambil posisi duduk, menunggu Haikal yang sudah membawakan sesuatu untuknya.
"Ternyata dia romantis juga," lirih Alina sambil senyum-senyum.
"Jangan senyum-senyum terus, nanti giginya beku lho," sindir Haikal, menyadarkan Alina dari lamunan.
"Eh," Alina terhenyak melihat Haikal sudah duduk di posisinya semula. Pipi mulusnya kembali memerah karena kepergok tengah melamun sambil senyum-senyum sendiri.
"Di minum dulu Kopi Jahenya, biar hangat," Haikal menunjuk cangkir kopi yang sudah ia letakkan di depan Alina.
"Hah, Kopi Jahe Mas?" Alina tampak terkejut.
"Iya," Haikal mengangguk, "Kenapa nggak suka?" tanya Haikal melihat ekspresi wajah Alina yang tidak bisa di tebak.
"Su ... Suka kok," jawab Alina terbata lalu menyambar cangkir kopi yang ada di atas meja, kemudian menyesapnya.
"Jadi gimana, dengan tawaran aku tadi?" Haikal mengulang pertanyaan yang belum ia dengar jawabanya.
Dengan malu-malu Alina mengangguk, tersenyum simpul.
Saat perbincangan baru dimulai, tiba-tiba Haikal mendengar tangisan anaknya. Segera pria itu berpamitan pada perempuan di hadapanya untuk kembali masuk. Karena Haikal tidak mau mengganggu waktu istirahat rekan sekamarnya.
____
Keesokan hari ...
"Mas, kamu udah mandi belum sih?" Tanya Khadija saat menyusuri jalan utama dengan hamparan kebun teh di sisi kanan kirinya. Niat awal untuk berlari pagi, tetapi karena lutut Khadija terasa sedikit nyeri maka mereka berdua memilih untuk berjalan santai.
Hafiz yang tengah merangkulnya dari samping, lalu menoleh, "Belum," jawabnya sambil nyengir.
Berjalan berada di samping suaminya, Khadija yang melingkarkan sebelah tangan di pinggang pria itu lalu kembali menoleh dengan sedikit mengangkat wajahnya, "Pantes bau?" ledek Khadija pura-pura menutup hidung. Meskipun suminya itu belum mandi, tetapi pria itu tetap beraroma wangi.
"Kalau bau, kenapa nempel-nempel?" sindir Hafiz menjawil dagu istrinya.
"Ya sudah, aku nempelnya sama Mas Haikal saja," goda Khadija. Sebagai bumbu menambah keromantisan saat liburan, sekali-kali boleh lah membuat suaminya itu kesal dan salah satunya membuat pria itu cemburu. Pikirnya.
Seketika Hafiz menghentikan langkah kakinya, menatap tajam ke arah perempuan yang ada disampingnya.
Sebelum mendapat balasan dari Hafiz, Khadija segera melangkah mendahului suaminya itu kemudian berjalan mundur menghadap pria tersebut, "Cie, ngambek ya?" Khadija terus berusaha menggoda pria yang sudah memasang wajah cemberut.
Hafiz tahu jika istrinya itu sedang menggoda, tetapi entah kenapa, segala sesuatu yang bersangkutan dengan mantan dari istrinya itu, terlebih jika perempuan itu menyebut nama Haikal dengan sengaja ada rasa tidak terima dalam hatinya.
Hafiz tidak bergeming dengan segala usaha sang istri untuk membujuknya, meski ia tidak benar-benar marah.
Sambil terus berjalan, Hafiz hanya membuang muka sambil memikirkan rencana untuk membalas keusilan Khadija.
Khadija yang merasa usahanya sia-sia akhirnya menyerah dan kembali ke samping suaminya dengan melingkarkan kedua tangan di pinggang pria tersebut, "Mas, jangan marah?" rengek Khadija menengadahkan wajah ke arah pria yang lebih tinggi darinya.
Hafiz tersenyum miring, masih setia memalingkan wajahnya. Kena kamu, batinya.
Timbul ide konyol, saat Hafiz melihat segerombolan gadis yang tengah duduk-duduk di pinggir jalan, mengistirahatkan diri setelah berlari pagi. Terlihat dari kaos Almamater yang dikenakan para gadis itu, rupanya mereka adalah para mahasiswi yang sedang berlibur atau sedang ada kegiatan lain.
Hafiz mengambil langkah cepat mendahului Khadija, hendak menghampiri para gadis yang tengah berselonjor kaki di tepi jalan.
__ADS_1
Khadija pun membiarkan suaminya itu, pikirnya pria itu masih marah. Dan akan kembali merayunya ketika nanti di ranjang.
"Hai, boleh bergabung?" sapa Hafiz ramah.
Kelima gadis itu pun seketika mendongak melihat ke asal suara. Tanpa menjawab kelimanya pun mengangguk kompak dengan tatapan takjub.
Meski belum mandi, tetapi tidak mengurangi aura ketampanan dari Ayah satu anak itu. Dengan hanya memakai training panjang berwarna abu tua dan kaos oblong warna putih yang tertempel pas dibadan semakin membuat penampilan Hafiz semakin menawan.
"Cindy," salah seorang dari mereka berdiri dan mengulurkan tangan.
Hafiz pun tersenyum menyambut tangan gadis itu dan menyebutkan namanya. Sekilas ia melirik ke arah istrinya yang berada Seratus meter dari tempatnya berdiri saat ini.
Khadija memasang tampang kesal yang bersungut-sungut karena cemburu dan itulah yang Hafiz mau.
"Ja, itu suami kamu kenapa?" tanya Dio yang sudah berada di sebelah Khadija.
Dio merasa ada yang aneh dari sahabatnya itu. Perangai Hafiz yang cuek tiba-tiba berubah menjadi genit terlebih pada gadis-gadis bau kencur seperti mereka.
"Kayanya Carel kesambet deh?" timpal Clara yang juga merasa heran dengan sahabat suaminya itu. Dimata Clara, Hafiz bukanlah sosok pria agresif di banding Dio dan Aslan.
"Wah, wah, wah, ndak bisa di biarin itu Mbak," imbuh Aisyah mengkompori saat melihat kakak iparnya itu sedang mengutak atik ponselnya seperti sedang mencatat nomor telepon dari para gadis-gadis itu.
Khadija diam tak bergeming, tidak menanggapi ucapan orang-orang disebelahnya. Tatapan tajam matanya terfokus melihat apa yang akan dilakukan oleh Hafiz selanjutnya.
Dada Khadija bergemuruh melihat suaminya yang sedang ketawa-ketiwi mengumbar privasi dengan saling bertukar nomor telepon. Bahkan ada salah seorang dari mereka berani meminta untuk berfoto selfie, tampak dengan senang Hafiz melayani.
Sama halnya dengan Khadija, Aslan memilih tidak bersuara sambil terus memperhatikan gerak-gerik kakak iparnya tersebut.
"Jangan Mas," cegah Khadija menahan bahu Aslan ketika pria itu hendak melangkahkan kakinya dengan tangan terkepal dan rahang yang mengerat.
Aslan sudah tidak tahan melihat sikap sahabatnya yang sudah keterlaluan tanpa mengetahui penyebabnya.
"Awas kamu Mas!" Khadija berbalik menghentakkan kakinya kesal berjalan kearah pulang menuju Villa.
Dio, Clara, Aslan dan Aisyah pun ikut berbalik mengikuti langkah cepat Khadija. Mereka takut terjadi sesuatu dengan perempuan itu tanpa memperdulikan lagi Hafiz yang masih berada di ujung sana.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
Penasaran dengan kemarahan Khadija yang biasa terlihat lemah lembut? Ikuti terus ya ...
Jangan lupa kasih terus Like, Komen, dan Votenya...🙏😉☺
__ADS_1