
Setelah mempersilahkan ibu mertuanya untuk beristirahat di kamar yang telah di siapkanya, Khadija segera bergegas beralih ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk keluarganya.
Karena Hafiz dan Khadija tidak memiliki asisten rumah tangga, jadi semua pekerjaan rumah tangga Khadija sendiri yang mengerjakanya.
Sudah pernah Hafiz menawarkan untuk menyewa jasa ART, namun Khadija menolak, dengan alasan ia masih mampu mengerjakan semuanya sendiri. Menurutnya, toh ia juga tidak banyak memiliki kegiatan. Untuk mengasuh Zahra pun sudah ada Baby sitter yang membantunya.
Satu jam berlalu, Empat macam menu sederhana sudah selesai di rampungkanya, tinggal menatanya di atas meja.
"Khadija, ada yang bisa Mama bantu nak?" Tanya sang ibu mertua melihat menantunya tengah berkutat di dapur menyiapkan makanan.
"Eh, Mama sudah bangun?" Khadija menoleh sembari tersenyum. "Ndak usah Ma, ini sudah hampir selesai." Khadija berjalan menghampiri ibu mertuanya, lalu mengajaknya untuk duduk di kursi meja makan.
"Sayang, sudah selesai masaknya?" Tanya Hafiz yang baru datang dari arah kamar. Sudah rapi dengan setelan baju koko dan sarung yang membuatnya semakin menawan.
"Udah Mas." Jawab Khadija ketika Hafiz sudah berada di hadapanya.
"Mama sudah bangun juga?" Tanya Hafiz melihat sang Ibu sudah duduk manis di kursi meja makan. "Kita Shalat Dzuhur dulu yuk?" Lanjut Hafiz mengajak kedua wanitanya.
Sang ibu tertunduk lesu, "Tapi, Mama lupa caranya Shalat." Ucapnya menahan malu.
Tidak jauh beda dengan Hafiz waktu dulu, Ibunya pun ternyata sudah lama meninggalkan kewajibanya sebagai seorang muslim, hingga lupa bagaimana tata cara pelaksanaanya.
Khadija mendekat, dan merangkul ibu mertuanya dari samping, "Mama jangan khawatir, kita punya imam yang siap membimbing." Khadija menatap sang Suami.
"Aku?" Hafiz tampak terkejut dengan menunjuk wajahnya sendiri.
Sang ibu pun ikut menoleh ke arah Hafiz yang berdiri di sebelahnya.
"Hhmmm..." Khadija mengangguk.
"Subhanalloh...Mama tidak menyangka, ternyata kamu sudah berubah sejauh ini nak?" Sang ibu berdiri membelai wajah tampan Putranya dengan tersenyum bangga.
"Alhamdulillah Ma, Alloh memberikan hidayahnya pada Carel dengan mengirimkan Bidadari surga seperti Khadija."
"Ndak usah berlebihan toh Mas, semua itu karena diri Mas sendiri yang mau berubah."
" Sekarang Mama bersyukur berada diantara kalian berdua. Bimbing Mama kembali ke jalanya." Sang ibu merangkul Putra dan menantunya dengan penuh bahagia.
"Ya sudah Mas, kalau begitu aku mau siap-siap dulu." Pamit Khadija setelah rangkulan sang Ibu mertua terlapas.
"Iya sayang." Balas Hafiz pada istrinya. "Ayo Ma, Carel antar untuk ambil wudhu?" Ajak Hafiz pada sang Ibu. Jika Ibunya lupa akan tata cara Shalat, berarti begitu juga dengan tata cara berwudhunya.
Kemudian Khadija berlalu menuju kamar Zahra untuk mengajaknya Shalat berjamaah sekalian dengan Baby sitternya.
Shalat berjamaah pun di laksanakan yang di pimpin oleh Hafiz sebagai imam, dengan bertambah Satu makmum baru yang tak lain adalah Ibunya sendiri.
Setelah selesai malaksanakan Shalat Dzuhur, lalu dilanjutkan dengan acara makan siang bersama.
"Zahra mau di suapin Oma, sayang?" Tawar sang nenek pada cucunya ketika mereka sudah duduk berdampingan.
"Zahla udah besal Oma, jadi Zahla bisa maem cendili." Jawab Zahra dengan logat cadelnya.
"Pinter sekali cucu Oma." Puji sang nenek sembari membelai rambut lurus Zahra. "Padahal dulu Papa kamu, seusia kamu ini makanya masih di suapin terus minum susu masih pakai dot."
__ADS_1
Hafiz membulatkan matanya mendengar sang Ibu mengenang masa kecilnya dengan membuka aibnya. "Mama?" Pekik Hafiz pelan, namun sang Ibu tak menghiraukanya.
Semua orang pun tertawa termasuk juga dengan Zahra. Suasana Makan siang kali ini di warnai canda tawa, lebih ramai dari biasanya, dengan kehadiran satu orang di antara mereka. Meski Hafiz harus menahan malu akibat ulah sang Ibu yang membongkar rahasia masa kecilnya.
"Ish...ish...ish...Papa, tak patut!" Zahra menggoyangkan jari telunjuknya kekiri dan kekanan.
***
"Mas, aku mau ke Supermarket, belanja bulanan," Pamit Khadija pada suaminya saat berada di dalam kamar. Bersiap di depan kaca memasang hijabnya.
Selesai dengan acara makan siang, Zahra di ajak sang nenek jalan-jalan bersama pengasuhnya. Karena sang nenek ingin menghabiskan waktunya bersama sang cucu, untuk mengobati kerinduanya serta menghilangkan fikiran stres yang selama ini melanda.
"Ya sudah, biar aku antar."
"Bukanya, kamu mau berangkat ke Rumah sakit?" Menatap Hafiz dari pantulan cermin.
"Kan bisa nanti gantian, kamu temani aku ke Rumah sakit?" Hafiz berjalan menghampiri istrinya.
"Tapi Zahra..."
"....Zahra ada Mama, jadi hari ini kita bisa berduaan." Ucap Hafiz manja, sembari melingkarkan lenganya dileher Khadija dari belakang.
Hafiz memiringkan kepalanya menatap pada Istrinya yang tengah memoleskan Liptint di bibirnya.
"Udah jangan cantik-cantik sayang, nanti aku tambah cinta, gimana?"
Khadija menghentikan kegiatanya, menoleh sekilas pada Hafis yang masih setia menatapnya, "Ya Alhamdulillah...kalau kamu tambah cinta, berarti aku juga tambah sayang." Balas Khadija jujur akan perasaanya pada Hafiz saat ini.
"Lebay!" Khadija menggelengkan kepalanya, tidak menyangka Hafiz yang dulu ia kenal adalah sosok Pria yang pendiam dan cuek sekarang berubah menjadi sedikit alay. Meskipun itu hanya dilakukan Hafiz saat di depan Khadija dan kedua sahabatnya. Selebihnya Hafiz akan bersikap seperti biasa, Stay cool apabila berada di depan umum.
Hafiz melajukan mobil sportnya dibawah teriknya cuaca di siang hari, mengantar istri tercintanya ke tempat tujuan.
Setelah sampai di tempat tujuan, Hafiz selalu menggandeng istrinya, seakan tidak mau terlepas dari genggamanya. Meski terkadang Khadija merasa jengah dengan keposesifan suaminya, namun ia mengerti jika itu adalah wujud rasa sayang Hafiz terhadapnya.
Satu persatu Khadija memasukan barang-barang kebutuhan keluarganya untuk jatah sebulan kedepan ke dalam troli yang di dorong suaminya.
"Sayang, coba lihat?"
"Hhmm..." Khadija berdehem tanpa menoleh ke arah suaminya. Matanya sibuk menjelajah mencari-cari barang yang belum ditemukanya.
"Kira-kira segini pas gak dengan punya kamu?"
Khadija mengerutkan keningnya mendengar ucapan sang suami yang masih tertinggal di belakangnya. Lalu ia putuskan untuk melihat ke arah suaminya, karena Khadija merasa ada yang aneh.
"Hah~..." Khadija terperangah melihat suaminya yang tengah memilih barang yang jarang di lakukan oleh seorang Pria. Hafiz tampak menimang-nimang ukuran milik istrinya menggunakan cengkraman tanganya.
"Mas!" Cicit Khadija berjalan kembali menghampiri suaminya dan merebut barang yang ada di tangan Hafiz.
" Ngapain toh, kamu milih-milih BH?" Tanya Khadija setengah berbisik.
"Kan aku milih buat kamu?" Jawab Hafiz dengan wajah innocent.
"Ndak usah, punyaku udah banyak!" Tolak Khadija menarik tangan Hafiz untuk meninggalkan tempat yang jarang di kunjungi oleh para Pria.
__ADS_1
"Tunggu sayang, ini bagus buat kamu, bentuknya lucu!" Hafiz masih belum menyerah, diraihnya satu BH yang sebelumnya udah di pilih.
"Lucu dari mana, dari dulu bentuknya udah kaya gitu!" Gerutu Khadija, "Ya sudah terserah kamu! Udah ayo pergi, kamu di lihatin banyak orang." Potong Khadija sambil berlalu dengan menggandeng suaminya.
Terpaksa Khadija mengiyakan, karena Khadija merasa malu, ada beberapa anak ABG yang turut memperhatikan tingkah suaminya. Namun orang yang di maksud hanya cuek bebek tidak peduli anggapan orang kepadanya.
Kemudian Khadija menarik Hafiz menuju area sayur-sayuran, meski Khadija tidak berniat membeli sayuran, namun untuk sementara itu pilihan terbaik dari pada harus bertahan di tempat sebelumnya.
Jika biasanya Khadija membeli sayuran di pasar tradisional, untuk kali ini ia terpaksa membelinya di Supermarket demi menghindari keabsurdtan suaminya.
Khadija mulai memasukan beberapa buah-buahan dan sayuran yang ia butuhkan.
"Mas, buat apa beli tauge banyak sekali?" Tanya Khadija melihat Hafiz begitu antusias memasukan jenis sayuran satu ini kedalam keranjang.
"Ini itu bagus sayang, untuk kita yang lagi Promil, sayur ini bagus untuk kesuburan rahim kamu?" Wajar Hafiz mengerti, jangan pernah lupakan Profesinya.
"Tapi ya ndak sebanyak ini Mas?" Cegah Khadija, mengembalikan beberapa bungkus yang sudah diambil Hafiz, menatanya kembali di atas rak dan menyisakan setengahnya.
Setelah menuntaskan acara berbelanja, Hafiz dan Khadija segera beranjak menuju kasir untuk membayar semua barang yang telah di pilihnya.
Namun Hafiz berhenti sejenak, ketika ponsel yang ada di saku celananya berdering.
"Waalaikum Salam...Hhmmm, iya ada apa?"
"(....)"
"Oke, saya segera kesana!"
Tut...
"Ada apa Mas?" Tanya Khadija melihat suaminya yang mendadak menjadi panik.
"Emergency sayang! Ayo cepat kita bayar dulu, setelah itu kita ke Rumah Sakit."
.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Kira-kira apa yang membuat Hafiz panik?🤔
Jangan lupa Like dan Komenya ya?
Author mohon kerja samanya, tinggalkan komen-komen kalian para Readersku yang budiman...🙏🙏🙏*
__ADS_1