
"Sayang minggu depan, kita di ajakin Aslan liburan," ujar Hafiz memberitahu istrinya selepas pulang kerja saat berada di rumah.
Pria itu kini tengah membaringkan tubuhnya yang terasa lelah di atas tempat tidur, masih lengkap mengenakan setelan baju kerja yang ia pakai seharian tadi.
Sekembalinya Khadija mengantar Aisyah, hanya ada Aslan di ruangan Hafiz.
Aslan pun memberitahu Khadija, jika suaminya itu tengah ada pasien gawat darurat yang harus segera di tangani.
Khadija mengerti, lalu ia memutuskan untuk kembali ke toko dengan menumpang di mobil Aslan dan akan memberitahu suaminya melalui pesan singkat yang ia kirimkan.
"Kemana?" tanya Khadija sembari meletakan tas kerja sang suami di atas meja kerja yang ada di ruangan itu.
"Ke puncak,"
"Boleh ngajak Mbak Alina ya Mas?" pinta Khadija, tiba-tiba terbesit ide terselubung yang di rencanakan perempuan itu.
Hafiz mengangkat kepala, "Ngapain ngajak dia?"
Khadija pun mendekat, lalu duduk di samping suaminya, "Tambah rame kan jadi seru, lagian minggu depan Papa, Mama sama Mbak Ina kan mau jenguk Ibunya Mbak Ina di kampung. Kan kasihan kalo dia sendiri di rumah," Khadija mencoba membujuk suaminya yang tampak enggan mengajak mantan istrinya itu.
Hafiz sejenak menimang-nimang permintaan istrinya, "Coba aku tanya Aslan dulu, tempatnya ada apa gak?" Hafiz merogoh ponsel dari saku celananya hendak menelepon Aslan si pemilik rencana.
"Sekalian ntar kalau ada tempatnya, kita ajak Leni dan Sari juga," imbuh Khadija pada sang suami saat seseorang di seberang sana belum mengangkat panggilanya.
Hanya dalam hitungan detik akhirnya Aslan menjawab panggilan dari Hafiz. Mereka berbincang sebentar sesuai dengan pertanyaan yang akan di ajukan.
"Gimana Mas?" tanya Khadija saat Hafiz baru mematikan sambunganya.
"Iya boleh," jawab Hafiz singkat. Aslan ternyata menyambut dengan senang hati. Sama dengan apa yang di fikirkan khadija, semakin banyak yang ikut maka suasana liburan akan semakin menyenangkan. Karena memang ada Dua Villa yang di sediakan.
Setelah mendapat persetujuan, Khadija beralih membantu suaminya melepaskan dasi yang masih terikat dan membuka Satu persatu kancing kemeja kemudian melepaskanya. Lalu menarik tubuh besar pria itu untuk kembali tegak. Menyuruhnya agar lekas mandi karena hari sudah semakin sore.
Namun, apa yang terjadi? Tenaga Khadija selalu kalah kuat hingga membuatnya seringkali jatuh terjengkang.
"Cepet mandi, udah sore! Belum Shalat Ashar kan?" omel Khadija sambil berusaha membangunkan tubuhnya.
"Maaaaaasss ..." Lagi-lagi tubuh perempuan itu terjerembab di atas tempat tidur karena tarikan dari suaminya.
Hafiz sering kali berbuat usil kepada istrinya, terlebih jika perempuan itu sudah dalam keadaan rapi.
"Main dulu yuk Bund?" Hafiz sudah memposisikan diri di atas tubuh istrinya.
"Aku udah mandi Mas?" rengek Khadija, memukul pelan dada pria yang bertengger di atasnya.
"Gak papa nanti aku mandiin lagi," goda Hafiz mengerlingkan sebelah mata, "Sepuluh menit," bujuknya.
"Gak ma ..."
"Nolak dooooo ..."
"... Saaaa," Khadija melanjutkan kata-kata keramat dari suaminya, "Sebentar aja ya? Aku capek," tawarnya setelah menyerah.
"Ya udah kamu diem aja, biar aku yang main,"
"Beneran ya? Aku diem aja,"
"Tapi tetep mendesah ya Bund?"
Khadija memutar bola matanya malas, tanpa diminta pun pasti ia akan melakukanya, "Ahhh ... Mas Carel Hafiz Edsel," ucapnya sebelum memulai.
"Ya gak kaya orang absen juga kali Bund?" protes Hafiz.
__ADS_1
"Jadi ndak ini?" tanya Khadija memastikan, karena pertandingan tidak kunjung di mulai.
Hafiz pun mengangguk penuh semangat. Namun saat baru saja bibirnya menyentuh bibir lembab istrinya, ketukan pintu serta pekikan suara dari luar membuatnya berdecak kesal.
"Kamu sih kelamaan bernegosiasi," ledek Khadija tersenyum penuh kemenangan.
Ceklek ...
"Papa, Bunda ..." Zahra masuk kedalam setelah membuka pintu.
Sialnya Hafiz dan Khadija lupa mengunci pintu dan Beruntungnya mereka masih dalam keadaan berbusana, meski Hafiz hanya mengenakan kaos dalam.
Hafiz pun beranjak menyambut kedatangan putrinya, setelah menegakkan kembali tubuhnya.
***
Di rumah yang sama tetapi di ruangan yang berbeda, Alina sedang berguling-guling di kamar, diatas tempat tidurnya.
Berulangkali perempuan itu merubah posisinya, entah apa maksudnya. Alina mengangkat ponselnya ke udara lalu menatapnya.
Hanya Walpaper gambar dirinya yang tertera. Dengan ragu jari telunjuknya ia arahkan ke aplikasi berwarna hijau berlogo gagang telepon.
"Chart gak ya?" gumamnya bimbang. Ingin sekali ia mengirim pesan kepada pria yang tadi siang memberikan nomor telepon sekaligus nomor WA.
Bukan Haikal yang memberi, tetapi Alina yang meminta dengan alasan, ia akan menelpon pria tersebut jika mobilnya kembali mengalami kebocoran atau pecah ban. Namun, itu hanya canda Alina untuk mencairkan kecanggungan.
[P] Hanya ceklist Dua berwarna abu.
Dengan harap-harap cemas Alina menunggu balasan dari seseorang di seberang sana.
Tidak lama centang susah berubah warna menjadi biru, dan di bagian paling atas tertera notif 'sedang mengetik'
[Assalamualaikum] Kata salam, balas dari Haikal.
[Waalaikum Salam (emot nyengir)]
[(emot senyum)] Balasan dari Haikal.
Reflek bibir Alina ikut tersenyum, dan menunggu balasan selanjutnya.
Hingga Sepuluh menit berlalu tidak sepatah kata pun masuk di chart percakapan berikutnya.
"Masa gak ada basa-basinya sih itu orang," Alina mendumal sendiri. Ia membanting ponselnya di atas kasur. Merasa kesal balasan dari Haikal begitu singkat dan padat, tidak ada basa-basi sama sekali.
Ting ...
Notif pesan masuk, dengan cepat Alina menyambar kembali ponselnya.
[Alin Sayang ... Nanti malem kita malam mingguan yuk?]
Bibir Alina seketika mencebik, "Kenapa harus Fino sih? Kan aku berharapnya Mas Haikal," Alina mengeratkan giginya, geram.
sambil meremas ponselnya.
Saat akan membalas pesan dari Fino, ponselnya kembali bergetar, ada pesan masuk dengan nama kontak 'Imam masa depan'.
[Sudah Shalat Ashar?]
Spontan Alina kembali tersenyum lebar mendapat pesan pertanyaan dari Haikal. Ia merasa pria di seberang sana tengah memberi perhatian kepadanya.
Andai saat ini perempuan itu tidak sedang berhalangan mungkin dengan cepat ia melonjak dari kasur, melaksanakan Shalat Ashar yang biasa jarang ia lakukan.
__ADS_1
[Maaf Mas, lagi berhalangan.]
Alina mengulum senyum, hatinya luar biasa gembira hingga mengabaikan pesan dari Fino.
[Oh]
Secercah harapan untuk Alina membuka percakapan, meski hanya mendapat balasan ber oh ria.
[Lagi ngapain sekarang?]
[Ini lagi nemenin Elif main, sambil nunggu Maghrib]
Alina memeluk poselnya, "Papa idaman banget sih kamu Mas?" gumamnya. Hal yang wajar di lakukan seorang Ayah jika sedang menemani putrinya bermain. Namun, berbeda dengan Alina ia menganggap apa yang di lakukan Haikal adalah perbuatan yang mengagumkan.
[Good Daddy]
[Mau dong, ditemenin main seperti Elif?]
"Kok kesanya, aku lagi ngegombal sih?" lirih Alina sadar akan kata-kata yang baru saja ia kirim. Ingin menghapus, tapi sial sudah lebih dulu terbaca oleh Haikal.
Dengan cepat kedua jempolnya bergerak, ingin meralat kalimatnya sebelum Haikal mengirim pesan balasan untuknya.
[Eh, maksudnya ... Aku yang temenin Elif main.]
[Boleh.]
Kening Alina mengernyit saat pesan yang baru ia kirim belum terbaca, secara bersamaan ada pesan yang masuk dan langsung terbaca olehnya.
"Hah, jadi maksudnya kapan-kapan dia mau nemenin aku?" Rasanya kini Alina tengah melayang diatas awan, saking bahagianya.
[Kamu itu dari tadi ngetik terus, tapi chart aku gak di balas-balas!]
[Jadi gimana mau gak?]
[Oke, ntar malem aku jemput.]
Pesan bertubi-tubi dari Fino.
"Apaan sih ini bule, ngerusak suasana banget! Main jemput-jemput aja, kan aku belum bilang setuju?" gerutu Alina kepada Fino yang entah berada dimana.
[Sorry Fin, ntar malem aku gak bisa.]
[Aku ada acara nemenin Om Bram bertemu Client.]
Dusta Alina menolak ajakan Fino dengan mengatasnamakan pekerjaan. Dengan begitu Fino pasti akan mengerti dan tidak lagi memaksa.
Alina ingin malam minggunya kali ini hanya berdiam di dalam kamar sambil berbalas pesan dengan sang pria pujaan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya?🙏😙😘