Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Rencana


__ADS_3

"Aisyah, selamat ya Dek?" Khadija yang baru saja datang langsung memeluk sang adik yang tengah duduk bersandar di ranjang kamar pribadinya.


Selepas pulang dari Rumah Sakit, Hafiz langsung memberi kabar kepada Khadija, jika ia membawa kabar gembira.


Aisyah hamil.


Setelah mendengar kabar yang dibawa suaminya, Khadija merengek pada Hafiz agar diantar menemui adiknya.


"Anterin yo Mas, ke rumah Mas Aslan? aku ingin lihat keadaan Aisyah." Pinta Khadija sembari membantu melepas kancing kemeja suaminya.


"Boleh, tapi dengan satu syarat?" Modus Hafiz mengangkat jari telunjuknya.


"Apa?" Tanya Khadija dengan menarik satu alisnya.


"Setelah dari rumah Aslan, kita harus buat adik buat Zahra!" Hafiz mendekatkan wajahnya ke wajah Khadija dengan menebar senyuman nakal di bibirnya.


Khadija mengerjap, seketika memundurkan kepalanya.


Tanpa perlu menunggu jawaban dari Khadija yang terlihat masih menimang-nimang penawaran darinya, Hafiz segera berlalu dari hadapan istrinya.


Setelah dua langkah ia berjalan meninggalkan istrinya, Hafiz kembali, lalu berbisik ditelinga Khadija. "Cepetan siap-siap sayang, lebih cepat lebih baik." Ucap Hafiz ambigu dengan nada menggoda.


Setelah mendapat lampu hijau atas perbuatnya semalam, Hafiz semakin tidak bisa menahan hasratnya jika sedang berdekatan dengan sang istri. Jika saat ini Khadija tidak memintanya untuk diantarkan ketempat Aisyah, bisa saja sekarang Hafiz langsung memangsa Khadija yang semakin membuatnya tergila-gila.


"Rel, Ja, aku titip Aisyah selama aku tinggal ke Luar negeri nanti." Ucap Aslan ketika mereka sudah duduk di sofa yang ada di kamarnya.


"Lo tenang aja, Aisyah sudah seperti adek gw sendiri." Jawab Hafiz sembari tersenyum.


"Mas, aku ikut aja ya sama kamu?" Aisyah memohon pada Aslan, ia tidak mau jauh dari suaminya, apalagi dari awal mereka menikah, Aslan tidak pernah meninggalkan istrinya sendiri.


"Sayang, kamu kan lagi hamil muda? Mas gak mau terjadi apa-apa sama kamu dan calon baby kita." Aslan mencoba memberi pengertian pada istrinya yang berada disampingnya sambil mengelus perut Aisyah yang masih rata.


"Benar itu Syah, terlalu riskan untuk kamu melakukan perjalanan jauh." Hafiz pun membenarkan ucapan Aslan.


"Mas janji, gak akan lama hanya Tiga bulan menyelesaikan kontrak kerja saja kok." Aslan pun sebenarnya tidak tega meninggalkan Aisyah, namun apa boleh buat demi keselamatan istri dan calon bayinya, dia harus rela untuk berjauhan sementara waktu, karena memang semua terjadi di luar rencana.


"Nanti Mbak sering-sering main kesini sama Zahra buat nemenin kamu." Imbuh Khadija.


Setelah melewati perdebatan yang sedikit alot, akhirnya dengan terpaksa Aisyah menurut apa yang di katakan semua orang.


***


" Sayang ada yang mau aku tunjukin sama kamu." Ucap Hafiz memulai topik pembicaraan saat mereka sudah ada didalam mobil menuju perjalanan pulang dari rumah Aslan.


Tangan Hafiz membuka dasboard mobil dan meraih sebuah map yang ada di dalamnya.


Hafiz menoleh ke arah Khadija sambil menyerahkan benda yang ada di tanganya. Khadija pun menerima lalu membuka map berwarna biru.


"Buku nikah?" Khadija membaca tulisan yang ada di cover buku kecil yang berwarna hijau armi dan merah maron.

__ADS_1


"Hhmmm..." Hafiz mengangguk.


"Berarti pernikahan kita sudah sah dimata hukum Mas?"


"Iya sayang...Aku minta tolong Aslan untuk mengurus semuanya, tinggal kita tanda tangan saja." Ujar Hafiz menjelaskan.


Tiga puluh menit kemudian mereka sampai ke Apartemen. Hafiz dan Khadija segera menuju kamar Zahra.


Dilihatnya Zahra masih tertidur pulas bersama Baby sitter yang ada disampingnya. Sang Beby sitter membangunkan tubuhnya saat sang majikan masuk kedalam kamar anaknya.


"Zahra tidak rewel Mbak?" Tanya Hafiz pada Baby sitter saat duduk di samping ranjang sang buah hati.


"Tidak tuan, tadi sempat terbangun tapi kemudian tidur lagi, sepertinya nona kecil ngelindur."


"Makasih yo Mbak, udah jagain Zahra." Ucap Khadija yang berdiri disamping suaminya.


"Sudah menjadi tugas saya Mbak." Sahut Baby sitter sembari tersenyum.


Seperti halnya dengan ART dirumah Hafiz dulu, Khadija menyuruh pengasuh sang Buah hati memanggilnya dengan sebutan "Mbak".


Karena Khadija tidak ingin memberikan jarak antara seorang majikan dan bawahan, bagaimanapun seorang ART maupun Baby sitter adalah orang yang sudah banyak membantu, meski dalam konteks sebagai pekerja.


Setelah puas memandang wajah damai yang sedari tadi mereka rindukan selama di rumah Aslan, Hafiz dan Khadija mencium kening Putri kecilnya bergantian sebelum mereka pergi kembali ke kamar.


Sebelum tidur, Hafiz dan Khadija menunaikan kewajibanya, Shalat isya' berjamaah yang sempat tertunda. Diakhiri ciuman tangan di punggung tangan Hafiz dan kecupan hangat di kening Khadija.


"Sayang, kenapa harus di pakai lagi hijabnya?" Tangan Hafiz menahan tangan Khadija, saat akan mengibarkan kerudung di atas kepalanya.


"Tapi, mulai sekarang kamu harus terbiasa tidak memskai hijab jika berada di depanku."


"Tapi Mas...."


"Ssssttt.." Hafiz mengarahkan jari telunjuknya di depan bibir tipis Khadija.


"Gak ada tapi-tapian, karena aku berhak atas tubuhmu dari atas kepala sampai ujung kaki tanpa satupun harus ditutupi.


Lalu Hafiz menggiring Khadija, istrinya untuk duduk di depan kaca rias ya ng ada di dalam kamar.


Hafiz dengan hati-hati menyisir rambut hitam legam nan panjang milik istrinya. Khadija yang mendapat perlakuan tak biasa dari suaminya hanya bisa tersenyum dan pasrah.


"Mas..."


"Ya?" Hafiz melihat istrinya dari pantulan cermin yang ada didepanya.


"Gimana kalau kita besok ke rumah orang tua kamu?" Usul Khadija dengan ragu-ragu.


Hafiz menghentikan kegiatanya, merubah posisi, melingkarkan tanganya dileher sang istri dari belakang dengan dagu yang menopang di atas kepala.


"Apa kamu siap sayang?" Mata mereka beradu meski tak saling berhadapan.

__ADS_1


"Siap ndak siap harus siap Mas, aku merasa pernikahan kita ini kurang afdhol, tanpa restu dari orang tua." Tatapan teduh Khadija memancarkan keikhlasan tentang segala kemungkinan yang akan terjadi.


Sudah saatnya bagi Khadija untuk mengungkapkan pernikahanya terhadap orang tua Hafiz, suaminya. Segala kemungkinan yang terjadi, Khadija sudah siap menghadapi, toh kini pernikahannya dengan sang suami sudah sah secara agama maupun secara hukum. Jadi, tidak ada yang harus diragukan lagi.


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan kamu." Hafiz mensetujui ucapan Khadija, sembari mencium puncak kepala Istrinya.


Lain hal dengan Hafiz yang masih tampak ragu, ia takut jika orang tuanya terkhusus sang Ayah masih tidak mensetujui pernikahanya dengan Khadija untuk yang kedua kalinya. Sehingga membuat sang Ayah mengeluarkan kata-kata hinaan untuk sang istri. Dan masih banyak prasangka-prasangka buruk yang terlintas di benak Hafiz.


Mengingat sang Ayah adalah orang yang paling menentang perceraianya dengan mantan istrinya, Alina dan sekaligus menjadi orang yang paling senang saat Khadija pergi.


"Mas, kenapa kok diam?" Khadija memegang tangan Hafiz yang bertaut di depan dadanya.


"Gak kenapa-kenapa kok Bund?" Hafiz berusaha menyembunyikan kecemasanya dengan mengumbar senyum palsu di bibirnya.


"Bismillah saja Mas, ada Alloh yang akan membantu kita." Seakan mengerti apa yang sedang di fikirkan suaminya, Khadija mencoba memberikan ketenanga. "Ya sudah, mending sekarang kita istirahat, pasti kamu capek, mau aku pijitin gak Mas?" Ajak Khadija yang diakhiri suatu penawaran. Mengalihkan perhatian suaminya yang tampak muram, setelah ia membuka topik bahasan yang sensitif untuk hubungan mereka berdua.


Khadija bangkit dari duduknya, lalu berbalik badan menghadap suaminya. "Ya udah yuk?" Ajaknya sekali lagi sambil menggandeng sang suami menuju tempat ternyaman di dunia.


"Sini Mas, aku pijitin?" Ucap Khadija saat sudah naik ke atas ranjangnya.


Hafiz tersenyum penuh arti, memposisikan diri menghadap sang istri.


"Hadap sana Mas?" Titah Khadija pada Hafiz untuk membelakanginya.


"Aku maunya itu yang di pijit?" Mata Hafiz mengarah ke pusat intinya, dengan polos Khadija mengikuti arah tatapan suaminya.


Setelah sadar dengan apa yang di maksud Hafiz, khadija seketika beringsut dari duduknya.


"Ya sudah ndak jadi, aku ngantuk." Ucap Khadija masuk kedalam selimut. Tampaknya penawaranya kali ini salah sasaran, nyatanya Khadija berhasil membangunkan Macan jantan yang siap menerkam.


"Eh, nggak bisa lagian kamu tadi sudah janji mau bikin adek buat Zahra." Hafiz segera menyusul istrinya, menelusup kedalam selimut.


Benar saja, sang Macan jantan malam ini tidak akan membiarkan betinanya tidur dengan nyenyak.


.


.


.


.


.


*Bersambung...


Oh ya Author mau kasih kabar, gak tau ini kabar baik atau kabar buruk...jika cerita ini akan tetap author lanjut entah sampai Episode keberapa, semoga ceritanya tidak membosankan dan tidak terkesan ala-ala sinetron.


Sekali lagi mohon maaf karena Up nya telat, karena Author sibuk bersilaturrahmi.

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya ya...🙏🙏🙏*


__ADS_2