Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Datang


__ADS_3

Siang hari,


Setelah Empat hari menjalani perawatan di Rumah Sakit, akhirnya kondisi Khadija sudah di nyatakan membaik oleh suaminya sendiri, dr. Carel Hafiz Edsel Sp. OG.


"Sayang, hari ini kita langsung pulang ke Rumah Papa," ucap Hafiz ketika sudah berada didalam mobil, perjalanan pulang.


Khadija menengok pria yang ada disebelahnya, "Iya Mas," Khadija mengangguk seraya tersenyum, "Mas, hari ini Ina akan datang," lanjutnya memberitahu sang suami setelah tadi pagi sang Baby sitter mengabari akan datang kembali.


"Ya sudah nanti kirimin alamat rumah, biar sekalian dia langsung kesana."


"Tapi, dia sekarang datang membawa anaknya."


"Kenapa harus membawa anaknya?" Hafiz menoleh sekilas, lalu fokus kembali pada kemudinya.


"Ibunya sudah tua, Ina merasa kasihan jika harus menitipkan lagi anaknya,"


"Terus bagaimana dia menjaga anak kita, kalau dia nanti harus disibukan dengan anaknya sendiri?"


"Ya sudah nanti kita bicarakan lagi dengan Ina, jika dia sudah datang."


Perlahan mobil ceper berwarna hitam itu berbelok memasuki gerbang Rumah kedua orang tuanya.


Ibu dan Zahra serta para ART menyambut kedatangan Hafiz dan Khadija.


"Papaaaa, Bundaaaa..." Seru Zahra sambil berlari menghampiri sang Papa dan Bunda yang baru turun dari mobil.


"Hap..." Hafiz menangkap tubuh gadis kecil itu, dan mengangkat ke atas gendonganya.


"Papa, Bunda, Zahla kangen?" ucap Zahra melingkarkan tangan di leher sang Papa.


Selama Empat hari Khadija di rawat di Rumah Sakit, selama itu pula Hafiz tidak pernah pulang ke rumah. Pria itu merasa tidak tega jika harus meninggalkan istrinya sendirian, meski Khadija sudah menyuruhnya pulang untuk sekedar menengok putri kecil mereka.


Beberapa kali, kedua mertuanya pun sudah datang menjenguk. Namun, tidak membawa Zahra.


Perintah Khadija pun tidak di indahkan oleh Hafiz. Menurutnya melalui sambungan VC sudah cukup untuk sementara melihat kondisi Zahra.


"Sini gendong Bunda," Khadija menjulurkan tanganya ingin mengambil alih Zahra kadalam gendonganya.


"Untuk sementara kamu gak boleh angkat berat dulu Bund," tolak Hafiz, "Princes gendong Papa aja ya?" lanjut Hafiz beralih pada Zahra. Gadis kecil itu pun menarik lagi tubuhnya ketika hendak menyambut uluran tangan sang Bunda.


Setelah masuk ke dalam rumah, Hafiz langsung membawa istrinya pergi ke kamar yang sudah lama ditinggalkanya.


"Kangen juga dengan kamar ini," Mata Hafiz berkeliling mengitari setiap sudut kamarnya. Tidak ada yang berubah baik Properti maupun warna cat. Lalu Hafiz menggiring istrinya menuju tempat tidur.


"Banyak kenangan ya Mas?" tanya Khadija, ketika duduk bersandingan di tepi ranjang.


"Iya Bund," Hafiz mengangguk.


Sebagai Perempuan normal, entah kenapa Khadija merasa cemburu dengan jawaban suaminya. Tentu kenangan bersama Alina lah yang terlintas di benak Hafiz. Menurut Khadija.


"Masih belum bisa melupakan ya Mas?" Meski hatinya cemburu namun, khadija masih penasaran.


"ii...Eh, maksudnya?" Hafiz seketika menoleh kesamping. Sadar ada yang aneh dengan pertanyaan istrinya.


"Mbak Alina kan?" tebak Khadija.


Hafiz merubah posisi duduknya, menghadap sang istri yang duduk disebelahnya. Tangan Hafiz memegang kedua Bahu perempuan itu, "Sayang, percayalah gak ada maksud aku untuk mengingatnya," Hafiz berusaha menepis prasangka Khadija.

__ADS_1


"Terus kenangan yang kamu maksud?"


"Ya bersama kamu,"


"Ndak usah ngeles. Udah jelas dulu kamu cintanya sama dia. Bohong banget jika kamu punya kenangan sama aku." seloroh Khadija memasang wajah cemberut.


"Kamu cemburu ya?" goda Hafiz mencairkan suasana.


"Menurut kamu?!" ketus Khadija.


"Menurut aku, kamu cemburu." Hafiz tersenyum, "Dengerin aku, seindah apapun kenanganku bersama dia, tapi yang lebih aku ingat saat ini, kenanganku bersama kamu yang tak seberapa." ucap Hafiz jujur. Sudah tidak ada lagi kenangan yang tersisa tentang Alina.


"Gak usah mikir yang macem-macem, mending sekarang kesayangan Papa istirahat dulu." Hafiz turun dari ranjang. Diangkatnya kaki sang istri keatas tempat tidur, lalu dibaringkan tubuh Perempuan itu pelan.


"Mas, mau kemana?" Khadija menahan tangan Pria itu saat menarik selimut diatas tubuhnya.


"Gak kemana-mana. Cuma mau turun sebentar nemenin Zahra. Kasihan dia beberapa hari ini kurang perhatian dari kita." ujar Hafiz sambil membenahi selimut yang menutupi sampai batas pinggang istrinya.


"Ya sudah aku ikut. Bosen tiduran terus," ucap Khadija, sambil menyibakan kembali selimutnya.


"Tapi, gak boleh capek-capek. Bunda kan masih belum sembuh total." Hafiz mengingatkan sambil mengelus kepala belakang Istrinya. Khadija pun mengangguk menyetujuinya.


Hafiz dan Khadija pun turun kembali menghampiri sang buah hati yang tengah bermain bersama sang nenek di ruang keluarga.


"Kok tidak jadi istirahat?" tanya sang Ibu melihat anak dan menantunya berjalan menghampirinya.


"Iya Ma, pengen nemenin Zahra main," jawab Khadija.


"Papa kemana Mah?" sela Hafiz


Satu jam kemudian,


Suara bel berbunyi dari arah pintu masuk utama.Tampak Sari berlari dari arah dapur untuk membuka pintu, melihat siapa orang yang ada di balik pintu tersebut.


"Den, Mbak Dija ada Perempuan bernama Ina bersama anak kecil di depan," ucap Sari memberitahu, setelah kembali dari arah depan.


"Ya sudah biar kita kesana. Kamu bikinkan dia minum." titah Hafiz pada Sari.


Hafiz bersama Anak, Istri dan Ibunya kemudian beranjak menghampiri Ina dan anaknya yang sudah di persilahkan masuk, berada di ruang tamu.


Ina pun memberi salam kepada ketiga majikanya, dan bocah kecil yang di bawanya pun ikut menyalami Satu perSatu para orang dewasa, tidak terkecuali Zahra.


"Sayang ajak temenya main nak?" Khadija menyuruh Zahra untuk mengajak main Anak sang Baby sitter, karena ada hal yang harus ditanyakan pada Ina.


"Maaf Tuan, Mbak Dija kali ini saya datang membawa anak saya," ucap Ina membuka pembicaraan setelah putranya di ajak Zahra pergi ke halaman rumah.


Ina pun menjelaskan alasan ia membawa turut serta sang buah hati bekerja, Perempuan itu beralasan tidak ingin membebani hidup sang ibu yang sudah mulai renta.


"Terus dimana suami kamu sekarang?" tanya Ibu Hafiz penasaran akan sosok suami Ina.


Ina tertunduk, "Saya tidak tahu nyonya, apa dia pernah mencari saya atau tidak,"


Empat tahun yang lalu, ada seorang pengusaha yang datang ke Desa Ina. Pria itu datang hanya sesekali untuk meninjau proyek pembangunan jalan.


Ina yang setiap harinya bekerja di tempat usaha catering yang menyuplai makanan untuk para pekerja proyek membuatnya sering datang untuk mengantar makanan.


Perawakan Ina yang memiliki tinggi 160cm dan memiliki paras yang manis membuat Pengusaha itu tertarik.

__ADS_1


Singkat cerita, mereka berdua berkenalan dan hubungan mereka berjalan sampai Dua bulan sampai akhirnya hal yang tidak diinginkan pun terjadi, Ina hamil di luar nikah.


Beruntung Pria itu mau bertanggung jawab dan menikahi Ina secara siri. Sampai menginjak usia kandungan Tujuh bulan suami Ina masih sering datang, walaupun hanya meluangkan waktu Empat kali dalam sebulan datang untuk berkunjung.


"Memangnya suami kamu tidak tinggal bersama kamu?" tanya Ibu Hafiz semakin penasaran. Hafiz dan Khadija hanya menyimak cerita hidup sang Baby sitter.


"Tidak Nyonya, karena suami saya memiliki keluarga di Kota," jawab Ina


"Berarti kamu istri kedua?" tebak Ibu Hafiz dan tebakanya pun mendapat anggukan dari perempuan yang berada tepat di seberangya.


"Apa kamu tidak tahu sebelumnya jika dia sudah berkeluarga?" Kini Khadija ikut bersuara.


"Tidak Mbak, maka dari itu saya mau menjalani hubungan dengan dia," jawab Ina dengan mata yang berkaca-kaca, "Setelah dia sudah tidak pernah lagi datang, saya berusaha mencarinya sampai saya mendengar dari salah satu anak buahnya yang bekerja di proyek, jika suami saya itu sudah memiliki anak dan istri." jelas Ina yang sudah tidak bisa menahan lagi air matanya.


Khadija merasa iba lalu mendekat ke arah Ina, dan duduk disampingnya, membawakan Dua lembar tissue.


"Setelah saya tahu kebenaranya, saya memilih untuk pergi dan pindah dari desa itu agar suami saya tidak lagi menemui jika suatu hari suami saya datang kembali. Karena saya tidak mau di cap seorang pelakor, lebih baik saya mengalah karena memang posisi saya salah."


Khadija menarik Ina kedalam pelukanya, "Mbak Ina yang sabar ya?" Khadija memberikan sentuhan lembut di punggung Ina, guna menenangkan.


"Makasih Mbak Dija," ucap Ina setelah Khadija melepas pelukanya.


"Apa nantinya kamu bisa mengasuh anak saya dengan baik sementara kamu harus mengasuh sendiri anak kamu?" Hafiz angkat bicara, menanyakan hal yang sempat ia tanyakan pada istrinya.


"Bisa Tuan. Karena Dipta anaknya baik dan penurut jadi tidak akan mengganggu selama saya bekerja." jawab Ina menyakinkan majikanya.


"Kamu tenang saja Rel, ada Mama nanti yang akan membantu mengurus Zahra,"


"Iya Mas, ada aku juga Ibunya. Kan tugas Mbak Ina hanya membantu kita untuk menjaga Zahra."


***


"Opaaaa..." Pekik Zahra melihat sang kakek datang menghampirinya.


Pria paruh baya itu pun berjongkong di hadapan cucunya sambil terus menghujani ciuman di wajah Zahra. "Ini siapa Zahra, teman baru ya?" tanya sang Kakek.


"Iya Opa, ini temen balu Zahla namanya Dipta anaknya Mbak Ina," jawab Zahra mengenalkan teman barunya, Bocah laki-laki itu tidak memperdulikan Dua orang yang ada di hadapanya. Dipta fokus memainkan sebuah mobil-mobilan kecil miliknya.


Sang Kakek mengernyitkan keningnya setelah mendengar penuturan Zahra, "Ya sudah, Opa mau masuk dulu, ganti baju setelah itu kita main lagi," pamit sang kakek.


"Iya Opa."


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalin terus Like, Komen dan Votenya ya...🙏😊

__ADS_1


__ADS_2