Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Drama pagi hari


__ADS_3

Hafiz masuk ke dalam kamar dan melenggang santai sambil senyum-senyum, entah apa arti dari senyuman pria itu.


"Sayang?" sapa Hafiz tanpa dosa. Menghampiri istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana.


Khadija yang mendengar suara suaminya baru saja masuk, kemudian mengangkat wajah merah padam itu dan menatapnya tajam.


Bugh ... Bugh ... Bugh ...


Khadija menyambar apapun yang ada disekitarnya dan melemparkan ke arah sang suami yang berjalan ke arahnya.


Hafiz yang sudah siap mendapat serangan, dengan cepat menangkis benda yang melayang.


"Pergi kamu Mas!" usir Khadija dengan kemarahan yang berapi-api. Namun, hanya di sambut kekehan dari sang suami. Kemarahan Khadija pun semakin menjadi.


Ketika tidak ada lagi benda yang bisa di lempar, Khadija turun dari ranjang berjalan ke arah pria yang masih memasang tampang tak bersalah.


"Mana hp," todong Khadija menatap nyalang seperti orang kesurupan.


Hafiz mengangkat bahu dan kedua tanganya, cuek, "Nggak mau,"


Mendapat jawaban yang sama sekali tidak memuaskan, pandangan Khadija beralih melihat benda yang menyembul di balik saku celana samping suaminya, tanpa permisi perempuan itu langsung merogoh dengan paksa benda yang ada di dalam sana.


"Aah, iya di situ Sayang, enak banget," goda Hafiz di iringi desahan sembari tertawa.


Hafiz merasakan sensasi geli, ketika tangan sang istri dengan kasar meraba kantong celananya. Entah sengaja atau tidak Khadija menyenggol area sensitif suaminya.


Sebelum menarik kembali tanganya keluar dari saku celana tersebut, muncul ide jahat dari khadija.


Hafiz mengerang kesakitan ketika aset negara miliknya di tarik kasar oleh istrinya.


Sembari menahan rasa ngilu, Hafiz menggerutu, bagaimana jika aset miliknya itu tidak berfungsi lagi? Bukan hanya dia tapi istrinya itu juga akan tersiksa.


"Rasain?" cibir Khadija setelah menarik keluar tanganya beserta benda pipih yang ada di genggamanya.


Khadija semakin emosi, ketika ponsel suaminya itu terkunci menggunakan kode khusus.


"Kenapa di Pasaword ?" tanya Khadija ketus.


"Biar aman,"


Ingin rasanya Khadija mencakar-cakar wajah tampan dihadapanya itu, sudah berbuat salah dengan sengaja membuat hatinya panas ditambah lagi tidak mau minta maaf dan dengan santainya memasang wajah polos tak berdosa.


Ternyata Khadija lupa, jika ia yang terlebih dahulu memancing keusilan suaminya itu. Lagi dan lagi perempuan memang tidak pernah salah.


Prak ...


Khadija sudah hilang kesabaran, tanpa berfikir panjang ponsel yang ada di genggaman, perempuan itu langsung membantingnya dengan keras ke lantai. Beruntung tidak sampai hancur, hanya saja sudah tidak bisa di pakai.


Khadija yang biasa terlihat kalem dan anggun, membuat Hafiz tidak menyangka jika sang istri bisa sekasar ini dan untuk pertama kali Hafiz menyaksikan istrinya itu benar-benar murka. Pria itu jadi berfikir tidak akan lagi membuat perempuan itu cemburu. Sangat-sangat mengerikan!


Hafiz terpelongo menatap nanar ke arah ponsel yang tergeletak dilantai. Pria itu membatin, siapa yang memulai dan siapa sekarang yang marah? Bahkan ponselnya pun kini turut menjadi korban.


"Sana pergi dengan gadis-gadis itu!" hardik Khadija sambil mendorong tubuh suaminya agar pergi dari hadapanya.


Air mata Khadija mengucur tak terbendung, hatinya terasa sakit mengingat tawa ceria Hafiz ketika berada di tengah-tengah para gadis.

__ADS_1


Meskipun awalnya Hafiz hanya ingin membalas kelakuan usil Khadija dengan membuat perempuan itu kesal, tetapi seketika hatinya terasa sakit saat melihat airmata istrinya itu dengan deras menetes.


Hafiz menarik paksa perempuan itu kedalam dekapanya. Pelukan itu semakin erat ketika Khadija berusaha melepaskanya.


"Maafkan, aku sayang," ucap Hafiz menyesal, di ciumnya lama puncak kepala istrinya yang terbungkus hijab.


Khadija berhenti melawan saat merasakan sentuhan lembut di atas kepala. Namun, isak tangisnya terdengar semakin kencang, "Kamu jahat Mas," racaunya dengan suara bergetar.


"Iya, aku memang jahat,"


Hafiz membiarkan Khadija meluapkan tangisanya, hingga perempuan itu merasa lelah.


Khadija sudah mulai tenang, hanya sesekali masih terisak.


Hafiz melepas tanganya yang melingkar di badan istrinya, lalu membawa perempuan itu kembali menuju ranjang.


Di dudukanya sang istri di atas tempat tidur, lalu Hafiz mengambil posisi berlutut sambil menggenggam tangan perempuan di hadapanya, "Sayang, maafin aku," Hafiz mengulang ucapanya, di pandangnya mata sembab itu menatap kosong kebawah, "Aku salah. Tapi percayalah nggak ada maksud aku buat nyakitin kamu. Sekali lagi aku minta maaf, mungkin caraku ini keterlaluan," lanjutnya penuh penyesalan.


"Pukul aku Sayang," Hafiz mengarahkan tangan istrinya untuk menampar wajahnya.


Khadija terhenyak, ketika telapak tanganya menyentuh dengan keras pipi pria yang ada di bawah sana.


Semarah apapun Khadija, tetapi tidak sampai hati ia berfikiran untuk menampar suaminya. Khadija pun turun, lalu menuntun tubuh suaminya untuk berdiri.


Khadija kembali berkaca-kaca, menangkup wajah suaminya lalu menggelengkan kepala, mengisyaratkan agar pria itu tidak mengulanginya lagi.


Hafiz pun membalas dengan anggukan, lalu memeluk kembali istrinya, "Aku janji gak akan seperti itu lagi," ucapnya.


Khadija mendongak, setelah menegakkan kembali tubuhnya, "Janji, kamu gak boleh genit seperti itu lagi,"


"Sudah sana mandi, baju kamu bau parfum cewek-cewek tadi," omel Khadija mengendus ada aroma asing yang menempel di baju suaminya, "Maasss," pekik Khadija, tiba-tiba tubuhnya terangkat.


"Kita mandi bareng yuk?" Hafiz mengedipkan sebelah mata sambil terus berjalan menuju kamar mandi.


***


"Lin, kamu kenapa?" tanya Haikal melihat wajah Alina yang memerah, sesekali perempuan itu menggaruknya.


Kini keduanya tengah berada di sebuah taman yang tidak jauh dari Villa tempat mereka menginap.


Haikal dan Alina sedang duduk-duduk santai di atas rerumputan beristirahat sejenak setelah berjalan-jalan sembari menikmati udara pagi.


Seperti biasa Leni dan Sari mengajak Elif bermain di area sekitar taman. Di ajaknya gadis kecil itu menangkap kupu-kupu. Memberi kesempatan pada Haikal dan Alina melakukan pendekatan.


Sedangkan Fino pergi ke warung untuk membeli minuman.


"Eh, gak papa kok Mas,"


"Tapi wajah kamu timbul ruam, kamu sakit?" Haikal mulai merasa Khawatir pada Alina. "Perlu aku antar ke dokter atau klinik yang ada di sekitar sini," tawar Haikal.


Namun, Alina menolak dan bersikukuh mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Meski rasa panas dan gatal menyerang wajah dan anggota tubuhnya yang tertutup pakaian. Perempuan itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatanya saat berdua dengan pria di sebelahnya.


Alina berusaha menutupi pipinya dengan menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya.


Fino yang baru datang dengan membawa bebarapa minuman ringan dan air mineral ikut terkejut melihat Alina yang di penuhi ruam merah di wajahnya, karena kebetulan Perempuan itu memakai kaos dan celana penjang.

__ADS_1


"Lin, kamu habis makan apa?" tanya Fino curiga. Pria itu tahu jika sahabat semasa kuliahnya itu dulu memeliki alergi terhadap salah satu jenis bahan makanan.


Alina menggeleng, wajar karena pagi ini mereka semua masih belum sarapan.


"Alina kenapa Mas?" tanya Fino beralih pada Haikal yang sejak tadi bersama Alina.


"Aku gak papa Fin," bantah Alina menyela, sebelum Haikal menjawab pertanyaan Fino, "Udah yuk pulang," lanjut Alina mengajak kembali ke Villa. Ia tidak mau membuat kedua pria itu Khawatir.


Saat akan berdiri, tiba-tiba pandangan Alina kabur, tampak perempuan itu memegang keningnya menahan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang.


Brugh ...


Dengan sigap Haikal menahan tubuh Alina yang terhuyung ke arahnya. Haikal dan Fino seketika panik.


"Fin, kamu ambil mobil, biar aku jaga Alina disini," titah Haikal pada Fino.


Fino mengangguk, kemudian berlari dengan tergopo-gopoh. Leni dan Sari yang melihat dari kejauhan Alina yang terbaring di pangkuan Haikal segera berlari menghampiri, bersama Elif yang berada di gendongan Leni.


____


"Bagaimana kondisi teman kami Dok?" tanya Fino saat dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


Haikal dan Fino membawa Alina ke klinik terdekat yang ada di sekitar pemukiman warga berada Dua kilometer dari Villa. Untuk Leni, Sari dan Elif memutuskan kembali ke tempat semula mereka menginap.


"Apa yang terjadi denganya Dok?" imbuh Haikal.


Sang dokter mempersilahkan Haikal dan Fino untuk duduk diseberang mejanya sebelum menjawab pertanyaan keduanya.


"Apa pasien mempunyai riwayat alergi terhadap makanan?" tanya sang dokter menatap kedua pria di hadapnya bergantian.


"Iya Dok, dia alergi terhadap jahe," jawab Fino.


Haikal terkejut, ia teringat jika semalam ia membuat kopi jahe untuknya dan perempuan yang masih terbaring di dalam sana.


"Kalian tenang saja, pasien sudah saya beri suntikan anti alergi, dan sebentar lagi dia akan siuman. Untuk sementara selama Dua jam kedepan biarkan dia beristirahat disini, sambil kita menunggu observasi selanjutnya akan dampak alergi yang ditimbulkan," papar sang dokter.


Haikal merasa bersalah, meski itu tidak ia sengaja. Andai semalam Alina mengatakan jika dia memiliki alergi terhadap jahe, sudah pasti Haikal akan mencegah perempuan itu untuk meminumnya. Dan Haikal berniat jika nanti Alina sudah siuman, ia akan meminta maaf.


Kini Haikal dan Fino sedang duduk di ruang tunggu yang ada di luar ruang perawatan Alina sembari menunggu perempuan itu sadarkan diri.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Komen, dan Votenya ya...πŸ™β˜ΊπŸ˜˜

__ADS_1


Buat yang kemarin udah kasih komen untuk lanjutin cerita ini, maka dengan senang hati Author kabulkan, dan Author ucapkan banyak terima kasih atas dukunganya selama ini.


__ADS_2