
💃💃💃 Author mau cuap-cuap dulu ya ...
Wakakakaka ... Baru di pancing nama Alina muncul aja udah pada parno. Tapi wajar sih? Layaknya sinetron-sinetron yang sedang berkeliaran yang mengangkat tema PELAKORISME ketika sang mantan hadir kembali sebagai konflik rumah tangga yang paling HQQ penyebab hancurnya sebuah keluarga.
Tapi, tenang Author juga gak suka kalau konflik muncul melulu karena PELAKOR. MUAK DAN BOSAN! Udah lelah Author mendengar nyayian teh Rossa "Kumenangiiiiisss ... Membayangkan, suamiku di gondol pelakor ..." Terusin sendiri 😁😁😁
💃💃💃
Setelah tangisan Alina mereda, Hafiz mengantar Alina pulang ke rumahnya dengan mengendarai sedan sport berwarna merah milik Alina.
Rumah Alina tampak sepi, dan terasa suasana duka masih menyelimuti. Tangis Alina kembali pecah saat masuk ke dalam rumah. Dadanya sesak kala mengingat sosok kedua orang tuanya yang sudah tiada dan kini ia tinggal sebatang kara.
Hafiz pun mengantar Alina ke kamarnya. Tubuh Perempuan itu lunglay tak berdaya. Di bantunya Perempuan itu berbaring diatas tempat tidur lalu Hafiz menarik selimut menutupi tubuh Alina sampai batas dada.
"Rel, jangan pergi," pinta Alina meraih tangan Hafiz ketika hendak membalikan badan.
"Maaf Lin, aku gak bisa." ucap Hafiz menghadap kembali ke arah Alina.
"Kamu tega Rel, ninggalin aku di saat kondisiku seperti ini? Apa sudah tidak ada lagi rasa simpati buatku?" bujuk Alina menatap sayu ke arah Pria yang berdiri disamping ranjangnya.
"Oke, baiklah malam ini aku akan menginap disini," Dengan berat hati, Hafiz menuruti permintaan Alina.
Senyum tipis terukir dibibir Alina.
"Ya sudah, tidurlah. Aku akan tidur di ruang tamu,"
"Tapi Rel ..."
" ... Atau aku balik ke Hotel," potong Hafiz mengerti akan maksud Alina yang akan menyuruhnya menemani di dalam kamar.
"Baiklah," Alina pun mengangguk pasrah.
Kemudian Hafiz pun keluar dari kamar Alina dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa sedikit bersalah terhadap istrinya. Hafiz merasa, meski secara tidak di sengaja ia telah membohongi Khadija.
Jika sang istri tahu, ia sekarang sedang dalam keadaan berdua dengan sang mantan meski berada di ruangan yang berbeda, jelas khadija akan cemburu.
Untuk meninggalkan Alina pun Hafiz merasa kasihan. Hafiz juga takut jika terjadi sesuatu terhadap Alina. Bisa saja Perempuan itu berbuat nekat sama seperti apa yang dilakukan orang tuanya, pikir Hafiz.
Hafiz merebahkan tubuhnya diatas sofa panjang yang ada di ruang tamu, matanya menerawang tak bisa terpejam. Wajah Khadija selalu berputar dalam bayangan.
Malam semakin larut, Hafiz yang semula terjaga, perlahan rasa kantuk itu datang menghinggapinya.
Baru saja mata Hafiz terpejam. Namun, seketika mata itu kembali terbuka lebar, ketika merasakan ada tangan yang membelai pipinya.
"Astagfirullohalazdim," ucap Hafiz berjengkit melihat Alina duduk disampingnya. "Kamu ngapain disini?" Hafiz segera bangkit dan berpindah melewati punggung sofa.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Rel?" Alina pun turut berdiri dan mengikuti langkah Hafiz yang berusaha menghindarinya.
"Tolong jaga sikap kamu Alina!" gertak Hafiz menghentikan langkahnya.
"Tapi aku kangen sama kamu Rel," kata-kata manja keluar dari mulut Alina sambil berusaha mendekatkan tubuhnya ke arah pria yang berdiri di hadapanya.
Dengan cepat Hafiz menahan kedua bahu Alina agar tetap ada jarak diantara mereka.
"Inget ya Lin, aku sudah memiliki istri yang harus aku jaga hatinya. Meski sekarang dia ada jauh disana tapi hatinya selalu aku bawa!" Tatapan menusuk, Hafiz arahkan ke mata Alina. Pria itu sudah mulai geram dengan sikap Alina yang sudah tidak bisa di tolerir lagi.
Tanpa berpikir panjang, Hafiz segera meninggalkan Alina. Pria itu sudah tidak peduli lagi dengan kekhawatiran yang sempat ia takutkan sebelumnya.
Karena yang ada didalam hati dan pikiranya, hanya ada rasa bersalah terhadap istrinya.
Hafiz tidak henti-hentinya merutuki kebodohanya menuruti permintaan mantan istrinya itu. Meski tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
Menunggu Dua hari lagi jadwal kepulanganya ke Tanah Air, membuat Hafiz muak berada di situasi seperti ini.
Semenjak kejadian dirumah Alina malam itu, tak sekalipun ia bertemu dengan Alina lagi, meski sang Ayah selalu mengajaknya berkunjung ke rumah perempuan itu sekedar untuk menghibur Alina yang sedang berduka. Namun, Hafiz selalu menolak dengan berbagai alasan.
Jenuh dan Bosan jika harus berdiam di dalam kamar. Hafiz mempergunakan waktunya untuk berjalan-jalan sekalian membelikan oleh-oleh untuk orang rumah sebagai buah tangan.
Kegiatanya ini sekaligus untuk menghindar dari sang mantan yang bisa saja muncul secara tiba-tiba datang menghampirinya.
_____
Setengah jam lagi Hafiz dan sang Ayah akan segera Check Out dari Hotel tempatnya menginap. Kini keduanya tengah menikmati secangkir kopi disebuah Cafe yang berada di lantai dasar Hotel sambil menunggu Taxi yang akan mengantar mereka ke Bandara.
***
Di kediaman keluarga Edsel,
Setelah pulang dari menjemput Zahra di sekolah, Khadija menyempatkan diri berbelanja membeli beberapa kebutuhan yang menjadi hoby barunya. Apalagi kalau bukan membuat kue.
Hati Khadija senang karena sang suami hari ini akan pulang. Maka dari itu ia akan membuatkan kue spesial sebagai ucapan selamat datang.
Kini Khadija tengah menyibukan diri di dapur, sendiri tanpa bantuan dari siapapun. Karena Bik Onah dan Sari sedang pergi ke Pasar. Sedangkan kedua mertuanya ada di taman belakang bermain bersama Dua malaikat kecil yang menggemaskan.
Selesai meracik adonan kue dan menuangkan kedalam loyang lalu memasukanya ke dalam oven, Khadija beralih membersihkan dapur yang sempat berantakan karena ulahnya sambil menunggu kuenya matang.
Begitulah Khadija yang selalu cekatan dan rapih dalam melakukan segala hal.
Waktu bergulir begitu cepat. Namun, orang yang ditunggu belum juga menampakan batang hidungnya. Perkiraan selepas Maghrib para pria itu tiba dirumah, namun hingga menjelang waktu Isya' keduanya belum juga datang.
Khadija berulangkali menghubungi suaminya namun, tidak ada jawaban dari seseorang di seberang sana.
__ADS_1
"Gimana Ja?" tanya sang Ibu mertua.
"Ndak diangkat-angkat Ma," jawab Khadija.
"Iya, Mas Bram pun nomornya tidak aktif," sahut Ina yang ternyata juga berusaha menghubungi suaminya.
Kecemasan pun melanda ketiga perempuan yang tengah berkumpul di ruang tamu.
Tiba-tiba suara deru mesin mobil terdengar memasuki area pekarangan rumah. Seketika ketiga perempuan itu berhambur keluar melihat siapa gerangan yang berada di dalam mobil tersebut.
Ketiga perempuan yang sudah berjajar di teras rumah akhirnya bisa tersenyum lega melihat para suami keluar dari mobil mewah tersebut.
"Mbak Alina?" gumam Khadija melihat sosok Wanita yang baru turun dari dalam mobil setelah sang Ayah mertua keluar terlebih dahulu. Sedangkan Hafiz keluar dari kursi penumpang paling depan sebelah pak supir.
"ASSALAMUALAIKUM," ucap Hafiz dan sang Ayah bersamaan. Hafiz kemudian mencium tangan sang Ibu lalu beralih mencium kening Istrinya tanpa menyapa Ina.
"WAALAIKUMSALAM," jawab Khadija, Ibu Hafiz dan Ina kompak. Khadija pun mencium punggung tangan suaminya lalu beralih menyambut tangan sang Ayah mertua.
"Mas, itu Mbak Alina ..."
Hafiz segera merangkul pinggang istrinya dan mengajaknya masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan Alina yang berdiri dibelakangnya, "Udah ayo masuk. Aku udah kangen sama Bunda dan Zahra," ajak Hafiz sambil terus berjalan menggandeng istrinya mesra.
"Itu tadi Mbak Alina, kok jadi ikut bersama kalian?" tanya Khadija penasaran akan kehadiran Alina secara tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.
Hafiz dan Khadija pun kini sudah berada di dalam kamar.
"Aku juga gak tau. Kita ketemunya juga pas waktu di Bandara." jawab Hafiz sambil melepas kemejanya. "Aku rasa Papa yang sudah mengajaknya," lanjut Hafiz merebahkan tubuhnya diatas ranjang besarnya.
"Mas, ayo mandi dulu. Badan kamu bau," Khadija berusaha menarik tubuh besar suaminya agar bangkit dari posisi tidurnya.
"Aaarrrrggghhhh ..." pekik Khadija ketika tanganya di tarik oleh suaminya.
Hafiz pun menggulung tubuh kecil Khadija, ketika terjatuh tepat diatas tubuhnya. Kini Pria itu beralih menindih tubuh istrinya, "Mandinya nanti aja, sekalian mandi wajib," bisik Hafiz yang terdengar sensual di telinga Khadija. Seketika membuat tubuh Perempuan yang berada dibawahnya meremang. Tanpa perlu basa-basi Hafiz segera melancarkan aksinya. Pria itu sudah tidak tahan lagi ingin segera menyalurkan hasratnya yang sempat tertahan.
.
.
.
.
.
*Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan Votenya Ya? 🙏😊*