Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Ketiga kalinya


__ADS_3

Setelah hampir seharian mereka jalan_jalan, tiba saatnya sore hari mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.


Banyak keseruan yang mereka lewati hari ini, Hafiz, Khadija, Aslan, Aisyah dan Zahra benar_benar menikmati jalan_jalanya kali ini sebelum esok hari mereka semua kembali ke Ibu kota.


Dan moment kali ini mereka pergunakan untuk menyenangkan hati kedua orang tua Khadija dan Aisyah yang mungkin tidak pernah merasakan hangat dan serunya kebersamaan dalam formasi keluarga yang utuh, yang ditambah kehadiran menantu dan seorang cucu.


Di dalam mobil, saat perjalanan pulang, Zahra yang saat ini berada di pangkuan sang Bunda tampak kelelahan setelah seharian berlarian kesana kemari dengan riang menikmati keseruan jalan_jalanya bersama sang Ayah yang sekian lama tak pernah Zahra rasakan.


" Kamu senang hari ini Ja?" Tanya Hafiz, sekilas melihat ke arah Khadija.


Khadija mengangguk."Iya Mas, makasih untuk hari ini." Hafiz pun tersenyum.


Aku berjanji akan selalu membuatmu dan Zahra bahagia.


Setelah Satu jam menempuh perjalanan, mereka semua tiba di rumah dengan selamat.


Hafiz terlebih dahulu turun dari mobilnya, kemudian mengambil alih Zahra yang tengah tertidur di pangkuan Khadija.


Mereka semua masuk ke dalam rumah dengan penat yang mendera, namun tetap menyisakan gurat kebahagiaan.


Hafiz segera meletakan Putri kecilnya diatas kasur Khadija. Yang diikuti dirinya yang merebahkan tubuhnya di samping Zahra.


***


Di malam terakhirnya di rumah Khadija, Hafiz masih tetap tidak bisa memejamkan matanya di saat malam tiba.


Hafiz memutuskan keluar dari dalam rumah untuk sekedar mencari angin segar di malam hari, dan duduk sendiri di atas bangku yang terbuat dari bambu yang berada di serambi depan rumah Khadija.


Ingatanya berputar mengingat moment berdua di dalam mobil bersama Khadija siang tadi, membuat Hafiz semakin tidak bisa menghilangkan bayangan wajah Khadija dari benaknya.


Apa aku sudah jatuh cinta padamu, Dija?


Hafiz tersadar dari lamunanya ketika mendengar suara Khadija yang sedang berada pada sambungan teleponya.


" Ah, kamu ternyata sudah sampai?"


"(....)"


" Kalau begitu sekarang kamu yang harus nunggu aku."


" (....)"


" Baiklah, selamat malam juga, Waalaikumsalam..."


Khadija tidak menyadari akan keberadaan Hafiz.


Hafiz yang sedari tadi mendengar percakapan Khadija dengan seseorang, hanya bisa mgerutkan dahinya dengan penuh rasa penasaran di hatinya.


"Ekhem...ekhem..." Hafiz berdehem saat Khadija akan kembali masuk ke dalam rumahnya.


Khadija berbalik mendengar deheman dari seseorang." Kamu belum tidur Mas?" Tanya Khadija berjalan mendekat ke arah Hafiz.


" Belum" Jawab Hafiz singkat, sambil menggeser duduknya, memberi ruang untuk Khadija.


" Siapa yang telepon? Teman kamu yang tadi siang?" Tanya Hafiz datar, tatapanya lurus ke depan.


" Hhhmmm" Khadija hanya berdehem lalu ia tersenyum, tatapanya pun lurus ke depan, entah mengapa setiap menerima telepon dari seseorang yang disebutnya teman itu, membuat Khadija selalu terlihat senang.


Hafiz penasaran, ia bisa menangkap ada sesuatu yang berbeda pada diri Khadija. Hafiz merasa sikap Khadija seperti anak ABG yang lagi kasmaran.

__ADS_1


" Kelihatanya kamu senang sekali?"


" Kelihatan ya Mas?" Khadija tersenyum lebar.


" Ck! Kamu kira saya buta, gak bisa lihat?" Hafiz berdecak, tiba_tiba Hafiz merasa kesal, melihat senyum Khadija yang diperuntukan bukan untuknya.


Hafiz beranjak dari duduknya, berjalan melewati Khadija.


" Mas, kamu kenapa?" Tanya Khadija sedikit berteriak, melihat sikap Hafiz yang tiba_tiba berubah menjadi aneh.


" Gak papa!' Jawab Hafiz datar tanpa menoleh ke arah Khadija.


Khadija yang melihat itu, mengangkat kedua bahunya acuh.


Ndak sia_sia nunggu Satu tahun, akhirnya ketemu juga.


***


Pagi hari...


Setelah melakukan sarapan di pagi hari Hafiz, Khadija, Aslan, Aisyah dan Zahra kembali bersiap untuk kembali ke kota.


Hafiz dan Aslan pun memasukan barang bawaanya ke dalam bagasi mobilnya masing_masing.


Tangis keharuan kembali terjadi mewarnai perpisahan antara orang tua dan anaknya.


Khadija dan Aisyah memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.


" Maafin segala kesalahan Bapak selama ini, Dija, Aisyah?"


" Sudah Pak, semuanya telah berlalu, yang terpenting sekarang Bapak sudah bertobat." Jawab Khadija.


" Tentu nak!" Jawab sang Ayah, meneteskan air matanya.


" Ya sudah, kalian hati_hati dijalan!" Ucap sang Ibu dengan senyum terhangatnya. Sang Ibu memang terlihat lebih tenang, meski tak elak di hatinya ada kesedihan yang mendalam karena harus berpisah kembali dengan kedua Putrinya dan cucu satu_satunya.


" Nak Aslan, Bapak dan Ibu titip Aisyah, jaga dan didik dia dengan baik." Pesan sang Ayah Mertua pada Aslan.


" Nak Hafiz, Bapak dan Ibu juga titip Khadija dan Zahra, ya meski kalian sud~..."


" Pak!" Khadija memotong ucapan sang Ayah, agar tidak meneruskan kalimatnya, karena ada Zahra. Ayahnya pun mengangguk paham.


" Ya sudah hanya itu pesan Bapak pada kalian, dan buat Hafiz dan Khadija semoga kalian bisa berjodoh kembali." Pungkas sang Ayah dengan segala petuah_petuahnya.


" AMIIINNN !" Seru Hafiz, Aslan dan Aisyah kompak. Namun tidak dengan Khadija, ia hanya diam tak terbaca.


Akhirnya mereka masuk ke dalam mobilnya masing_masing, lambaian tangan mengiringi kepergian mereka.


Lagi_lagi Aslan berusaha mendekatkan Hafiz dan Khadija, karena ia ingin sang Keponakan memiliki keluarga yang utuh. Kali ini Aslan dan Aisyah mengajak Zahra untuk ikut denganya, berharap Hafiz bisa leluasa mengungkapkan perasaanya terhadap Khadija, karena menurut Aslan, lebih cepat lebih baik.


Namun yang terjadi di dalam mobil Hafiz tidak sesuai harapan Aslan.


Khadija yang sedari Hafiz melajukan mobilnya, hanya sibuk dengan ponselnya sambil tersenyum_senyum sendiri.


Hafiz beberapa kali menoleh ke arah Khadija yang berada di sampingnya, hanya bisa menarik nafas beratnya, karena Khadija sama sekali tak mengajaknya bicara.


Ternyata kaya gini rasanya di abaikan ! Hafiz membatin.


" Kacangin aja terus!" Sindir Hafiz, membuka suara.

__ADS_1


" Hah? Kamu mau beli kacang Mas?" Tanya Khadija, salah dengar.


" Hhmmm" Hafiz berdehem cuek.


Beberapa saat kemudian, Hafiz melirik ke arah Khadija yang sudah meletakan ponselnya di atas pangkuanya, pandangan mata Khadija menjelajah kearah luar kaca jendela.


" Sudah?" Tanya Hafiz kembali bersuara.


" Apanya?"


" Itu tadi kamu sibuk banget!"


" Oh" Khadija membulatkan mulutnya ber oh ria.


" Ja, aku mau ngomong sesuatu sama kamu!" Ucap Hafiz dengan nada seriusnya.


" Mau ngomong apa Mas?"


" Tapi, aku harap kamu gak marah setelahnya!"


" Langsung aja mau ngomong apa? ndak usah muter_muter."


" Anu....hhmmm....itu....anu..." Racau Hafiz grogi.


Kembali Hafiz menarik nafas panjangnya, mengumpulkan energi untuk mengutarakan isi hatinya untuk pertama kali pada seorang wanita. Masih ingat dulu waktu bersama Alina, Alina duluan lah yang menyatakan perasaanya pada Hafiz.


Tanpa menoleh ke arah Khadija, Hafiz mencengkeram kuat kemudinya, sejenak mata Hafiz terpajam menyakinkan apa yang akan di ucapkanya.


" Aku sayang sama kamu Khadija." Ungkap Hafiz sepenuh Hati, akhirnya kata_kata keramat itu lolos dengan mulus keluar dari mulutnya.


Detik pertama,


Kedua,


Ketiga,


Tak ada Khadija membuka suaranya, dengan ragu Hafiz melihat Khadija dengan perasaan harap_harap cemas.


" Hmmm...Pantesan aja gak jawab!" Hafiz mencibir, melihat Khadija yang sudah tertidur pulas. Dan untuk ketiga kalinya Hafiz gagal.


*Aku gak akan nyerah Ja, sampai aku mendapatkanmu kembali !


.


.


.


.


.


Berambung...


Author minta maaf, untuk kali ini Upnya telat karena authornya 🤒🤕😷


Terima kasih untuk masukan_masukanya, untuk Author ngembangin cerita ini...😍😘


Jangan lupa Like dan Komenya...🙏🙏🙏*

__ADS_1


__ADS_2