Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Oh...Ternyata


__ADS_3

"Lagi buat apa kamu nak?" tanya Ibu mertua melihat Khadija sedang menghidupkan mesin blandernya.


"Lagi bikin sambel Ma?" jawab Khadija datar.


"Buat siapa?" Ibu mertua merasa penasaran, selama ia tinggal bersama di keluarga barunya ini, tidak pernah sekalipun menemukan menu sambal di atas meja.


"Buat Mas Hafiz." jawab Khadija singkat.


"Lho, kamu kan tahu kalau suami..."


"...tenang aja Ma, ini bukan untuk di makan kok." potong Khadija, mengerti arah pembicaraan perempuan di sebelahnya.


"Lalu?"


"Nanti Mama juga akan tahu." Khadija menatap penuh arti ke arah sang Ibu mertua.


"Mama harap, jika kalian sedang ada masalah, selesaikan dengan baik-baik." nasehat Ibu mertua, seolah mengerti apa yang direncanakan menantunya itu.


Khadija kali ini tidak akan main-main dengan tindakanya. Hatinya sudah terlanjur kecewa terhadap suaminya, setelah ia mendapatkan bukti apa yang menjadi kecemasanya selama ini. Meskipun Khadija belum melihat dengan mata kepalanya secara langsung, tapi malam ini ia akan membuktikanya sendiri.


Setelah tadi pagi Hafiz berangkat bekerja dan tentunya Khadija sudah menyelesaikan semua tugasnya sebagai Ibu rumah tangga, Ia segera bersiap-siap untuk menemui Leni, sahabat lamanya yang kini masih bekerja di tempat Ummi Aminah.


Seusai Shalat subuh Khadija mendapat pesan chart dari Leni,


[Dija, tolong nanti temui aku. Ada yang mau aku tunjukan ke kamu.]


Itulah bunyi pesan yang dikirim Leni untuk Khadija.


Selama dalam perjalanan, hati Khadija selalu bertanya-tanya.


"Kira-kira apa ya, yang mau di tunjukan sama Leni?" gumam Khadija lirih, saat masih berada di dalam Taxi.


Satu jam kemudian, Khadija sampai di depan toko Ummi Aminah, tempat ia bekerja dulu.


Setelah masuk ke dalam toko, Khadija sudah disambut peluk rindu dari sahabatnya. Namun Khadija tidak mendapati keberadaan Ummi Aminah.


"Ummi kemana Len?" tanya Khadija saat mereka berdua sudah duduk di kursi yang berada di teras toko, saling berhadapan.


"Owh itu, tadi Ummi menghadiri kajian di rumah Bu RT." jelas Leni.


Obrolan Khadija dan Leni dilanjutkan dengan sedikit berbasa-basi, sekedar saling menanyakan kabar.


"Jadi apa yang mau kamu tunjukan, Len?" tanya Khadija pada inti maksud kedatanganya.


Leni tampak mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, ternyata ponsel baru miliknya.


Namun bukan itu yang ingin ditunjukan Leni pada Khadija. Sejenak Leni mengutak-atik ponselnya sebelum memberikan ke arah perempuan berhijab yang ada di depanya.


"Maaf Ja, jika aku lancang. Apa kamu kenal dengan seseorang yang ada di foto itu?" tanya Leni, setelah mengulurkan ponselnya ke arah Khadija.


Bola mata Khadija seketika membulat melihat suaminya bersama seorang wanita, tampak tawa ceria dari keduanya.


Khadija menggeleng lemah, "Aku ndak kenal, kamu dapat dari mana foto ini Len?" tanya Khadija. Sepasang matanya masih setia menatap layar ponsel sahabatnya.


"Tempo hari yang lalu aku gak sengaja lewat di depan Resto itu, dan aku lihat ada dr. Hafiz. Aku kira dia sama kamu, Eh, pas aku mau nyamperin ternyata datang seorang cewek yang langsung duduk di sebelah suami kamu." jelas Leni.


"Bicara apa saja mereka?" Khadija menelisik ingin tahu apa yang di lakukan Hafiz di belakangnya.


"Aku sih gak denger apa yang mereka obrolin, karena waktu itu cowokku buru-buru ngajak pulang."


Khadija saat itu benar-benar dalam keadaan dilema. Ingin rasanya tidak percaya, namun kejanggalan-kejanggalan pada Hafiz sudah ia rasakan. Tetapi untuk percaya pun Khadija belum memiliki bukti kuat, toh ia juga belum tahu apa hubungan wanita yang ada dalam foto dengan Hafiz, suaminya.


Khadija meminta Leni untuk mengirimkan bukti foto itu lewat pesan via Wattsap.


Ingin hati Khadija menunggu Ummi Aminah pulang dari acara, namun lagi-lagi hati dan kerja otak Khadija tidak bekerja saling beriringan.


Kemudian Khadija memutuskan untuk pamit pada Leni, dan hanya menitipkan salam kangen darinya untuk Ummi Aminah, Ibu angkatnya.


Dengan hati yang memburu, serta rasa penasaran yang sudah diambang batas, segera Khadija bergegas pergi ke Rumah Sakit.


Jika biasanya Khadija selalu setia membawakan makan siang untuk Hafiz, tetapi sekarang Khadija datang hanya ingin meminta penjelasan pada suaminya tersebut. Jangan lupakan pula kemarahan Khadija yang masih membekas atas sikap Hafiz yang mengabaikan usahanya semalam.


Langkah Khadija semakin cepat menyusuri lorong-lorong Rumah sakit menuju ruangan sang Direktur utama.


"Dija!"


Ketika hendak membuka pintu ruangan suaminya, tiba-tiba dari arah belakang ada suara Dio memanggilnya.


Khadija menarik kembali tanganya dari handle pintu yang sempat digenggamnya. Lalu Khadija memutar tubuhnya menghadap seseorang yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.


"Carel kemana, kok hari ini dia nggak datang?" tanya Dio yang sudah berdiri dihadapan Khadija.


"Hah~..." Khadija terkejut, seingatnya tadi pagi dengan menggunakan pakaian formalnya, Hafiz berpamitan untuk pergi bekerja, meski ditanggapi acuh oleh Khadija.


"Jadi, Mas Hafiz hari ini ndak masuk?" Kenyataan apa lagi yang harus di dengarnya hari ini.


"Malah balik nanya nih si Ibu Direktur?" Sindir Dio meledek.


"Mas, aku minta bantuannya boleh?" Kali ini Khadija dengan terpaksa meminta bantuan pada Dio selaku orang terdekat dari suaminya.


Karena Aslan beberapa hari yang lalu sudah berangkat ke Luar Nageri, maka hanya Dio opsi terakhir Khadija.


Akhirnya Dio mengajak Khadija untuk duduk di kantin sembari Dio ingin menikmati secangkir kopi untuk menghilangkan rasa kantuk yang sempat melanda sebelumnya.


Khadija tidak menceritakan secara spesifik perihal kondisi Rumah tangganya. Ia hanya ingin meminta bantuan Dio untuk mencari tahu dimana keberadaan suaminya sekarang.


"Oke, nanti aku kabarin kamu, jika aku sudah menemukan Carel."


" Sebelumnya, terima kasih atas bantuanya Mas."


Kemudian Khadija memutuskan untuk kembali pulang ke Apartemen dangan kondisi hati yang tak menentu.


Telah banyak kejutan tak terduga yang ia dapat hari ini, mulai dari foto hingga ketidak hadiran Hafiz di tempat kerjanya. Tinggal menunggu setelah ini kenyataan apa lagi yang akan di ketahuinya.


Tiba di Apartemen, Khadija berniat terlebih dahulu menghampiri Zahra di kamarnya. Ada rasa rindu terhadap sang buah hati, setelah beberapa hari belakangan ia kurang memperhatikan Puteri kecilnya tersebut.


"Assalamualaikum, Princesnya Bunda?" ucap Khadija, saat kepalanya terlebih dahulu nongol dari balik pintu.


Zahra yang sedang bermain boneka bersama ina pun segera menoleh, "Waalaikumcalam Bunda?" Zahra berdiri lalu berlari kecil menghampiri Wanita cantik yang sedang menutup pintu.


"Hap..." Khadija menangkap tubuh mungil Zahra ke dalam pelukanya.


Khadija menggendong tubuh mungil itu menuju ranjang berbentuk kepala Hello Kitty.


"Mbak Dija, saya permisi dulu mau ke Mini Market." ucap Ina meminta izin, lalu ia keluar dari kamar Zahra setelah mendapat anggukan dari Khadija seraya tersenyum.


Khadija membelai wajah Zahra yang berada di pangkuanya. Wajah mungil yang sangat mirip dengan seseorang yang saat ini membuat hatinya gundah gulana.


Butiran bening yang selalu ditahan oleh Khadija seketika meluncur dari sudut mata tanpa seizinya.


"Bunda, kenapa nangis?" tanya Zahra melihat air mata yang mengalir membasahi pipi sang Bunda.

__ADS_1


Khadija tesenyum dalam tangisanya, "Ndak papa kok sayang, Bunda cuma kangen sama Zahra." ucap Khadija lalu menghujani wajah mungil puterinya dengan kecupan lembut dari bibirnya.


"Kita Shalat Dzuhur dulu yuk sayang?" Khadija mengajak Zahra untuk menunaikan kewajibanya yang sempat tertunda.


Setelah melaksanakan Shalat Dzuhur hanya berdua, Khadija membawa putri kecilnya naik ke atas ranjang besar yang ada di dalam kamarnya.


Kali ini Khadija sejenak ingin melupakan permasalahanya. Bersama Zahra setidaknya membuat hatinya merasa sedikit tenang. Perlahan mata bulat Zahra mulai meredup kala mendengar senandung lirih yang keluar dari mulut sang Bunda.


Tak terasa mata Khadija terasa berat, dan ia pun ikut terlelap.


***


"Astagfirulloh...Jam berapa ini?" pekik Khadija, terkejut saat sinar matahari yang menembus kaca besar kamarnya mulai meredup.


Khadija segera melihat benda penunjuk waktu yang tergantung di atas pintu kamar.


05.10 WIB


Itu artinya waktu Ashar sudah hampir habis. segera Khadija menuruni ranjangnya tidak lupa membangunkan Zahra, setelah buah hatinya terbangun kemudian Khadija membawa Zahra bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah selesai dengan kewajibanya, Khadija mengembalikan Zahra pada Ina, sang pengasuh untuk memandikanya, karena ia akan lanjut memasak, menyiapkan makan malam untuk keluarganya.


Di tengah kegiatanya memasak, ponsel Khadija berdenting, menandakan ada pesan yang masuk.


[Jam Tujuh malam, Carel ada janji dengan seorang wanita untuk makan malam disebuah Hotel XX]


Bunyi pesan yang dikirimkan oleh Dio. Khadija tidak perduli dari mana Dio mendapat informasi tersebut, yang ada di otak Khadija saat ini, ia akan melakukan penguntitan terhadap suaminya.


"Awas kamu Mas!" ancam Khadija dalam kesendirianya sambil meremas gawai yang ada di genggamanya.


Malam ini Khadija akan menangkap basah suaminya dengan rencana yang sudah ia susun rapih di dalam kepalanya.


Setelah seharian tidak memberi kabar, kali ini Hafiz datang tepat waktu dan melenggang dengan santai masuk ke dalam Apartemenya.


"Assalamualaikum Bunda?" ucap Hafiz saat melihat istrinya tengah menata makanan hasil masakanya di atas meja makan.


"Waalaikumsalam..." jawab Khadija acuh sambil mlengos, kemudian berlalu kembali ke dapur.


Meski berusaha tegar, namun Khadija tetaplah seorang wanita yang tak bisa menahan rasa cemburunya. Menangis dalam hati yang hanya bisa ia lakukan saat ini.


Berusaha kuat, dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa Khadija masuk ke dalam kamar.


Khadija mengajak suaminya untuk Shalat Magrib berjamaah. Moment yang sangat ia rindukan akhir-akhir ini.


Setelah Shalat berjamaah selesai, Hafiz menyiapkan pakaianya tanpa meminta bantuan istrinya.


Sejauh itukah kamu sudah melupakan aku disisimu? Sampai kau tak membutuhkan lagi bantuanku.


Khadija menatap nanar ke arah suaminya yang sudah siap dengan mengenakan setelan jas rapih berwarna cream.


"Mau kemana kamu Mas?" Khadija memberanikan diri bertanya, karena Khadija tidak melihat ada tanda-tanda dari Hafiz untuk memberitahunya.


Hafiz menoleh pada Khadija yang sedari tadi duduk ditepi ranjang. "Oh iya aku lupa memberi tahu, aku ada acara makan malam sama teman."


Khadija mengangguk faham. Khadija tidak melanjutkan lagi pertanyaanya, karena hatinya terasa sakit jika suaminya mengatakan akan makan malam bersama seorang wanita, atau justru Hafiz akan membohonginya. Prediksi Khadija mengantisipasi.


Tak lama berselang setelah Hafiz berpamitan, Khadija buru-buru untuk segera bersiap menjalankan misinya sebagai detektif dadakan. Menjadi penguntit suaminya sendiri.


"Ma, Dija titip Zahra." ucap Khadija berpamitan pada Ibu mertua.


"Kamu mau kemana?" Tanya Ibu mertua.


Khadija mengambil sesuatu di dalam kulkas, lalu memasukanya ke dalam tas jinjingnya.


"Kalau begitu, Mama akan ajak Zahra ke Mall saja, kasian dia pasti jenuh dirumah tidak di temani Papa, Bundanya."


"Ya sudah, Mama hati-hati." Khadija terpaksa menyetujui usulan Ibu mertua. Jika tidak dalam situasi seperti ini, Khadija pasti akan melarang anaknya untuk jalan-jalan di malam hari.


"Iya, kamu juga hati-hati."


Khadija segera bergegas setelah mendapat panggilan dari supir Taxi online yang ia pesan telah menunggunya di area parkir yang berada di dasar gedung.


***


Ketika kakinya hendak turun dari Taxi, Mata Khadija menangkap sepasang Pria dan Wanita yang tengah berjalan beriringan dengan saling menautkan lengan masuk ke dalam gedung Hotel yang mewah.


"Astagfirullohaladzim, Wanita itu? Aku pasti kuat!" ucap Khadiija sambil mengurut dada. Ternyata benar dia adalah Wanita yang ada di dalam foto.


Ternyata mimpi itu kini menjadi kenyataan!


Berungkali Khadija beristigfar, meredam amarahnya. Khadija tidak ingin rencananya gagal, karena Khadija ingin misi penggerebegkanya berjalan cantik nan elegant tanpa menimbulkan keributan seperti yang ada disenetron-sinetron kebanyakan yang pernah ia tonton.


Khadija berjalan sedikit jauh di belakang suaminya yang tengah bergandeng mesra dengan seorang wanita, tak lupa Khadija memakai cadar agar keberadaanya tidak dikenali oleh Pria yang baru beberapa bulan menikahinya.


Entah kemana tujuan Hafiz membawa sang wanitanya.


Dibelakang ada Khadija yang tak sedikitpun mengalihkan pandanganya agar tidak kehilangan jejak.


Hafiz pun memasuki ruangan yang cukup mewah. Dengan langkah mengendap-endap Khadija terus mengikutinya.


Sampai di dalam ruangan Khadija takjub, melihat dekorasi indah bertema Rustic yang ada di ruangan tersebut.


Sakit !


Sebegitu spesial kah, Wanita itu di mata kamu Mas? Hingga kamu mengajaknya makan malam di tempat semewah ini! Bahkan aku istrimu tidak pernah kau perlakukan seperti ini.


Kecemburuanya kali ini benar-benar membuat hatinya terasa sakit sesakit sakitnya.


Mata Khadija terus mengedar mencari keberadaan Hafiz di tengah keramaian dekorasi, namun tanpa satupun penghuni di dalamnya.


"Ah, aku kehilangan jejak! Ya sudah, lebih baik, aku menunggu mereka di luar, mungkin mereka berada di ruang privasi! Cicit Khadija, kemudian berbalik menuju pintu keluar.


"Kenapa Lampunya mati?" Khadija terkejut saat ruangan mendadak menjadi gelap.


💖💖💖Khadija Khairunnissa


Kau istri Sholehahku,


Kau adalah Bidadari Surgaku,


Kau semangat hidupku,


Kau Cinta dunia dan akhiratku,


Dan Kau segalanya bagiku.


Maafkan aku yang belum bisa menjadi suami terbaik untukmu,


Maafkan aku yang selalu menyakitimu,


Maafkan aku yang selalu menyusahkanmu,

__ADS_1


Dan Maafkan aku, jika aku tidak seromantis tokoh idolamu Rosululloh Muhammad SAW.


Maukah kamu selalu berada disampingku di kala susah dan senang dan hingga maut memisahkan?💖💖💖


Lampu-lampu kembali di nyalakan.


Kaki Khadija seakan terkunci ketika seseorang mulai menyerukan namanya. Untaian kalimat yang terdengar biasa namun menggetarkan bukan hanya hatinya tapi seluruh tubuhnya bergetar manakala suara seorang Pria berjalan mendekat ke arahnya, dan suara itu semakin lama semakin terdengar jelas ditelinganya.


"Selamat Ulang tahun Istriku?" Ucap Hafiz, sudah berada tepat di hadapan Khadija. Hafiz membuka cadar yang menutupi wajah cantik istrinya.


Air mata haru sudah luruh membasahi pipi Khadija yang bersemu. Lidahnya pun masih terasa kelu untuk berucap, Khadija tak menyangka akan mendapat kejutan yang tak terduga.


"Mas?" Kata pertama yang berhasil diucapkan Khadija. Binar kebahagiaan tergambar jelas dari sorot mata yang menatap lekat ke arah Pria tampan di hadapanya.


Cup


Kecupan lembut mendarat di kening Khadija, dan hanya pelukan hangat yang mampu Khadija berikan untuk membalas kebahagian yang di berikan sang suami kepadanya.


Pelukan Khadija terlepas, ketika suara riuh terdengar menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.


Khadija menoleh, pandanganganya mengedar melihat satu persatu beberapa orang yang berjalan ke arahnya.


"Mama, Zahra, Ina, Aisyah, Ummi Aminah, Mbak Clara, Nio, Leni, Mas Dio?" gumam Khadija mengabsensi orang yang di kenalnya.


Satu persatu dari meraka memberikan ucapan selamat kepada Khadija.


"Jadi Mama sudah tahu rencana Mas Hafiz?" tanya Khadija.


"Ya begitulah, dan tugas Mama, ngompor-ngomporin kamu." jawab Ibu mertua santai.


Tiba giliran Leni, "Selamat ulang tahun sahabatku?" Leni hendak memeluk Khadija namun dengan cepat Khadija menahanya,


"Jangan bilang kalian ikut-ikutan?" Khadija menyipitkan matanya, menunjuk ke arah Leni dan Dio bergantian. Khadija mencium aroma persekongkolan.


Leni nyengir tanpa dosa sambil mengacungkan jari membentuk huruf V, "Sorry Ja, aku cuma ikutin skenario Pak Dokter?"


"Iya aku juga Ja, jadi kalau mau nyalahin, langsung hajar aja suami kamu." imbuh Dio menyarankan. dan mendapat pelototan dari Hafiz.


"Dimana Wanita itu Mas?" Tanya Khadija sinis, mengingat wanita yang di gandeng mesra suaminya.


"Aku disini?" Sahut Wanita itu berdiri disamping Hafiz dan kembali menggandeng lengan Pria di sebelahnya.


Hafiz menoleh seraya tersenyum dengan santainya tanpa mempedulikan wajah Khadija yang hampir mengeluarkan sungutnya.


"Kenalkan ini Viona adik sepupu aku, dia yang membantu menyiapkan semua ini dan dia pula yang memberikan ide untuk ngerjain kamu." jelas Hafiz.


"Maaf ya kakak Ipar? Kenalin aku Viona." Viona mengulurkan tanganya ke arah Khadija.


Khadija pun menyambutnya dengan senang hati. "Gara-gara kamu, aku hampir jantungan." Ujar Khadija menyatakan kekesalanya.


Khadija mulai tersenyum kembali setelah semuanya sudah jelas hanya rekayasa.


"Sayang masih ada lagi kejutan buat kamu." Hafiz memutar tubuh Istrinya untuk melihat kejutan yang ada dibelakangnya.


"Bapak, Ibuk?" pekik Khadija senang, segera Khadija berhambur memeluk kedua orang tuanya.


"Selamat ulang tahun ya nak?" ucap sang Ibu dan Ayahnya bergantian.


"Bapak, Ibuk kapan datang?" tanya Khadija masih dengan lengkungan manis di bibirnya.


"Kemarin suamimu yang menjemput Bapak sama Ibuk." jawab sang Ayah.


Jadi, kemarin itu Mas Hafiz pergi menjemput Bapak dan Ibuk toh?


"Sepertinya tadi ada yang bawa sambal deh kesini?" sindir Ibu mertua tersenyum usil melihat ke arah menantunya, saat semuanya sudah duduk melingkar di meja bundar besar yang berisikan Delapan kursi.


"Eh," Khadija membuang muka menahan malu.


Hafiz mengikuti arah tatapan sang Ibu "Benar yang di bilang Mama, sayang? Buat apa kamu bawa sambal?" tanya Hafiz penasaran.


"Tadinya buat maskerin adek kamu, kalau terbukti kamu selingkuh." jawab Khadija polos.


Semua orang tertawa mendengar jawaban konyol Khadija.


Namun tidak dengan Hafiz, yang seketika menatap aset negara miliknya. Hafiz bergidik ngeri membayangkan seandainya itu terjadi. Panas dan perih itu pasti!


"Ya udah entar masker-maskeranya dilanjut dikamar aja." celetuk Dio yang membuat semua orang kembali tertawa. Untung Zahra dan Nio sudah di bawa pergi oleh Ina mengambil ice cream. Jadi otak mereka tidak terkontaminasi oleh obrolan Unfaedah para orang dewasa.


Semua orang sudah berpencar menikmati acara ulang tahun Khadija yang diselenggarakan oleh Hafiz. Tinggal Hafiz, Khadija dan Dio yang masih setia duduk di tempatnya.


"Ngomong-ngomong masker apa yang cocok Yo?" Bisik Hafiz pada Dio yang duduk disebelahnya.


"Kayanya minyak rem, asik tuh Rel? saran Dio yang tak masuk akal.


"Lo pernah nyoba?" tanya Hafiz.


"Belum sih, makanya gw nyuruh lo dulu, ntar kasih tau gw gimana rasanya?" Dio menggerakkan alisnya naik turun.


" Sialan lo!" Hafiz menendang kaki Dio.


Khadija memiringkan kepalanya, ke arah suaminya yang asik berkasak-kusuk dengan sahabatnya, "Lagi ngomongin apa toh?" tanya Khadija.


"Carel katanya entar minta dimaskerin pake minyak jelantah Ja?" sahut Dio masih dengan kekonyolanya.


"???"


"Udah Bund, gak usah dengerin ocehan Dokter sarap!" pungkas Hafiz, agar Istrinya itu tidak tertular kegilaan Dio.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung....


Foto Hafiz dan viona



Sorry ya Up-nya telat, soalnya ini Part terpanjang sepanjang sejarah dari 66 Episode, jadi Author seharian ini putar otak, sampe mata udah kaya Zombie...😪😱


Yuk mari kasih Like dan Komen biar author semangat untuk Episode-episode selanjutnya.


Gak bosen-bosen juga Author ngemis vote dari kalian semua Readersku tercintah...😍😘*

__ADS_1


__ADS_2