
Waktu bergulir begitu cepat. Usaha Hafiz untuk mendekati kembali mantan istrinya belum juga memberikan tanda_tanda kamajuan akan hubungan mereka.
Hafiz pun masih sadar akan status Khadija saat ini, sebagai tunangan dari Haikal teman semasa SMAnya dulu.
Berbagai macam usaha telah dilakukan Hafiz, mulai dari mengajak Khadija makan malam, jalan_jalan bahkan nonton pun sudah pernah dilakukan Hafiz, tentunya dengan menggunakan Zahra sebagai alasan agar Khadija mensetujui ajakanya.
Gombalan_gombalan romantis selalu dilontarkan Hafiz tiap kali mereka ada kesempatan waktu berdua.
Bukanya membuat Khadija kembali jatuh hati, justru membuat Khadija terbiasa akan godaan Hafiz kepadanya, dan itu ia anggap sebagai gurauan semata.
Haikal pun mengetahui jika Khadija sering jalan bersama sang mantan suami, namun itu tidak masalah untuk Haikal, karena ia yakin akan ketulusan cinta Khadija hanya untuknya.
Sebagai manusia normal biasa, Haikal juga mempunyai rasa cemburu, namun tak pernah ia tampakan di depan Hafiz maupun Khadija. Sikap Khadija yang selalu jujur, itulah yang menjadi alasan Haikal bisa meredam rasa cemburunya.
***
Tidak terasa kurang dari Lima hari lagi Khadija akan melepas status jandanya.
Haikal mempercayakan semua persiapan pernikahanya kepada pihak WO yang sudah cukup terkenal di Ibukota. Haikal tidak ingin calon Istrinya kelelahan akibat mengurus semua persiapan pernikahan mereka.
Hanya beberapa kali Haikal mengajak Khadija untuk melalukan Fitting baju, dan membeli mahar untuk seserahan akad nikah mereka nanti.
Khadija pun selalu tampak bahagia, karena ia akan menikah dengan orang yang sangat mencintai dan menyayanginya, terutama kepada Putri kecilnya, Zahra. Begitu juga dengan Khadija yang mencintai Haikal dengan sepenuh hatinya.
***
Di tempat lain tepatnya di dalam ruang kerjanya, Hafiz tampak bermuram durja. Harapanya untuk memiliki Khadija kembali ke dalam pelukanya pun sudah sirna.
Tinggal menghitung hari, sang mantan Istri akan menjadi milik orang lain seutuhnya.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, Hafiz di minta Khadija untuk menjadi saksi di prosesi ijab qabulnya nanti bersama Haikal.
Pikiranya kembali kacau saat ini, urusan pekerjaanya pun banyak yang terbengkalai. Beberapa jadwal operasi pun telah ia batalkan dan membuat para Dokter sejawatnya menjadi kelimpungan dengan perubahan jadwal secara mendadak.
Kekuasaan yang Hafiz miliki, menghindarkanya dari beberapa Protesan yang semestinya ia dapatkan. Justru sebaliknya, Hafiz akan menindak tegas bagi siapa yang melanggar keputusanya.
Aslan dan Dio pun tidak luput dari luapan emosi Hafiz.
" Sudahlah Rel, gak selamanya yang lo inginkan, harus lo miliki!" Ucap Aslan yang mengerti akan kegalauan sahabatnya itu ketika sudah berada di ruangan Hafiz bersama Dio.
Dio sempat memberi tahu Aslan akan kegaduhan yang sempat terjadi akibat ulah Hafiz yang secara tiba_tiba meninggalkan ruang operasi saat ia menangani pasien melahirkan secara SC.
__ADS_1
Beruntung ada dr.Vera yang langsung menggantikan Hafiz menangani pasien yang tengah berjuang antara hidup dan mati.
Dan membuat pihak Rumah sakit menegang, mereka Khawatir akan reputasi Rumah sakit dimata mata mayarakat setelah kejadian ini. Perwakilan dari pihak Rumah sakit berusaha meminta maaf atas kelalaian yang dilakukan Hafiz kepada pihak keluarga pasien dengan alasan kondisi kesehatan Hafiz yang sedang terganggu.
Atas tindakanya Hafiz membebaskan seluruh biaya perawatan dan oprasi pasien yang sempat ia telantarkan.
Dug...Dug...Dug...
Hafiz membentur_benturkan kepalanya ke dinding. Dengan sigap Aslan dan Dio menahan tubuh Hafiz agar tidak semakin brutal menyiksa dirinya sendiri.
Di dudukanya kembali Hafiz menuju sofa yang ada diruang kerjanya. Hafiz menyandarkan kepalanya yang terasa pusing di punggung sofa.
" Lo jangan kaya gini Rel, ingat Zahra anak lo yang masih membutuhkan lo ada disampingnya!" Aslan memegang bahu sebelah kiri hafiz, berusaha menenangkan.
" Please Rel, biarin Khadija bahagia dengan pilihanya, kasihan dia selama ini sudah cukup menderita!" Mohon Dio yang duduk di samping Hafiz.
Hafiz menegakan kepalanya." Gw gak bisa hidup tanpa Khadija Lan, Yo?" Hafiz menatap Kedua sahabatnya bergantian.
" Iya gw tahu Rel, tapi takdir sudah berkata lain."Ucap Dio.
" Gak...pokoknya gw harus rebut Khadija dari tangan Haikal!" Hafiz segera beranjak dari duduknya, tatapan matanya penuh ambisi.
" Lo mau kemana Rel?"Tanya Aslan saat Hafiz akan keluar dari ruanganya.
***
"Mas?" Khadija terkejut melihat Hafiz yang berjalan mendekat ke arahnya. Saat ini Khadija berada sendiri di dalam rumah, Leni dan Zahra yang berada didalam toko dan Ummi Aminah berada di kediaman orang tua Haikal, untuk membantu menyiapkan segala keperluan pernikahan Haikal dan Khadija
Dengan cepat Hafiz meraih tangan Khadija, lalu menariknya dengan kasar."Ayo kita lari dari sini!" Ucap Hafiz dingin tanpa menatap ke arah Khadija, sambil terus berjalan keluar dari kamar,
"Mas, lepasin!" Khadija meronta sambil menghentak_hentakan genggaman Hafiz di pergelangan tanganya.
Cengkraman Hafiz terlalu kuat, membuat Khadija tak kuasa melawanya. Kaki Khadija terseret dengan terpaksa mengikuti langkah panjang Hafiz.
"Sakit Mas!" Sesekali terdengar rintihan Khadija. Namun Hafiz tetap saja tak bergeming.
" HAFIZ...Lepasin Khadija!" Teriak Haikal dari ambang pintu utama, mengetahui Hafiz menyeret paksa tangan calon istrinya.
Bugh...Bugh...
Dua tinjuan mendarat mulus di kedua sisi wajah Hafiz. Haikal yang saat ini sudah tidak bisa lagi menahan omosinya, segera menghampiri Hafiz yang sudah jatuh tersungkur, dengan sudut bibir sedikit robek.
__ADS_1
"Mas, sudah!" Khadija menahan lengan Haikal, agar tidak kembali menyerang Hafiz.
Aslan dan Dio yang baru datang, langsung menghampiri Hafiz yang berusaha bangkit.
"Cari gara_gara aja lo!" Dio mendumal, sambil membantu Hafiz berdiri. Tatapan sinis dari Hafiz dan Haikal bertemu.
Meskipun tidak mengeluarkan suara, Hafiz tampak menabuh genderang persaingan. yang sudah bisa di tebak Haikal lah yang keluar jadi pemenangnya.
" Maafin Hafiz, Dija, Haikal!" Ucap Aslan berhenti di hadapan Khadija dan Haikal.
Haikal yang masih tampak kesal, dan Khadija yang masih shock tidak merespon ucapan Aslan.
Aslan kemudian berjalan melewati Haikal dan Khadija menyusul Hafiz dan Dio yang keluar terlebih dahulu.
" Kamu gak apa_apa Dek?" Tanya Haikal setelah kondisi kembali tenang.
Khadija menggeleng dan beranjak menuju ruang tengah yang di ikuti Haikal lalu mereka duduk saling bersisihan di sofa terpisah.
Tatapan mata Khadija kosong, ia tidak habis fikir dengan tindakan Hafiz yang nekat akan membawa kabur dirinya.
Bagaimana pun Khadija tetap merasa iba dengan kondisi Hafiz. Karena apa yang dirasakan Hafiz saat ini, sama dengan apa yang pernah dirasakan Khadija beberapa tahun silam.
" Mas aku pergi ke kamar dulu." Pamit Khadija, karena ia butuh waktu untuk menenangkan diri setelah kekacauan yang terjadi.
" Baiklah, lebih baik kamu istirahat dulu. Mas akan jaga kamu disini, jika nanti butuh sesuatu jangan sungkan bilang ke Mas." Jawab Haikal yang selalu bisa membuat Khadija merasa menjadi seorang yang berharga.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung....
Semoga sejauh ini para Readers cukup terhibur dengan cerita receh yang Author suguhkan.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komenya...🙏🙏🙏*