Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Gara-gara Tauge


__ADS_3

"Sayang, entar siang gak usah bawain makanan, soalnya nanti aku ada mitting di luar." ucap Hafiz sebelum berangkat bekerja.


Khadija mengangguk kemudian mencium punggung tangan suaminya.


"Apa Mas Hafiz bosan sama masakan ku ya?" Khadija bermonolog selepas menutup pintu. Karena ini ketiga kalinya Hafiz menolak di bawakan makan siang dengan berbagai alasan.


Untuk Dua hari sebelumnya Khadija masih oke-oke saja, tetapi untuk kali ini ia merasa ada yang aneh. Mungkin hanya perasaan Khadija semata. Semoga!


Sudah Enam hari berturut-turut Khadija selalu memasak menu sayuran yang sama, meski pengolahanya selalu di buat bervariasi setiap harinya. Selama tidak mendapat protes dari Hafiz, Khadija akan terus memasak persediaan sayur tauge sampai habis.


Khadija hanya ingin memberi pelajaran pada suaminya, jika segala sesuatu yang berlebih itu tidak baik. Menurut Khadija stock tauge yang banyak akan mubadzir jika tidak segera di habiskan atau akan membusuk di dalam kulkas dan terbuang sia-sia.


Untung saja Hafiz bukanlah type orang pemilih dalam hal makanan, jadi apapun yang di masak oleh istrinya dia akan selalu memakanya.


Bosan! Sudah pasti, apa lagi sudah Enam hari lamanya Hafiz memakan jenis sayuran yang sama, tentunya dengan ditemani Khadija. Namun tidak dengan anggota keluarga yang lainya, Khadija memasak menu lain untuk mereka.


Tak jarang Hafiz menawarnya.


"Bund, mau sayur yang itu dong?" tunjuk Hafiz pada sayur sop yang ada di mangkuk.


"Udah ya, kita makan ini aja...biar cepet Promilnya." ucap Khadija sambil nyengir jahil ke arah suaminya.


"Huh! Ya sudahlah." Hafiz mendesah kecewa. Ucapanya beberapa hari yang lalu telah menjadi Bumerang baginya. Dalam hati Hafiz menyesali tindakanya, jika tahu akan begini akibatnya.


Sang Ibu mertua dan pengasuh Zahra hanya bisa tersenyum melihat keusilan Khadija yang sudah diketahui alasanya oleh mereka berdua.


***


Jika hari ini Hafiz melarang Khadija untuk membawakanya makan siang, maka Khadija berniat akan datang di waktu sore.


Ada rasa sedikit bersalah di hatinya. Untuk itu Khadija membawakan cemilan berupa Pudding vanila stroberry kesukaan Hafiz. Sebagai bentuk permohonan maaf karena dengan sengaja mengerjai suaminya tersebut.


"Assalamualaikum..." ucap Khadija saat membuka ruang sang Direktur utama. Namun tidak ada siapa di dalam. Khadija mengecek ke semua ruangan termasuk kamar mandi. Hasilnya, ia tetap tidak menemukan suaminya.


"Mas Dio!" panggil Khadija saat Dio baru lewat di depan ruangan Hafiz.


Dio menoleh lalu berbalik mengenali suara seseorang yang memanggilnya.


"Ada apa Ja?" tanya Dio ketika Khadija berjalan mendekat ke arahnya.


"Mas Hafiz kemana yo Mas? Di dalam kok gak ada?" tanya Khadija dengan raut kebingungan di wajahnya.


Dio melirik sekilas jam yang bertengger di tangan sebelah kirinya, "Memang dia belum balik? Tadi siang sih, katanya dia ada mitting di luar."


"Iya, tadi Mas Hafiz juga sudah bilang ke aku. Tak kirain jam segini dia sudah ada di ruanganya."


"Sudah kamu telfon?"


"Sudah, tapi ndak di angkat."

__ADS_1


"Oh, mungkin aja dia sudah ada dijalan. Tunggu aja dulu, mungkin sebentar lagi dia datang." Khadija mengangguk menyetujui Ucapan Dio.


Khadija pun balik keruangan suaminya.


***


Tatapan tajam mata Khadija terarah pada seseorang yang berjalan membelakanginya. Khadija sangat mengenal postur tubuh itu, meski hanya terlihat punggungnya. Terlebih kemeja yang orang itu kenakan, sangat mirip dengan pilihanya tadi pagi.


Rasa penasaran Khadija semakin membuncah, mana kala wanita cantik menghampiri dan memeluk orang itu dengan mesra.


Dalam hati Khadija selalu berdoa, semoga apa yang dilihat bukanlah suaminya. Langkah kaki Khadija terus berjalan mengikuti sepasang pria dan wanita yang berjalan dengan bergandeng mesra untuk sekedar menjawab rasa penasaran di hatinya.


Tubuh kecil Khadija bersembunyi di balik patung manekin, ketika Pria yang di ikutinya berbalik arah sambil menempelkan sebuah gaun pada wanitanya.


Mata Khadija seketika terbelalak, dengan mulut yang menganga, mana kala melihat kenyataan yang sebenarnya. Pria yang ia lihat berada sedikit jauh di depan sana, benar adalah dr. Hafiz, suaminya.


Tidak ingin menunggu lama, dengan wajah merah padam, langkah sersan ia gerakkan, Khadija berjalan menghampiri Dua orang yang tengah memilih pakaian sembari berhaha hihi.


Air matapun sudah tak mampu lagi terbendung, lolos dengan sempurna dari benteng pertahanan. Khadija tidak ingin lagi mendengar penjelasan apapun, sudah jelas baginya untuk menjawab semuanya.


Emosi yang sudah berada di ubun-ubun, seakan siap meledak bak Gunung berapi yang tengah erupsi.


Plak....


"Auuwww..." Suara rintihan terdengar, setelah telapak tangan mendarat dengan mulus di pipi Hafiz.


"Sayang...Sayang kamu kenapa?" tanya Hafiz sembari menepuk-nepuk pipi Khadija yang sudah basah dengan air mata.


Khadija mengerjap membuka mata, ketika ada seseorang yang berusaha membangunkanya.


"Mana perempuan itu?!" bentak Khadija masih dalam keadaan setengah sadar, baru terbangun dari tidurnya. Hafiz memasang tampang cengo tidak mengerti apa yang di maksud Khadija.


"Perempuan siapa Bund?" Hafiz semakin bingung. "Kamu mimpi buruk ya?" lanjut Hafiz menangkup wajah istrinya.


Mendengar jawaban Hafiz, membuat Khadija tersadar, bola matanya mengedar melihat suasana di sekeliling ruangan.


Huh! Ternyata cuma mimpi.


Tiga puluh menit menunggu sang Suami, sambil menonton TV yang ada di kamar Pribadi Hafiz membuat Khadija merasa jenuh, dan akhirnya ia pun tertidur.


Tak lama setelah itu Hafiz datang, setelah sebelumnya diberitahu oleh Dio jika Khadija tengah menunggunya.


Hafiz segera masuk ke dalam kamar pribadinya, saat melihat sang istri tidak ada di ruang kerjanya. Hafiz tersenyum mendapati sang Istri dalam keadaan tertidur.


"Ini minum dulu." Hafiz meraih gelas yang berisi air putih di atas meja, yang selalu disediakan untuknya lalu menyodorkan ke arah bibir pucat istrinya.


Khadija pun menenggaknya hingga tandas, tenggorokanya pun terasa kering, Mimpi yang dialami membuat tubuhnya lelah.


"Sudah?" tanya Hafiz, Khadija mengangguk. "Kamu mimpi apa? Sampai marah-marah sambil nangis seperti itu?" Tanya Hafiz masih penasaran dengan mimpi sang istri yang begitu menggebu-gebu.

__ADS_1


Khadija sejenak memejamkan mata, menormalkan kembali emosinya yang masih terbawa di alam sadarnya.


"Huhuhuhuhu...Jangan tinggalin aku Mas?" Khadija berhambur ke pelukan Hafiz, tangisnya kembali pecah, seakan mimpinya terasa nyata.


Hafiz tersenyum bahagia di atas isak tangis Istrinya. Ia merasa bahwa kini Khadija benar-benar takut kehilangan dirinya.


"Gak akan pernah sayang?" ucap Hafiz, membelai lembut punggung istrinya.


Rasa bahagia yang Hafiz rasakan, membuat Hafiz lupa bertanya akan isi dari mimpi yang dialami Khadija.


Cup...


Kecupan lembut menenangkan, Hafiz persembahkan di kening mulus istrinya.


"Bunda ngapain, tumben sore-sore datang kemari?" Hafiz membuka suara setelah kondisi istrinya kembali tenang.


"Sebenarnya...Aku mau minta maaf, kalau beberapa hari ini aku udah ngerjain kamu." Jawab Khadija ragu, menundukan kepala takut jika suaminya akan marah.


"Ngerjain apa?" tanya Hafiz penasaran, karena ia sendiri tidak merasa di kerjai oleh istrinya. Khadija pun menjelaskan ulahnya beberapa hari belakangan ini.


"Hahahaha...Dimaafin gak ya?" Hafiz tertawa mendengar pernyataan Khadija.


"Maafin yo Mas? Ini aku bawain makanan kesukaan kamu." Khadija memohon sambil merayu.


Hafiz menarik tubuh Khadija kembali ke dalam dekapanya.


"Tidak ada alasan untuk aku maafin kamu, karena kamu memang gak salah sayang?" ujar Hafiz tulus.


"Aku kira, kamu ndak bolehin aku bawa makan siang kesini, karena kamu bosan sama menu masakan aku." Sahut Khadija yang masih betah berada di pelukan suaminya, bahkan semakin erat, tak mau lepas.


Gara-gara tauge istri gw jadi betah banget berlama-lama di peluk. Gumam Hafiz dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung....


Jangan males gerakin jari-jarinya para readersku yang budiman untuk kasih Like dan Komenya ya...🙏🙏🙏😊*

__ADS_1


__ADS_2