Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Menjenguk


__ADS_3

Pagi hari, seperti biasa meskipun hari ini Khadija free akan kewajiban Lima waktunya, tidak membuat Khadija malas-malasan. Rasa nyeri yang melanda akibat siklus menstruasi tak pernah ia hiraukan. Semakin dimanja, maka semakin terasa sakit yang ia rasakan, menurut Khadija.


Dari pagi buta Khadija sudah menyibukan dirinya untuk menyiapkan segala kebutuhan keluarganya.


Dapur, selalu menjadi tujuan utamanya. Dengan lincah dan gesit ia menyiapkan menu sarapan yang sudah terjadwal untuk Putri kecilnya, Zahra.


Hari Jumat, sup ayam dan jagung manis ditambah untuk cemilan, Khadija membuatkan Puding coklat kesukaan sang buah hati.


Dan untuk menu hari ini yang ia masak untuk keluarganya adalah sayur tauge yang sudah di stock oleh suaminya. Yang katanya bagus untuk membantu kesuburan dalam masa program kehamilan.


Mengingat akan penyakit Maag yang di adopsi Hafiz mengharuskan Khadija selalu stand by menyediakan sarapan untuk suaminya tersebut. Karena Khadija tidak akan tega melihat suaminya terbaring lemah ketika Maag kronis yang di derita suaminya kambuh.


Setelah semua masakan sudah tertata rapi di atas meja, Khadija kembali ke kamar untuk membangunkan kembali suaminya.


Bukan kebiasaan Hafiz setelah Shalat Subuh kembali bergelut dengan selimut, namun karena tadi malam ia harus lembur karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, membuat pagi ini mata dan tubuhnya terasa berat untuk bangun.


Untuk kali ini Khadija memakluminya. Karena Khadija sangat melarang keras bagi siapapun anggota keluarganya termasuk Zahra, kembali tidur sehabis Subuh. Bukan karena mitos namun anjuran agama yang tidak memperkenankan. Selain bisa menghambat datangnya rizki dan tidak memperoleh berkah, Tidur setelah subuh juga dapat menimbulkan penyakit terutama penyakit malas dan itu tidak baik untuk kesehatan.


Cahaya sang surya menyelinap masuk, ketika Khadija membuka tirai yang menutupi jendela kaca besar kamarnya.


"Mas, ayo bangun! Tuh Mataharinya udah tinggi." Khadija menggoyang-goyang tubuh suaminya.


"Aaaarrrgghhh..." erang Khadija terjerembab di atas tubuh suaminya. Hafiz sengaja menarik tangan istrinya saat Khadija hendak berlalu.


"Berisik banget sih Bund?" ucap Hafiz dengan suara parau khas bangun tidur.


"Lepasin Mas!" Khadija meronta, saat tubuhnya di dekap erat suaminya.


*Cup


Cup


Cup


Cup*


Bukannya melepaskan Hafiz malah sengaja meluncurkan serangan Boom Morning kiss di seluruh wajah istrinya.


"iiihhh...Jorok, kamu belum sikat gigi!" protes Khadija.


"Udah kemarin!" sahut Hafiz. Tubuh Khadija terus menggeliat, berusaha melepaskan diri dari kungkungan lengan besar suaminya.


Pantas jika Hafiz memiliki tubuh yang atletis, karena setiap pagi, ia selalu menyempatkan diri untuk ngegym diruang khusus yang ada di Apartemenya, kecuali hari ini.


"Udah jangan gerak-gerak terus, entar ada yang bangun, kamu mau tanggung jawab?"


"Ingat, aku lagi bocor lho ini?"


"Ya udah, makanya diem! Aku lagi Pe-We nih?" Dengan sangat-sangat terpaksa Khadija menurut, menghindari hal-hal yang di inginkan suaminya jika ia tidak sedang berhalangan.


Satu menit berlalu, Hafiz semakin hanyut dalam posisinya. Mendusalkan wajahnya di dada sang Istri adalah posisi Favoritnya.


"Aaaarrrgghhh...Sakit!" teriak Hafiz, ketika ujung daun telinganya digigit Khadija.


Spontan Hafiz melepas pelukanya, dan Khadija segera turun dari ranjang, sebelum suaminya membalas perlakuanya.


"Awas kamu Bund, seminggu lagi jangan harap bisa keluar dari kamar!" ancam Hafiz saat istrinya sudah menjauh darinya.


"Terserah, nanti aku akan tidur di kamar Mama!" Balas Khadija sebelum keluar dari kamar sambil memeletkan ujung lidahnya ke arah Hafiz, suaminya.


Blam...


Di ruang makan semua sudah berkumpul, tinggal menunggu Kepala suku yang masih belum keluar dari kamar.


"Carel mana, kok belum keluar?" tanya sang Ibu pada menantunya.


"Carel disini Mah?" Sebelum Khadija menjawab yang bersangkutan sudah datang.


Khadija pun menghampiri sang suami yang menenteng dasi di tanganya. Tanpa aba-aba Khadija langsung meraih benda yang ada di tangan suaminya lalu memasangkanya.


Jika dulu Khadija tidak bisa memasang dasi, tetapi sekarang ia sudah mahir melakukanya, berkat panduan sang suami yang mengajarinya. Dan itu membuat Hafiz bersikap manja, Ingin selalu Khadija yang memakaikan untuknya.


"Papa, ayo cepatan, Plinces udah lapel nih?" rengak Zahra.


"Iya sayang sebentar, ini udah selesai kok!" jawab sang Bunda menengok ke arah Putrinya sambil merapikan dasi suaminya.


Hafiz dan Khadija pun duduk di tempatnya masing-masing, setelah itu Hafiz memimpin doa sebelum memulai ritual sarapan mereka.


"Mas, setelah ini aku mau mendaftar Sekolah PAUD untuk Zahra, umurnya sudah Tiga tahun setengah, jadi waktunya dia untuk sekolah."


"Oke, dimana?" tanya Hafiz setelah menyetujui rencana istrinya.

__ADS_1


"Gak jauh kok, hanya Lima ratus meteran dari sini, beberapa hari yang lalu aku udah sempat survey kesana." jawab Khadija


"Bagus?" Tanya Hafiz kemudian, sambil terus mengunyah makananya.


"Lumayan Bagus." jawab Khadija mantap. Meskipun bukan tergolong sekolah elit, namun dengan adanya guru-guru yang kompeten dan lingkungan yang baik sudah cukup bagi Khadija. menurutnya sekolah tidak perlu di tempat yang mahal, karena sekolah hanya sarana penunjang pendidikan di luar rumah, Pendidikan yang utama untuk anak tetaplah ada pada keluarga, salah satu faktor yang terpenting dalam tumbuh kembang anak.


"Aku sih terserah kamu Bund, aku yakin kamu pasti tahu yang terbaik untuk Putri kita." jawab Hafiz menatap bangga ke arah istrinya, yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga.


"Ya sudah, biyar nanti Mama yang antar jemput Zahra." timpal sang Ibu, turut antusias dengan rencana menantunya.


"Yeay...Plinces habis ini sekolah Mbak Ina!" Adunya pada sang Baby sitter. Wanita yang berumur Dua puluh Lima tahun, sepantaran dengan Khadija bernama Ina.


"Iya, Princes habis ini punya banyak temen deh?" imbuh Baby sitter Zahra.


Selesai sarapan, Hafiz segera bergegas hendak berangkat ke Rumah Sakit. Satu persatu kecupan hangat di kening ia layangkan ke arah para wanitanya, kecuali Ina, Baby sitter sang buah hati.


Selepas kepergian suaminya, dan Zahra bermain di ruang TV bersama sang nenek, Khadija kembali melakukan rutinitasnya.


Karena Zahra sudah ada yang menemani, sang Baby sitter menawarkan diri untuk membantu majikanya mengerjakan pekerjaan Rumah tangga.


Selama ini Hafiz dan Khadija selalu baik pada pengasuh anaknya tersebut, bahkan sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, terlebih Ina adalah seorang janda beranak Satu yang berasal dari keluarga kurang mampu. Hal itulah yang membuat Khadija selalu memberikan gaji lebih terhadap Ina tentunya dengan persetujuan Hafiz sebagai kepala keluarga. Jadi akan sangat sungkan jika Ina hanya berdiam diri selama Zahra tidak membutuhkan pengawasan.


Khadija akhirnya mengijinkan Ina untuk mencuci piring sisa sarapan. Sedangkan Khadija mencuci baju semua anggota keluarganya termasuk pakaian sang ibu mertua, terkecuali pakaian Ina.


Mencuci baju, dan beberes rumah sudah Khadija kerjakan dengan rapih, sejenak ia menselonjorkan kakinya, ikut bergabung dengan sang ibu mertua dan Putri kecilnya di ruang TV sebelum pergi ke sekolah untuk mendaftarkan Zahra.


"Setiap hari, ini yang kamu kerjakan nak?" tanya sang Ibu menatap iba ke arah menantunya. Ternyata sang mertua selalu memperhatikan apa yang di kerjakan Khadija, ia tidak menyangka Khadija sosok wanita hebat meski hanya seorang Ibu rumah tangga biasa.


Pekerjaan Ibu rumah tangga ternyata sangatlah berat, dan belum pernah bagi sang Ibu mertua mengerjakan semuanya selama puluhan tahun berumah tangga dengan Ayah Hafiz. Karena semua urusan Rumah tangga di serahkan sepenuhnya kepada para ART yang jumlahnya lebih dari Satu orang.


Selain itu sang Ibu mertua berasal dari kalangan orang kaya, jadi sudah dari ia ikut orang tuanya tidak pernah mengenal dengan yang namanya mencuci, menyapu, mengepel dan semua pekerjaan rumah tangga.


"Iya Ma?" jawab Khadija seraya tersenyum, meski tampak sekali penat di wajahnya.


"Beruntung sekali Carel mendapatkan kamu nak? Sudah cantik, sholeha, dan kamu Ibu serta Istri yang baik." puji sang ibu mertua tulus dari dalam hatinya.


"Makasih Ma, tapi Dija juga masih memiliki banyak kekurangan. Dija juga beruntung mendapatkan suami seperti Mas Hafiz karena dia sekarang sudah benar-benar sayang dan mencintai Dija apa adanya."


"Mama juga makasih sama kamu, Carel sekarang sudah berubah menjadi pribadi lebih baik, kamu kembalikan senyumnya yang dulu pernah hilang." Sang Ibu mengingat akan masa-masa dimana Putranya terpuruk akan kondisi keluarganya yang berantakan semasa Hafiz remaja. Sang Ibu pernah melarikan diri dari rumah karena tidak tahan akan penyiksaan lahir maupun batin yang dilakukan suaminya.


Selama masa pelarianya selama kurang lebih Satu tahun, sang Ibu tetap mencari tahu akan kabar Putranya yang ia tinggalkan bersama sang Ayah lewat pembantunya Bik Onah.


Sang Ibu kembali setelah mendengar jika Putranya mengalami depresi berat dan membuat Hafiz harus dirawat secara intensif untuk mengembalikan kesehatan psikisnya. Karena itu pula yang menjadikan Hafiz pribadi yang pendiam dan cuek. Setelah ditinggal oleh sahabatnya Alina, kemudian sang Ibu turut meninggalkanya kabur dari rumah.


Obrolan pun berlanjut panjang lebar di sertai celotehan lucu dari Zahra, membuat hati sang nenek yang selama ini hampa kembali berbunga akan kehadiran menantu dan cucu tercinta.


***


Sekembalinya mendaftar Sekolah untuk Zahra, sesuai dengan perkiraanya, Khadija langsung menuju Rumah Sakit dengan membawa kotak makanan untuk suaminya karena jam makan siang hampir tiba.


Setelah mengucap salam Khadija langsung masuk, dan dilihatnya sang Suami masih sibuk dengan berkas-berkas penting tergelar di atas meja.


"Mas, udah waktunya makan siang." ucap Khadija mengingatkan.


"Iya Bund, sebantar lagi masih nanggung." jawab Hafiz tanpa menatap istrinya.


Khadija menggeser kursi tepat berada di samping suaminya.


"Aaaaaaa...Buka mulutnya!" Khadija sudah tidak tahan lagi mendengar jawaban, sebentar lagi, nanti dulu, dan sebangsanya.


"Sayur touge lagi ya Bund?" tanya Hafiz merasakan makanan yang tengah di kunyahnya. Pandangan Hafiz pun masih belum beralih dari hamparan kertas putih di tanganya.


"Hhmmm..Jangan kuwatir, masih banyak stocknya." jawab Khadija cuek. Sengaja Khadija ingin mengerjai suaminya karena Hafiz sudah membeli jenis sayuran satu ini dalam jumlah banyak. Touge yang sempat dikembalikan oleh Khadija, diambil lagi oleh Hafiz dan dimasukanya kedalam keranjang. Alhasil dikulkas masih ada Delapan belas bungkus setelah Dua bungkus sudah dimasaknya untuk pagi dan siang hari.


"Enak." puji Hafiz sambil manggut-manggut.


Tidak terasa Satu kotak penuh akhirnya tandas tak tersisa.


"Mas, boleh aku jenguk Mihrima?" tanya Khadija meminta izin.


Reflek Hafiz menatap istrinya dengan tatapan sulit di artikan. "Gak boleh!" tolak Hafiz.


"Kenapa?"


"Pasti di sana ada Haikal!" jawab Hafiz ketus, setiap kali mengingat nama Haikal.


"Astagfirulloh...Mas, jadi masih bersambung episode cemburunya? Kan aku mau jengukin Mihrima dan bayinya bukan jengukin Mas Haikal." jelas Khadija.


"Tapi tetep aja ada dia di sana?"


"Ya udah, kamu ikut aja sekalian."

__ADS_1


"Males!"


"Mas?"


"Hhmmm..."


"Mas?"


"Sekali gak, ya gak!"


"Saaayaaaang?" Khadija mengeluarkan jurus rayuan maut.


Kembali Hafiz menatap istrinya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Ulangi, aku gak dengar!" Sebenarnya Hafiz sudah mendengarnya dengan jelas, hanya saja ia ingin menggoda istrinya, karena ini kali pertama Khadija memanggilnya sayang.


"Gak ada siaran ulang!" Khadija mencebik, sadar jika ia sedang di kerjai suaminya.


"Ya sudah, berarti kita gak jadi jenguk Mihrima." Hafiz mengangkat kedua bahunya.


"Eh...iya...iya." Khadija senang ketika ucapan Hafiz yang hampir menyetujui rencananya.


"Iya apa?"


"Iya SAAAAAYYYAAAANG..." Sengaja Khadija menekankan kalimatnya.


Hafiz pun tersenyum lebar nan cerah mendengar kata paling indah keluar dari mulut istrinya.


Tidak berhenti sampai di situ, Ide mesum Hafiz selalu bekerja di waktu yang tepat.


"Satu lagi..."Hafiz menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk sebagai isyarat.


"Eh~..." Mata Khadija membelalak dengan permintaan kedua suaminya. Selama ini Hafiz lah yang selalu bersikap agresif terhadapnya, jadi sangatlah awam bagi Khadija untuk melakukanya terlebih dahulu.


"Ayo cepat, atau.....Hhhhmmmmppp..." Segera Khadija membekap bibir suaminya. Pipi Khadija seketika bersemu merah bak boneka oshin dari jepang, membuat Hafiz semakin gemas melihatnya.


"Aaauuwwww..." pekik Hafiz ketika bibir bagian bawah di gigit oleh istrinya. Ternyata Khadija pun tak mau kalah mengerjai suaminya. Khadija segera melepas ciumanya sebelum Hafiz membalasnya.


***


Sesuai kesepakatan, akhirnya Hafiz mau menemani Khadija untuk menjenguk Mihrima calon istri dari mantan calon suaminya.


Khadija membawa bingkisan berupa satu set perlengkapan bayi sebagai buah tangan.


Khadija dan Hafiz masuk ke dalam ruangan Mihrima. Ada Haikal yang menyambut dengan senyum ramah yang selalu di umbarnya.


"Gimana keadaan kamu Mihrima?" tanya Khadija saat berada di samping ranjang Mihrima bersama Hafiz disebelahnya, bersebrangan dengan Haikal.


"Alhamdulillah, baik Khadija." Mihrima menganggukan kepalanya sembari tersenyum.


"dr. Hafiz, saya terima kasih atas pertolonganya." Ucap Mihrima beralih pada Hafiz selaku Dokter yang menangani persalinanya.


"Iya sama-sama." balas Hafiz dengan lengkungan di sudut bibirnya.


"Oh ya Dek..."


"Gak usah panggil istriku dengan sebutan Dek, karena dia gak pernah nikah sama kakak kamu!" potong Hafiz menyela ucapan Haikal. Khadija seketika melihat ke arah Hafiz, memutar bola matanya dengan malas.


Haikal yang mendengar keposesifan Hafiz hanya menahan senyumnya. Haikal memaklumi jika Hafiz bersikap demikian, mengingat ia dulu pernah menjadi sainganya untuk mendapatkan Khadija.


"Maaf, maksud ku Dija..." Haikal mengoreksi ucapanya. "Bulan depan insyaalloh kami akan melangsungkan akad nikah, jadi aku harap kalian hadir. Maaf jika aku memberitahu kalian dengan cara seperti ini."


"Iya Mas, insyaalloh kita datang."


"Bagus deh, kalo dia cepet nikah. Biar gak ganjen lagi sama istri gw." gumam Hafiz pelan namun masih terdengar oleh Istrinya.


"Mas, jangan mulai lagi!" sahut Khadija hanya melirik ke arah suaminya.


Setelah sedikit berbasa-basi, Hafiz buru-buru mengajak Istrinya untuk pulang, karena Hafiz sudah merasa tidak mood lagi untuk melanjutkan kembali pekerjaanya setelah bertemu dengan Haikal.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa Like dan Komenya,..Ikhlaskan pula untuk memeberikan Votenya...😁🙏😅


__ADS_2